GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
115. Semangat Yasmin


__ADS_3

Hari kesepuluh di rumah sakit. Aku masih setia menemani di sisi Yasmin. Tidak beranjak kecuali untuk keperluan salat dan ke kamar mandi. Untuk urusan makan, ibu dan Riana yang mengatur. Sementara kedai ku percayakan pada Deni dan Jack. Aku benar-benar hanya fokus pada Yasmin saja.


Setiap saat aku mengajaknya berbincang, seolah Yasmin hanya tertidur saja. Berharap ia segera bangun.


"Yas, kau tahu, aku begitu rindu mendengar suaramu. Selama sepuluh hari ini hanya aku saja yang mengoceh. Kapan kau akan bangun? Apa kau tidak kasihan mendengarkan aku bicara sendiri. Sebenarnya kan lebih enak jika kita ngobrol. Aku tidak masalah berbincang denganmu meski kau berbaring.


Baiklah, kalau kau masih ingin tidur tidak apa-apa. Aku tidak akan marah. Aku hanya rindu mendengar suaramu. Yas, aku mencintaimu!" kata yang sudah lama ingin kuungkapkan, namun selalu saja sungkan terucap.


Aku menundukkan kepala, menahan rasa kantuk yang begitu berat. Semalam ini aku memang tidak tidur, entah mengapa hatiku resah memikirkan Yasmin. Ini sudah sepuluh hari dan belum ada tanda-tanda ia akan bangun. Padahal dokter mengatakan paling lama Yasmin tertidur mungkin hanya satu atau dua hari. Apakah ada yang salah? Entahlah, aku hanya bisa mengikuti skenario Allah untuk hidup kami.


"Mas," suara Yasmin memanggil pelan.


"Ya Tuhan, saking rindunya aku sampai berhalusinasi mendengar kau memanggilku." kataku. Tetapi saat mengangkat kepala, aku melihat Yasmin sudah membuka matanya. Ia tersenyum ke arahku.


"Mas." panggilnya lagi.


"Kamu sudah bangun, Yas?" tanyaku, sambil mengusap mata, memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Saat aku mencubit tangan, rasanya sakit. Berarti ini nyata. Ya Allah ... Alhamdulillah. "Yas, kau sudah bangun? Terimakasih ya Allah. Yas, tolong panggil aku satu kali lagi. Mau ya!" pintaku, saking rindunya mendengar suara Yasmin.


"Mas." katanya, masih tersenyum.


"Tunggu sebentar, aku akan panggil dokter!" aku segera berlari keluar, memanggil dokter yang sedang berjaga. Setelah lama baru sadar, kenapa tidak memencet tombol emergency saja.


Tidak berapa lama dokter datang memeriksa Yasmin, memastikan kondisi Yasmin sudah membaik.


"Alhamdulillah," lagi-lagi aku mengucap syukur, usai dokter memeriksa Yasmin.


"Apa aku tidur terlalu lama sehingga mas begitu merindukan aku?" tanya Yasmin sambil tersenyum jenaka.

__ADS_1


"Ya, kau tidur sepuluh hari. Tidak bangun-bangun. Aku begitu rindu mendengar suaramu, Yas!"


"Subhanallah. Selama itu? Setelah ini aku harus mengurangi jam tidur, untuk menebus sepuluh hari yang sudah ku pakai."


"Hahaha, tidak perlu begitu juga. Aku yang salah. Harusnya kan putri tidur di cium supaya bangun. Tapi aku membiarkan begitu saja. Maafkan aku ya tuan putri!"


"Mas ada-ada saja." giliran Yasmin yang tertawa kecil mendengar celotehku. "Mas, bayi kita tidak apa-apa, kan?"


Pertanyaan Yasmin membuatku terdiam sesaat. Aku berusaha menata hati dan kata-kata agar Yasmin tidak terpukul mendengar kabar bahwa bayi kami sudah tidak ada.


"Alhamdulillah dia baik. Sehat sekali." kataku.


"Alhamdulillah." Yasmin mengusap pelan perutnya.


"Dia sudah berada di tempat yang paling nyaman Yas, bersama pemiliknya."


"Mas," pelan bulir bening itu keluar dari kedua mata Yasmin. Lalu berubah jadi idaman tangis.


