
"Bu, lihat sendiri, kan. Riana benar-benar sudah berubah." kataku pada ibu, setelah Riana meninggalkan rumah kami.
"Iya Qret, ibu senang sekali mendengarnya tadi. Tapi ...," ibu tidak melanjutkan perkataannya.
"Tapi kenapa, Bu?"
"Ibu merasa bersalah, sudah berprasangka buruk padanya. Padahal kan Riana tidak seperti yang ibu duga."
"Nah, kan. Qret sudah katakan pada ibu untuk selalu menjaga prasangka. Jangan cepat berburuk sangka pada orang lain."
"Iya Qret, ibu hanya ... ah sudahlah. Ibu akui, kemarin ibu salah." Ibu tersenyum lega, lalu beralih membicarakan tentang rencana lamaran akhir pekan nanti. "Apa saja yang harus kita persiapkan?" tanya ibu.
"Cincin sudah ada." kataku. Sebelum kejadian di tangkap karena ganja, aku dan ibu dengan ditemani ayah memang sudah sempat membeli cincin untuk Yasmin. Bahkan pakaian untuk lamaran pun sudah kami siapkan.
"Mungkin menyiapkan buah tangan saja, Bu." kataku.
"Nah benar. Kita bawa makanan yang banyak." ibu mulai menulis daftar makanan yang akan kami bawa sebagai oleh-oleh.
Buah-buahan, jajanan pasar dua puluh macam, puding, cake, hingga makanan kering sudah dicatat oleh ibu. Aku diminta untuk memesan ke pedagang makanan terenak di Jakarta.
"Bu, apa ini tidak terlalu banyak?" tanyaku.
"Tidak Qret. Ibu malah kurang rasanya." ungkap ibu. "Tambah apa lagi, ya?"
"Bu, sebaiknya jangan berlebih-lebihan. Ibu kan tahu, Yasmin itu hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Mereka juga tidak punya saudara lain di sini. Jadi apa adanya saja. Dari pada nanti mubazir." aku mencoba mengingatkan.
"Halah, enggak bakalan mubazir. Nanti juga bisa dibagi-bagi ke tetangga. Yasmin pasti punya tetangga, kan?"
"Ya punya lah, bu."
"Nah itu. Makanya kamu nurut saja. Pesanin kue yang enak seperti yang sudah ibu catat!"
Aku tidak bisa mengelak, saat itu juga pergi menuju toko kue yang cukup besar di kawasan Jakarta Selatan untuk memesan makanan yang sudah dicatat ibu.
[Qret, ada tambahan lagi. Gorengan seratus biji.] pesan dari ibu.
[Memang ada orang lamaran bawa gorengan, Bu?] balasku.
[Ya ada dong. Kalau enggak ada, ya kita yang pertama. Ingat, jangan lupa ya. Pastel, bakwan dan risoles seratus biji.]
Itu namanya tiga ratus biji.
Aku tertawa membaca pesan yang dikirimkan oleh ibu. Lalu membayangkan bagaimana Yasmin mendapati makanan sebanyak ini. Tiba-tiba aku ingat menanyakan sesuatu padanya.
[Yas, nanti saat lamaran mau dibawakan apa?] tanyaku lewat pesan wa.
__ADS_1
Cukup lama Yasmin belum juga membalas. Setelah ku miscal, barulah ia memberikan balasan. Kebiasaannya, jarang memegang hp.
[Terserah.] jawabnya.
[Terserah itu apa? Belinya dimana? Bentuknya seperti apa?]
[Cari saja sendiri.]
Membaca pesan wa dari Yasmin benar-benar membuatku gemas. Anak ini benar-benar dingin. Awas saja nanti.
***
"Qret, besok aku ikut ya." pinta Riana, saat kami selesai menutup kedai, sementara Deni sibuk memasang pengumuman bahwa besok kedai tutup.
Sebenarnya Deni sudah mengajukan agar besok kedai tetap buka. Ia yang akan menghandle. Tetapi aku menolak karena tahu, sendiri akan membuat Deni Kewalahan. Meskipun omset kedai sedang naik-naiknya. Tidak apa-apalah libur sehari, apalagi ini baru bahagiaku. Rezeki tidak akan kemana.
"Qret, jawab dong!" pinta Riana.
"Ya ya boleh. Tapi dengan satu syarat." kataku.
"Apa?"
"Kau harus pakai kerudung."
"Makanya beli!" celetuk Deni.
"Aku kan belum gajian," Riana mencoba mencari alasan.
