GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
31. Sebuah Lamaran


__ADS_3

"Kalian berdua?" Yasmin menunjuk kami. "Ada apa?"


"Yas, saya ingin bicara. Sudah lama ingin saya sampaikan tentang kecurigaan saya kada mas Qret." Jimmi menatapku. "Yas, apa kamu tidak curiga pada mas Qret. Bagaimana kalau ternyata hutang tiga milliar itu hanya karangannya dan paman Bimo saja untuk menjebakmu agar mau menikah dengan mas Qret?" kata Jimmi.


"Maksudnya apa?" aku beralih pada Jimmi sebab tidak paham dengan kesimpulan yang ia buat sendiri. "Jebakan apa?"


"Mas Qret, mengakulah. Kamu sengaja menjebak Yasmin, kan? Saya adalah polisi, saya mengerti tentang rencana yang kalian buat." Jimmi terus memaksaku untuk mengakui sesuatu hal yang tidak kulakukan.


"Jangan sembarang bicara, kami tidak merencanakan apapun!" kataku, tegas menolak karangannya. "Sebelumnya aku memang tidak mengenal pak Bimo ataupun Yasmin."


"Kalau itu hanya karangan saya, bagaimana mungkin paman Bimo bisa sangat percaya pada anda. Pasti hutang tiga milliar itu hanya karangan. Iya, kan?" Jimmi meninggikan nada suaranya. "Sebenarnya kamu sudah menyukai Yasmin dari lama, tetapi karena statusmu sebagai penjahat, makanya kamu merencanakan ini semua agar Yasmin simpati. Iya, kan?"


"Kau!" aku hendak menarik kerah baju Jimmi karena tidak terima dengan tuduhannya. "Aku tidak selicik itu!"


"Kamu bahkan tidak benar-benar menagih hutang itu. Juga tidak menerima jika saya melunasinya. Semua itu cukup sebagai bukti bahwa hutang itu hanya alasan kalian saja!" cetus Jimmi. "Kamu memperalat paman Bimo agar menuruti keinginanmu. Iya, kan?"


"Nak Jimmi bicara apa?" Bimo keluar dari rumah. "Jadi sekarang kau menuduhku menjebak putri kandungku sendiri?"


"Maaf paman, saya hanya ingin paman dan mas Qret jujur, ada rencana apa dibalik hutang tiga milliar itu?" tanya Jimmi lagi.


"Dengar nak, aku memang ayah yang jahat, pernah menjadikan putriku sebagai jaminan. Tapi nak Qret tidak seburuk itu, ia bahkan tidak memanfaatkan Yasmin sedikitpun, bahkan ia yang melindungi Yasmin. Jika Qret jahat, ia pasti sudah menjual Yasmin agar uangnya kembali. Tetapi ia masih memberinya kesempatan melunasi hutang tersebut meski Qret tahu mustahil Yasmin bisa menggantinya.


Apa yang dilakukan Qret itulah yang membuatku tersadar bahwa ialah satu-satunya lelaki yang bisa menjaga putriku dengan sangat baik.


Aku sangat yakin, jika Yasmin menikah dengan Qret, maka putriku akan terlindungi. Qret bisa menjaga Yasmin jauh lebih baik berkali lipat dari siapapun. Jadi jangan coba-coba meragukannya!" Bimo menjelaskan panjang lebar.


"Alah, itu alasan kalian saja. Mengakulah paman. Kenapa paman tega mengorbankan kebahagian putri paman, sendiri!" Jimmi terus menyerang Bimo dengan tuduhannya. "Apa paman tahu, Qret ini penjahat!"


"Nak Qret sudah berubah. Ia bahkan sedang menjalani proses hijrah," ungkap Bimo.


"Itu hanya karangan saja untuk membuat Yasmin yakin. Iya, kan?" tanya Jimmi.


"Ckckck, sekarang aku benar-benar bangga dengan keputusanku sendiri, melarang Yasmin dekat denganmu. Aku benar-benar yakin kau bukan lelaki yang pantas untuk anakku. Sekarang pergilah dan jangan ganggu kami lagi!" Bimo mengusir Jimmi.

__ADS_1


"Paman, jangan sampai anda menyesal nanti!" cetus Jimmi.


"Aku tidak akan menyesal!" kata Bimo.


