
"Aaaaaaa ...." Mia berteriak histeris, ia mendorong tubuh Joko dari sisinya, lalu meloncat dari tempat tidur dengan dibalut selimut. "Ada apa ini? Kenapa ada Joko di sampingnya? Apa yang sudah dilakukan oleh lelaki itu?" berbagai pertanyaan muncul di benak Mia. Ia benar-benar ketakutan sekaligus marah besar. "Jika sampai terjadi sesuatu, aku akan membunuhnya!" Mia buru-buru memakai pakaiannya.
Sementara itu Joko yang masih terkantuk-kantuk, tapi juga kaget sebab disentak oleh Mia segera bangkit dari tempat tidur. Ia menyusul Mia ke kamar mandi.
"Mi ... Mi ... Mia!" panggil Joko dari luar pintu kamar mandi. Ia memanggil sambil mengetuk pintu.
"Kau!" setelah pintu dibuka, mereka berdiri berhadapan. Lalu Mia menunjuk wajah Joko. "Apa yang kau lakukan? Kau mau aku membunuhmu?" tanya Mia dengan suara bergetar menahan amarah.
"Tenang dulu Mi,"
"Bagaimana aku bisa tenang jika terbangun ada kau di sampingku. Tanpa sehelai benangpun. Apa yang kau lakukan? Kau mau melecehkan aku? Kau mau kubunuh, hah?"
"Aku bisa jelaskan semuanya."
"Apa?"
"Semalam, saat aku datang, kau dalam keadaan mabuk berat."
"Lalu?"
"Kau yang datang menghampiri aku, Mia. Kau memelukku erat sambil memanggil-manggil nama Ren."
"Itu berarti aku berhalusinasi kalau kau adalah Ren!"
"Aku terbawa suasana, awalnya berat sebab yang kau panggil bukan namaku. Tapi kau tenang saja, aku tak melakukan apapun meskipun sempat tergoda. Aku hanya tidur di sampingmu. Sungguh!"
"Bagaimana dengan pakaianku dan pakaianmu? Apa yang sudah kau lakukan?"
"Tidak ada apa-apa, Mia. sungguh. Seperti yang kukatakan, aku memang sempat terbawa emosi,, tapi aku sadar, makanya aku tak menyentuh kamu selain berbaring di sisi kamu."
"Kalau sampai terjadi apa-apa, maka aku tak akan pernah memaafkan kamu Joko!"
"Ya Mia, aku sudah katakan kalau aku tak akan membuatmu kecewa. Iya, kan? Kalau kau belum bisa mencintai aku, aku tak akan memaksamu. Aku akan menantimu dengan sangat sabar. Kau harus tenang Mia!"
"Ihhhhhh, ingat, jangan pernah melakukannya lagi atau aku tak akan pernah memaafkan kamu. Mengerti!"
"Ya Mia."
__ADS_1
"Sekarang pergilah, aku tak ingin melihat wajahmu. Aku ingin sendiri dulu."
"Baik Mia."
Setelah Joko pergi, Mia segera masuk ke kamar mandi. Dia mencuci seluruh tubuhnya. Mia benar-benar merasa tidak suka sebab Joko sudah menyentuh dan berada segitu dekat dengannya. Padahal ia dalam kondisi tidak sadar.
"Kenapa harus lelaki tidak berguna, itu? Padahal aku berharap bahwa Ren lah yang datang. Bukan dia!" Mia terus saja mengomel, ia tak terima dengan semua hal yang terjadi semalam.
"Insiden memalukan ini tak boleh lagi terjadi. Aku harus bisa menjaga diri dari Joko. Untung saja semalam dia tidak terbawa nafsu. Kalau sampai dia melakukannya, maka habislah aku. Aku tak akan pernah bisa mendapatkan Ren lagi."
***
Jasmin baru saja selesai mengambil pembayaran atas kue yang ia titipkan di cafe rumah sakit. Saat hendak berlalu, ia mendengar seorang ibu yang terdengar kecewa karena tidak mendapatkan bolu kesukaannya di sana.
"Yah, padahal aku mau memberikan kue itu untuk putraku." kata ibu tersebut pada kasir yang melayaninya.
