GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
83. Hari Bahagia Qret Dan Yasmin


__ADS_3

Mata semua yang hadir berkaca-kaca. Bukan hanya karena hafalanku yang bagus, tapi karena mereka tahu perjuangan melaksanakannya. Memang tidak mudah, tapi aku berusaha semaksimal mungkin demi Rabb penciptaku. Aku tidak ingin lagi menjadi manusia yang sia-sia.


"Silakan melaksanakan ijab kabul." kata pak penghulu.


Pak Bimo mengulurkan tangannya dan langsung kujabat. Ia dengan suara serak menahan tangis mengucapkan ijab, sedangkan aku menjawab kabulnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Yasmin Andriani Shalihah binti Muhammad Bimo dengan mas kawin tersebut di atas, tunai!" ucapku.


"Bagaimana saksi?" tanya pak penghulu.


"Sah!" ucap dua orang saksi.


"Alhamdulillah, sah." ucap semua yang hadir.


Air mata itu akhirnya jatuh juga, satu-persatu. Menikmati hari yang terasa di dalam hati. Hari ini, aku telah resmi dan sah secara agama memasuki fase baru di hidupku sebagai seorang suami dari Yasmin, gadis berwajah sendu yang selalu bisa menenangkan hati ini.


"Yas, kemarilah." panggil pak Bimo.


Seorang gadis memakai gamis panjang berwarna putih dengan bordir berwarna gold duduk di sampingku. Ia masih menundukkan kepalanya saat mengulurkan tangan ke hadapanku.


Tangan itu meski terasa dingin namun begitu kurindukan saat ia mencium punggung tanganku.


Allah, begitu baiknya Engkau padaku sehingga menitipkan seorang bidadari kepadaku. Bidadari yang wajahnya teduh, semoga ia mampu menjadi penjagaku agar selalu menundukkan wajah pada sesuatu yang tidak halal padaku.


"Selamat mas Qret, selamat Yas." satu-persatu yang hadir menyalami kami berdua berganyian.


"Qret!" ibu memelukku haru hingga menitikkan air mata. "Terimakasih banyak sudah mengabulkan harapan ibu." kini ibu bergantian memeluk Yasmin hingga keduanya larut dalam hati.


"Qret," kini giliran pak Bimo yang menyalamiku. "Tolong titip Yasmin. Jaga ia dengan sebaik mungkin. Selama dua puluh lima tahun usianya, bapak sudah gagal menjaganya. Mungkin hanya beberapa bulan ia berada dalam penjagaan bapak, selebihnya ia berjuang sendiri untuk hidupnya.


Yasmin sudah menjalani penderitaan yang amat panjang. Bahkan ia pernah sampai lupa bagaimana rasanya bahagia itu. Ia nyaris tidak pernah tertawa.

__ADS_1


Bapak sengaja memilih mas Qret, sebab bapak yakin mas Qret akan jadi imam yang baik untuk Yasmin. Sejak pertama kita bertemu di rumah mas Qret, bapak sangat yakin bahwa mas Qret menyayangi Yasmin dan pasti bisa Membahagiakannya. Tolong buat ia bahagia selalu. Jangan ada lagi kepedihan dalam hidupnya." pak Bimo menangis haru sambil memelukku.


Rasanya memang sangat haru saat seorang ayah menyerahkan tanggung jawabnya pada seorang lelaki yang meminang putrinya.


"InsyaAllah pak. Saya akan selalu minta tolong Allah agar bisa membahagiakan Yasmin. Sebab saya juga makhluk yang lemah. Semoga saja Allah Ridha." ucapku.


Acara pernikahan itu terjadi secara sederhana. Tetangga kiri kanan datang untuk mengucapkan selamat. Akhirnya aku bisa bernafas lega ketika makanan yang jumlahnya banyak itu bisa berguna juga, tidak terbuang sia-sia sebab habis dibagikan pada tamuyang datang.


Menjelang sore, beberapa jam sebelum azan Maghrib berkumandang, Heri dan istrinya pamit pulang. Lalu disusul rombongan keluargaku. Tentunya setelah Riana puas mencandaiku dan Yasmin.


"Semoga kalian bahagia selalu." bisik Riana sebelum lari mengejar rombongan yang sudah jalan duluan.


"Hem," aku sengaja berdehem, setelah semua tamu pulang. Malam ini kami memang akan tinggal di sini agar Yasmin bisa mempersiapkan semua sebelum pindah ke rumahku.


