
"Qret, Yas ... kalian kenapa lambat sekali?" tiba-tiba Raina dan Deni sudah berada di depan pagar rumah. Mereka sengaja menghampiri kami sebab aku dan Yasmin belum juga muncul di kedai.
"Eh, kalian. Kebetulan sekali." kataku, lalu melempar kunci kedai ke Deni. "Tolong handle kedai dulu ya." pintaku.
"Memang kalian mau kemana?" Tanya Riana.
"Aku mau membawa Yasmin ke rumah sakit dulu." jawabku.
"Hah, Yasmin sakit?" Riana langsung menghampiri Yasmin. "Kamu kenapa Yas? Apa yang sakit? Jangan sakit dong Yas!" pintanya.
"Cuma pusing dan lemas," jawab Yasmin. "Jangan khawatir Riana."
"Gara-gara kau Riana. Memperkerjakan istriku tanpa kenal waktu." aku mencandainya. "Yasmin sampai sakit. Aku akan menuntut pertanggungjawaban kamu!"
"Hah? Duh, ya maaf sih. Maaf Yas, aku benar-benar enggak bermaksud membuatmu sampai sakit begini. Maaf ya!" Riana mengusap-usap tangan Yasmin. "Mana yang sakit, Yas? Mau aku temani berobat?"
"Tidak apa-apa Riana, mungkin memang sudah harusnya istirahat. Lagipula sakit itu kan penggugur dosa." kata Yasmin. "Aku pergi dengan mas Qret saja. Titip kedai ya. Semoga hari ini banyak pembelinya."
"Urusan kedai tenang saja." ungkap Riana.
"Wow, kau yakin bisa menghandle semuanya Riana?" Tanyaku.
"Ya enggaklah." jawabnya, dengan begitu santainya.
"Lalu kenapa bicara seperti tadi?" Tanyaku.
"Bukan aku, tapi suamiku. Iya kan?" Riana melirik Deni yang sejak tadi bungkam sebab jatah bicaranya sudah diambil oleh Riana.
"InsyaAllah." jawab Deni.
"Baiklah kalau begitu, kami berangkat duluan ya!" Aku membantu Yasmin naik mobil.
Usai menitipkan kedai, aku dan Yasmin menuju rumah sakit. Kami langsung menuju IGD sebab Yasmin sudah sangat lemah.
"Ibu Yasmin hamil, usia kandungannya sudah masuk enam Minggu." ungkap dokter padaku dan Yasmin.
"Hamil?" kataku dan Yasmin bersamaan.
"Maksudnya bagaimana dok?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Iya, ibu Yasmin sedang hamil saat ini, usia kandungannya memasuki pekan keenam."
"Alhamdulillah." aku mengucap syukur, lalu membelai lembut kepala Yasmin. "Yas, kamu hamil. Sebentar lagi kita akan punya anak. Aku akan jadi ayah dan kamu akan jadi ibu."
"Alhamdulillah," mata Yasmin berkaca-kaca mendengar penjelasan ku dan dokter. "Mas, aku bahagia sekali." ungkapnya.
***
Seluruh anggota keluarga gembira mendengarkan kabar tentang kehamilan Yasmin, andai saja ayah tidak sedang ada proyek dengan pesantren, mungkin ayah dan ibu sudah ke Jakarta untuk bertemu Yasmin dan calon cucu mereka yang masih ada di dalam perut Yasmin.
[Qret, pokoknya kamu harus menjaga Yasmin baik-baik. Pastikan seluruh kebutuhannya terpenuhi. Jangan biarkan Yasmin bekerja dulu. Ia harus istirahat yang cukup sebab kondisinya masih sangat lemah. Ibu hamil muda itu tidak boleh banyak bergerak duku, Qret. Jadi ingat baik-baik nasihat ibu ini ya. Tolong laksanakan sebaik mungkin. Oh iya, jangan izinkan Yasmin tetap bekerja di kedai, biar dia di rumah dulu istirahat, setidaknya sampai masuk trimester kedua. Sampai kandungannya mulai kuat. Mengerti kan Qret?] ibu menyampaikan banyak petuah untukku lewat telepon, beberapa saat setelah kukabari bahwa delapan bulan lagi ibu dan ayah akan menjadi kakek dan nenek.
[Siap bu, Qret akan menjaga Yasmin sebaik mungkin.] Kataku, lalu menutup panggilan telepon.
