
"Ibu, jangan begitu. ibu tak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Aku sebenarnya terpukul kehilangan ayah, sekarang aku menemukan paman. Seseorang yang selalu diceritakan oleh ayahku. Itu tandanya paman istimewa bagi ayah. Tapi kenapa ibu melarang aku bicara dengan paman? Aku hanya ingin merasakan kembali kasih sayang ayahku lewat paman.
Bibi juga. Katanya sayang padaku, tapi kenapa bibi bersikap begitu pada paman? Apa bibi yakin pamanku bukan orang baik? Isi hati orang siapa yang tahu bibi. Bisa saja kan pamanku sudah berubah. Apa salahnya memberikan ia kesempatan?" ungkap Jasmin, sambil menahan emosi di dadanya.
"Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu, Jas." Ungkap Riana. Ia menyadari pernah melakukan kesalahan pada Qret dan Yasmin, tapi setelah itu ia benar-benar menyesalinya. sedangkan Jimmi, ia sama sekali tak tahu bagaimana isi hati lelaki tersebut, ia hanya khawatir saja kalau-kalau lelaki itu akan kembali menyakiti Yasmin dan anaknya. Padahal sekarang tak ada Qret yang melindungi mereka.
"Terbaik menurut siapa? Menurut bibi? Aku sudah besar, tahu mana yang baik dan buruk!" Ungkap Jasmin.
"Jas," paman Jimmi memegang tangan Jasmin sebagai isyarat agar keponakannya tersebut bersabar. Kadang, orang begitu besar curiganya sebab ingin melindungi orang-orang yang disayanginya. Meski sedih harus dipisahkan dari keponakannya, tapi Jimmi tetap tenang sebab ia menyadari bahwa keponakannya dikeliling orang-orang yang sayang padanya. Mereka hanya takut kalau ia menyakiti Jasmin meski ia tak ingin melakukan hal tersebut. "Yang dikatakan keluargamu semua demi kebaikan kamu, Jas. Mereka bicara karena sayang padamu. Jadi bersabarlah, Jas. Semoga Tuhan memberikan kita kesempatan untuk bersama Kemabli. Paman hanya bisa berdoa untukmu." Pelan, Jimmi mengusap kerudung keponakannya. "Paman pergi!" ucap Jimmi.
"Paman!" Jasmin menggelengkan kepalanya, ia tak bisa jika harus berpisah sekarang sebab Yasmin butuh pamannya saat ini. Sebenarnya sudah lama Jasmin merindukan sosok pamannya, tapi takdir baru mempertemukan mereka sekarang.
"Tunggu." kata Yasmin. "Jim, kalau kamu mau bicara, baiklah." kata Yasmin. "Jas, temani ibu bicara dengan pamanmu.
Senyum langsung mengambang di bibir Jasmin dan Jimmi, mereka berdua melenggang menuju ruang kerja, menyusul Yasmin yang sudah berlaku terlebih dahulu.
Sementara yang lain tak bisa berbuat apa-apa sebab mereka yakin Yasmin tak akan sembarang mengambil keputusan. Apalagi berkaitan dengan orang yang pernah meninggalkan jejak buruk di hidupnya.
"Bicaralah, sebab aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan." kata Yasmin, meski terdengar ketus, tapi Jimmi menyadari kalau Yasmin sudah melunak.
"Aku sadar sudah jahat pada kalian, terutama pada Qret. Aku menyesalinya. Sekarang aku kembali untuk menebus segala kesalahanku, tetapi rupanya aku terlambat sebab Qret sudah tiada." ungkap Jimmi. "Yas, maafkan aku. Aku tak akan meminta apapun lagi selain berharap kamu mengizinkan aku menjadi paman yang baik untuk Yasmin." tambah Jimmi.
"Jaminan apa yang bisa aku dapatkan kalau kamu tak akan menyakiti kamu lagi, terutama Jasmin." tanya Yasmin.
"Aku tak tahu harus memberikan jaminan apa, tapi tolong beri aku satu kesempatan lagi." pinta Jimmi.
"Baiklah, demi Jasmin, aku akan memberi kamu satu kesempatan. Aku tak akan melarang kamu mendekati Jasmin, tapi kalau kamu berani jahat oadabya, kamu akan berhadapan denganku kabgsuhg, Jim." kata Yasmin.
