
Aku tidak tahu harus bicara apa. Sakit karena pukulan Jimmi rasanya tidak sebanding dengan penderitaan kedua kakak beradik yang ada hubungan darah denganku itu. Bahkan sepotong kataku tidak bisa kuucapkan, hanya bisa menangis pilu.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian merasa iba padaku? Jangan bohong, kalian senang kan? Kalian menganggap kami hanya sebatas hiburan untuk hidup kalian. Iya, kan? Wajar, ayah kami saja tidak peduli dengan kami.
Dua puluh lima tahun aku menderita, tapi ia lebih memilih untuk membebaskan dirinya sendiri dengan menjadikan kami sebagai korbannya.
Dan kau nyonya? Oh, aku tidak paham terbuat dari apa hatimu sampai tega merebut ayah kami. Baiklah, jika kau mengaku tidak bersalah. Ayah yang menggodamu. Tapi setidaknya kau punya hati, kan? Kau bisa berpikir meskipun tidak punya pendidikan, apakah ini baik atau tidak. Kalau kau punya harga diri, kau akan tinggalkan ayahku.
Kecuali kau hanya ingin mengambil keuntungan darinya. Iya, kan? Kau mau apa? Harta atau kehormatan? Berapa banyak uang yang kau butuhkan? Satu milliar, dua, tiga atau seratus milliar? Cukup, atau masih kurang?" ungkap Jimmi.
"Jimm, sudah cukup!" ayah meradang.
"Kenapa pa. Tidak terima? Kalau begitu aku juga tidak terima dengan apa yang papa lakukan pada aku dan Jamm!" kata Jimmi.
"Jimm, kau boleh membunuh papa. Sebab papa tidak tahu lagi harus berkata apa." dengan suara lemah, ayah menyerahkan dirinya. "Kau tidak tahu seberapa rumit hidupku dulu."
"Tapi papa paham kan, seberapa rumit hidupku dan Jamm setelah papa melakukan ini semua!" Jimmi masih memaki ayah. "Kenapa harus ada perempuan lain?"
Tidak ada lagi jawaban dari ayah. Sementara yang lain masih larut dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Andai papa bisa berlaku adil pada kami!" ungkap Jimmi.
"Bagaimana caranya agar kau mau memaafkan aku?" pinta ayah, dengan suaranya yang sudah memelan karena tidak sanggup menahan pilu yang teramat dalam.
"Kembali pada mama!" ungkap Jimmi.
__ADS_1
"Gila kamu Jimm," secara spontan aku menjawab pertanyaan Jimmi.
"Apa masalahnya denganmu?" Jimmi kini beralih padaku. Setelah ia mengeluarkan semua racun di dalam hatinya, sepertinya ia pun ingin menghabisiku.
"Kau tahu bagaimana ibumu, lalu kau ingin membuat ayah kembali masuk dalam neraka itu?" tanyaku.
"Jadi kau membela perbuatan ayah dan ibumu?" tantang Qret.
"Aku sudah pernah menyatakan tidak membela perbuatan ayah dan ibu. Mereka sudah menyadari bahwa apa yang mereka lakukan di masa lampau adalah sebuah kesalahan makanya mereka mentaubatinya. Mereka mencoba memperbaikinya dengan menikah secara syariat. Kita bukan Tuhan, Jimm, yang boleh menghukum orang lain apalagi orang tersebut sudah bertaubat. Benar-benar menyesal dan ingin keluar dari dosa-dosa itu.
Kalau kau belum bisa memberikan maaf, tidak masalah Jimm. Itu adalah urusan hatimu. Kau berhak untuk memberi ataupun tidak memaafkan siapapun. Tapi kau tidak berhak menjerumuskan orang lain kembali dalam kubangan dosa ataupun penderitaannya.
Kalau kau tidak mau memberi maaf, itu urusanmu dengan Allah. Tapi sebenarnya kau juga ikut rugi, karena kau sudah merusak hatimu.
