GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
14. Pernikahan Mia Dan Joko


__ADS_3

Mia masih duduk di depan meja rias, bukan karena memperhatikan riasannya yang memang sudah sempurna, tapi ada banyak hal yang dipikirkannya. Sebentar lagi akad pernikahan antara dirinya dan Joko akan segera dilaksanakan, maka secara agama dan negara ia sah menjadi suami dan istri.


Tidak pernah terbayang oleh perempuan itu akan menikah dengan lelaki lain selain Ren. Tapi apa boleh buat, ia tak punya pilihan lain. Ia tak ingin benar-benar kehilangan Ren, harus ada pengorbanan besar yang dilakukannya, yaitu menikah dengan lelaki lain. Setetes air mata turun perlahan, diikuti tetesan-tetesan berikutnya, tanpa sadar malah jadi banjir air mata.


Tok tok tok. Pintu kamar diketuk, tak lama muncullah perempuan paruh baya denagn riasan super tebal berbalut gaun panjang berwarna merah maroon yang memperkuat kesan glamor. Sebenarnya perempuan itu jauh lebih cantik dengan riasan natural, tetapi sepertinya ia tak percaya diri sebab sudah muncul guratan halus di sekitar mata dan beberapa area wajah. Baginya pantang terlihat tua, ia harus tetap cantik mempesona seperti gadis-gadis usia dua puluh lima tahun yang masih muda merekah.


"Kamu kenapa?" tanya ibunya, kepada Mia, sebab melihat putri semata wayangnya menangis.


"Nggak apa-apa." Mia buru-buru menghapus air matanya dengan kasar, lalu mendempul kembali bedak yang sempat luntur dengan makeup.


"Nggak apa-apa kok nangis? Kamu menyesal? Kalau ia, katakan sejak sekarang. Mumpung belum ijab kabul. Lagian kenapa harus menikah dengan lelaki seperti itu sih, Mi? Sudahlah miskin, pendidikan nggak jelas, wajah pas-pasan pula. Lihat keluarganya, ibunya benar-benar kampungan. Nggak ada bagus-bagusnya. Mama benar-benar malu melihat mereka.


Bukannya kamu sukanya sama Ren ya, kenapa malah beralih padanya? Nggak imbang sekali, Mia. Bagaikan langit dan bumi!" dengan lancar ibunya menghina calon menantunya dan juga calon besannya tersebut yang dinilai memang tidak satu level dalam berbagai hal. "Kamu lihat saja, mahar yang diberikannya juga menjatuhkan keluarga kita saja, hanya mampu memberi seperangkat alat salat. Apa-apaan itu? Setidaknya kasih uang atau perhiasan, kek. Kalau teman-teman mama tahu bakalan malu sekali." lagi-lagi ibunya mendengus kesal.


Pantas saja ibunya begitu kecewa sebab sejak awal ia membayangkan putrinya akan menikah dengan Ren, putra tunggal seorang pengacara sekaligus pemilik banyak butik besar di bilangan Jakarta, juga cucu seorang kepala polisi yang sekarang sibuk dengan bisnis hotelnya setelah memasuki masa pensiun. Bisa dibayangkan, Ren, sebagai dokter muda yang tampan juga berwajah turunanlah yang nantinya akan mewarisi semua itu.


Tapi kenyataannya sekarang, Mia malah menghadirkan calon menantu yang berbeda kasta. Apalagi semuanya serba dadakan. Hanya sepekan sebelum ini Mia secara tiba-tiba minta untuk menikah dengan pemuda kampung itu, ia tak mau mendengarkan nasihat ayah dan ibunya, bahkan sampai mengancam, jika tetap dilarang maka ia akan kawin lari. Sebuah ancaman yang diyakini orang tua Mia bukanlah sebuah isapan jempol belaka sebab mereka tahu seberapa nekat putri tunggalnya.


"Mia, apakah kamu hamil duluan?" pertanyaan itu akhirnya terlontar sebab ibunya benar-benar penasaran. Ia tak yakin jika putrinya benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki biasa seperti itu. Sebab ibunya tahu selera mereka soal lelaki cukup tinggi.


"Apa maksud mama?" Tanya Mia, dengan mata melotot, tak suka dengan pertanyaan tersebut. Seolah-olah ia adalah perempuan nakal yang sembarangan tak bisa menjaga kehormatan.


