GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
35. Di Penjara


__ADS_3

Persis seperti dugaaanku, hasil tes punyaku dan ibu negatif. Tetapi masalah belum selesai sebab kami harus bertanggung jawab untuk sebuah kesalahan yang tidak kami lakukan.


"Mas Qret dan ibu harus tinggal di sini dulu sampai penyelidikan selesai." kata polisi penyidik, saat kami diminta masuk ke ruang penyidikan.


"Apa tidak ada jalan lain?" aku mencoba bernegosiasi. Rasanya tidak nyaman sekali berada di sini, apalagi ibu. Perempuan yang melahirkanku itu terlihat sangat gelisah sekali. Entah sudah berapa kali ia meremas tangannya.


"Tidak bisa mas Qret. Belum ada kejelasan siapa pemilik barang terlarang ini!" kata polisi tersebut dengan tegas.


"Qret," paman Rudi memanggilku. "Pikirkan, siapa kira-kira yang melakukannya?"


"Aku tidak tahu paman," aku menggeleng lemah. "Belakangan, aku mulai menjalani hidup normal, sejak hijrah tidak pernah lagi berhubungan dengan orang-orang di dunia hitam."


"Ahhhh, harusnya kita memasang CCTV!" ungkapnya.


"Mas Qret, ibu ... ayo ikut!" polisi tersebut memberi isyarat agar kami mengikutinya.


"Pergilah Qret. Paman akan berusaha mengeluarkanmu." kata Paman Rudi.


"Qret, ibu enggak mau!" ibu merengek.


Sambil menggandeng ibu, kami berjalan menuju sel tahanan yang berada di belakang kantor polisi.


Air mata ibu langsung menetes saat ia dimasukkan lebih dulu dalam sel, lalu menutup pintunya. Kemudian, polisi tersebut memasukkanku dalam sel yang berada di sebelah ibu. Lalu berlalu setelah mengunci pintu sel.


"Bu," panggilku. Hancur sekali hati ini melihat perempuan yang amat kusayangi harus berada di dalam sel tahanan.


"Qret," ibu mendekat. "Harus berapa lama kita di sini? Apa yang harus kita lakukan agar bisa segera keluar. Lalu siapa yang sudah melakukannya? Kenapa kita yang harus menanggung beban ini?" ibu mulai histeris.


"Ibu percaya dengan qadha Allah?"


"Qret,"


"Bu, semua yang terjadi di muka bumi ini sudah atas izin Allah. Semua hal baik maupun hal buruk. Meskipun tidak enak, tapi kita harus ikhlas, Bu, dengan qadha Allah."


"Entahlah, Qret. Tapi ibu benar-benar ketakutan!"


"Ibu takut apa?"


"Ibu takut Qret jika kita harus mendekam selamanya di dalam penjara. Apa kata orang? Bagaimana masa depanmu? Kau dan ibu, kita akan terpisah nantinya. Bahkan, jika penjahat sebenarnya tidak ketemu, kita bisa dihukum mati dengan barang haram sebanyak itu!"


Ibu benar-benar panik, terlihat jelas dari sikapnya. Bahkan kini emosi ibu sudah mulai tidak terkendali. Melihat ibu aku jadi semakin bimbang. Harus mengambil keputusan secepat mungkin sebelum ibu semakin sering stres.


"Qret, jawab!" ibu mulai menarik bajuku.

__ADS_1


"Bu, paman Rudi sedang berusaha agar kita bisa segera bebas. Polisi pasti juga tidak tinggal diam, pelakunya akan tertangkap."


"Itu tidak mungkin, Qret. Di rumah tidak ada CCTV. Oh, ibu sekarang mengerti ...."


"Apa Bu?"


"Qret, mungkin yang melakukannya adalah orang yang dekat dengan kita."


"Siapa Bu?"


"Riana. Ibu yakin ia pelakunya!"


"Astagfirullah, Bu. Istighfar. Jangan sembarang menuduh. Ibu lihat bagaimana khawatirnya ia tadi. Lagi pula kenapa juga Riana harus melakukannya? Riana itu teman Qret semenjak kecil, ayahnya yang membesarkan, Qret. Mereka sudah seperti saudara kandung."


"Qret, dengar ibu baik-baik. Riana adalah orang yang punya akses masuk ke rumah yang kita tinggali. Sebab itu adalah rumahnya!"


"Tidak mungkin Bu. Riana tidak punya alasan melakukannya."


"Ada Qret. Dia punya alasan besar untuk melakukannya."


"Sudahlah, Bu. Jangan menuduh Riana terus."