__ADS_1
Sebenarnya Yasmin masih belum bisa mempercayai Jimmi sebab hal buruk yang mereka alami sebelum Qret meninggal. Tetapi Yasmin tak bisa melihat putrinya kembali kecewa. Ia tahu kalau saat ini putrinya punya banyak masalah, dan Yasmin melihat putrinya mempercayai Jimmi sebagai teman berbagi. Sementara ia sendiri, setelah banyak hal yang dilalui bersama Jasmin, Yasmin tak yakin bisa memenangkan hati putrinya tersebut.
***
Sudah sepekan setelah akhirnya Jimmi diterima di keluarga Jasmin, selama itu pula ia sering bolak-balik ke rumah itu untuk bertemu keponakannya. Satu-satunya darah daging pamannya.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Yasmin pada Jimmi yang baru saja datang. Kebetulan ia yang membukakan pintu.
"Aku sudah berhenti jadi polisi, Yas. Sejak kejadian itu aku mengundurkan diri, lalu kabur ke luar negeri." jawabnya. "Sekarang aku hanya memantau perusahaan keluarga, sudah ada orang kepercayaan yang mengurusnya."
"Oh ya, aku lupa, orang kaya sepertimu mana tahu arti kerja keras, kalian punya segala-galanya. Makanya bisa berbuat seenaknya. Termasuk mondar-mandir ke rumah orang lain pagi, siang, sore dan malam. Kapanpun waktu yang kalian mau."
"Yas, apa kamu keberatan dengan keberadaan ku? Kalau kamu tidak nyaman, katakan saja. Aku bisa mengajak Jasmin ketemuan di luar agar kamu tak perlu melihat wajahku."
"Tidak, aku tidak mengizinkan kamu ketemuan dengan Jasmin di luar. Kalau mau ketemu, di rumah ini saja!" kata Yasmin dengan tegas.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengurangi intensitas bertemu Jasmin agar kita tak perlu sering-sering ketemu."
"Sepertinya ia hanya merasa terganggu sebab aku sering bolak-balik ke sini." ungkap Jimmi sambil tersenyum.
"Ibu hanya tidak nyaman saja."
"Kenapa?"
"Mungkin karena paman masih single."
"Hahahaa, lalu aku harus bagaimana?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau paman menikah?"
"Menikah?"
"Ya. Menikah!"
"Tapi dengan siapa, Yas? Aku sama sekali tidak punya calon, teman atau kenalan pun tak ada. Sejak pindah keluar negeri, aku menutup diri dari siapapun. Lagipula usiaku sudah tidak muda lagi. Akan sulit mencari pasangan."
"Aku punya kandidat."
"Siapa?"
"Sebentar." Jasmin masuk ke dalam, ia menarik Ren yang sibuk dengan laporannya. Suaminya itu awalnya komplen, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah sebab jika menolak maka istrinya bisa ngambek lagi padahal hubungan mereka masih belum benar-benar baik.
"Apa ini, Jas?" tanya Jimmi, ketika Jasmin sudah kembali berada di hadapannya sambil membawa Ren.
"Paman menikahlah dengan ibu Alifa, ibu mertuaku." ungkap Jasmin.
"Apa?" kata Jimmi dan Ren bersamaan.
"Kamu bercanda, Jas?" tanya Jimmi.
"Apa maksudmu tadi? Tidak sopan sekali menjodohkan ibuku dengan pamanmu." Ren langsung sewot.
"Ih sabar dulu. Kalian berdua ini apa tidak bisa menangkap niat baikku. Paman kira aku tidak tahu bagaimana hubungan paman dan ibu Alifa dahulu. Kalian adalah dua orang sahabat saat masih kecil, kan? Tapi akhirnya persahabatan itu harus berakhir sebab ibu Alifa ke luar negeri dan menikah dengan ayah mertuaku.
Sekarang kalian bertemu kembali dalam keadaan single, lalu kenapa tidak mencoba saling membuka diri, siapa tahu cocok." ungkap Jasmin.
__ADS_1
"Sama sekali nggak lucu, Jas!" ungkap Ren, dengan nada sinis, lalu masuk ke dalam.
"Kenapa sih dia, marah-marah terus." Jasmin geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya, sementara Jimmi tertawa kecil.