
Pagi mengapa begitu cepat menyongsong. Hari ini waktunya mengantar ayah dan ibu pindahan. Sejak semalam aku melihat ayah dan ibu sudah bersiap-siap, mengemas pakaian mereka. Sementara aku memilih mengurung diri di kamar dengan berbagai alasan yang kalau dipikir-pikir cukup janggal. Misalnya karena mau mencari dokumen, padahal semua sudah tersusun rapi oleh Yasmin. Tetapi sikap itu kuambil dengan berbagai alasan, khawatir akhirnya luluh perasaanku sebab masih berharap bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan ayah dan ibu. Tapi itulah pilihan yang diinginkan ayah dan ibu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti demi kebahagiaan mereka.
"Mas, kok masih di sini?" tanya Yasmin yang datang secara tiba-tiba sehingga aku tidak bisa berpura-pura sibuk. "Bapak dan ibu sudah selesai beberesnya." kata Yasmin lagi.
"Oh ya," aku menjawab pendek.
"Mas kenapa?"
"Enggak kenapa-napa."
"Berat ya?"
"Tidak juga. Biasa saja." jawabku, sambil berusaha menyembunyikan keresahan. Siapa coba yang tidak berat membayangkan akan berpisah dengan orang tua, padahal sudah lama ingin bertemu.
"Kalau aku berat. Aku masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama ayah dan ibu." ungkap Yasmin. Raut wajahnya langsung berubah menjadi cemberut. "Mas tahunan, aku merindukan kasih sayang seorang ibu."
"Tidak usah sedih. Nanti kalau kangen kita ke tempat ayah dan ibu "
"Tapi tetap saja beda. Biasanya bisa bertemu dua puluh empat jam, sekarang harus terpisah jarak. Tidak bisa saling melihat lagi kapanpun mau"
"Ya mau bagaimana lagi."
"Mas beneran tidak sedih?"
"Tentu saja sedih." aku memutuskan untuk jujur pada perasaanku sendiri. Tidak ada yang perlu dimalukan. Toh Yasmin adalah istriku sendiri. Dia tahu aku segala-galanya. "Tapi tidak mungkin juga menahan ayah dan ibu. Sama saja menahan kebahagiaan mereka. Padahal aku juga ingin menghabiskan masa-masa bersama ayah dan ibu seperti impianku dulu. Tapi menahan ayah di sini sama saja memberinya masalah. Banyak orang yang kenal ayah, sehingga membuat ayah tidak nyaman."
"Apa sebaiknya kita ikut pindah?"
Aku langsung tertawa kecil sambil menarik hidung mancung Yasmin. "Jangan mempersulit diri sendiri Yas, dengan memaksakan sesuatu yang tidak mudah. Kau kan tahu, kita mencari nafkah di sini, kalau memaksakan ikut pindah bersama ayah dan ibu, bagaimana dengan pekerjaanku?"
__ADS_1
"Iya juga ya " Yasmin langsung geleng-geleng kepala. "Kalau begitu ayo kita turun. Ayah dan ibu sudah menunggu."
Kami berdua berjalan keluar. Ternyata di bawah sudah ada Riana dan paman Rudi yang ingin melepas kepindahan ayah dan ibu.
"Bibi, padahal aku masih ingin belajar pada bibi. Kenapa bibi buru-buru pindah?" ungkap Riana sambil menitikkan air mata. Ia memang cukup manja pada ibu, mungkin karena perasannya terbalas.swbab ibu memperlakukan Riana layaknya putri kandung sendiri.
"Tenang saja Riana, ada Yasmin. Ia akan mengajarimu jauh lebih baik dari bibi." kata ibu, sambil menepuk pundak Riana.
"Iya, Yasmin memang bisa banyak hal, tapi aku juga ingin diajari bibi." kata Riana lagi.
"Jangan rakus Riana. Kau sedot dulu ilmu dari Yasmin, baru minta ilmu ibu." aku berseloroh. Untuk menghilangkan kesedihan di pagi ini.
Ayah dan ibu akan pindah, melanjutkan kehidupan mereka di tempat baru. Jauh dari pandangan kami. Aku tidak ingin ayah dan ibu membawa kesedihan. Semua harus semangat. Harus selalu bahagia semuanya.
