
Aku masih berlari, diikuti oleh Deni yang bingung melihat sikap spintanku yang seperti itu. Meskipun ia berusaha menghentikan langkah kakiku, tapi aku tetap tidak peduli. Aku akan terus mencari hingga bertemu Yasmin.
"Qret, tenanglah." pinta Deni, sambil ngos-ngosan sebab menyeimbangi lariku yang cukup kencang.
"Bagaimana aku bisa tenang sedang sekarang tidak tahu dimana Yasmin berada. Bagaimana kalau ia kenapa-napa?" aku balik menatap Deni. "Apa aku harus tenang saja. Duduk diam menanti di rumah sedangkan aku tidak tahu bagaimana kondisi istriku saat ini. Kalau ia kenapa-napa apa tidak akan membuatku merasa bersalah seumur hidup?"
"Tapi kan ada Riana, Qret. Ia tidak akan mungkin membiarkan Yasmin kenapa-napa."
"Riana sedang hamil. Ia tidak akan mampu mencegah jika Yasmin melakukan sesuatu hal yang nekat. Kau ingat kejadian beberapa waktu lalu ketika Yasmin hampir membakar seluruh rumah. Kalau tidak dibantu oleh paman Rudi mungkin semua sudah habis."
"Baiklah, kita cari sama-sama. Tapi jangan berpikiran aneh-aneh dulu. Beroda saja semoga Tuhan menjaganya."
Mendengar kata-kata Deni, hatiku sedikit tenang. Aku mencoba belajar untuk pasrah. Saat ini memang tidak ada yang bisa kulakukan selain mengharapkan belas kasih sayang Allah.
Aku menatap dua orang yang sedang berada di taman perumahan. Yasmin duduk di kursi roda, sedangkan Riana mendorongnya. Melihat senyum di wajah Yasmin, hatiku benar-benar tenang sekarang.
"Alhamdulillah." tidak lupa kuucapkan syukur sebab lagi-lagi Allah yang Maha baik menjaganya untukku. "Yas!" aku melambaikan tangan pada Yasmin.
"Mas!" balas Yasmin.
Aku segera berlari kecil untuk menghampiri mereka. Tetapi sekitar sepuluh langkah dari mereka, tiba-tiba Yasmin memintaku berhenti.
"Mas, jangan maju. Tunggu di sana!" pintanya.
"Kenapa Yas?" tanyaku.
"Sudah Qret, jangan berisik. Cukup diam dan tunggu saja." kata Riana.
Aku menurut saja. Diam di tempat meski sebenarnya gemas, kenapa aku tidak boleh mendekat. Padahal sejak tadi hatiku sudah resah sebab mencari keberadaannya.
Perlahan, Yasmin mencoba untuk berdiri. Aku menggelengkan kepala, memberi isyarat agar ia tidak lagi memaksakan diri untuk berjalan. Aku takut ia jatuh atau kembali kecewa. Tetapi aku tidak bisa melakukan apapun sebab Yasmin memintaku diam di ujung sana menyaksikannya.
Ahhhh, rasanya benar-benar sedih, saat ia memaksakan diri bangkit. Terlihat betul ia berusaha keras.
Teringat kembali saat Yasmin menjalani proses terapi, lalu ketika ia gagal, berubah jadi pendiam dan menyimpan banyak kesedihan karena ia begitu kecewa dengan hasil yang didapatnya.
"Mas, lihat ini!" Yasmin mulai melepas pegangan dari kursi roda. Aku tidak sabar rasanya, ingin meraih tubuhnya sebelum ia benar-benar jatuh.
Satu, dua, tiga, empat. Yasmin berhenti. Lalu ia menatapku sambil tersenyum. Kemudian melanjutkan langkah kelima, enam, tujuh hingga menghambur dalam pelukanku.
__ADS_1
"Aku sudah bisa jalan lagi mas." katanya.
"Yas. Ya Allah. Alhamdulillah." aku memeluk Yasmin erat-erat. Mata yang semula berkaca-kaca kini retak. Tangis itu pecah melihat apa yang kusampaikan barusan. Kami larut dalam keharuan.
"Kau harus berterima kasih padaku, Qret. Sebab aku yang memotivasi Yasmin, makanya dia semangat lagi!" ungkap Riana dengan penuh percaya diri.
