
Pukul enam pagi. Entah sudah berapa kali pintu kamar Jasmin digedor oleh ibunya, tapi tidak juga ada sahutan sebab gadis tujuh belas tahun itu baru bisa memejamkan mata usai salat Subuh. Ada banyak hal yang ia pikirkan, salah satunya tentang pengakuan Riu tadi malam.
"Lihat, anak gadis tidurnya dini hari, malas bangun pagi. Mau jadi apa dia nantinya?" kata Yasmin, sambil terus mengomel menuju rumah sebelah, diikuti oleh Qret, suaminya.
"Riu, bagaimana, kau sudah siap berangkat?" tanya Yasmin, begitu Riu keluar.
"Semua sudah siap. Kami harus berangkat sekarang kalau tidak bisa-bisa kena macet!" ungkap Riana.
"Bibi, Jasmin mana?" tanya Riu, sambil melirik ke arah belakang, tetapi sosok yang dicari tak juga terlihat sehingga membuatnya jadi sebaiknya salah. Takut kalau-kalau pengakuannya tadi malam membuta Jasmin marah sehingga tidak mau menemuinya lagi. Tetapi Riu merasa tidak punya pilihan lain. Ia harus menyampaikan apa yang dirasakannya agar hatinya tenang sebab akan lama tidak bertemu, sementara Riu harus berjuang untuk masa depannya.
"Biasa Riu, anak itu masih tidur. Dari tadi sudah dibangunkan, tapi dia tak juga bangun-bangun." kata Yasmin, yang tidak menyadari keresahan Riu.
"Sepertinya Jasmin batu tidur setelah subuh." kata Qret, mencoba membela putri tunggalnya.
"Kan sudah kukatakan, jangan tidur setelah subuh. Kalau malam jangan begadang. Tapi dua tidak mendengarkan. Kalau begini bagaimana masa depannya nanti? Apalagi kalau Jasmin tidak mau lanjut kuliah!" Yasmin masih mengeluh.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya. Kita juga bukan sarjana, tapi kehidupan kita Alhamdulillah baik. Kalau dia tidak mau sekolah kan masih bisa melanjutkan usaha roti yang sudah kurintis." kata Qret lagi.
"Yang dikatakan paman benar, bi. Yang penting Jasmin bahagia dengan pilihannya." kata Riu.
"Sudah belum pamitannya? Ayo Riu, kita harus berangkat sekarang!" kata Riana dari dalam mobil.
Riu menyalami paman dan bibinya, lalu naik ke dalam mobil. Sebelumnya ia sempat melirik ke arah kamar Jasmin, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ada sosok gadis yang dicintainya di sana.
"Jas, apa kau tak ingin mengatakan selamat jalan?" Riu membatin.
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah. Riu semakin patah hati sebab tak bisa melihat wajah Jasmin sebelum berangkat. Ahhhh, gadis itu, mengapa saat mau berangkat pun ia membuat ku resah.
"Riu, kau kenapa?" tanya Riana yang mulai menyadari keresahan putranya.
"Tidak apa-apa, bu." jawab Riu.
"Atau jangan-jangan kau memikirkan Jasmin?" tebak Riana secara asal-asalan.
"Hah," Riu langsung kaget dengan pertanyaan ibunya.
"Riu, jawab pertanyaanku, apa kau menyukai Jasmin?" Riana langsung menatao Riu dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Kau bicara apa Riana? Riu masih harus menyelesaikan sekolahnya. Biarkan dia fokus jadi ulama dulu. Setelah itu baru kita pikirkan bagaimana selanjutnya." cetus Deni.
Kini Riu bisa bernafas lega sebab ibunya tak lagi menanyainya. Meskipun sebenarnya hatinya berdebar-debar mengingat Jasmin.
***
Tepat pukul delapan pagi, saat alarm memekik, Jasmin terbangun. Ia menggeliat, ke kiri dan ke kanan. Lalu menguap sebentar. Untuk sesaat ia terdiam, kemudian menyadari sesuatu hal. Jasmin buru-buru bangkit dari tempat tidur, kemudian keluar dari kamarnya.
"Ayah ... Ibu!" pekik Jasmin saat melihat ayah dan ibunya sedang sibuk di ruang tengah, memasukkan pesanan kue dalam kitanya. Aromanya yang harum sempat membuat Jasmin tergoda, tapi ia cepat menyadari sesuatu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Yasmin.
"Bu, apa Riu belum berangkat?" tanya Jasmin.
"Sudah dari tadi pukul enam." kata Yasmin.
