GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
69. Hutang Jasa Pada Alifa


__ADS_3

Aku dan Riana berjalan menuju rumah. Sampai di depan rumahnya, seperti biasa, Riana memekik memanggil ayahnya tanpa sopan santun, biasanya aku akan menyolek kepala gadis itu, tapi kini hanya geleng-geleng kepala.


"Ayah, ayo makan di tempat bibi. Aku belum beli sarapan!" teriak Riana. "Cepat keluar atau ayah tidak akan dapat makanan apapun!"


"Riana, jaga sikapmu!" kataku. "Kau ini anak perempuan, kalau kau memanggil orang tua, harus didekati, atau ketuk pintunya. Bukannya teriak-teriak begitu!"


"Apa masalahnya? Dari dulu aku begitu," jawab Riana seolah tanpa beban.


"Kau ini, diajari sopan santun bukannya menurut malah bandel!" aku geleng-geleng kepala.


Kepala paman Rudi muncul dari balik jendela. Ia tersenyum melihat kami dengan mata berkaca-kaca. Lalu segera keluar untuk menyusulku dan Riana.


"Kita sarapan apa hari ini?" tanya paman Rudi.


"Entah paman, aku juga baru pulang dari pasar." aku menunjukkan barang belanjaan sambil jalan beriringan dengan laman Rudi. Sementara Riana sudah tidak sabar, mendahului kami berdua.


"Kenapa laki-laki jalannya lambat sekali. Memang kalian tidak lapar? Oh Tuhan, persis jalan pengantin yang sedang diiring." cetus Riana.


"Ckckck, dimana sopanmu Riana!" aku kembali geleng-geleng kepala.


Tanpa peduli kata-kataku, gadis itu benar-benar nyelonong, berlalu tanpa sopan-santun. Ia memang agak susah diberitahu. Pasti masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri.


"Assalamualaikum, bibi!" seperti tanpa beban, lagi-lagi ia masuk tanpa mendapatkan jawaban terlebih dahulu. "Eh, sedang ada tamu, ya?" Riana yang berada di depanku, langsung mundur beberapa langkah sambil tersenyum malu-malu.


"Apakah ini Riana?" tebak orang itu, sambil menunjuk Riana.


"Alifa," panggilku.


"Hei Qret. Maaf aku datang pagi-pagi tanpa mengabarimu terlebih dahulu." Alifa menautkan kedua tangannya di dada sebagai salam untukku, paman Rudi dan Riana.


"Ada yang penting, kah? Bagaimana kabar pak Bagus?" tanyaku.

__ADS_1


"Ayah baik. Dapat salam darinya. Aku sengaja mampir sebentar untuk menyampaikan berkas yang harus ditanda tangani pak Wijaya. Pagi ini aku akan terbang ke Australia, Qret." kata Alifa.


"Wah, kau akan menjemput pemudamu?" tanyaku, penuh antusias.


"Yap, kau benar. Aku tidak ingin menunggu lama lagi untuk bertemu dengannya. Aku sudah sangat rindu jagoanku, Qret." cetus Alifa.


"Kalau kau sudah sampai di Jakarta, wajib membawanya ke sini!" pintaku. "Aku ingin melihat seberapa menggemaskan putramu itu."


"Sangat menggemaskan. Kau akan langsung jatuh cinta padanya, bahkan jika kau punya anak perempuan akan dijodohkan dengannya." tawa Alifa langsung pecah. "Oh ya, ini Riana, kan?" Alifa kembali menunjuk Riana.


"Iya, aku Riana. Anda pasti mbak Alifa, pengacara Qret yang hebat itu, kan?" ungkap Riana. Tampak sekali bahwa ia terlihat tidak nyaman. Mungkin karena ia masih merasa bersalah dengan kesalahan yang pernah dibuatnya.


"Panggil saja, Alifa. Aku sudah menyangka bahwa kau akan kembali dekat dengan Qret sebab ia sangat menyayangi adiknya ini." Alifa menepuk pelan pundak Riana. "Aku harap kelak kita bisa jadi teman." tambah Alifa.


"Tentu akan sangat senang berteman denganmu, Alifa." ungkap Riana dengan sangat antusias.


"Tapi saranku, jangan berteman dengannya Alifa. Kau tau, ia tipe ibu-ibu cerewet yang sangat aneh. Bahkan tadi ia sudah membuat bapak-bapak kesal padanya." kataku.