"Mas kenapa?" tanya Yasmin.


"Tidak apa-apa, aku hanya lelah." kataku.


"Kok cuma oh."


"Istirahat di kursi saja ya, aku mau menyusul ayah dulu." tanpa menunggu jawabanku, Yasmin cepat menghilang, menyusul ayahnya ke rumah tetangga untuk membagikan makanan yang masih tersisa.


Kini pandanganku tertuju pada rumah mungil ini. Dulu Yasmin pernah bilang bahwa rumahnya sebenarnya tidak sekecil ini. Namun karena terjerat hutang terus menerus, maka rumahnya perlahan dijual sedikit demi sedikit hingga tinggal beberapa meter. Cukup untuk ruang tamu sederhana, sebuah kamar kecil dan dapur yang sempit


***


"Lho, mas Qret kenapa tidur di sini? Tidur di kamar saja." pak Bimo yang baru kembali membangunkanku yang sempat tertidur sebab kelelahan. "Ini di sini. Harap maklum ya, di rumah ini memang hanya ada satu kamar. Jadi mas Qret bersabar ya." pinta pak Bimo.


Aku menurut, masuk ke kamar satu-satunya di rumah ini. Hanya berukuran dua kali tiga meter. Di dalamnya ada satu tempat tidur kecil yang juga sudah usang, serta sebuah lemari dan meja sederhana.


Kini pandanganku tertuju pada meja itu. Di atasnya ada beberapa buku, semuanya berisi catatan pesanan jahitan, makanan serta orderan meja, lemari untuk pak Bimo.

__ADS_1


Lalu tanganku meraih buku biru yang berada tidak jauh dari catatan tersebut. Rupanya buku lapor Yasmin saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Di halaman pertama ada biodata dan sebuah foto ukuran tiga kali empat. Tampak seorang gadis kecil dengan rambut sebahu tersenyum begitu manis.


Gadis itu Yasmin-ku, ia adalah bidadari yang sekarang jadi istriku. Melihat nilai yang tertera di dalamnya membuatku makin bangga. Yasmin pintar. Semuanya angka sembilan. Yasmin selalu meraih peringkat pertama dari kelas satu hingga kelas enam sekolah dasar.


Di halaman terakhir kulihat catatan yang kuyakini tulisan tangan Yasmin, tentang cita-citanya ingin menjadi seorang profesor. Entah mengapa air mataku langsung mengalir. Membayangkan harapan gadis itu disaat yang tidak mudah untuknya. Ia pasti berjuang begitu keras. Pertanyaan muncul di benakku, bagaimana cara Yasmin bisa mengukur prestasi padahal ia sekolah sambil mencari uang untuk biaya hidupnya.


Takdir Tuhan sungguh sangat luar biasa. Mungkin begitulah cara Allah menempanya agar menjadi gadis yang kuat seperti hari ini.


"Hei, siapa yang mengizinkan masuk ke kamar ini?" tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. "Mas menangis?" tanya Yasmin.


"Apakah aku masih membutuhkan izin untuk masuk ke kamar istriku sendiri?" tanyaku, sambil menyeka sisa air mata di pipi.


"Tidak. Silakan masuk kapanpun mas mau. Tapi air mata itu kenapa?"


"Aku hanya sedang terharu saja. Ternyata hidup istriku begitu keras di masa lalu."


"Apakah lebih keras dari hidup mas?"


"Entahlah. Tapi yang jelas, kita punya kesamaan. Sama-sama pernah tidak bahagia. Jadi sekarang kita juga harus sama-sama."


"Sama-sama apa?"


"Sama-sama membahagiakan ...," aku mencondongkan tubuh ke arah Yasmin.


"Sudah azan. Ke masjid gih. Ayah sudah menunggu mas." ucap Yasmin sambil tersenyum usil.


"Yahhh ...,"


"Jangan begitu. Ingat bagaimana Ali meninggalkan Fatimah saat azan berkumandang. Mas juga harus seperti itu. Jangan mau kalah sebab kita sudah punya suri tauladan terbaik."


Aku mengangguk, mengusap kepala Yasmin, mengucap sebait doa, lalu mengecup keningnya. Kemudian berlalu ke masjid bersama pak Bimo yang sudah resmi menjadi mertuaku.

__ADS_1


__ADS_2