Kau tahu, tidak mudah bagiku menjalani hidup, saat aku ingin jadi orang baik tapi dunia seolah tidak mengizinkan. Setiap saat kau merasa bersalah, hati tidak tenang tapi kau tidak bisa melakukan apapun sebab sebuah kesalahan yang tidak kau lakukan.
Kau, aku dan Jamm sama. Kita adalah korban dari orang tua kita. Tapi aku tidak ingin larut dalam kebencian sebab hanya akan merusak hatiku. Aku ingin jadi orang baik, Jimm. Aku lelah dengan membenci terus menerus. Itu hanya membuatku semakin buruk, padahal orang yang kita benci, yang kita anggap banyak dosa, ia sudah bertaubat. Sudah suci kembali. Tapi kita? Malah terjebak dalam kebencian tersebut.
Lalu itu yang ingin kau pertahankan? Iya Jimm? Kau tahu, akhir dari sebuah kebencian kemana? Neraka Jimm!
Aku tidak mau, sudah menderita di dunia, harus merasakan siksa di neraka nanti. Makanya aku membebaskan diriku sendiri, Jimm." ungkapku, panjang lebar.
"Hahhh!" Jimmi mendengus. Ia tampak begitu murka, tapi aku tidak peduli.
"Kalau kau mau melanjutkan kebenciannya, silakan. Aku tidak peduli. Aku tidak akan meladenimu!" aku meninggalkan semua yang ada di sini, memilih masuk ke dalam rumah sebab tidak ingin lagi mendengar kebencian-kebencian yang terucap dari lisan Jimmi.
__ADS_1
Aku memilih mengunci diri di dalam kamar. Mengambil wudhu, lalu melaksanakan salat. Ada banyak doa yang ingin kuucapkan pada-Nya. Salah satunya agar Allah melunakkan hati Jimmi.
Entah mengapa, saat ini aku begitu merindukan sepasang mata teduh milik Yasmin. Untuk meredakan segala gejolak kemarahan yang muncul.
Yasmin, ia, gadis itu yang mengajariku untuk melupakan semua kebencian-kebencian pada ayah dan ibu. Gadis itu juga yang mengatakan padaku untuk tidak membenci siapapun.
Ia bicara begitu bukan hanya ucapan semata. Yasmin pun sudah melakukannya. Ia melupakan semua kesalahan ayahnya. Terus memberi maaf dan setia di samping pak Bimo, hingga akhirnya ia mendapati ayahnya kembali.
Tidak bisa kubayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang Yasmin. Hidup sendirian, tanpa siapapun. Setiap saat ia terancam oleh ayahnya sendiri yang selalu menjadikannya tumbal atas hutang-hutangnya.
Bahkan, Yasmin beberapa kali harus meregang nyawa gara-gara ayahnya. Alih-alih marah, gadis itu terus memaafkan. Hingga akhirnya ia mengecap manisnya kesabaran yang dilakukannya selama ini.
[Yas ....] sebuah pesan ku kirim padanya.
Dalam beberapa detik gadis itu menjawabnya. [Ada apa, mas?]
[Kau tahu, aku butuh teman yang bisa menyokongku dalam kebaikan. Teman yang setia menasihati saat aku salah. Dan menyemangati saat aku melakukan kebaikan.]
[Sudah ada seorang teman yang siap menemanimu dalam suka maupun duka. Seseorang yang siap menjadi tempatmu berbagi. Teman yang dengan setia siap menerima dan memberikan. Sedikit naishat untukmu. Kau hanya perlu menanti hingga beberapa saat.]
[Yas, apakah kau akan bersabar saat membersamai yang penuh dengan kekurangan ini?]
[Insya Allah.]
Kini kami memang belum bisa bertemu, namun, pesan yang ia kirimkan sudah bisa membuatku tenang. Aku benar-benar beruntung, hanya gara-gara tiga milliar, Allah memberiku seseorang yang siap menjadi teman di kala susah dan senang. MasyaAllah.
__ADS_1