
Pagi ini, aku hadir bersama ayah di pengadilan agama Jakarta Selatan untuk menghadiri sidang putusan perceraian ayah dan Bu Rani. Tentunya didampingi oleh Alifa, sebagai kuasa hukum kami.
Sebelumnya kami sudah menjalani beberapa tahapan sidang. Bu Rani tidak pernah datang, ia hanya diwakili oleh pengacara.
Itulah kenapa prosesnya cukup singkat dan cepat sebab tidak ada proses perdamaian untuk kedua belah pihak. Bu Rani benar-benar membebaskan ayah.
Saat majelis hakim memasuki ruang sidang, Bu Rani datang untuk pertama kalinya didampingi oleh pengacaranya. Ia sama sekali tidak mau melihat ke arah ayah.
Aku dan ayah agak sedikit kaku sebab cukup banyak wartawan yang menghadiri sidang perceraian yang sebenarnya tidak ingin diumbar-umbar.
Sesuai kesepakatan yang kami buat saat aku masih di penjara, Bu Rani tidak menuntut apapun dari ayah, merelakan perceraian ini dengan alasan tidak lagi cocok. Ayah juga tidak menuntut apapun dari Bu Rani. Seluruh harta jatuh pada Bu Rani, Jimmi dan Jamm. Keinginan ayah hanya satu, bisa tetap berkomunikasi dengan Jimmi dan terus memantau perkembangan Jamm.
Tetapi tetap saja, saat kami memasuki ruang sidang, sempat terucap dari para wartawan pencari berita tentang isu adanya orang ketiga. Ayah memilih tutup mulut, bahkan menundukkan wajahnya saat wartawan mulai mengambil gambar.
Palu akhirnya diketuk. Ayah dan Bu Rani resmi bercerai. Untuk sesaat ayah menundukkan kepalanya, mengucapkan hamdalah. Sementara Bu Rani langsung berlalu menuju mobil mewahnya yang sudah menanti. Lagi-lagi semua diurus oleh pengacaranya.
Terkadang muncul tanya di benakku tentang perempuan yang pernah menjadi teman hidup ayah tersebut. Kalau ia mencintai ayah, mengapa malah menjadikan ayah layaknya budak yang tidak memiliki sedikitpun kebebasan. Bahkan untuk segala hal diatur dalam kertas olehnya. Kalau sudah seperti itu, siapa yang akan tahan? Meskipun hidup dalam istana emas yang lengkap segala-galanya.
"Apakah ayah sudah lega?" tanyaku, sambil memegang pundak ayah.
"Ya. Aku lega sekali. Empat puluh tahun lebih aku berada di bawah cengkraman wanita itu. Rasanya setelah palu diketuk, aku benar-benar menjadi manusia bebas kembali!" ungkap ayah.
"Selamat ya pak!" Alifa menjabat tangan ayah.
"Terimakasih banyak mbak Alifa." ayah menundukkan kepala berulang kali pada Alifa.
__ADS_1
"Sama-sama pak. Saya sudah janji akan membantu bapak, sebab saya tidak tahan jika melihat sesuatu yang tidak adil." ungkap Alifa.
"Maaf ya Alifa. Kami kembali merepotkan kamu. Kami benar-benar berhutang budi." ungkapku.
"Tidak mengapa, Qret. Aku senang melakukannya." ucap Alifa, sambil memamerkan senyumnya.
"Oh ya, bagaimana kabar jagoanmu?" tanyaku pada Alifa, sesaat sebelum kami berpisah di parkiran pengadilan agama.
"Dia sedang mencoba beradaptasi dengan Indonesia. Ibu pertama kalinya ia datang ke negara asal ibunya. Kau tau, persis seperti tebakannya, awalnya ia kaget mendapati kedatanganku. Sempat menolak, tapi pada akhirnya ia luluh juga." Alifa bercerita dengan mata berbinar-binar. "Untuk sementara waktu, aku akan menghabiskan waktu bersamanya di rumah. Hanya kamu saja. Setelah ia nyaman, aku akan mulai mengenalkan Jakarta padannya."
"Kalau ia sudah nyaman, jangan lupa ajak ke tempatku. Aku akan memberikannya makanan gratis yang ku racik sendiri." ungkapku.