"Pakai kerudung ibu. Di rumah ada banyak!" kataku.
"Huuh. Kalian berdua memang menyebalkan. Selalu kompak untuk membuatku kesal. Lihat saja nanti, aku akan membalas kalian!" ucap Riana, sambil berlalu dengan bersungut-sungut.
Aku dan Deni tertawa melihat ulahnya. "Den, kau benar-benar tidak mau menghalalkan Riana?" tanyaku.
"Hah?" Deni agak terkejut mendengar pertanyaan yang aku lontarkan.
"Tidak mau menikahi Riana?" aku mengulang kembali pertanyaan tersebut.
"Dianya kayak tidak mau."
"Kata siapa? Memang sudah pernah bicara?"
"Qret, kau tahu kan Riana. Kalau aku ajak bicara serius bisa-bisa dia mencibirku."
"Segitu saja perjuanganmu untuk mendapatkan Riana? Kau tahu Riana tipe seperti apa, kan? Kalau kau benar-benar serius maka bersungguh-sungguhlah."
__ADS_1
"Bagaimana caranya, Qret. Aku benar-benar bingung menghadapi gadis itu. Tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin kau bisa berbagi informasi padaku. Kau kan sudah menjadi bagian hidupnya sejak kalian masih kecil. Kau pasti hafal betul wataknya."
"Kau temui paman Rudi saja. Bicara pada paman Rudi. Riana pasti akan mengikuti apa yang ayahnya katakan."
"Bicara ke pak Rudi?"
"Ya Den."
"Apa tidak salah? Riana bukan tipikal seperti Yasmin yang akan menuruti ayahnya. Kau tahu sendiri kan Qret, pak Rudi adalah salah satu orang yang sering dibantahnya."
"Berarti kau harus banyak lagi belajar tentang Riana. Ia memang tidak seperti kebanyakan anak perempuan yang penurut, malah cenderung suka membangkang. Tapi percayalah, untuk urusan pernikahan, ia akan menuruti ayahnya."
Dalam hal-hal sepele, sering bahkan hampir selalu Riana membantah ayahnya. Tapi aku tahu betul, sebenarnya Riana adalah tipe penurut. Dulu, saat ia memutuskan untuk berhenti sekolah karena merasa bosan dan sudah tidak tertarik dengan dunia pendidikan, tetapi dengan hanya sekali bicara, paman Rudi sudah bisa mengubah pikiran Riana.
"Kau hanya perlu mengambil hati ayahnya, maka Riana akan kau dapatkan." kataku, dengan penuh keyakinan.
"Hmm, baiklah. Aku akan memperjuangkannya!" seru Deni penuh semangat. "Aku akan menemui pak Rudi. Ku harap bisa mendapatkan restu darinya."
"Nah, begitu dong. Aku suka kau yang penuh semangat Den. Ingat baik-baik bahwa aku akan selalu mendukungmu!" kataku, menyemangati Deni.
"Hei, kalian berdua kenapa masih di sana? Kalian sedang apa? Oh, jangan-jangan kalian menggosipkan aku ya?" seru Riana yang kembali menghampiri kami berdua.
"Mau mengujinya?" Aku berbisik pada Deni.
"Boleh," jawab Deni.
"Kami sedang membicarakan calon istri Deni," cetusku. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin menjahili anak ini. Sekaligus menguji perasaannya pada Deni.
"Calon istri?" Riana tampak kaget. "Maksudnya?"
"Ya, calon istri Deni. Jadi dia sedang bertanya padaku tentang perihal lamaran. Kau belum tahu ya kalau Deni akan segera melamar calon istrinya." tambah ku lagi
"Hah?" wajah Riana berubah pucat.
"Kau mau bantu Deni, Riana?" tanyaku pada Riana.
"Hah? Bantu?" Riana benar-benar berubah. Ia tampak kikuk berbicara denganku.
"Iya Riana. Tolong bantu aku memilihkan cincin untuk lamaran." Deni ikut-ikutan membecandai Riana.
"Kenapa harus aku?" Riana berubah jadi ketus.
"Kau kan satu-satunya teman perempuan kami. Aku ingin mendapatkan rekomendasi darimu. Kalau Qret kan dipilihkan ibunya, sedangkan aku tidak punya ibu. Kau mau bantu kan Riana?" Deni mengulangi permintaannya.
"Tidak. Aku mau pergi saja!" Riana cepat-cepat berpaling, namun kami berdua masih bisa melihat ada kaca pecah di matanya.
__ADS_1