
"Mas dengar sendiri, kan. Bagaimana cara Riana mewarat Riu. Sudah tahu Riu sakit, ia sampai lupa memberinya obat." Yasmin masih melanjutkan omelannya. Menumpahkan segala kekesalannya. "Harusnya ia tidak lupa. Masa hanya mengurus satu bayi saja ia keteteran!" sikap Yasmin masih menyalahkan Riana.
Aku tidak bisa berkata apapun meski sebenarnya tahu bagaimana lelahnya Riana seharian ini. Bahkan tadi siang pun ia makan sambil disuap oleh Deni sebab Riu tidak mau diletakkan. Ia harus digendong oleh Riana, tidak mau digantikan oleh Deni ataupun paman Rudi. Sesuatu hal yang sebenarnya memang sering terjadi pada anak-anak saat sakit. Selalu ingin dekat dengan ibunya.
Tetapi lagi-lagi, demi menyenangkan hati Yasmin yang sempat stres akibat kehilangan bayinya, akhirnya Riana berusaha bersikap cuek pada Riu jika sedang bersama Riana.
"Aku benar-benar kesal pada Riana!" ungkap Yasmin lagi. "Kalau aku jadi ibunya, aku tak akan membiarkan Riu sakit terlalu lama."
"Yas, yang memberi sakit adalah Allah. yang menyembuhkan juga Allah. Kita hanya disuruh menjalani ikhtiar agar lekas sembuh."
"Ya, makanya diusahakan agar Riu cepat sembuh. Obatnya diberikan, jangan sampai lupa."
"Kau segitu sayangnya ya pada Riu?"
"Ya, sangat sayang!"
"Kalau kau menyayangi Riu, maka doakan dia. Jangan memarahi ibunya lagi. Riana itu kan masih menyusui Riu, kalau kau sibuk menyalahkannya, nanti asinya tidak keluar. Riu juga yang kena efeknya." kataku.
"Mas benar. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Doakan Riu."
Yasmin menurut. Ia segera berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Tidak lama Yasmin sudah hanyut dalam doa-doanya. Bahkan aku sampai mendengar Isak tangisnya.
Ahhhh Riu, kau beruntung sekali dicintai oleh dua ibu sekaligus. Kau akan tumbuh jadi anak yang berbahagia. Kau punya ibu seperti Riana yang hatinya sangat baik. Juga Yasmin yang sangat menyayangimu meski kau tidak lahir dari rahimnya.
***
Masih terlalu pagi, tetapi Yasmin sudah berulang kali menghubungi Riana. Saat panggilannya tidak kunjung dijawab, Yasmin jadi galau lagi.
"Riana kemana, ya?" tanya Yasmin.
"Masih pagi, Yas. Barangkali Riana masih sibuk mengurus Riu atau menyiapkan segala keperluan pagi hari." jawabku.
Tiba-tiba Yasmin berteriak sebab Riana menelepon balik. Tetapi raut wajah Yasmin berubah cemberut karena yang menelepon adalah Deni. Ia mengabarkan bahwa Riana sedang tidur, sedangkan Riu sedang ditimang kakeknya.
"Bagaimana sih Riana, anaknya sakit, tapi jam segini ia masih tidur." keluh Yasmin lagi, usai berbincang dengan Deni.
"Wajar Yas, kan seharian jagain Riu yang rewel. Mungkin dia baru bisa tidur jam segini." kataku.
"Mas kok membela Riana terus, sih? Mas nggak peduli sama Riu? Dia itu masih bayi. Belum bisa apa-apa. Dalam kondisi sakit seperti ini butuh perhatian ibunya."
__ADS_1
"Salah lagi."
"Habisnya mas dari kemarin selalu membenarkan Riana, padahal kan ia salah. Meski kalian pernah dekat, tapi jangan begitu. Kalau benar ya katakan benar. Kalau salah ya katakan salah!"
"Yas, aku nggak selalu membela Riana. Justru aku berkata sesungguhnya. Tadi malam saja saat berangkat salat Isya, Deni bercerita kalau Riu tidak mau digendong siapapun kecuali oleh Riana. Bisa bayangkan betapa lelahnya menjaga semalaman.
Baru habis Subuh Riu mau lepas dari Riana. Jadi tidak ada salahnya kan dia tidur sebentar. Kalau Riana memaksakan diri tetap terjaga padahal kondisinya sudah sangat lelah, bisa-bisa dia juga sakit. Kalau Riana sakit, Riu juga yang kena dampaknya."