"Pasti!" Alifa mengacungkan jempol. "kau juga punya hutang padaku. Kau harus memasakkan makanan terenak untukku. Maka tunggulah kunjungan kami ke kedaimu."
Entah mengapa aku begitu nyaman berbincang dengan Alifa. Ia adalah perempuan yang punya semangat luar biasa. Kecerdasannya selalu membuatku terkagum-kagum.
***
Sebuah pelukan hangat diberikan ibu pada ayah. Tentu saja dengan air mata berlinang. Mereka berdua hanyut dalam tangisan. Mungkin karena haru sebab akhirnya bisa mendapatkan kebebasan ayah.
Kini kamu mulai merancang kembali tentang harapan ke depannya. Ayah dan ibu tidak akan mencatatkan pernikahan mereka ke KUA sebab menikah siri bagi mereka sudah lebih dari cukup.
Aku tidak memaksakan ayah dan ibu meskipun sebenarnya pernikahan secara negara juga dibutuhkan.
"Kami sudah tua Qret, yang penting halal di mata Allah saja. Tidak ada lagi yang ingin kami kejar, juga pengakuan dari orang-orang." ungkap ibu.
__ADS_1
"Kalau ayah dan ibu maunya seperti itu, Qret juga tidak masalah." kataku.
"Lebih baik kita fokus untuk persiapan pernikahanmu dan Yasmin," ibu beralih pada kami berdua.
Rencananya pesta akan dilaksanakan akhir bulan ini di sebuah gedung yang tidak jauh dari rumah kami. Aku dan ibu sudah menunjuk wedding organizer untuk mengurus semuanya sesuai dengan apa yang kami instruksikan.
Yasmin tidak masalah dengan apa yang sudah dirancang ibu. Bahkan ia tidak punya banyak tamu undangan. Bisa dihitung jari. Tidak lebih dari sepuluh orang.
"Apa ini tidak terlalu sedikit?" tanyaku pada Yasmin.
"Mas kan tahu, aku tidak punya teman ataupun kenalan. Hanya beberapa orang tetangga kiri dan kanan. Itupun sebenarnya tidak terlalu akrab." ungkapnya.
"Berarti makanan terlalu banyak Bu, sebab teman-teman Qret juga tidak seberapa." kataku, sambil mengingat jumlah kenalan yang juga tidak lebih banyak dari kenalan Yasmin. "Tahu begitu pestanya di rumah saja." kataku, secara asal.
"Tidak bisa. Tetap harus ada pesta di gedung." ungkap ibu. "Semuanya sudah ibu baya. Kalau dibatalkan bisa kena finalti!"
"Tapi mau undang siapa lagi?" aku mencoba berpikir keras, tetap saja tidak ada nama lain yang teringat.
Sebenarnya ada beberapa teman bisnis di masa lampau, tetapi setelah memutuskan hijrah, aku memilih meninggalkan mereka. Teman-teman bisa membawa pengaruh bagi kita. Jika mereka baik, maka ada kemungkinan kita pun jadi baik. Tetapi bisa juga sebaliknya. Jika mereka kurang baik, bisa jadi kita pun terbawa-bawa.
"Kita undang anak yatim saja!" usul ibu, sambil menyebutkan dua yayasan yang ada di pinggiran kota Jakarta. Sangat jauh dari kata layak. Anak-anak di sana hidup dalam keadaan sangat sederhana, tidak jarang kekurangan.
Jarang makan enak, tidak punya pakaian layak, juga keperluan hidup yang serba tidak cukup. Mereka memang kurang mendapatkan bantuan dan perhatian. Entah apa penyebabnya. Mungkin karena letaknya yang agak terpencil atau karena pengurusnya tidak bisa mencari pendonor.
"Bagaimana, kalian setuju tidak?" tanya ibu lagi.
__ADS_1
"Setuju sekali Bu!" kataku dan Yasmin bersamaan.
Sebenarnya bagiku dan Yasmin, pesta ini tidak wajib, bahkan kami tidak keberatan jika hanya akad saja. Yang penting halal di hadapan Allah. Tetapi ibu bersikeras dengan alasan aku anak ibu satu-satunya. Ibu mengadakan ibu sebagai bentuk syukur sebab anaknya menerima kembali ibu. Semua biaya pesta juga ditanggung oleh ibu dari uang tabungan ibu.