
"Yah, tolong jangan lupakan Jam." pintaku, dengan suara pelan nyaris tidak terdengar.
Aku tidak pernah bisa menerima saat seorang anak harus menjadi korban dari perselisihan orang tuanya. Apalagi jika anak tersebut berkebutuhan khusus seperti Jamm. Justru ia harus lebih banyak lagi mendapatkan perhatian.
"Kami juga ingin membawa Jamm, Qret. Tetapi, bu Rani masih menutup akses ayahmu untuk bertemu Jamm. Padahal kami tahu betul, bu Rani sebenarnya tidak menyukai Jamm. Banyak hal buruk yang didapatkan Jamm dari ia baru lahir hingga sekarang. Rasanya tidak rela jika ia harus mengalami hal tersebut selamanya. Kamu pun ingin Jamm merasakan kebahagiaan." tambah ibu.
"Terimakasih Qret, sebab kau mau peduli pada Jamm. Jika kalian bertemu, aku yakin ia akan langsung menyukaimu. Jamm bisa merasakan ketulusan orang-orang." selembar foto yang sudah udang diperlihatkan ayah padaku.
Ada gambar seorang anak laki-laki yang kuoerkurakan usianya sudah lima belas tahun atau mungkin lebih. Ia memandang ke arah depan, tersenyum. Sekilas, tidak tampak ada yang aneh pada Jamm. Tapi jika diperhatikan secara detail, barulah kita menyadari bahwa Jamm anak istimewa.
"Ayah juga punya andil atas kondisi Jamm." sebuah cerita meluncur dari lisan ayah. Saat Jamm masih dalam perut ibunya, ia beberapa kali mendapatkan penolakan. Akan digugurkan sebab Bu Rani merasa berat dengan kehadiran Jamm. Entah sudah berapa orang dokter yang ditemui, juga pil peluruh yang ditelan, tetapi Jamm masih tetap bisa bertahan. Itu membuktikan Jamm adalah anak yang kuat.
Begitu Jamm lahir, belum ketahuan ia istimewa. Saat usianya dua tahun barulah semua orang menyadari Jamm berbeda dengan abangnya, Jimmi.
Bu Rani semakin membenci Jamm sebab membuat malu keluarganya yang terhormat. Jamm dianggap sebagai aib.
"Padahal Jamm pintar musik, dia seorang pianis berbakat." kenang ayah.
Perbincangan kami menjadi sendu saat mengingat Jamm. Meski aku belum pernah bertemu langsung, tetapi rasanya aku sudah mengenal dekat Jamm. Kuharap suatu hari kami bisa bertemu.
***
Lagi-lagi hape paman Rudi maupun Riana tidak bisa dihubungi. Rasa khawatir dan takut membuatku begitu gelisah. Mondar-mandir berjalan di dalam sel. Seperti bom waktu yang hendak meledak. Aku tidak bisa melakukan apapun, sedang orang-orang yang aku mintai tolong tidak ada kabar sama sekali.
Ingatan masa kecil kembali muncul. Saat nenek Aini, yang sudah mengasuh saat ibu meninggalkan kembali muncul.
Siang itu, nenek Aini meninggal dunia. Ia pergi untuk selama-lamanya karena sakit yang semakin parah. Aku begitu takut. Tidak tahu harus melakukan apa. Hanya menangis di makan nenek Aini hingga petang.
Begitu kembali ke gubuk kami, tiba-tiba empat orang preman yang biasanya lalu-lalang mengatakan bahwa besok pagi aku harus meninggalkan gubuk ini. Mereka yang akan menempati sebab nenek Aini sudah tiada.
Usia yang masih terlalu muda membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Paginya aku langsung pergi, kebingungan. Dalam keadaan lapar dan takut, aku hanya bisa duduk menangis di dekat makan nenek Aini.
__ADS_1
Disamakan aku dan Paman Rudi bertemu. Ia tengah menggendong Riana kecil. Laman Rudi bersimpati padaku. Ia membawaku pulang ke rumahnya.
Kondisi perekonomian paman Rudi sebenarnya juga tidak terlalu bagus. Tapi ia seperti seorang malaikat yang diutus untuk menolongku. Paman Rudi menjadikanku anak asuhnya.
