GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
147. Liburan Ke Puncak


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Yasmin tidak pernah lepas dari Hpnya. Ia terus saja berkomunikasi dengan Riu. Aku makin menyadari bahwa sikap Yasmin sudah sangat diluar batas kewajaran. Hingga akhirnya baterai Hpnya mati.


"Yah, baterainya habis. Bagaimana ini?" Yasmin terlihat panik.


"Ya sudah, telpon-telponannya sudah dulu." jawabku, dengan santainya.


"Enggak bisa. Aku belum selesai bicara dengan Riu."


"Yas, Riu juga belum mengerti apa yang kamu katakan. Kalau teleponnya putus ya sudah. Enggak bakal ada masalah apa-apa. Lagipula sudah hampir satu jam kamu bicara dengan bayi yang usianya saja baru hitungan bulan, padahal di sini, sebelah kamu ada orang yang bisa dan menanti di ajak ngobrol tapi kamu cuekin."


"Mas, aku serius, lagipula masa mas harus cemburu sama bayi, sih?"


"Habisnya dari tadi aku tungguin, sampai udah mau dekat rumah ayah dan ibu, tetap saja kamu nelpon terus. Kayak enggak peduli sama aku."


Tawa Yasmin langsung lepas. Ia mencoba mencandaiku. Tapi tidak lama, sebab setelah aku tersenyum, ia kembali mengeluhkan tentang Hpnya yang kehabisan baterai.


"Yas, nanti kalau sudah sampai di rumah ibu, jangan sibuk sama Hp ya. Enggak sopan." aku mencoba menasihati Yasmin, khawatir nantinya ada masalah.


"Terus menghubungi Riu bagaimana?" ia menatap bingung.


"Ya sabar dulu. Nanti juga ketemu. Ya!"


"Iya."


Sampai di depan rumah ayah dan ibu, kami berdua turun. Benar saja, ayah dan ibu kaget dengan kedatangan kami yang sangat tiba-tiba. Sebenarnya sudah agak lama aku berencana ingin bermain ke sini, apalagi jarak Jakarta dan Bogor tidak terlalu jauh, tetapi masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.


"Kalian kenapa enggak bilang-bilang mau datang, kalau ngabarin, ibu kan bisa bakarin ikan bakar." kata ibu, setelah melepas pelukannya dari Yasmin.

__ADS_1


"Tenang Bu, Qret dan Yasmin bakalan nginap kok." kataku.


"Nah begitu dong, ayah dan ibu sangat senang sekali!" ungkap ibu.


Kami mulai sibuk bercerita. Aku dan ayah duduk di halaman belakang, menikmati segelas kopi dan makanan kecil yang aku dan Yasmin bawa. Sementara ibu dan Yasmin berada di dalam. Ngobrol sambil memasak.


***


Malam semakin larut, aku dan Yasmin sedang berada di rumah pohon yang ada di belakang rumah ayah dan ibu. Rumah pohon yang sangat nyaman ditempati karena dikelilingi oleh dinding dari kayu, ada atapnya juga sehingga udara dingin tidak bebas masuk.


"Yas, kamu tahu, bagaimana aku sangat bersyukur memiliki kamu." kataku.


"Kenapa?" Yamin memandang sambil mengerutkan keningnya.


"Kamu tahu, Allah itu memang Maha baik. Aku yang penuh dengan dosa, dipertemukan dengan gadis saliha yang di mataku sangat sempurna. Lalu Allah kabulkan pintaku, agar kamu berjodoh. Lewat gadis itu aku mengenal Allah, lewatnya juga aku bisa belajar untuk menghapus segala kecewa serta marah pada ayah dan ibu."


"Tapi aku sekarang banyak kurangnya."


Aku juga menyadari, dibalik kekurangan kamu itu justru aku belajar banyak hal. Termasuk belajar bagaimana caranya jadi suami, memimpin istrinya agar nanti sama-sama selamat di akhirat. Iya, kan Yas?"


Bukannya menjawab, Yasmin malah memelukku erat. Perlahan aku rasakan bulir hangat mengalir mengenaiku. Rupanya Yasmin menangis.


