GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
62. Ibu Marah


__ADS_3

Pukul delapan pagi, aku masih berjalan mondar-mandir di dalam sel tahanan dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Usai berbincang dengan pak Bagus dan Riana. Mengatur strategi untuk pertemuan hari ini.


"Mas Qret, ada tamu." panggil seorang polisi penjaga.


Aku bergegas keluar, dengan perasaan campur aduk. Bertanya-tanya, siapa tamu pertamaku hari ini, setelah Alifa dan pak Bagus.


Berbeda dari biasanya, aku dibawa ke ruangan pak Bagus, bukan menerima tamu di ruang biasanya.


"Ayah ... ibu." panggilku.


Dua orang tuaku langsung menyongsong kedatanganku. Berbeda dari biasanya, mereka tampak haru. Ibu sampai menitikkan air mata, sedangkan ayah hanya berkaca-kaca. Aku memaklumi sikap mereka yang seperti itu sebab Alifa sudah menceritakan semuanya pada ayah dan ibu. Makanya hari ini mereka ikut datang.


"Ya Allah Qret, ibu tidak menyangka bahwa masalahnya akan serumit ini," ungkap ibu, masih dengan berlinang air mata.


"Ibu tenang dulu ya, insyaAllah ada jalan keluar terbaik." aku mengusap punggung ibu, mencoba memberikan sedikit semangat agar kesedihan itu bisa sedikit hilang.


"Kenapa Bu Rani membalasnya padamu, nak. Kenapa ia tidak menghukum ayah dan ibu saja. Kau tidak bersalah dalam hal ini, justru kau pun adalah korban dari perbuatan kami!" ibu semakin menangis, bukan hanya kesedihan yang terlihat di sana, tapi juga kemarahan. Ibu begitu marah, bahkan tidak terima dengan pembalasan yang dilakukan oleh madunya.


Begitulah manusia, kadang untuk melampiaskan rasa sakit hatinya, ia tumpahkan pada siapapun, yang bahkan tidak ada kaitannya.


"Ayah dan ibu tahu, perbuatan kami salah waktu itu. Kami benar-benar bertaubat, tapi jangan menghukum anak kami. Hukum ayah dan ibu saja!" ibu masih meraung.


"Bu, tenanglah. Qret tidak apa-apa. Qret mencoba menerimanya. Kalau ini memang hukuman, anggaplah ini penebus dosa-dosa kita di masa lalu. Semoga Allah memberikan kita petunjuk. Qret reka Bu," ucapku.


Bukannya tenang karena ucaoanku, ibu semakin menjadi-jadi, menangis meraung-raung. Kami tidak bisa melakukan apapun selain menenangkan sembari menunggu ibu benar-benar diam.


"Bu, yah ... perkenalkan, ini pak Bagus dan Alifa. Mereka berdua yang banyak berjasa membimbing Qret menghadapi kasus ini." aku memperkenalkan ayah dan anak itu pada kedua orang tuaku, setelah tangis ibu reda.

__ADS_1


"Jadi ini yang namanya nak Alifa. Ya Allah, terimakasih banyak nak," ibu menyalami Alifa.


"Iya Bu, saya yang menelepon bapak dan ibu kemarin." jawab Alifa, dengan sikapnya yang hangat.


Alifa menjelaskan pada ayah dan ibu tentang rencana kami hari ini. Kedua orangtuaku menyanggupi apa yang diarahkan.


"Ibu siap bertemu dengannya?" tanyaku pelan, saat ayah sibuk berbincang dengan pak Bagus, sementara Alifa menyiapkan beberapa berkas untuk keperluan nantinya.


"Qret," dari cara ibu memelintir ujung bajunya, bisa kulihat kalau sebenarnya ibupun masih cemas. "Apa ia akan memarahi ibu lagi?"


"Bu, apapun yang dilakukan oleh Bu Rani, ibu harus tetap tegar. Rasa bersalah itu timbul karena ibu pernah melakukan kesalahan padanya,"


"Ibu menyesal, Qret. Tapi ibu tidak pernah menggoda ayahmu. Ibu sudah berusaha menghindar, tapi karena ibu kasihan pada ayahmu, makanya ibu menerimanya. Ibu kira memang pernikahan mereka tidak ada harapan lagi,"


"Bu, kita harus belajar untuk terus instrospeksi diri. Salah ya salah. Tidak untuk dibenarkan."


