
Air wudhu kembali membasahi wajah ini. Resah yang tadinya menguasai hati, mulai mereda ketika aku mengangkat tangan, bersamaan dengan takbir.
Allahuakbar. Allah yang Maha besar. Aku hanyalah makhluk-Nya yang lemah. Sangat lemah sekali. Apapun yang terjadi dalam hidupku adalah atas kehendak-Nya. Aku hanya harus Ridha dengan seluruh ketentuan yang telah Dia tetapkan.
Malam semakin larut, tetapi aku masih khusyu, di atas sajadah. Mentaubati segala dosa di masa lalu, memuji Allah, serta merelakan semuanya. Pasrah dengan takdir-Nya.
Hari-hari yang telah aku lalui, sudah begitu banyak nikmat dari-Nya. Aku hanya ingin hidup tenang, menjadi manusia yang lebih baik lagi.
***
"Mas Qret," panggil seseorang dari balik jeruji besi.
"Ada apa, pak?" tanyaku, sambil bangkit, setelah meletakkan mushaf yang sejak subuh tidak lepas dari pegangan ku.
"Ada tamu." bapak itu membawaku ke ruangan tempat biasa menerima tamu.
"Paman Rudi!" aku langsung berdebar, ketika melihat ia tengah duduk di ruang tunggu, sendirian.
"Qret." panggilnya, bangkit dari duduk, tetapi tampak ragu untuk menyongsong kedatanganku.
"Ada apa, paman?" kataku, meski canggung, aku berusaha untuk tetap tenang. Tidak boleh ada emosi, paman Rudi adalah orang yang sangat berjasa padaku. Jikapun Riana melakukan kesalahan padaku, ada banyak kebaikannya dari mereka yang harus selalu aku ingat.
"Qret, aku tidak tahu harus mulai bicara dari mana. Kau pasti sudah mendengar semuanya."
__ADS_1
"Sebenarnya, ada apa paman? Aku ingin menutup telinga dari penjelasan siapapun, aku hanya mau mendengarkan paman dan Riana."
"Riana mencintaimu Qret!"
Astagfirullah. Bagai disambar petir, aku langsung lemas mendengarnya. Apalagi saat paman Rudi mengatakan, betapa patah hatinya ia begitu tahu aku justru mencintai Yasmin.
"Riana mengaku bahwa ia sudah jatuh cinta padamu sejak usianya remaja. Sebuah perasaan seorang wanita kepada lelaki. Perasaan itu tumbuh tanpa bisa ia cegah sebab kebersamaan kalian, kebaikanmu padanya, sikapmu yang selalu melindunginya dan entah alasan apa lagi yang ia tidak bisa menjelaskan.
Riana tidak berniat mengungkapkan sebab ia yakin suatu saat kau akan menyadari perasaannya dan ia berharap saat itu tiba kau pun memiliki perasaan yang sama, sehingga kalian dapat bersama untuk selamanya, sebagai pasangan suami istri.
Riana menantimu dengan sabar. Ia terus membersamaimu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa itulah yang terbaik.
Masalah itu muncul ketika kau menyatakan jatuh cinta pada gadis itu. Riana tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Ia terbakar api cemburu yang membuatnya nekat melakukan apapun. Mungkin karena ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Ketika ia merasa tidak punya harapan lagi, maka saat itu, ia termakan bujukan ibu tirimu yanh datang bertepatan dengan ketika Riana sudah kehilangan harapan. Ibu tirimu membujuk Riana untuk menjebak. Ia tidak berpikir panjang, efek dari semuanya. Riana hanya mengira, kau akan dipenjara sementara waktu, maka pernikahanmu dengan gadis itu batal sebab ia tidak mau menerima calon suami yang seorang pengedar narkoba. Begitu bodohnya Rianaku karena dibutakan cinta.
Aku tahu Qret, kau pasti kecewa dengan sikap Riana. Ingin marah, bahkan mungkin membenci kami. Tapi percayalah Qret, Riana tidak bermaksud sejahat itu.