"Siap berangkat sekarang?" kataku.
Aku langsung naik ke mobil yang baru dibeli sepekan lalu. Sementara mobil ayah sudah dikirim kemarin supaya kami bisa mengantar ayah dan ibu.
Pagi ini, aku dan Yasmin berangkat ke Bogor untuk mengantar ayah dan ibu. Sebenarnya Riana ingin ikut, tapi aku melarang sebab tidak ada yang menemani Lisa dikedai. Ia pasti sungkan jika tidak ada teman perempuan.
Mobil kupacu dengan kecepatan sedang, perjalanan cukup lancar karena masuk tol. Sepanjang perjalanan terdengar petuah ibu kepada Yasmin agar menjadi istri yang baik, memahami aku dan tidak lupa ibu menitipkan aku pada menantunya tersebut.
Kemudian gantian Yasmin yang menasihati ibu agar selalu menjaga kesehatan, tidak memaksakan diri terhadap pekerjaan, juga selalu mengabari jika ada apa-apa agar kami bisa segera menyusul.
Mendengar petuah yang disampaikan Yasmin pada ibu, rasanya aku tidak perlu lagi mengucapkan apa-apa sebab semuanya sudah disampaikan oleh perempuan yang dulunya sangat hemat bicara tersebut. Tetapi setelah menikah justru jadi banyak bicara.
Sementara ayah yang duduk di bangku sebelah hanya diam saja. Sesekali terdengar lafaz zikir dari lisannya.
Ayah, lelaki yang baru beberapa bulan ini kukenal, namun sudah punya tempat istimewa di hatiku, entah kenapa mengingatnya aku jadi sendu sendiri.
__ADS_1
Bagaimana dulu aku begitu membenci ayah, bahkan sempat menjadikan ayah musuh terbesarku, tapi kini ia adalah seorang yang berarti di hidupku.
"Qret, kau menangis?" tanya ayah.
Aku segera menghapus bulir bening yang kembali turun tanpa permisi. Padahal sudah sekuat hati ku sembunyikan. Malah turun juga.
"Qret, kenapa nak?" tanya ibu, dari kursi belakang.
"Hanya khawatir bagaimana nanti kalau kangen ibu." kataku.
"Kau tidak akan kangen ayahmu juga?" cetus ayah.
"Tentu saja. Akan sangat rindu ayah dan ibu!" seruku.
"Maafkan ayah dan ibu ya." pinta ibu.
"Tidak mengapa, Qret mengerti. Kadang kita harus mengalah agar orang lain yang kita cintai bisa mendapatkan kebahagiannya." kataku lagi.
"Qret, terimakasih banyak ya nak. Kau sudah berlapang hati melepas ayah dan ibu. Kau juga Yasmin, kalau bukan karenamu, mungkin kami tidak akan pernah bersatu lagi." kini giliran ibu yang menitikkan air mata.
"Ibu bicara apa? Yasmin tidak melakukan apapun. Semua karena baiknya Tuhan pada kita." ungkap Yasmin, sambil memeluk ibu.
Ahhhh, kenapa pagi ini begitu syahdu? Padahal kami tidak menawarkan bawang, tapi perih sekali rasanya mata ini. Aku sampai tidak bisa menahan buliran yang semakin lama mengalir begitu deras.
"Qret turun sebentar ya," aku bergegas turun dari mobil usai memarkir di rest area. Lalu lari ke kamar mandi.
Dalam sebuah toilet, aku menangis sejadi-jadinya. Persis seperti anak kecil yang akan ditinggal orang tuanya. Mungkin bagi sebagian orang akan dianggap aneh, tapi bagi orang yang memahami tentang perasaan akan mengerti mengapa akhirnya air mata ibu tumpah juga.
Sudah lama aku mendambakan kasih sayang ayah dan ibu. Kebencian yang ada di hati justru karena rindu yang teramat besar. Tetapi kini aku harus kehilangan mereka lagi. Memang benar, jarak Jakarta ke Bogor hanya beberapa jam, tetapi saat engkau tidak bisa melihatnya setiap waktu, kapanpun kau mau, itu akan menyisakan perasaan tidak nyaman di hatimu. Itulah alasan Aur mata ini tumpah.
__ADS_1