
Apakah kamu tahu, Qur'an adalah sebaik-baik penasihat, pedoman hidup yang tidak akan menyesatkan, teman yang tidak akan meninggalkan. Ayat demi ayat yang kubaca, mampu membuat resah di dada hilang. Ditambah bila membaca terjemahannya, seperti mendapatkan air di panasnya Padang Sahara.
"Pak Qret!" panggil polisi penjaga yang sedang piket hari ini.
Usai menutup Qur'an, aku menjawab panggilan itu sembari berdiri menghampiri polisi yang bersiap membuka pintu sel.
"Ada tamu." ia mempersilakan aku keluar.
Langkahku terhenti saat melihat seorang gadis berjilbab biru muda duduk sambil menundukkan kepalanya. Gadis yang wajahnya dapat membuatku tenang. Gadis yang semalam membuatku resah dan pagi ini namanya kusebut dalam doa. Kini ia ada di depanku, ditemani ayahnya.
"Nak Qret!" panggil pak Bimo, ia menghampiri.
Yasmin mengangkat wajahnya. Untuk sesaat kami saling pandang, laku buru-buru ia menundukkan kepalanya, sementara aku pura-pura menggaruk kepala yang tidak gatal.
Ada apa ia ke sini? Apa yang akan dikatakannya? Apakah ia akan marah karena aku tidak datang tadi pagi, atau justru ingin membatalkan rencana lamaran dan pernikahan kami?
"Pak," aku mengalami pak Bimo, lalu duduk di hadapan mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pak Bimo. "Nak Jimmi bilang nak Qret menjadi bandar ganja?
Jimmi benar-benar keterlaluan. Bersaing boleh. Tapi tidak dengan menjatuhkan lawannya. Ini namanya tidak fair. Lagipula kenapa ia harus berkata seperti itu. Belum ada vonis sama sekali.
"Lalu, apa bapak percaya dengan yang dikatakan Jimmi?" tanyaku, sambil mencuri pandang pada Yasmin yang masih diam seribu bahasa. Ahhhh, kenapa ia tidak bicara apapun. Kalau mau marah, itu lebih baik ketimbang diam saja seperti ini. Sungguh menyiksaku.
"Tentu saja kami tidak percaya. Bapak sangat yakin nak Qret benar-benar sudah berubah!" ungkap ayah Yasmin dengan penuh keyakinan.
Lalu bagaimana denganmu bidadari? Mengapa masih diam. Apa kau juga tidak percaya dengan fitnah yang ditunjukan padaku, atau sebaliknya? Bicaralah bidadari, katakan sesuatu agar hatiku tenang.
Tatapanku masih tertuju pada Yasmin. Ia tetap seperti semula hingga sabarku benar-benar habis.
"Lalu bagaimana dengan Yasmin?" akhirnya tanya itu keluar juga.
Gadis yang sedari tadi menunduk, perlahan mengangkat wajahnya, menatapku sekilas, lalu kembali menunduk.
__ADS_1
Ya Tuhan, aku bisa-bisa mati penasaran dengan sikapnya yang seperti itu. Wajahnya memang bisa membuatku tenang, tapi sikap dinginnya ini bisa membuatku meriang.
"Yas," ayahnya langsung memberi isyarat, sebab melihatku gelisah.
"Bukannya sudah Yasmin jawab tadi di rumah, yah." ia menjawab tenang pertanyaan ayahnya.
Aghhhhh, bagaimana aku bisa tahu apa jawabannya. Dari semalam aku di penjara. Kalau ia sudah halal, mungkin sudah kujawil pipinya itu.
"Yasmin sama seperti bapak, nak Qret." jawab pak Bimo sambil tersenyum.
Aku langsung menunduk. Apa susahnya sih Yas, jawab langsung. Kenapa harus bicara dengan perantara ayahmu. Apa kau tahu, Yas, sepotong kata-kata dukungan darimu ibarat penawar hati yang sedang luka ini.
"Sama bagaimana, pak?" terpaksa pertanyaan konyol itu terlontar. "Bisa Yasmin sendiri yang jawab? Sejujurnya aku sedang benar-benar dilema dan sangat kacau. Harusnya hari ini jadi hari paling bahagia di hidupku, tapi Tuhan berkehendak lain. Bolehkan Yasmin mengatakan sesuatu sebagai obat untuk hati ini?"