"Hah, sudah berangkat? Kenapa ayah dan ibu tidak membangunkanku? Aku kan belum mengucapkan salam perpisahan pada Riu!" ungkap Jasmin dengan perasaan kacau.
"Siapa yang tidak membangunkanmu? Kami berdua sudah berulangkali menggedor pintu kamar, tapi kamu tidak mau bangun. Akhirnya kami biarkan saja." kata Yasmin.
"Ibu ... tega sekali!" Jasmin tampak kecewa, ia hendak keluar rumah.
"Ya," jawab Jasmin. Ia kembali ke kamarnya. "Apa aku harus menelepon, atau membiarkan begitu saja? Kenapa perasaanku jadi kacau seperti ini? Padahal kan aku memang senang dia pergi." Jasmin jadi semakin galau.
[Riu, apa kau sudah berangkat?] sebuah pesan dikirimkan oleh Jasmin. Tidak berapa lama, Riu menelepon, tetapi Jasmin tidak mengangkatnya. [Jangan menelepon, aku baru bangun tidur, tidak memakai kerudung juga!]
[Aku hanya ingin pamit.] pesan balasan dari Riu.
[Pamit saja sekarang.]
[Kau sungguh terlalu Jasmin, tidak mengantarkan kepergianku.]
[Maaf Riu, aku semalam begadang.]
[Baiklah, lain kali jangan begadang lagi ya. Ingat pesanku, berjuang untuk mendapatkan kasih sayang ibumu. Atau saat aku kembali, aku akan merebutnya lagi, sekalian dengan anak bibi Yasmin.] Riu menambahkan emoticon senyum.
Jasmin tertawa. [Aku tidak janji sebab selama empat tahun bisa saja aku suka pada orang lain.] balas Jasmin.
__ADS_1
[Kalau begitu aku akan memperjuangkan kamu dalam doa. Sudah ya Jasmin, aku harus siap-siap!]
Jasmin menutup Hpnya, ia tersenyum. Meskipun tidak bertemu lagi dengan Riu selama empat tahun kedepannya, ia merasa sudah lega sebab sudah mengucap selamat jalan pada Riu. Kini Jasmin tinggal berjuang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
***
"Kamu sudah tentukan mau kuliah di mana?" tanya Yasmin, saat mereka bertiga tengah duduk santai di ruang tengah.
"Aku tidak mau kuliah." jawab Jasmin.
"Lalu kamu mau jadi apa, Jasmin?" perdebatan antara Jasmin dan Yasmin kembali terjadi, Qret hanya geleng-geleng kepala mendengar dua perempuan yang ia sayangi tersebut.
"Aku mau jualan." jawab Jasmin.
"Jualan apa?"
"Sayuran. Aku akan ambil dari kebun kakek dan nenek."
"Ya ampun Jasmin, apa tidak ada pekerjaan lain? Kenapa kamu tidak kuliah saja. Nilai-nilainya sangat bagus, sayang kalau tidak kuliah
"Tapi aku tak suka belajar, Bu."
"Tidak apa tidak belajar, yang penting kamu bisa menyelesaikan kuliahnya seperti dulu."
"Aku tidak mau."
"Jasmin!"
"Sudahlah, jangan berdebat lagi. Sampai kapan kalian berdua mau berdebat. Masih ada waktu satu bulan lagi, biarkan Jasmin berpikir.
Jasmin, sekarang sebaiknya kamu liburan di tempat Kakek dan nenek selama beberapa hari. Pikirkan baik-baik, apa cita-cita yang ingin kamu raih.
Sementara kau Yasmin, tenangkan dirimu. Nanti kalau Jasmin sudah pulang, baru kita bicarakan lagi." kata Qret, menengahi perdebatan dua perempuan yang disayanginya.
"Baiklah, tapi ingat, kamu harus memberikan keputusan yang baik. Ingat, jangan melakukan hal-hal aneh di puncak!" kata Yasmin, mengingatkan putrinya.
Sebenarnya Jasmin sudah punya banyak mimpi, tapi ia tidak berani menyampaikan pada ayah dan ibunya, terutama pada ibunya yang ia yakini pasti akan menentangnya habis-habisan.
__ADS_1
Jasmin sangat ingin jadi atlit. Tetapi tidak ada yang setuju. Sebenarnya ayahnya tidak mempermasalahkan, tetapi ibunya selalu saja menghalang-halangi keinginan Jasmin tersebut. Menurut ibunya, menjadi seorang atlit tidak ada masa depannya, padahal banyak sekali atlit yang sukses jika mereka bersungguh-sungguh.