"Kamu dengarkan Yas, jangan banyak gerak duku, istirahat yang cukup, makan-makanan bergizi dan minum vitaminnya." kataku pada Yasmin, menyampaikan petuah dari ibu meski sebenarnya Yasmin sudah mendengar sebab telepon sengaja ku load speaker.
"Iya, aku mengerti mas." ungkap Yasmin sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Kalau begitu ayo kembali ke tempat tidur dan istirahatlah!"
"Mas, hamil juga enggak boleh tidur terus. Asalkan geraknya tidak berlebihan tidak apa-apa kok. Lagipula kandunganku sehat. Hanya mengalami mual muntah saja. Tapi masih bisa bekerja kok."
"Tapi mas ...,"
"Yas, patuhi apa kata mas Qret. InsyaAllah itu yang terbaik. Sekarang istirahat saja dulu, kan sejak pagi belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Makanya istirahatnya dibanyakin. Supaya segera pulih. Badannya tidak lemes lagi " Tambah ayah.
"Iya ayah!" Yasmin berjalan gontai menuju atas, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar panggilan dari luar.
"Yas ... Yasmin. Yasmin!" suara Riana. Aku langsung menepuk jidat.
"Riana!" seru Yasmin sambil tersenyum gembira sebab ia tidak harus ke kamar sekarang sebab sudah ada tamu.
"Yas!" Riana sudah masuk ke dalam. "Aku bahagia sekali Yas, akhirnya kamu akan punya bayi. Ya ampun, kira-kira laki-laki atau perempuan ya? Semoga saja bayinya nanti mirip kamu wajah dan sifatnya ya Yas."
"Apa maksudmu?" aku mengerutkan kening. Agak curiga dengan kata-kata Riana barusan, tangan dan di dalam perut Yasmin adalah anakku. Berarti ada kemungkinan anaknya akan mirip aku. Lalu apa masalahnya?
"Enggak maksud apa-apa." Riana tersenyum cukup aneh.
"Heh, jelaskan dulu."
__ADS_1
"Lho Qret, harusnya kau senang aku berdoa seperti itu. Kalau anakmu mirip Yasmin maka selamat segala-galanya."
"Lalu kalau mirip aku?".
"Ya gitu deh,"
"Riana!"
"Hahaha, aku hanya bercanda. Maaf Qret."
"Aku tersinggung!"
"Aku sudah minta maaf!"
"Eh sudah ... sudah. Masa mau jadi ayah dan Tante masih suka bertengkar juga. Nanti diketawain sama bayinya Kho." Yasmin mencoba menengahi, khawatir terjadi perang antara aku dan Riana.
"Lalu kapan bayinya akan lahir, Yas?" tanya Riana lagi.
"Kurang dari delapan bulan lagi, Riana." jawab Yasmin.
"Masih lama juga ya," Riana menghitung dengan jarinya. "Padahal aku sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya yang aku yakin sekali pasti sangat menggemaskan." ungkap Riana. "Oh ya, kapan kita berbelanja barang-barang kebutuhan bayinya?"
"Hmm, kapan ya?" Yasmin ikut menghitung.
"Eh tidak ... tidak. Sekarang bukan waktunya memikirkan belanja kebutuhan bayi. Sekarang waktunya istirahat Yas. Ingat apa kata dokter dan ibu. Harus banyak istirahat. Jadi maaf Riana, Yasmin sepertinya harus meninggalkan kamu, ia harus tidur ke kamar." kataku.
"Tapi Qret, kau pelit sekali!" Riana langsung manyun.
"Eh tapi tunggu dulu. Bukankah ini jam kerja, kenapa kau ada di sini? Kau mau aku potong gajinya? Iya?" kataku, memberikan ancaman supaya Riana cepat pergi dari rumahku, tetapi ia santai saja.
"Lho, bukannya kau yang menawarkan pada kami untuk memperpanjang libur. Kau lupa? Sudah untung aku masuk, kabur sebentar tidak masalah dong."
"Kapan aku bicara begitu padamu?"
"Tadi, kau menyampaikan pada suamiku. Lupa ya?" Riana tersenyum penuh kemenangan.
"Cieee yang sekarang manggilnya suamiku. Hahaha." kau tertawa geli mendengar Riana, sehingga membuat pipinya merona.
"Apa salahnya!" ia akhirnya memutuskan pergi dari rumah kamu, kembali ke kedai sebab malu mendengar olokanku.
__ADS_1