"Besok lagi bu. Hari ini bolunya habis semua." kata kasir yang melayani.
"Permisi, apa ibu mau bolu ini?" tanya Jasmin.
"Nah ini, benar sekali. Saya mau beli ini." kata ibu tersebut. "Ini punya kamu? Saya beli semuanya ya?"
"Kamu juga suka kue ini?"
"Ini saya yang membuat, Bu."
"Oh ya? Apa kamu tahu, saya suka sekali sama bolu ini. Mengingatkan saya pada sahabat saya. Rasanya beda dengan bolu kebanyakan dijual di toko-toko roti. Setiap ke rumah sakit saya sekali membelinya. Putra saya juga suka bolu ini. Dia yang membelikan untuk saya pertama kalinya."
"Oh ya?"
"Iya. Jadi ini berapa?"
"Enggak usah bu. Ini buat ibu saja."
"Lho, jangan begitu."
"Anggap saja sebagai hadiah sebab ibu sudah jadi pelanggan saya." Jasmin menautkan kedua tangannya sebagai tanda pamit, kemudian ia berlalu menuju kamar tempat ayahnya di rawat.
__ADS_1
Sementara itu Alifa menatap kepergian Jasmin sambil tersenyum. "Anak yang cantik dan baik sekali. Coba kalau Ren belum suka sama perempuan lain, akan aku jodohkan dia dengan anak itu. Selain cantik, juga pasti jago masak. Menantu idaman sekali!" kata Alifa dalam hatinya.
"Tante Alifa," panggil Mia, saat melihat Alifa. Gadis yang sudah dekat dengan putranya itu langsung menyalami Alifa, sambil mencium pipi kiri dan kanannya.
"Apa kabar Mia?" tanya Alifa. Meskipun sebenarnya ia tak terlalu suka gadis itu, tapi Alifa mencoba untuk bersikap ramah sebab Mia juga selalu ramah padanya.
"Baik Tante. Tante apa kabar? Pasti mau ketemu Ren ya?"
"Iya."
"Kalau begitu Mia panggilkan ya Tante."
Mia buru-buru masuk ke ruang IGG, tak lama ia keluar dengan Ren. Saat ibu dan anak itu ingin berbincang berdua, tetapi Mia tetap setia menemani sehingga membuat Ren dan ibunya jadi bingung.
"Mia, maaf ya, boleh Tante bicara berdua sama Ren. Ada hal penting yang ingin Tante bicarakan." kata Kata, hati-hati.
"Oh iya Tante. Maaf ya Tan, malah asyik nimbrung di sini. Soalnya berada di dekat Tante nyaman sekali, seperti bersama orang tua sendiri." ungkap Mia. Lalu ia pamit kembali ke IGD.
Setelah berdua dengan Ren, Alifa langsung mengajukan maksud kedatangannya. Ia ingin bertemu dengan gadis yang bernama Jasmin.
"Nanti saja Bu, Ren belum janjian sama Jasmin. Lagipula Ren harus mengatakan apa." kata Ren. Ia memang belum menyampaikan isi hatinya pada Jasmin.
"Haduh, kamu itu ya. Ibu kan sudah bilang, segera katakan. Kamu nggak mau kan Ren ditikung sama laki-laki yang dijodohkan padanya?"
"Ya jangan Bu."
"Makanya gerak cepat, Ren!"
"Tapi Bu,"
"Enggak ada tapi-tapi. Segera hubungi dia sekarang. Bilang, ditunggu di taman rumah sakit. Ibu sudah nggak sabar pengen ketemu sama calon mantu ibu. Kalau kamu nggak mau, ibu sudah menemukan calon penggantinya."
"Maksudnya ibu?"
"Tadi ibu ketemu seorang gadis yang cantik dan baik sekali. Ibu kok sembah sama dia ya Ren."
"Ya ampun Bu, ibu kan sudah janji nggak bakal jodoh-jodohin Ren, lagian Ren sukanya sama Jasmin."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu sekarang juga hubungi dia!"
Dengan agak sungkan akhirnya Ren menghubungi nomor Jasmin. Tak lama pesannya dibalas oleh gadis itu. Ia menyanggupi akan datang menemui Ren di taman.