"Terimakasih mas, terimakasih banyak. Mas benar-benar baik. Aku sangat sayang pada mas. Aku juga bersyukur bisa menjadi istri mas." ia kembali memelukku.


***


Dua hari menginap di puncak Bogor, sukses membuat pertemuan Yasmin dengan bayi Riana menjadi penuh haru. Mereka berpelukan, Riu terus tertawa-tawa ketika berada dalam dekapan Yasmin.

__ADS_1


"Kamu tahu tidak Yas, selama dua hari ini kami dibuat bingung oleh Riu. Ia benar-benar rewel sekali. Digendong salah, apalagi diletakkan. Semua orang dibuat tidak bisa tidur. Pokoknya rewel sekali. Padahal aku yakin perutnya tidak lapar, pakaiannya tidak basah dan ia sehat-sehat. Makanya aku curiga ia kangen sama kamu, Yas." ungkap Riana.


"Kenapa enggak bilang RI?" tanya Yasmin dengan wajah sedih menatap Riu yang masih cengengesan.


"Aku enggak mau mengganggu liburan kamu. Lagi pula kalau aku telpon pasti Qret marah." Riana melirikku.


"Kenapa jadi aku? Hei Riana, aku itu bukan tipe laki-laki pemarah seperti yang kau bayangkan. Aku adalah family man. Lelaki hangat yang begitu disayangi Keluarga." kataku dengan penuh percaya diri. Tentu saja tujuanku untuk bercanda.


"Heleh, kau ini percaya diri sekali!" Riana geleng-geleng kepala.


Baru kali ini aku melihat ada bayi yang begitu dekat dengan perempuan lain, melebihi kedekatannya pada ibu kandungnya sendiri.


Meskipun terlihat asal-asalan, sekarang aku menyadari bahwa sebenarnya Riana juga ibu yang baik. Ia berusaha melakukan yang terbaik untuk Riu. Hanya saja kalau di hadapan kami kadang ia suka bicara asal-asalan sehingga yang melihat sekilas akan mengira, pantas saja jika Riu dekat dengan Yasmin, padahal sebenarnya Riana sangat sayang pada bayinya. Tetapi entah mengapa bayi itu malah menunjukkan kecondongannya pada Yasmin.


Begitu juga sebaliknya. Bagi Yasmin, Riu adalah bayi menggemaskan yang selalu sukses membuatnya Uring-uringan jika tidak berjumpa sehari saja. Bahkan kalau pergi cukup lama, Yasmin selalu menelepon Riana supaya bisa melihat Riu.


Ikatan yang sebenarnya sangatlah menarik. Sebab Yasmin dan Riu sama-sama tidak punya hubungan keluarga sama sekali.


***


"Uhuk ... uhuk ... uhuk." pagi ini terdengar suara Yasmin terbatuk-batuk. Sepertinya ia sedang tidak enak badan sebab sejak tadi malam tidurnya pun resah. Tetapi saat aku periksa keningnya, baik-baik saja.


"Kita ke dokter saja ya Yas." aku mengajaknya berobat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Yasmin menolak sebab ia yakin masih baik-baik saja.


Kami membut perjanjian, kalau sampai besok tubuh Yasmin masih lemas maka kami akan ke dokter. Itulah sebabnya aku memutuskan akan berjualan hari ini, tetapi baru hendak keluar menuju garasi samping yang sudah disulap jadi kedai minimalis, tiba-tiba Yasmin jatuh ke lantai.


"Ya Allah Yas!" aku memekik keras. Mencoba memeriksa tubuh Yasmin, khawatir ia kenapa-napa. Tapi Alhamdulillah Yasmin baik-baik saja, hanya wajahnya yang berubah agak pucat.

__ADS_1


"Yas, kamu kenapa? Ayo bangun Yas. Jangan buat aku khawatir Yas. Ayo bangun!" kataku, sambil mengguncang pelan badannya, tetapi Yasmin tetap menutup matanya.


Aku mengangkat Yasmin ke atas sofa. Membaluri tubuhnya dengan minyak kayu putih. Setelah menunggu beberapa lama barulah ia siuman. Langsung saja kyajak ia ke rumah sakit, tapi lagi-lagi ia menolaknya.


__ADS_2