Bukannya mereda, tangis Yasmin semakin keras. Tubuhnya sampai terguncang menahan sakitnya perasaan kehilangan. Aku memaklumi sebab ini tidak mudah untuk kami. Setelah menanti selama enam bulan, akhirnya makhluk kecil yang sudah kami rindukan itu akhirnya datang juga. Tetapi ternyata hadirnya sebentar saja. Padahal kami semua sudah sangat menyayanginya.


"Yas," aku mengusap pelan kepala Yasmin.


"Mas, aku ingin ke kamar mandi. Bisa tolong bantu aku?" pelan Yasmin menyibak selimutnya. "Kenapa kakiku kaku sekali ya? Apa karena tidur selama sepuluh hari?" tanya Yasmin sambil menghapus sisa air mata di pipinya.


Lagi-lagi aku menarik nafas, entah harus memulai dari mana menjelaskan padanya. Aku hanya tidak tega jika harus membuatnyabterluka untuk kedua kalinya.


"Yas, untuk sementara waktu, kamu mungkin tidak bisa berjalan." kataku, pelan.

__ADS_1


"Apa? Tapi kenapa mas?" lagi-lagi Yasmin histeris.


"Kecelakaan itu membuta kakimu retak. Tapi tidak akan lama, jika kita bisa menjalani pengobatan di tempat yang cocok maka kamu akan bisa berjalan lagi."


"Jadi maksudnya aku cacat, mas?"


"Yas, buka begitu."


"Ya Allah ... apa ini hukuman sebab aku tidak mendengarkan mas? Astagfirullah. Aku benar-benar menyesal sudah memaksakan kehendak. Ya Allah ... mohon diberi ampunan. Mas, maafkan aku, aku sudah melakukan kesalahan sebab tidak mendengar kata-kata mas dan juga tidak bisa menjaga anak kita dengan baik." Yasmin menangis dalam pelukanku.


Aku mengeratkan pelukan Yasmin, berharap ia bisa menumpahkan semuanya padaku. Ia harus segera bangkit dari kesedihan ini. Semua bukan salah Yasmin, inilah yang dinamakan ujian.


***


Orang-orang yang datang bergantian selalu berusaha untuk menghibur Yasmin. Tetapi belum ada satu orangpun yang mampu mengembalikan senyum ceria Yasmin. Ia masih banyak termenung, menyalahkan diri sendiri serta menyesali segala yang sudah terjadi. Kondisinya yang seperti itu semakin membuatku merasa tertampar. Entah sudah berapa kali aku mengatakan agar ia ikhlas, tetapi tetap Yasmin belum bisa menerima semuanya.


Ternyata ikhlas memang berat. Mungkin di mulut bisa mudah diucapkan, tetapi di hati penuh dengan perjuangan.


"Sekarang aku mengerti, mengapa orang yang ikhlas dan sabar itu ganjarannya adalah surga." kataku. "Sebab tidak mudah kan, Yas? Jadi wajar jika begitu besar hadiah yang Allah berikan. Lalu kau mau memilih yang mana Yas? Tetap sabar dan merelakan semuanya dengan hadiah surga, atau terus meratapi maka tidak ada yang kita dapatkan selain rasa sedih dan kehilangan. Bagaimana Yas?" tanyaku, sambil membelai kepala Yasmin.


"Mas," ia memanggilku dengan air mata berlinang. "Ajari aku, bimbing aku supaya ikhlas dan sabar." pintanya.


"Ya Yas, kita belajar sama. Kita saling mengingatkan ya." kataku lagi.


"Iya mas. Aku ingin dapat surga Allah."


"Hm. Yas, harusnya kita bersyukur, sebab sekarang kita sudah punya tabungan. Akan ada seorang malaikat kecil yang menanti kita di surga Allah. Sekarang tinggal kita bersabar, Istiqomah dalam kebaikan agar kita bisa kembali ke surgaNya. Tempat seharusnya setiap anak cucu Adam kembali. Bukan begitu Yas?"

__ADS_1


"Iya ustad Qret!" kata Yasmin, dengan senyum yang kini terukir di bibirnya.


Alhamdulillah, bidadari-bidadari sudah kembali. Yasmin yang memiliki wajah teduh. Yasmin yang menjadi jalanku mendapatkan jalan cintaNya.


__ADS_2