Saat kau ditangkap polisi, ia langsung mengurung diri di dalam kamar. Ia sempat mendengar pembicaraan antara aku dan pengacara. Disitu mungkin Riana menyadari bahwa perbuatannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Riana benar-benar putus asa. Ia beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya sebab rasa bersalah kepadamu. Kau tahu Qret, ia mengiris nadi tangannya, mencoba gantung diri dan terakhir ia meminum satu botol obat tidur sampai tidak sadarkan diri.
Riana benar-benar tidak punya keinginan untuk hidup lagi. Ia lebih memilih untuk mati lebih dulu agar tidak semakin menderita sebab kau di penjara karena ulahnya.
Aku minta maaf Qret, baru bisa datang sekarang sebab tidak mudah bagiku meninggalkan Riana. Sedikit saja lengah maka ia akan kembali nekat. Kau tahu, aku memang sengaja menghentikan pengacara supaya kau menyadari bahwa Riana pun terlibat, tetapi aku begitu lemah untuk menyerahkan putriku pada yang berwajib.
__ADS_1
Aku tahu Qret, kau marah pada kami. Kini aku datang ke sini siap untuk menerima hukuman darimu. Majulah aku, pukul atau bunuh sekalian Qret. Aku akan menerimanya. Tapi kumohon, maafkan putriku.
Ini memang terdengar tidak adik, tapi kesalahan Riana juga andil perbuatanku. Aku ayahnya, walinya, tapi tidak mampu mendidiknya.
Aku sibuk dengan persiapan akhiratku, tapi aku melupakan salah satu asetku, yaitu putri kandungku sendiri. Ia tumbuh hanya di bawah asuhan ku, dengan segala keterbatasanku.
Silakan Qret, adillah aku!" kata Paman Rudi, sambil menyerahkan kedua tangannya.
Ya Tuhan, sesak dada ini, hingga akhirnya pecah juga air mataku mendengar semua pengakuan Paman Rudi.
Aku jadi menyesali diri sendiri, mengapa tidak bisa menjaga sikap pada Riana. Siapa sangka, sentuhan, sapaan bahkan perhatianku padanya disalah artikan. Pantas saja Islam begitu mengatur hubungan antara dua orang yang berbeda jenis. Tidak ada yang namanya saudara ketemu besar. Harusnya sejak awal aku menjaga jarak dengan Riana, tidak sembarang pada gadis itu. Apalagi ia tumbuh tanpa kasih sayang ibunya.
Ya Allah ... ini juga salahku. Kalau sudah begini, lalu harus bagaimana lagi.
"Qret, hukumlah aku. Sekarang juga aku bersedia untuk menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib agar bisa menggantikan posisimu." ungkap paman Rudi.
"Tidak!" aku menggelengkan kepala. "Pergilah paman, biarkan aku sendiri dulu." pintaku, sambil menautkan kedua tangan, memohon agar paman Rudi memberiku sedikit waktu untuk menenangkan diri.
Mendengar semua pengakuan itu membuatku sesak. Dugaaanku tentang ada yang tidak beres benar. Tetapi aku tidak membayangkan bahwa alasannya adalah karena cinta.
Rasanya tidak bisa menerima kenyataan ini bahwa Riana mencintaiku. Mengapa ia harus menyukaiku. Bukankah kami sudah mengikrarkan diri menjadi saudara selamanya? Kenapa Riana malah mengkhianatiku.
Kini aku paham mengapa Riana selalu mencari tahu saat aku mengunjungi Yasmin, atau ia akan memperlihatkan kemarahannya begitu aku mencomblangi dia dengan Deni.
__ADS_1
Deni, bagaimana perasaan anak itu jika tahu Riana ternyata menyukaiku? Ya Tuhan, aku berharap ia tidak patah hati untuk kedua kalinya. Anak itu setiap patah hati akan melakukan hal-hal di luar batas. Ia bisa menjadi sangat kacau hanya karena patah hati.
Kuharap Deni baik-baik saja sebab akulah yang mendorongnya untuk mendekati Riana. Tetapi maksudku baik, agar Riana dan Deni bersatu. Bagiku mereka sangat cocok. Lalu bagaimana kondisi Deni saat ini, sebab terakhir aku meneleponnya, meminta bantuan Deni agar menjaga paman Rudi dan Riana.