"Sudah pukul tujuh. Aku harus segera ke bandara. Pesawatku berangkat pukul sepuluh. Ayah sudah menanti di sana." Alifa menyalami ibu dan Riana, lalu menautkan tangannya ke arah aku, paman Rudi dan ayah. "Sekembali dari Australia, aku akan selesaikan berkas perceraian bapak." ujar Alifa.


"Hati-hati di jalan, nak. Kami mendoakan semoga semua urusanmu lancar!" kata ibu.


"Terimakasih Bu." kata Alifa.


"Hati-hati Alifa. Terimakasih banyak. Aku berhutang budi padamu!" kataku.


Kami mengantarkan Alifa sampai depan pintu. Setelah ia naik mobil dan meluncur, hingga hilang dari pandangan kami.


***


"Riana," kata ibu, setelah Alifa pergi.

__ADS_1


Riana terdiam. Ia tidak berani bergerak, hanya melihat ibu dengan tatapan penuh rasa takut sebab merasa bersalah. Sementara paman Rudi memilih menundukkan kepalanya.


"Iya bibi," jawabnya, sambil menundukkan kepalanya.


"Kau tidak ingin memeluk bibimu ini setelah beberapa hari tidak bertemu?" tanya ibu, sehingga membuat semua yang ada di sini tersenyum lega.


"Bibi!" Riana langsung menghambur dalam pelukan ibu, ia sampai menangis terisak-isak. "Maafkan aku bila, aku sungguh minta maaf sudah membuat semuanya jadi kacau. Aku benar-benar menyesal. Mohon maafkan aku." Riana masih menangis sejadi-jadinya, sehingga membuat suasana pagi ini terasa sangat sendu.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kami semua memahaminya. Bibi hanya bingung saja, kenapa kau tidak muncul untuk menyambut kami. Bukankah kau pernah mengatakan ingin menjadi putriku. Kau ingin sering memelukku. Tapi baru berbuat kesalahan segitu kau sudah tidak mau menampakkan wajah ke hadapanku. Mana ada seorang putri begitu pada ibunya. Yang namanya putri, meski ia melakukan kesalahan, ia pasti akan tetap menemui ibunya.


Harusnya saat itu kau bicara padaku. Bukan menemui orang lain. Kau kan tahu aku pun juga menyayangimu. Aku pasti akan memberimu solusi terbaik. Tapi rupanya kau belum percaya padaku." ungkap ibu yang ikut menangis bersama Riana.


"Bukan bibi, bukan aku tidak percaya pada bibi. Aku hanya tidak mau menjadi beban pikiran untuk bibi!" seru Riana dengan suara terbata-bata.


"Kalau begitu mulai sekarang berjanjilah, apapun masalahmu, kau akan bicara pada bibi sampai kau menemukan orang yang tepat untukmu berbagi cerita sebab kau adalah putriku!" kata ibu.


"Baik bibi. Aku akan mengingat itu. Aku akan mematuhi bibi." ucap Riana.


"Kau pun sangat berharga untukku Riana, kau sudah seperti putriku sendiri. Betapa aku sangat menyayangimu." ungkap ibu dengan air mata semakin deras.


"Bibi!" Riana tidak mau kalah, ia ikut menangis sejadi-jadinya.


"Sudah belum sedih-sedihannya. Aku sudah lapar sekali, Bu. Ayo kita sarapan!" kataku, membuat semua yang hadir menjadi gemas.


"Qret, kau ini tidak bisa lihat situasi. Bukannya bersimpati malah memikirkan perut sendiri!" Protes Riana.


"Biarin. Memangnya kau tidak lapar. Sebenarnya yang lapar bukan hanya aku, tapi ayah dan paman juga. Iya, kan?" pandanganku tertuju pada ayah dan paman Rudi yang sama-sama sibuk menyeka sisa air mata mereka.


Ya Allah ... sungguh, apa yang terjadi hari ini memberiku banyak pelajaran bahwa Islam sudah mengatur semuanya sangat detail sekali. Kami hanya perlu menjalankan apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.


"Ibu baru memasak nasi goreng dan telur ceplok. Kalian makan yang ada dulu ya. Nanti siang akan ibu masakkan menu spesial!" cetus ibu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya makan juga!" aku langsung berlari ke meja makan sebelum terjadi adegan menyentuh hati dan menguras air mata lainnya.


__ADS_2