GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
154. Putriku Jasmin


__ADS_3

Bayi itu baru saja memejamkan mata setelah menghabiskan satu botol susu formula berisi enam puluh mili liter. Terbukti, bahwa ia haus dan lapar. Pantas saja menangis terus, sebab sejak ia lahir sampai sekarang usianya empat hari, Jasmin belum juga mendapatkan ASI.


Tetapi, tiba-tiba saja Yasmin berdiri di belakangku. Dengan raut wajah tidak suka, ia meminta penjelasan, kenapa Jasmin di beri susu formula.


"Aku kan ada mas, aku ini ibunya. Kenapa malah diberi susu formula?" tanya Yasmin, dengan nada suara tinggi sehingga bayinya kembali terbangun.


"Pelankan suaramu, Yas. Jasmin baru saja tidur." kataku, sambil menepuk-nepuk pelan badannya agar ia kembali memejamkan mata.


Tapi karena emosi, mungkin merasa tidak dihargai, Yasmin menangis histeris. Ia bahkan sampai marah padaku dan bayinya yang tidak bersalah hingga akhirnya Jasmin kembali terbangun.


"Lihat kan, gara-gara kau tidak bisa menekankan suara, akibatnya Jasmin terbangun. Puas sekarang?" tanyaku, sambil memandangnya jengkel.


"Aku ini ibunya. Aku yang mengandung dan melahirkan, tapi sekarang kenapa diberi sufor? Kalian benar-benar tidak menghargai ku!" bentak Yasmin.


"Ya Tuhan, ini bukan soal tidak menghargai Yas. Dari kemarin kau sakit, aku hanya ingin mengurangi bebanmu."


"Mas enggak mau aku jadi ibu seutuhnya, kan?"


"Bukan begitu, Yas. Tolonglah. Saat seperti ini jangan berdebat lagi. Kita harus kompak, sama-sama memberikan yang terbaik untuk Yasmin."


"Terbaik menurut siapa? Menurut mas, kan? Kalau memang terbaik untuk Jasmin, harusnya diberi ASI ibunya. Kecuali ibunya sudah mati!"


Astagfirullah. Aku benar-benar emosi mendengar Yasmin barusan. Tidak ada maksud untuk mengesampingkan atau menganggap ia tidak ada. Justru karena aku sangat peduli padanya dan juga Jasmin, makanya aku melakukan semua ini.


"Terserah kamu sajalah, mau bilang apa!" kataku, lalu berlalu keluar kamarnya sambil membawa Jasmin.


Hanya butuh beberapa kali timang, akhirnya Jasmin tertidur pulas. Menatap wajah bayi itu membuatku begitu damai. Bayi yang sangat cantik, aku berharap hidupnya selalu bahagian nantinya.


***


"Sudah siap pulang?" tanya ibu, sambil menggendong Jasmin.


Sementara itu aku yang ingin membimbing tangan Yasmin langsung ditepisnya. Rupanya ia masih marah karena kejadian tadi malam. Tetapi aku pura-pura tidak peduli supaya ayah dan ibu tidak tahu bahwa kami sedang berselisih paham agar tidak jadi pikiran mereka.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, terdengar suara ibu bershalawat untuk Jasmin. Sementara dari kaca spion, kulihat wajah Yasmin masih murung. Entah apa yang dipikirkannya.


Sampai di rumah sudah ada Riana, Riu dan Deni. Mereka siap menyambut kepulangan Yasmin dan Jasmin. Rumah juga sudah didekorasi dengan warna merah muda. Cantik sekali.


"Riu, ibu rindu sekali." ungkap Yasmin, sambil menggendong Riu.


Semua orang berkumpul di ruang tamu. Bercerita sambil menikmati makanan buatan ibu dan Deni. Sedang asyik berbincang, tiba-tiba ada panggilan untuk ayah, tak lama ayah mengabari kami bahwa ia harus kembali sekarang ke Bogor karena salah satu guru ayah meninggal dunia.


Aku yang semula sudah agak tenang karena masih ada ibu yang bisa membantu Yasmin mulai gelisah, membayangkan harus menghadapi bayi dan ibunya yang sedang ngambek. Fiufff, semoga saja bisa!


***


Sudah hampir lima menit Jasmin menangis, tetapi belum juga ada tanda-tanda bahwa Yasmin akan mengangkat bayi itu. Aku yang melihatnya benar-benar habis kesabaran, langsung saja aku mengambil Jasmin dan memberikannya pada Yasmin.