"Terserah mas, lah."
***
Tiga hari Riu sakit. Sekarang kondisinya sudah membaik. Meskipun begitu, ia belum boleh bertemu dengan Yasmin karena bekas campaknya belum sempurna hilang seluruhnya. Untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu hal, maka kami memutuskan menjaga jarak terlebih dulu.
Tetapi Yasmin sudah sangat rindu pada Riu. Entah bagaimana awalnya, akhirnya muncullah ide tersebut. Mempertemukan Yasmin dan Riu dengan perantara dinding kaca.
Yasmin berada dalam rumah. Sedangkan Riu di luar. Mereka disekat oleh kaca yang transparan sehingga bisa saling melihat tanpa bersentuhan.
Senyum sumringah terpampang jelas di wajah Yasmin, betapa ia begitu bahagia bisa melihat langsung Riu yang juga tertawa-tawa melihat Yasmin. Tetapi begitu mereka kembali berpisah, keduanya kompak memperlihatkan ekspresi murung. Riu menangis. Begitu juga dengan Yasmin. Ia menghambur dalam pelukanku.
"Aku rindu sekali pada Riu!" ucap Yasmin sambil terisak-isak.
"Sabar ya. Doakan semoga Riu cepat sembuh supaya kalian bisa bersentuhan. Tidak hanya di depan kaca." kataku, sambil membelai lembut kepala Yasmin.
"Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya."
"Apa Riu baik-baik saja? Apa ia juga merindukanku?"
"Pasti, Yas. Tadi saat diajak pulang saja ia menangis keras."
"Sedih sekali tidak bisa menemani Riu. Apalagi saat dia sakit seperti ini."
"Demi kebaikanmu dan bayi kita, Yas."
"Mas,"
"Ya."
"Aku sangat menyayangi Riu."
"Iya, aku tahu."
__ADS_1
"Aku ingin menjaganya."
"Hm,"
"Apakah ia akan baik-baik saja?"
"InsyaAllah Yas, ia akan baik-baik saja. Hanya tinggal pemulihan saja. Banyak-banyak berdoa untuknya. Kelak, aku yakin, Riu akan berbakti padamu."
"Aku ingin Riu benar-benar jadi anak kita."
"Ia sudah seperti anak kita sendiri."
"Bagaimana kalau ia jadi menantu kita saja."
"Lihat nanti, Yas."
"Aku benar-benar ingin, mas."
"Iya. Tapi jika anak kita tidak berjodoh dengan Riu, kau tak boleh memaksakan kehendak."
"Kenapa?"
"Jodoh itu adalah urusan Allah, Yas. Jangan memaksakan kehendak."
"Iya. Aku mengerti."
Yasmin segera berlalu ke jendela, kembali melihat ke rumah sebelah. Mengintip, barangkali tampak Riu atau terdengar suaranya. Tetapi sepi. Melihat tingkahnya, aku hanya bisa tersenyum.
***
Akhirnya Pertemuan itupun terjadi. Ketika Riu sudah dinyatakan sembuh seutuhnya. Bayi itu begitu menggemaskan, wajar saja jika Yasmin begitu menyayanginya.
Saat pertama kali mereka bertemu setelah sepekan lebih berjauhan, kini Yasmin bisa menyentuh Riu. Tidak hanya menyentuh, tapi juga menggendong dan memeluknya sepuas hati
Yasmin bahkan sampai meneteskan air mata haru karena akhirnya bisa bertemu dengan Riu kembali.
"Ibu benar-benar rindu, Riu." ungkap Yasmin.
"Riu juga rindu padamu, Yas. Setiap aku lihat kan video kita ia akan tersenyum meskipun sedang sakit." ungkap Riana.
Dua orang ibu-ibu itu langsung sibuk memperbincangkan tentang Riu. Sementara bayi itu tampak nyaman dalam pangkuan Yasmin. Sesekali ia tertawa jika ibunya atau Yasmin menggoda.
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga drama perpisahan ini." kataku.
"Hahaha," tawa Deni langsung pecah, ia memang jadi tempatku curhat selama beberapa hari saat Riu sakit dan Yasmin menuntutnya untuk tahu bagaimana kondisi Riu padahal kami beda rumah. Meskipun berada di satu lingkungan, tetanggaan, tetapi kan tidak semuanya aku ketahui.