"Yas, bicaralah. Jangan mau menyerah begitu saja. Kita akan menikah, kan? Saya tahu kamu sangat menghormati ayahmu, tapi ia saja mengorbankan kebahagiaanmu demi dirinya sendiri. Kamu bebas, Yas, menentukan jalanmu sendiri!" ucap Jimmi. "Ayolah Yas, bicaralah!"


"Ahhhh, sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah!" kembali Bimo mengusir Jimmi.


"Yas!" Jimmi masih berharap agar Yasmin membelanya. "Bukankah dulu kamu sudah mengiyakan Yas, untuk menikah denganku?"


"Maaf Jim, aku tidak bisa," jawab Yasmin dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar.


"Nah, sudah dengarkan. Putriku sudah menolakmu anak muda. Sekarang pergilah!" Bimo meminta Jimmi pergi.


"Paman, tolong berlaku adil. Anda adalah ayah Yasmin, jangan memaksanya mengikuti kehendak anda!" Jimmi masih berusaha membujuk Bimo.


"Aku tahu yang terbaik untuk putriku, yaitu Qret. Bukan kamu!" ungkap Bimo dengan tegas.


"Jim, pergilah. Aku tidak mencintaimu. Maaf!" Yasmin buru-buru masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana kalian bisa berbarengan?" tanya Bimo, saat Jimmi sudah menghilang.


"Tadi tidak sengaja bertemu di gang depan," aku menunjuk gang tempat biasanya parkir mobil.


Bimo mengajakku masuk ke dalam rumah sebab ia tidak ingin terlalu lama jadi tontonan warga sekitar.


"Ada perlu apa, kesini nak Qret?" tanya Bimo lagi, setelah kami duduk di dalam rumah.


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada Yasmin," kataku.


Bimo memanggil putrinya keluar. Setelah Yasmin duduk di samping ayahnya, barulah kulanjutkan kembali perbincangan.


"Yas, aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya." kataku. "Aku ingin hubungan ini jelas agar tidak lagi larut dalam dosa-dosa."

__ADS_1


"Maksud anda, tuan?" Yasmin mengangkat wajahnya.


"Apakah kamu juga mencintaiku?" pertanyaan itu begitu lancar keluar dari mulutku, padahal sebelumnya susah payah kurangkai kata.


"Ya tuan, aku mencintaimu juga!" jawab Yasmin dengan tegas.


Sekilas kutatap wajah ayu Yasmin, pipinya merona merah, mungkin ia malu. "Baiklah, kalau begitu sekarang juga aku melamar Yasmin untuk menjadi calon istriku!"


"Alhamdulillah, akhirnya ada kejelasan juga." Bimo tersenyum lega.


"Bagaimana Yas, apa kamu menerima lamarannya?" kembali kutanyakan padanya.


"Iya, aku menerimanya." jawab Yasmin dengan mantab.


Alhamdulillah. Alhamdulillah. Aku dan Bimo berulang kali mengucap hamdalah atas jawaban jujur Yasmin. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata ia pun mencintaiku.


Baik sekali Tuhan padaku yang penuh dengan dosa ini. Ia memberiku calon pendamping hidup yang kudambakan.


"Terimakasih Yas, terimakasih pak Bimo." kataku, dengan suara bergetar menahan rasa haru.


"Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Bimo. "Aku khawatir jika kalian terus berhubungan tanpa adanya ikatan yang sah."


"Saat ini aku tidak punya apa-apa, tapi aku akan bekerja keras untuk kehidupan kami nantinya. Jika Yasmin bersedia, pekan depan kami menikah secara sederhana." kataku dengan mantab.


"Pekan depan?" tanya Yasmin dan Bimo secara bersamaan.


"Iya. Apa ada yang salah?" tanyaku lagi. Bukankah niatan baik harus disegerakan. "Atau terlalu lama? Kalau besok juga tidak apa-apa."


"Jangan. Pekan depan saja!" kata Bimo.


"Baiklah, besok akan ku ajak ibu ke sini untuk membicarakan kelanjutannya!" kataku.


Setelah pembicaraan kami selesai, aku pamit pulang untuk mempersiapkan semuanya, termasuk mencari rumah baru untuk tempat tinggal kami nantinya. Sungguh, ini adalah hari terbaik yang pernah kulalui. Semua berjalan seperti yang ku harapkan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, aku melantunkan shalawat, seperti yang diajarkan Heri. Rasanya sudah tidak sabar segera sampai rumah paman Rudi dan mengabarkan semua orang, termasuk Heri, yang bertindak sebagai penghubung kami.


__ADS_2