
"Yas, kita pulang jam berapa?* tanyaku pada Yasmin yang sedang asyik memberi makan ikan, sementara ayah dan ibu sedang sibuk di di halaman depan, menata taman agar semakin cantik.
"Mau pulang hari ini?" Yasmin bertanya balik.
"Lalu mau pulang kapan? Kita kan harus bekerja. Kalau terlalu lama libur nanti kedai di ambil alih Riana, lho."
"Dih, mas ini ngawur. Mana mau Riana ngurusin kedai."
"Lho, kan kamu yang bilang dia sudah bisa masak."
"Mas ngeledek?"
"Enggak ... enggak sekali. Tapi maunya ngeledek berkali-kali."
Yasmin menyipratkan air kolam ke arahku, tapi dengan sigap aku mengelak sehingga tidak jadi basah.
"Pulang sekarang saja yuk. Nanti kalau kesorean macet lho." kataku.
Jalanan puncak biasanya memang macet saat jam kerja, meskipun lewat tol. Kalau pulang jam seperti sekarang, biasanya tidak akan macet.
"Tapi aku masih kangen ibu," ungkap Yasmin.
"Ya sudah, kita tinggal di sini saja."aku kembali mencandainya hingga Yasmin menekuk wajahnya.
Saat yang paling membuatku tidak nyaman adalah saat berpisah dengan orang yang aku sayangi. Saat ini, kami sedang berada di depan rumah, pamitan pada ayah dan ibu dengan sekuat resah di dada. Ingin sekali rasanya tetap di sini untuk menghabiskan waktu bersama-sama, tetapi tidak mungkin sebab hidup harus terus berjalan.
"Qret, hati-hati. Jaga Yasmin baik-baik ya." kata ibu, ada bulir bening yang mengalir hingga pipinya.
"Iya Bu. Ayah dan ibu juga ya. Kalau ada apa-apa, segera kabari Qret. Kami pasti akan datang." pintaku juga.
Ayah memelukku erat, lalu menepuk pelan pundakku. Kemudian kami berpisah sebab aku dan Yasmin sudah berada dalam mobil yang melaju menuju Jakarta.
"Nanti pasti akan sangat sepi sekali karena sudah tidak ada ayah dan ibu." ungkap Yasmin. "Padahal aku sudah merasa sangat nyaman ada ayah dan ibu di sisi kita." tambahnya lagi.
"Jangan sedih, itu pilihan ayah dan ibu. Kita hanya bisa merelakan sambil mendoakan yang terbaik. Semoga ayah dan ibu selalu bahagia."
__ADS_1
Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara Yasmin menatap ke luar jendela. Entah apa yang ia pikirkan, sesuatu yang membuatnya begitu resah.
"Yas, bagaimana kalau kita jemput ayah?" tanyaku.
"Ayah?" ia mengerutkan keningnya.
"Iya, ayah. Katanya kamu kasihan sebab ayah tinggal sendirian."
"Ayahku?"
"Iya Yasmin, ayah mertuaku."
"Maksudnya mas apa?"
"Kita ajak ayah tinggal di rumah kita. Supaya kamu tidak resah lagi memikirkan ayah dan rumah tidak terlalu sepi sebab kita punya teman lain yaitu ayah."
"Benar mas, boleh?"
"Tentu saja boleh, dari dulu malah boleh. Tapi kan kamu yang menolak."
Memasuki kota Jakarta, kami tidak langsung ke rumah, tapi menuju rumah Yasmin. Kamu memang sengaja tidak memberitahu sebab ingin memberi kejutan untuk ayah.
Langkah kakiku dan Yasmin terhenti saat melihat rumah Yasmin yang pintunya sedikit terbuka, tampak ayah sedang duduk di kursi bututnya sambil memeluk pigura foto pernikahan aku dan Yasmin.
Raut wajahnya menyiratkan kerinduan. Hak yang tidak pernah kamu duga sebab selama ini ayah terlihat cuek dan santai saat perpisahan dengan putrinya. Tapi kali ini kami bisa melihat sosok lain dari ayah yang begitu merindukan Yasmin.
"Yah," panggil Yasmin dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia langsung lari ke dalam rumah, mebghambur dalam pelukan ayah.
