
Selesai bicara dengan pak Bagus, sebelum kembali ke sel tahanan, aku minta izin untuk menghubungi ayah dan ibu sekedar berbagi informasi bahwa sudah ada pengacara baru sehingga ayah tidak perlu lagi menghubungi rekan kerjanya yang lama.
Aku mengerti, ayah yang dulu dengan yang sekarang sudah berbeda di mata rekan-rekan bisnisnya. Mungkin dulu semua orang akan mendengarkan ayah dan siap membantu. Tetapi sekarang, tanpa nama besar keluarga istrinya, ayah dipandang sebelah mata.
[Bu, tolong katakan pada ayah, Qret sudah punya pengacara baru. Hari ini kami akan bertemu.] kataku, dari panggilan telepon dengan penuh semangat sebab merasa mendapatkan angin segar.
[Syukurlah Qret, ibu berdoa semoga pengacaranya bisa membantu kita.] tutur ibu. Sebenarnya, tadi sebelum pulang, ibu sempat mengajukan sebuah usulan yang langsung kubantah. Ibu ingin menanggung tanggung jawab atas barang-barang haram tersebut agar aku dibebaskan.
Itu sama saja bunuh diri. Aku tidak akan rela ibu melakukan itu semua hanya karena ingin menolongku. Aku percaya, cepat atau lambat, masalah ini akan mendapatkan titik terangnya.
Panggilan telepon telah berakhir. Aku langsung melapor pada polisi yang berjaga agar segera diantar ke sel tahanan.
"Saya sudah selesai, pak." kataku.
"Baik!" polisi tadi yang memberikan gagang telepon langsung berdiri.
"Tunggu dulu, mas Qret. Kalau boleh, kami ingin bertanya." salah seorang dari empat polisi yang duduk di meja jaga segera mendekat padaku. Sebelum kembali bicara, ia melirik ke arah dalam kantor.
"Ada apa, pak?" tanyaku.
"Mmmm, itu. Apa benar, mas Qret dan pak Jimmi bersaudara? Maksud saya, mas Jimmi adik atau kakak mas Qret? Bukan kandung, tapi tiri. Benar begitu mas?" tanyanya, dengan suara berbisik.
"Maksudnya?" aku mengerutkan kening.
"Mas Qret, kita semua sudah tahu kalau ayah pak Jimmi, pak Wijaya, punya simpanan. Iya, kan?" tanya polisi kedua, sambil mendekat padaku.
"Simpanan?" kepalaku berkerut. Bukan tidak mengerti arah pembicaraan mereka, tetapi lebih pada bingung, untuk apa mereka ingin tahu semua itu. Kalaupun ayah punya simpanan, itu bukan urusan mereka. Toh tidak menggangu kehidupan mereka. Sikap yang seperti ini selalu sukses membuatku muak sekaligus jijik. Kenapa juga masih ada orang yang ingin tahu urusan orang lain. Apalagi kalau itu tidak merugikannya, tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
__ADS_1
"Mas Qret jangan marah, ya. Saya mengerti, orang sekaya pak Wijaya, pasti banyak yang suka, apalagi ditambah wajahnya yang juga cukup tampan. Benar, tidak?" ungkap polisi pertama.
"Sudahlah mas Qret, tidak perlu disembunyikan lagi. Beberapa waktu lalu juga sudah keluar beritanya di televisi kalau pak Wijaya dengan Bu Rani mau bercerai. Apa penyebabnya simpanan pak Wijaya?" sambung polisi kedua.
Simpanan ... simpanan. Aku muak mendengarnya. Mereka pasti membicarakan ibu, yang dianggap sebagai perusak rumah tangga ayah dan bu Rani.
Kini aku mengerti mengapa ayah terlihat cemas kalau berada di keramaian bersama kami. Pantas ayah selalu memakai kacamata dan topi yang agak tertutup. Kadang malah menambahkan dengan masker.
Aku baru ingat kalau ayah pernah menjadi salah satu orang terpandang di negeri ini. Pasti banyak yang mengenal ayah. Meskipun semua bukan milik ayah, tetapi milik keluarga istrinya. Jangan-jangan itu juga penyebab beberapa orang yang sering mencuri pandang ke arah kami jika bersama ayah. Bahkan kadang aku merasa ada yang mengambil gambar kami.