"Qret, dia sakit hati padamu. Mungkin pada ibu juga."


"Bu,"


"Ya Allah, Bu!" aku berbalik, hendak meninggalkan ibu menuju sisi sel yang lain sebab makin lama pembicaraan ibu semakin ngawur.


Memang benar Riana bisa keluar masuk rumah kapanpun ia mau sebab itu adalah rumahnya, tapi ia tidak mungkin melakukannya. Apalagi kalau alasannya karena cinta. Sudah belasan tahun kami bersama, rasa sayang itu memang ada, tapi rasa sayang karena seperti saudara sendiri.


Lalu bagaimana mungkin ibu bisa menarik kesimpulan seperti itu.


"Qret," ibu memanggilku.


"Bu, Qret tidak ingin membahas apapun lagi tentang Riana!"


"Kamu tahu Qret, naluri seorang ibu itu sangat kuat pada anaknya, meskipun ibu tidak membesarkanku.


Ibu menyayangimu Qret. Ibu tahu, siapa saja yang bisa membuat masalah untukmu. Termasuk Riana.


Ingat, bagaimana ibu meminta agar kau pindah setelah menikah dengan Yasmin? Karena ibu tidak mau kedepannya hubungan mu dengan Yasmin bermasalah hanya karena kecemburuan Riana.


Perempuan kalau sudah cemburu sanggup melakukan apapun. Bahkan bisa sangat nekat sekali."

__ADS_1


"Bu, sudah cukup!" aku terpaksa bicara tegas pada ibu karena tidak mau ibu terus mengada-ada. Bagaimana mungkin kami bisa berprasangka buruk pada orang-orang yang bahkan telah dengan suka rela meminjamkan rumahnya agar aku dan ibu bisa punya tempat berteduh.


"Jangan sampai kamu menyesal, Qret. Tolong dengarkan kata ibu!"


"Bu!"


"Qret, tadi sebelum kita belanja, Riana bahkan bersikap aneh, kan? Itu karena ia cemburu!"


"Ya Allah, Bu. Qret sudah bilang, jangan bahas itu lagi."


"Baiklah Qret, kalau kamu tidak mau bicara, ibu yang akan mengatakan pada polisi, pengacara bahkan pada pak Rudi kalau Riana yang melakukannya!"


"Astagfirullah, Bu. Jangan merusak sesuatu hal yang sudah baik. Ibu mau membuat paman Rudi marah?"


"Bukankah kamu yang mengatakan, sepahit apapun kenyataan, kalau itu benar wajib untuk diungkap. Tidak mengapa pak Rudi marah, tapi itulah kenyataannya. Ibu tetap akan mengatakannya pada polisi, pengacara bahkan kak Rudi!"


"Ya Allah Bu, sudah cukup. Riana tidak sejahat itu!"


"Ingat Yasmin juga, Qret. Kalau kamu berada di sini, siapa yang akan menikah dengannya? Bukankah kamu sudah janji besok akan melamarnya?"


Tiba-tiba aku terdiam, membayangkan gadis dengan bola mata bulat itu. Ada sesuatu yang sakit, tetapi entah dimana dan apa penyebabnya.


Gadis itu, kemarin telah memberikan kebahagiaan untukku dan sempat terbersit janji di hati, selanjutnya aku yang akan membuatnya bahagia. Tetapi jika keadaannya seperti ini, bisakah kebahagiaan itu kuciptakan untuknya?


Yasmin. Jika aku tidak bisa keluar dari penjara, apakah ia akan setia menanti? Sementara begitu banyak pria-pria yang berjejer rapi hendak mempersunting dirinya.


Begitu malangnya aku, saat begitu yakin kalau bunga itu adalah milikku, ternyata ujian besar membuatku nyaris kehilangan dirinya.


Bagaimana juga aku bisa tega mengurungnya dalam kesepian saat aku tidak bisa menepati janji. Lalu haruskah aku merelakannya?


Kepalaku seperti ingin pecah memikirkan ini semua. Kemarin-kemarin aku bisa bersabar, namun sekarang, aku benar-benar bimbang. Tidak tahu harus melakukan apa.


"Qret," ibu kembali memanggil. "Kita tidak bisa pasrah saja. Lakukan. Sesuatu Qret. Telepon pengacara tadi dan katakan yang sebenarnya. Setidaknya agar ...."


"Bu, sudah cukup!"


"Qret,"


"Tidak Bu."


"Ibu tidak rela harus menanggung dosa yang dibuat oleh Riana!"


"Sudah cukup, Bu!"

__ADS_1


__ADS_2