
Ba'da Isya, ibu memintaku membawa Yasmin ke kamar agar ia bisa beristirahat. Kondisi Yasmin masih belum pulih betul, makanya ia dilarang untuk banyak bergerak. Karena kamar kami ada di atas, makanya kuputuskan untuk mengangkat Yasmin.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanyaku, sebab risih menjadi sasaran tatapan sepasang mata itu.
"Jadi sekarang tidak boleh melihat suami sendiri?" pertanyaan yang aku yakin akan mengundang pertengkaran.
"Yas, kita baru saja sampai, di rumah juga ada ayahmu, ayah dan ibuku. Kamu mau mereka mendengar kita bertengkar?"
"Kalau tidak mau bertengkar harusnya mas bicara jujur."
"Tentang apa Yas?"
"Sebenarnya apa yang mas sedang sembunyikan?"
"Tidak ada."
"Sungguh?"
"Tidak ada hal terlarang yang aku sembunyikan darimu."
Tiba-tiba panggilan telepon menghentikan pembicaraan kami, aku buru-buru keluar kamar, rupanya dari Joni.
[Kau akan membayar tepat waktu bunganya, kan?] ucap Joni dari seberang.
[Ya, insyaAllah.] jawabku. Lalu ia memutuskan panggilan.
Ternyata memang benar, punya hutang itu benar-benar membuat tidak nyaman, apalagi hutang yang berbunga pada lintah darat. Tetapi aku bisa apa, tidak ada pilihan lain sebab hanya itu satu-satunya jalan yang aku ketahui untuk bisa membawa Yasmin ke Singapura.
Sebelum kembali ke kamar kuputuskan untuk kembali mencari siapa yang sekiranya bisa memberikan pinjaman. Lagi-lagi satu-persatu nomor di phone book kuhubungi. Tapi tidak ada satupun yang bisa memberikan bantuan.
"Masa harus meminjam uang yang berbunga lagi?" ungkapku dalam hati.
Paman Rudi? Tiba-tiba nama itu muncul dalam pikiranku. Sebenarnya masih ragu, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menemuinya.
"Qret, kamu mau kemana?" tanya ibu.
"Ke tempat paman Rudi sebentar Bu. Titip Yasmin ya!" pintaku.
"Besok saja Qret, ini kan sudah malam."
"Sebentar saja Bu. Ada hal penting!"
Aku segera berlalu ke rumah yang ada persis di sebelah rumah kami. Hanya dua kali ketukan, Riana sudah muncul.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Riana.
"Aku ingin bertemu paman."
"Oh, ayah di dalam."
Riana mempersilakan aku masuk. Benar saja, ada paman Rudi sedang bermain catur bersama Deni. Melihat pemandangan itu aku jadi senang, akhirnya paman Rudi menemukan menantu yang bisa membuatnya nyaman.
Salah satu buktinya adalah jika orang tersebut diajak main catur oleh paman Rudi itu tandanya ia menyukai orang tersebut. Tidak banyak orang yang bisa duduk satu meja dengan laman Rudi.
"Hei Qret, ada apa?" tanya paman Rudi. Melihat aku yang masih berdiri mematung, sepertinya paman Rudi paham bahwa aku ingin bicara empat mata, makanya ia mengajakku ke kantornya. "Kenapa Qret?" tanya paman Rudi.
"Sebenarnya aku butuh bantuan paman." kataku.
"Apa itu? Sebutlah."
"Aku ingin meminjam sejumlah uang pada paman."
"Berapa Qret?"
"Seratus lima puluh juta, paman."
"Kau beruntung, Qret!"
"Kenapa paman?"
"Oh ya?"
"Iya, Deni mengatakan itu tabungannya. Sebenarnya ia ingin membelikan Riana rumah, tapi tabungannya belum cukup. Mungkin akan lama baru cukup sebab ia hanya bekerja di kedaimu. Makanya uang itu diberikannya padaku. Tapi kau beruntung, aku akan memberikannya padamu. Sini nomor rekening mu." paman Rudi mulai mengetik angka-angka dari gadgetnya, lalu melakukan transaksi ke rekeningku.
"Terimakasih banyak paman, aku akan menggantinya begitu uangku terkumpul."
"Sudah, tidak perlu kau pikirkan. Aku sudah tua, tidak membutuhkan uang sebanyak itu. Uang itu untukmu."