"Kau tak ingin menyusuinya?" tanyaku, dengan suara lembut agar tidak memancing emosi Yasmin lagi. Kata dokter, ia butuh kenyamanan agar suasana hatinya membaik.


"Tidak!" jawaban Yasmin yang singkat dan padat sukses membuatku marah.


"Apa?" tiba-tiba ada banyak kaca di kedua netra Yasmin. Perlahan kaca tersebut pecah, berubah jadi butiran-butiran air mata yang meleleh di pipinya. "Aku benci mas. Aku juga benci bayi itu. Kalian berdua sama saja. Kalian jahat, sudah membuatku sakit dan kini kalian membuat keadaanku semakin memburuk. Kalian berdua jahat!" tangis Yasmin berubah semakin pilu, menyayat hati yang mendengarnya.


Ya Tuhan ... bukan begitu maksudku. Aku tak pernah bermaksud menganggap Yasmin buruk. Aku baru sadar bahwa ia bisa saja sedang terserang baby blues. Tadi karena terpancing emosi makanya aku terpancing emosi.


Sebagai seorang ayah yang sudah lama mendambakan kelahiran anaknya, tiba-tiba mendapati kondisi seperti ini tentu membuta ku marah. Aku hanya ingin anakku mendapatkan yang terbaik tanpa bermaksud membuat Yasmin merasa tidak nyaman.


"Baiklah, kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Jasmin minum susu formula saja." aku membawa Jasmin turun ke dapur. Lalu meletakkan bayi itu di atas stroller. Kemudian mulai menyedihkan susu untuknya.


Maafkan kami, nak. Maafkan untuk ketidak sempurnaan ayah dan ibumu.


Aku mencium bayi Jasmin yang sedang minum susu dari dot. Ia terlihat lahap sekali. Bayi sekecil ini kenapa harus mendapatkan masalah juga?


Selesai minum, aku menimang-nimang Jasmin hingga ia tertidur lagi. Rasanya menatap wajah bayi itu dalam kondisi tertidur sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan.


***

__ADS_1


Sudah hampir enam jam Jasmin tertidur pulas. Tidak ada tanda-tanda ia akan bangun. Untuk kesekian kalinya juga aku menuju box Jasmin, meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.


"Yas, kemarilah sebentar." kataku pada Yasmin yang sedang berbaring-baring di atas sofa.


"Kenapa?" ia menjawab jutek.


"Lihatlah, sudah enam jam lebih Jasmin belum juga bangun. Apa kau tidak merasakan sesuatu?" tanyaku. Entah mengapa aku merasa Yasmin tidak menyukai Jasmin. Apa ini karena pengaruh baby blues atau kenapa, aku juga tidak terlalu tahu sebab tidak punya kesempatan mencari tahu. Tetapi aku selalu berusaha mengajak Yasmin untuk terlibat dalam pengurusan Jasmin meski ia ogah-ogahan.


"Bukannya bagus kalau dia tidur. Jadi tidak mengganggu." ucap Yasmin.


"Tapi badannya terlihat kuning." aku menunjuk pipi Jasmin dan bagian tangannya yang menguning.


"Mungkin kulitnya memang begitu.


"Yas, ini tidak beres!"


"Apanya yang tidak beres, mas?"


"Ayo ke rumah sakit "


"Untuk apa?"


"Aku takut Jasmin kenapa-napa."


"Enggak akan ada apa-apa. Mas jangan kebanyakan mikir. Lagipula kalau bayi tidur bukannya bagus. Kita tidak jadi bertengkar untuk saling tunjuk siapa yang harus menggendongnya."


"Yas, kali ini dengarkan aku. Jangan ikuti pikiranmu dulu. Aku yakin seratus persen ada yang tidak beres dengan Jasmin. Jadi bersiaplah, kita ke rumah sakit. Jasmin harus diperiksa."


"Untuk apa, mas? Bukannya hari ini mas juga mau bekerja. Mau masak. Kalau mas sibuk memikirkan kapan Jasmin bangun, kenapa dia tidur terus, bisa-bisa mas enggak kerja-kerja. Memangnya mas nggak sadar kalau uang tabungan kita sudah menipis."


"Terserah dengan tabungan. Putriku sedang tidak baik-baik saja!" aku tak kalah keras dari Yasmin, memaksanya segera bersiap-siap.


Tidak ada pilihan lain, Yasmin mengikuti perintahku. Ia menuju kamar, berganti pakaian, lalu kami berdua menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2