"Oh ya, benarkah? Baiklah. Terimakasih banyak Riana!" aku mengacungkan ibu jari padanya.
Hari ini teramat indah rasanya. Bagaimana Allah begitu baiknya menghapus mendung di wajah Yasmin. Menghadirkan kembali senyum yang pernah hilang.
Benar kata orang-orang bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasilnya. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia yang akan berhasil. MasyaAllah.
***
Aku dan Yasmin mulai merancang rencana-rencana baru kami ke depannya. Termasuk harapan agar bisa segera mendapat keturunan. Yasmin juga mengajukan dirinya agar diizinkan kembali menerima orderan menjahit, sementara aku tetap berjualan makanan secara online sebab untuk memiliki kedai baru kami belum punya dana lagi.
Sebenarnya, selain ayah dan ibu, paman Rudi juga sudah menawarkan modal untukku kembali membangun usaha makanan, tetapi demi kenyamanan kami, aku menolak pinjaman tersebut. Aku sekarang mengerti bahwa Yasmin adalah tipikal orang yang tidak suka berhutang. Memang terdengar aneh, tetapi ia akan terlihat resah jika punya pinjaman meski kadang nominalnya tidak besar, apalagi kalau besar.
Ketika sedang berbincang-bincang dengan Yasmin, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Rupanya Alifa dan Ren. Kedatangan Alifa bukan untuk menemuiku, ia ingin bertemu Yasmin. Supaya mereka puas berbincang, aku sengaja meninggalkan mereka berdua sambil membawa Ren jalan-jalan keliling komplek.
Ren yang sekarang jauh lebih menyenangkan dibanding saat awal bertemu. Alifa memang mengatakan kalau Ren sudah mulai bisa beradaptasi meskipun ia tidak banyak bicara.
"Bagaimana ibu-ibu, masih mau lanjut berbincang-bincang?" tanyaku, sambil menggandeng Ken menuju dapur. Aku sengaja membelikannya bakso.
Selesai makan, Alifa mengajak Ren pulang. Yasmin kini terlihat lebih semangat lagi. Entah apa yang mereka bicarakan. Meski aku begitu penasaran, tetapi tetap berusaha menahan diri, biar saja aku tahu dari cerita Yasmin. Kalau ia mau pasti akan bercerita padaku.
"Mas." panggil Yasmin.
"Ya. Kenapa?" tanyaku. Lalu menghampirinya yang masih duduk di sofa.
"Tadi Alifa curhat."
"O."
"Hanya o, mas tidak penasaran apa yang ia ceritakan padaku?"
"Tidak. Aku hanya penasaran padamu Yas."
"Dasar! Tapi ini serius. Alifa ingin berhenti sebagai pengacara. Tepatnya ia ingin mengurangi pekerjaannya dan mau mulai membuka butik."
__ADS_1
"Butik?"
"Iya, jadi Alifa merasa passionnya adalah dunia fashion. Pakaian, gaya dan juga tas"
"Lalu?"
"Alifa mengajakku untuk bergabung karena ia pernah melihat baju yang aku jahit."
"Hm, terus?"
"Boleh tidak mas aku mengajukan lamaran ke sana? Kebetulan Alifa bekerja sama dengan salah satu brand yang cukup besar. Kalau aku bisa bergabung di sana menjadi desainer mereka pasti akan punya penghasilan yang lumayan."
"Tidak Yas."
"Kenapa?"
"Urusan penghasilan itu adalah tanggung jawab aku."
"Tapi aku tahu mas ingin sekali punya kedai lagi. Iya, kan?"
"Ya."
"Lalu kenapa tidak memberiku izin?"
"Tidak ada hubungannya Yas."
"Jelas saja ada."
"Apa?"
"Kalau aku bekerja dan punya penghasilan, setidaknya bisa bantu mas untuk membeli kedai kembali. Mumpung belum dijual kepada orang lain. Ya mas?"
"Tidak Yas."
"Tapi mas ... apa mas mau aku merasa bersalah seumur hidup karena aku yang membuat mas kehilangan kedai."
"Yas, jangan bicara seperti itu. Kamu itu adalah tanggung jawab aku."
"Ya. Tapi suami istri itu adalah sebuah tim yang harus saling sokong satu dengan yang lainnya. Kalau aku punya kesempatan, berarti kesempatan juga untuk mas. Jadi tolong beri izin ya mas.".
__ADS_1