"Ya mama heran saja, kenapa tiba-tiba. Bukannya kamu sukanya sama Ren? Standar kamu Ren, kan. Ini jauh sekali lho dari Ren. Mama benar-benar nggak habis pikir, Mi."


"Ren Ren Ren. Sejak kapan mama peduli dengan perasaanku? Lagipula Ren sudah menikah, ma. Sudah lama. Mama ketahuan sekali tidak perhatian padaku, katanya saya, mana buktinya, Ma?"


"Mia!"

__ADS_1


"Apa? Mama mau mengelak, mama itu memang nggak peduli padaku! Hanya ucapan saja, untuk menutupi segala kekurangan mama."


"Baiklah, mama minta maaf. Tapi ini serius, apa kamu benar-benar sudah hamil duluan?"


"Enggak ma, aku bukan perempuan gampangan seperti mama yang suka gonta-ganti pasangan."


"Mia! Kamu itu ya, suka sekali mencari gara-gara dengan mama! Sudah diajak bicara baik-baik malah berani mengatai ibunya..Nggak sopan kamu!


Terserahlah, kalau kamu tetap ngotot, silakan saja menikah dengan laki-laki kampung itu, nanti juga kamu bakalan jadi kampungan!.


Tapi ingat, kalau kamu menyesal, jangan salahkan apalagi merepotkan mama. Jangan bilang mama nggak peduli karena mama sudah membujuk kamu."


"Kenyataannya begitu!" Mia kembali berbalik, menatap pantulan bayangan wajahnya di cermin. Sejujurnya ia memang tak yakin dengan pernikahan ini, tapi ia tak punya pilihan lain.


***


Jasmin dan Ren sudah berada di ruang resepsi pernikahan Mia dan Joko.. sepasang suami istri itu bergandengan tangan menuju pelaminan, usai menyerahkan kado di meja penyambutan tamu.


Jasmin memang tak menyangka kalau akhirnya satu-satunya rival terberatnya akan menikah hari ini.


"Pantas saja aku hubungi berkali-kali tapi nggak bisa, tahu-tahunya sedang sibuk menyiapkan pernikahan. Curang nggak ngabar-ngabari." kelakar Ren pada Mia dan Joko.


"Terimakasih ya Ren, Jasmin. Sudah hadir di pernikahan kami!" kata Mia.


Setelah menyalami pengantin, Ren dan Jasmin segera pulang. Mereka memang sudah sepakat tak akan berlama-lama di sana.


"Apa benar kakak menghubungi Mia beberapa hari lalu?" tanya Jasmin, sejujurnya ia masih curiga, bagaimana perasaan suaminya sebenarnya.

__ADS_1


"Ya." jawab Ren tanpa rasa bersalah, namun sukses membuat Jasmin kesal.


"Kakak melarangku berbincang dengan Riu, tapi lihatlah, kakak sendiri sembarang bergaul dengan kak Mia."


"Siapa yang sembarang bergaul, aku hanya ingin berbincang biasa, sekedar tukar pikiran."


"Apa kakak tidak punya teman laki-laki untuk diajak berbincang?"


"Nggak ada."


"Ya Tuhan, kalau begitu kita sama. Aku juga hanya punya satu teman yaitu Riu, jadi tolong jangan larang aku berbincang dengan Riu. Mengerti!"


"Nggak bisa, kita berbeda. Aku tetap melarang kamu berbicara dengan Riu atau interaksi apapun selama ia belum menikah."


"Kenapa begitu?".


"Ya begitulah."


"Aneh sekali!"


"Biarin!"


"Kalau begitu berhenti di sini!"


Begitu mobil berhenti, Jasmin langsung meloncat dari mobil. "Aku ke rumah kakak saja."


"Mau apa?"

__ADS_1


"Ketemu ibu mertuaku, lah. Dari pada pusing memikirkan kakak, lebih baik aku fokus dengan rencana menjodohkan ibu dengan paman Jimmi." ucap Jasmin, lalu buru-buru berlalu ke arah berlawanan, mencegat taksi yang kebetulan lewat.


"Hai Jasmin, jangan pergi. Jangan coba-coba melakukan semua itu atau aku akan marah!" teriak Ren, tapi tetap saja diabaikan oleh Jasmin yang sudah lebih dulu pergi.


__ADS_2