Ia menawarkan aku sekolah, tetapi kutolak sebab trauma dengan bully yang dilakukan teman-teman terdahulu. Akhirnya aku diajak ikut bekerja dengan paman Rudi. Kami mulai membuka usaha dindong juga judi kecil-kecilan.
Dari situlah, aku mulai berkenalan dengan anak-anak jalanan dan anak-anak yang punya latar belakang broken seperti aku. Kami saling cocok hingga terbentuklah rules. Paman Rudi sebenarnya tidak terlalu suka jika aku menjadi ketua gengster. Terlalu bahaya sebab jadi incaran aparat kepolisian.
Memasuki usia dua puluh tahunan, barulah aku benar-benar bisa melepaskan diri dari rules. Fokus pada usaha bar dan perjudian. Meminjamkan uang dengan bunga besar pada para pemabuk. Usaha yang kugeluti makin besar hingga akhirnya aku bertemu Yasmin dan memilih jalan sendiri.
Tetapi meski begitu, paman Rudi dan Riana tetap berarti di hidupku. Keselamatan mereka sangat berarti untukku.
Rasanya benar-benar tidak karuan, saat kita tidak bisa kemana-mana, sementara orang yang kita sayangi tidak diketahui kondisinya saat ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa paman tidak datang-datang? Paman tidak mungkin tak peduli denganku, pasti telah terjadi sesuatu." aku terus menerka-nerka.
Deni. Tiba-tiba nama anak itu muncul di pikiranku. Aku akan menghubunginya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia pasti tahu sesuatu hal tentang Riana sebab aku yakin Deni belum melepaskan Riana. Meski ia tidak bekerja lagi denganku, tapi beberapa kali secara tidak sengaja aku mendapati Deni mencoba menghubungi Riana.
Aku dibawa ke ruang tempat menerima tamu. Di sana ada telepon rumah yang biasanya kupakai. Langsung saja kutekan nomor Deni. Tidak berapa lama, terdengar jawaban dari Deni.
[Deni, ini aku Qret!"] kataku.
[Tuan? Oh maksud saya Qret. Ada apa?]
[Apa kau tahu, sekarang aku di penjara. Aku butuh bantuannya.]
[Maaf Qret, saya tidak bisa membantumu.]
[Den, tunggu sebentar. Ini bukan tentang aku. Tapi tentang paman Rudi dan Riana.]
Mendengar nama Riana, Deni yang tadinya ogah-ogahan langsung bersemangat. Jelas sekali ia masih menyimpan cinta untuk adikku itu.
__ADS_1
[Saat ini, bisa saja paman Rudi dan Riana berada dalam bahaya.] kataku.
[Siapa yang mau mencelakai mereka?]
[Kalau aku tahu, tidak perlu minta bantuanmu, Den. Makanya, tolong jaga mereka. ]
[Saya mengerti!]
[Den, cari tahu, dimana keberadaan paman Rudi dan Riana sekarang juga. Apa mereka baik-baik saja. Kalau mereka tidak ada di rumah, tanya pada tetangga ataupun orang terdekat. Temukan mereka secepatnya. Aku mohon!]
Mendengar nama Riana, Deni yang tadinya uring-uringan menerima panggilan dariku langsung bersemangat. Ini membuktikan bahwa ia masih punya perasaan sama seperti dulu pada Riana.
Kalau sudah menitipkan pada Deni, aku sudah merasa agak tenang sebab yakin ia bisa diandalkan. Delapan tahun mengabdi padaku, hanya sekali ia membuatku kecewa, selebihnya ia sangat bisa dipercaya.
[Qret,] panggilnya.
[Ada apa, Den?] jawabku.
[Siapa yang menjebakmu?]
[Maksudnya?]
[Aku sangat yakin, kau bukan pengedar. Siapa pelakunya?]
Orang-orang yang pernah dekat denganku pasti sangat mengerti bagaimana aku begitu menjauhi benda haram tersebut. Tetapi bagi pihak berwajib, mungkin kesaksian mereka tidak akan pernah bisa didengarkan.
[Aku tidak tahu,] jawabku.
[Apa boleh aku mengabdi kembali padamu?]
[Aku tidak bisa menggajimu lagi, Den. Kini aku tidak seperti dulu. Kau mungkin tahu semua hak yang menimpaku. Rumahku telah hangus terbakar.]
__ADS_1
[Aku tidak butuh uang dari darimu, aku hanya ingin kau menjadi tuanku!]