"Hahaha," tawa pak Bimo pecah. Sementara Yasmin langsung menunduk. "Iya ... iya. Bapak mengerti. Yas, ayo bicara!" perintah ayahnya.
Seperti anak kecil, kami saling tarik ulur. Aku ingin Yasmin bicara, sementara Yasmin menolak karena malu.
"Nak Qret, maafkan bapak, tidak bisa memaksa Yasmin. Bapak mengerti bagaimana perasaan anak perempuan di hadapan lelaki yang ia sukai. Ia pasti sangat malu sekali. Bapak harap nak Qret mengerti." kata kak Bimo dengan bijak.
"Aku akan selalu mendoakan anda, tuan." kata Yasmin, hingga sukses membuatku mengangkat wajah. Gadis itu akhirnya bicara sehingga membuat senyumku terkembang. "Sejak semalam sebenarnya aku sudah gelisah tapi tidak tahu apa penyebabnya. Aku sudah bicara pada ayah. Ternyata inilah penyebabnya. Saat aku tahu anda masuk penjara, aku benar-benar sedih. Bukan karena penemuan barang haram di rumah anda tuan, aku sangat yakin anda tidak akan melakukan hal yang terlarang lagi. Tapi karena anda harus mengalami ujian yang amat berat.
Tuan, fisikku saat ini memang bebas, tetapi saat tahu anda di penjara, hatiku pun terpenjara.
Aku takut tuan. Bukan takut akan penilaian orang-orang, tapi takut anda menjadi rapuh.
Andai bisa, akupun ingin berada di sisimu tuan, tetapi apalah daya, kita belum halal dan aturan hukum tidak membenarkan.
Meski begitu, jangan pernah ragukan aku tuan. Aku akan setia menanti anda." kata Yasmin dengan suara bergetar menahan tangis.
Ya Allah ... betapa beruntungnya aku. Beban berat itu langsung hilang mendengar kata setia dari sang kekasih. Mendapatkan cinta dari makhluk Allah saja begitu bahagia rasanya, apalagi bila mendapatkan cintaNya.
"Yas, aku memang mencintaimu, tapi aku lebih mencintai-Nya!" kataku penuh keyakinan.
__ADS_1
"Ehemmm," pak Bimo berdehen, membuat aku dan Yasmin salah tingkah. Beginilah cinta, kalau sudah bertemu, seperti dunia milik berdua. Makanya dikarang dua orang berbeda jenis berduaan sebab akan ada yang ketiga, yaitu setan. MasyaAllah, begitu indah Islam mengatur segalanya.
"Maaf pak," aku menunduk, memberi isyarat akan menjaga sikap.
"Lalu bagaimana rencana selanjutnya, nak Qret?" tanya pak Bimo.
"Pengacara sudah mengurus semuanya, pak. Semoga saja bisa segera keluar. Sedangkan janjiku pada Yasmin, mungkin harus ditunda dulu. Aku benar-benar minta maaf pak. Tapi aku tidak akan memaksa Yasmin. Jika ia mau menanti, aku akan sangat senang sekali. Jika tidak, memang akan. Ada kekecewaan, tetapi aku rela, insyaAllah." jawabku, tegas.
Aku memang mencintai gadis itu. Tetapi membiarkannya menanti sangatlah tidak adil. Biarkan ia yang menentukan sebagai wujud cintaku, dengan memberinya kebebasan memilih. Harapanku ia bahagia.
"Bagaimana Yas?" tanya pak Bimo.
"Nanti saja kita pikirkan yah, sekarang fokus pada masalah tuan saja." kata Yasmin.
"Yas," panggilku. "Jangan panggil aku tuan lagi. Aku bukan tuanmu."
"Tapi ...."
"Panggil saja Qret,"
"Baiklah mas Qret."
"Yas,"
"Hmm?"
"Terimakasih banyak." aku menautkan kedua tangan di depan dada.
"Sepertinya sudah waktunya kita pulang." kata pak Bimo. "Yas, ayo!"
Yasmin buru-buru mengambil bungkusan yang ia letakkan di atas meja sebelah. Ia membawa rantang berisi makanan, minuman, dua buah sarung untuk ganti, Qur'an, sajadah dan beberapa buah buku.
"Kalau mas Qret butuh sesuatu, katakan saja. Aku akan mengantarkan." kata Yasmin saat ia menyerahkan barang bawaannya.
__ADS_1
"Terimakasih Yas, ini sudah lebih dari cukup. Doakan aku ya." pintaku.
"InsyaAllah."