"Yang terpenting ibu mentaubatinya."


"Iya Qret. Tapi, apa ia akan mengakuinya nanti? Kau tahu kan Qret, betapa berkuasanya ia di negeri ini."


"Allah lebih berkuasa, Bu. Jangan takut akan hal itu."


"Iya Qret, ibu paham."


Bulir bening mengalir dari kedua mata ibu membuatku yakin, betapa ibu menyesali semuanya. Satu kesalahan yang pada akhirnya berbuntut panjang. Tidak hanya ayah dan ibu yang mendapatkan imbasnya, tapi juga anak mereka, yaitu aku.


"Qret, bagaimana dengan Riana?" tanya ibu lagi.

__ADS_1


"Bu, Qret minta tolong jangan marah padanya," pintaku.


"Ibu mengerti Qret, selama beberapa hari ini ibu juga merenung. Kenapa ia melakukan semua ini. Ibu benar-benar paham betapa sakitnya ia ketika cinta ditolak. Itu adalah salah satu kelemahan manusia, apalagi tidak dibarengi iman.


Selama kita tinggal di tempat mereka, ibu menyadari satu hal, betapa Riana sebenarnya butuh kasih sayang, butuh perhatian. Tidak hanya uang.


Kau tahu Qret, betapa manisnya ia saat minta diajari oleh ibu cara memasak, menjahit, juga sekedar membereskan rumah. Ia begitu riang saat ibu menyisir rambutnya. Bahkan terkesan mencari cara agar ibu mau melakukannya beberapa kali. Kadang dengan malu-malu ia minta dipeluk. Manis sekali bukan?


Ibu sebenarnya juga mulai menyayangi gadis itu, Qret. Ibu sangat iba padanya. Ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Hidup di lingkungan yang begitu keras. Hanya ada laki-laki di sekitarnya yang tidak bisa ditanyanya.


Saat ia bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan, ibu merasa ia seperti menemukan air di Padang pasir saat mendengar jawaban ibu. Sungguh, ibu juga kasihan padanya Qret. Riana yang malang. Itu semua membuktikan bahwa ia butuh sentuhan dan kasih sayang seorang ibu." tutur ibu, dengan mata yang basah.


Ya Allah Riana ... memang Riana kurang mendapatkan sentuhan dan kasih sayang dari perempuan. Ia tumbuh dalam dunia yang banyak diisi oleh lelaki. Itupun para berandal. Sebab ibunya telah lama pergi. Ayahnya tidak pernah berniat untuk menikah lagi sebab tidak ingin perhatiannya pada Riana terbagi, tetapi ternyata paman Rudi tidak bisa memenuhi apa yang Riana butuhkan.


"Qret," panggil ibu, membuyarkan lamunanku. "Apa Riana akan di penjara? Ibu tidak sanggup membayangkannya Qret. Walaupun ibu kesal dengan ulahnya, tapi ibu menyayanginya."


"Alifa akan mengatur semuanya, Bu." Apa yang ibu rasakan sama denganku, Riana hanya korban di sini. Kami sama-sama sepakat bahwa ia berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Apalagi setelah semua yang dialami Riana selama ini.


Waktu terus berjalan, segalanya sedang dipersiapkan oleh Alifa. Aku, ibu dan ayah menanti dengan harap-harap cemas, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Tidak mungkin Bu Rani hanya akan diam saja, ia pasti melakukan perlawanan.


"Jika ada yang harus dihukum, itu adalah ayah, bukan ibu apalagi kau Qret!" kata ayah, dengan suara pelan namun penuh dengan penghayatan.


"Yah, yang berhak menghukum itu adalah Allah, bukan manusia, apalagi semuanya pernah melakukan kesalahan." kataku.


"Hari ini ayah akan selesaikan semuanya. Ayah siap jika ia mau menghukum ayah, tetapi ayah tidak rela jika ia mengganggu kau dan ibumu."


"Semoga Bu Rani mau berdamai. Melupakan semua masa lalu dan memulai kehidupan yang baru lagi."

__ADS_1


"Mungkin tidak akan semudah itu, Qret, tapi ayah tetap berharap seperti apa yang kau harapkan. Ayah sudah lelah bermain dalam permainan ini. Ayah ingin menyudahinya. Ayah harap ia mau." ayah menyebutkan penyesalan-penyesalan di masa lalu.


__ADS_2