"Tapi paman ...."
"Qret, kau sudah seperti putraku sendiri. Bahkan tidak ada bedanya. Ku harap kau juga menganggapku layaknya orang tuamu sendiri. Tidak perlu sungkan. Tetaplah seperti dulu."
Aku tidak bisa berkata apa-apa selain berulang kali mengucapkan hamdalah dan terimakasih pada paman Rudi.
Rasanya Tuhan begitu baik padaku. Baru saja aku dipusingkan dengan hutang bunga, lalu Dia memberiku secara cuma-cuma, nominal yang tidak sedikit.
Bukan ini aku bebas dari lintah darat, tapi aku harus berlari kencang agar segera bisa melunasi semua hutang-hutangku.
__ADS_1
***
Sepasang mata itu menatapku dengan tatapan kecewa. Ia bahkan sudah menitikkan air mata. Catatan kecil yang ia pegang langsung membuatku lemas.
"Kenapa kamu membukanya? Siapa yang mengizinkanmu?" tanyaku.
"Apa ini?" ia balik bertanya.
"Besok kita bicara. Tunggu ayah dan ibu pulang dulu. Juga ayahmu pergi. Baru kita bicara." kataku.
Entah bagaimana perasaanku saat ini. Yang jelas kacau. Segala rasa menjadi satu. Kecewa, marah, sakit hati dan juga sedih. Tetapi tidak bisa ku luapkan sebab hatiku sedang sangat membara. Aku benar-benar kecewa pada Yasmin. Sangat kecewa.
***
Kau jangan terlalu jauh melangkah.
Ada beberapa rahasia yang kadang tidak ingin kubagi padamu.
Tolong mengerti aku sebab itu berkaitan dengan harga diriku sebagai imammu.
Aku hanya ingin kau percaya seratus persen padaku, tanpa ada sedikitpun prasangka sebab aku juga sangat mempercayaimu.
Pagi ini kami sarapan dalam diam. Tidak ada yang curiga sebab mungkin mereka mengira kami masih sama-sama lelah.
Usai sarapan, ibu membersihkan rumah dibantu ayah. Lalu pamit kembali ke Bogor. Mereka datang memang hanya untuk menyambut kepulangan ku dan Yasmin.
"Ingat Qret, jaga baik-baik Yasmin. Kalau ada apa-apa, hubungi ayah dan ibu." pinta ibu, saat akan berpamitan.
"Ayah dan ibu juga ya, jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa tolong kabari Qret secepatnya." pintaku juga.
Setelah pamit, ayah dan ibu segera naik ke mobil. Lalu mereka melaju menuju Bogor. Pertemuan yang singkat namun bisa mengobati rindu di hati.
Tidak berapa lama ayah Yasmin juga pamit pulang ke Surabaya. Ia memang sudah berniat ingin ziarah ke makam istrinya setelah kami kembali dari Singapura.
"Mas Qret, tolong jaga Yasmin ya. Ayah harus pergi." kata ayah Yasmin.
"Berapa lama ayah di Surabaya?" tanyaku.
"Mungkin sepekan atau dua pekan. Tergantung situasi di sana. Selain ziarah, ayah juga ingin silaturrahim dengan keluarga ibunya Yasmin. Sudah lama ayah tidak mengunjungi mereka. Ayah ingin kembali merajut silaturrahim itu, setidaknya itu salah satu cara untuk mengenang ibunya Yasmin."
"Kalau begitu hati-hati yah." aku memberikan uang pada ayah Yasmin untuk transportasi dan bekalnya selama di Surabaya.
Sejak tinggal dengan kami, ayah Yasmin memang tidak bekerja. Seluruh kebutuhannya aku yang menanggung. Tiap akhir pekan biasanya Yasmin memberikan uang saku kada ayahnya atas arahanku.
__ADS_1
Aku memang bertekad untuk berbakti pada ayah mertuaku. Bagaimanapun ia adalah ayah Yasmin, meski sebelumnya ia tidak pernah peduli pada putrinya. Tapi aku tahu Yasmin begitu menyayangi ayahnya.
Usai berpamitan, ayah Yasmin berangkat menuju stasiun Gambir diantar Jack. Aku memang sengaja minta bantuannya sebelum membuka kedai.