"Yasmin ...," panggil ayah, sambil menyambut pelukan Yasmin. "Lho, kalian datang?" ayah menatapku. "Ada apa mas Qret? Kenapa datang tidak mengabari ayah dulu?" tanya ayah Yasmin.
"Ayah kangen?" tanya Yasmin. "Kalau ayah kangen kenapa tidak telepon, Yasmin kan bisa datang kapanpun ayah mau." ungkapnya, sambil mengambil pigura dari tangan ayah.
"Ayah tidak mau mengganggu kalian." kata ayah Yasmin.
"Ya Allah ayah. Mana ada orang tua yang mengganggu anaknya. Lagipula itu wajar yah, sejak kecil anak-anak sudah merepotkan orang tuanya, tidak ada salahnya sekarang bergantian." kata Yasmin.
__ADS_1
"Yas," ayah Yasmin membelai kepala putrinya. "Kenapa kalian tidak mengabari ayah kalau mau datang. Tidak ada yang penting, kan? Coba kalian ngabarin, ayah kan bisa mempersiapkan semuanya. Sekarang tidak ada makanan di rumah. Kalau begitu ayah ke depan dulu ya, nyari makanan yang bisa dimakan "
"Tidak usah yah. Lagipula kalau Yasmin ngabarin ayah, Yasmin nggak akan tahu kalau ayah kangen. Ayah sih enggak pernah bilang." ungkap Yasmin.
"Ayah tidak mau merepotkan. Tapi ada apa kalian ke sini?" tanya ayah Yasmin lagi.
"Jadi begini yah, ayah dan ibu kan sudah pindah ke Bogor, jadi Qret dan Yasmin ingin mengajak ayah tinggal bersama kami. Ayah mau, nggak?" tanyaku.
"Ya Allah, tentu saja ayah mau!" ungkap ayah antusias.
"Kalau begitu ayah segera siap-siap supaya kita bisa pulang hari ini." kata Yasmin.
Ayahnya Yasmin segera berlalu ke dalam kamar. Lalu tidak lama keluar membawa satu tas yang sudah robek resletingnya. Tas tersebut juga tampak kempes, mungkin karena isinya hanya beberapa lembar pakaian.
Entah mengapa aku jadi merasa bersalah pada Yasmin sebab tidak memperhatikan ayahnya. Dulu sebelum menikah, pak Bimo diurus begitu baik oleh putrinya, setelah menikah denganku, ayahnya seperti kehilangan perhatian.
"Kita mau berangkat sekarang?" tanya ayah Yasmin.
"Iya Yah, kita langsung berangkat saja." kataku.
"Tapi kan kita belum makan. Ayah belikan makanan dulu saja ya." kata ayah Yasmin lagi.
"Tidak usah yah, kita makan di rumah saja. Nanti Yasmin yang memasakkan. Ayah memangnya tidak kangen dengan masakan Yasmin?" tanya Yasmin pada ayahnya.
"Tentu saja ayah kangen, tapi kan ...," ayah Yasmin tidak melanjutkan pembicaraannya.
Biasanya, setiap kami datang berkunjung, minimal satu kali dalam dua pekan, ayah Yasmin akan menyiapkan makanan untuk kami dengan jumlah yang cukup banyak agar Yasmin tidak perlu lagi memasak. Ayah Yasmin lebih suka menghabiskan waktu yang tidak seberapa dengan mengajak putrinya berbincang-bincang.
Kadang aku merasa seih dan juga bersalah, ayah Yasmin yang adalah mertuaku Harau kurang perhatian sebab putrinya sudah kubawa pergi ke rumahku.
"Kita pergi sekarang?" tanyaku.
"Ayo! Tapi nanti boleh mampir di swalayan tidak, ada yang mau aku beli." ungkap Yasmin.
"Siap!" kataku. Lalu kami bertiga berjalan bergandengan menuju mobil.
__ADS_1
Yasmin mempersilaka. Ayahnya duduk di depan, sementara ia duduk di belakang. Kamu tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir dulu di swalayan seperti permintaan Yasmin sebab ada yang harus dibelinya untuk keperluan rumah.