"Benar kan, mas Qret ini anaknya simpanan pak Wijaya?" polisi pertama kembali menegaskan.
"Kalau bapak-bapak ingin tahu, tanya saja pada Jimmi. Jangan tanya saya karena saya tidak tertarik untuk bercerita!" kataku, dengan nada ketus.
"Lha mas Qret, jangan galak juga dong. Kami mana berani tanya pak Jimmi, dia kan atasan kami. Bisa-bisa kami dapat hukuman. Lagian mas Qret jangan galak-galak dong, kami yakin kok mas Qret berbeda dengan pak Jimmi." timpal polisi kedua.
"Ada apa ini?" polisi yang tadi mengantar dari ruangan pak Bagus menghampiri kami.
"Ini pak mereka mau tahu ...." aku baru hendak mengadu, tetapi dua orang polisi itu langsung menarikku.
"Mas Qret, ayo kita kembali ke sel!" ajak polisi pertama.
"Bapak jangan pernah bahas-bahas ibu saya lagu, kalau sampai saya dengar, akan saya laporkan pada pak Bagus!" aku mengancamnya.
"Ya maaf sih mas Qret. Saya enggak akan bicara lagi."
Sampai di depan pintu tahanan, polisi tadi mempersilakan untuk masuk, setelah menguncinya, ia kembali ke depan. Sementara aku memutuskan untuk membaca buku.
__ADS_1
Sudah hampir separuh buku yang dibawakan Yasmin habis kubaca. Saat hendak menutupnya sebab mata sudah sangat mengantuk, tiba-tiba sebuah kertas putih yang dilipat terjatuh ke lantai.
Kertas itu dilipat empat. Saat kubuka, ada tulisan tangan seseorang yang sangat rapi. Aku yakin itu tulisan Yasmin.
Duhai engkau yang sedang menjalani masa-masa sulit ini. Percayakah engkau akan keajaiban Tuhan? Bagaimana Tuhan mengatur semuanya hingga berlaku adil untuk kita semua, selaku hanba-Nya.
Engkau, jika hatimu gelisah karena ujian yang tengah menimpa.
Sama, aku pun merasakan itu.
Entah mengapa, bahkan aku merasa lebih gelisah darimu.
Aku merasakan siksaan yang amat berat, sebab kondisimu saat ini.
Beratnya ujian hidup yang selama ini menimpaku.
Rasanya tidak sepadan saat tahu engkau kini terkurung di sana dengan tuduhan yang amat keji.
Mungkin ini yang dinamakan sebab cinta. Memang memilukan, tetapi aku memilih menikmatinya, sembari berharap mendapat Ridha Allah.
Duhai engkau, bersabarlah. Semoga keajaiban itu kita dapatkan. Aamiin.
Cinta, benarkah ia jatuh cinta oadaku? Oh Tuhan, Yasmin menuliskan surat cinta untukku. Surat yang sairnyanya begitu indah. Sungguh, aku berbunga-bunga membacanya. Jadi begini rasanya dapat surat cinta dari kekasih.
Dulu, saat menginjak usia remaja, saat teman-teman sepantaran sampai merona hingga melakukan hal aneh hanya karena perasaan cinta. Aku mencibir mereka sebab tidak yakin cinta seindah itu. Tetapi kini aku mengerti, aku memahami, mengapa ada yang sampai rela melakukan apapun demi cinta, bahkan Deni sampai salah memberikan pinjaman tiga milliar karena ia sedang patah sebab cinta. Tapi, kini aku justru bersyukur dengan kesalahan yang ia lakukan, sebab jika tidak ada pinjaman tiga milliar, aku tidak akan pernah bertemu Yasmin.
Allah ... jika engkau mengizinkan, inginku merasakan manisnya cinta ini dalam kehalalan. Aku tidak ingin hanya jatuh cinta tanpa sebuah ikatan yang engkau ridhai. Ingin ku teguk cinta ini selamanya hingga surga. Bersama anak keturunan kami, orang tua, juga orang-orang beriman nantinya.
__ADS_1
Ahhh Yasmin, betapa indahnya jatuh cinta bersamamu. Aku sungguh-sungguh berharap, agar kita bisa bersama selamanya. Aku pasti jadi orang yang paling bahagia karenanya.