
"Bismika Allahumma Ahya Wabismika Amut!" aku sengaja membaca doa tidur agak sedikit keras agar Yasmin tahu bahwa aku sudah tidak tertarik berdebat dengannya.
"Mas benar-benar jahat. Sebenarnya ada apa Antara mas dengan Alifa?" tanya Yasmin lagi, kali ini nada suaranya cukup tinggi pertanda ia benar-benar sudah sangat marah.
"Yas, sudah kukatakan, kami tidak ada apa-apa."
"Lalu kenapa dia harus menghubungi mas?"
"Dia harus melaporkan masalah kasus kamu yang sedang dikawalnya."
"Alasan saja."
"Sungguh Yas. Pelaku tabrak lari itu kemarin sudah dibebaskan, ia menyuap pihak-pihak berwajib. Tapi Alifa kembali berhasil memasukkannya dalam penjara."
" Lagipula kenapa mas harus meminta bantuannya?"
"Sebab hanya dia satu-satunya pengacara yang aku kenal. Lagipula aku yakin ia bisa mengawal semuanya dengan sangat baik. Aku percaya dengan sepak terjangnya Alifa yang tidak akan mengecewakan kita. Kau ingat kan bagaimana ia berhasil dengan cepat mengungkapkan kasus yang menimpaku!"
"Mas selalu saja memuji-muji Alifa. Dia terus yang punya banyak kelebihan di mata mas!".
"Astagfirullah. Yas, apa kau cemburu padanya?"
"Tidak. Lagipula kenapa aku harus cemburu padanya?"
"Lalu kenapa dari tadi sewot?"
"Aku hanya ingin kejelasan. Sebenarnya bagaimana hati mas!"
"Maksudnya?"
"Kalau mas sudah tidak menginginkan aku sebab cacat pada diriku sekarang, tolong katakan baik-baik. Kembalikan aku pada ayah."
"Pernyataan seperti apa itu. Aneh sekali." aku geleng-geleng kepala. "Kau tahu kenapa aku ada di sini? Sebab aku mencintaimu. kau adalah istriku Yas, hari ini esok dan kuharap selamanya. Bahkan kita berjumpa kembali di surga Allah sebagai suami dan istri.
__ADS_1
Apa kau tidak pernah bisa merasakan bagaimana perasaanku padamu? Lalu kenapa kamu mempertanyakan semuanya kembali, Yas?" aku sampai bangkit dari tidur untuk mengurai benang kusut di pikiran Yasmin. "Yas, tolong jawab aku, apa kau sampai setahun itu padaku? Aku menyadari, berarti kasih sayangku padamu kurang, perhatianku kurang sehingga kamu mulai ragu. Baiklah Yas, aku minta maaf, aku akan berusaha merubahnya. Aku memang bukan suami yang baik."
"Mas!" Yasmin makin menangis. "Bukan ... mas bukan suami yang buruk. Mas adalah suami terbaik. Lelaki yang paling aku cintai. Perhatian dan kasih sayang mas begitu besar padaku. Tapi aku ...,"
"Kenapa Yas? Kamu masih belum percaya."
"Enggak. Aku percaya mas. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu. Maafkan aku. Kadang dalam kondisi seperti ini, aku tidak percaya diri. Aku takut kehilanganmu mas."
"Yas, ayo kita sama-sama belajar mencintai segala sesuatu itu karena Allah. Supaya tidak ada beban dalam hidup ini. Kita bertemu karena Allah, berpisahpun nanti karena Allah jua."
Sebuah pelukan hangat ku berikan pada Yasmin. Sambil kuucapkan kata cinta di telinganya. Ia tidak boleh berpikiran bahwa aku akan menyayanginya. Aku sangat mencintaimu Yasmin. Ku harap ia segera kembali seperti dahulu, menjadi Yasmin yang tegar.
***
Sudah hampir satu bulan aku dan Yasmin berada di Singapura. Yasmin sudah menjalani dua kali operasi. Kaki kirinya sudah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat, sementara kaki kanannya masih harus dioperasi satu kali lagi sebab retakannya cukup parah.
Rencananya, operasi ketiga akan diadakan dua hari lagi. Setelah dokter Irene keluar dari kamar Yasmin, aku langsung menguatkannya sebab sejak tadi Yasmin terlihat tidak bersemangat.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyaku.
"Kita cari cara lain."
"Tapi mas ...."
"Tapi kenapa Yas?"
"Biayanya pasti sudah cukup banyak."
"Yas, kan sudah kukatakan, jangan pedulikan tentang biaya. Kau mau membuat aku sedih? Urusan dana itu adalah tanggung jawabku. Kau hanya perlu menjalani apa yang sudah dianjurkan dokter. Tolong jangan mengecilkan aku tentang uang. Oke!"
"Hm. Baik mas. Maafkan aku."
"Sekarang aku keluar sebentar. Perutku benar-benar lapar. Kau mau dibelikan makanan apa?"
__ADS_1
"Tidak usah, mas saja. Makanan dari rumah sakit sudah lebih dari cukup."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi ya."
Aku menuju cafe rumah sakit. Memesan satu gelas lemon team dan sepotong sandwich. Lalu memilih duduk dipojok cafe sambil memikirkan masalah keuangan.
Tadi pagi Joni mengirimi pesan agar aku segera membayar bunga pinjaman bukan ini sebesar seratus juta. Sementara uang ditabungan sudah menipis untuk biaya rumah sakit Yasmin. Ditambah dua hari lagi akan ada operasi lanjutan, berarti harus ada biaya selanjutnya yang nominalnya juga tidak kecil.
"Ya Allah ... bagaimana ini?" aku memainkan Hp, memilih beberapa nomor yang aku perkirakan bisa memberikan pinjaman. Ada dua yang memberikan balasan. Tetapi dua-duanya menetapkan bunga untuk pinjaman tersebut.
Ya Allah ... banyak sekali dosaku. Dulu saat ada yang datang meminjam, akupun melakukan hal yang sama. Memberikan bunga yang cukup tinggi. Siapa saja yang telat membayar maka jaminannya akan ku sita.
Bahkan, aku sengaja menjebak pelanggan di bar agar mau berhutang denganku. Suatu transaksi yang ternyata sangat dikarang dalam Islam.
[Aku pinjam lima ratus juta.] Aku membalas Ferdian, mengajukan jumlah yang aku inginkan.
[Oke. Tapi ingat, jangan lupa bayar bunganya tepat waktu!] balasnya lagi.
Hanya butuh sepuluh menit, uang sebesar lima ratus juta sudah masuk ke rekeningku. Segera ku bayarkan bunga seratus juta pada Joni. Pekerjaan ini harus segera ku selesaikan sebelum kembali ke kamar. Yasmin tidak boleh tahu bahwa kini aku dililit hutang rentenir.
Meskipun kini ada tanggungan hutang sebesar satu setengah milliar ditambah bunga bulanan sebesar seratus lima puluh juta tidak akan membuat langkahku sulut untuk bisa mengobati Yasmin.
"Sudah selesai makannya, mas?" tanya Yasmin saat aku baru masuk kamar.
"Iya, sudah kenyang." jawabku, sambil memegang perut yang masih kempes sebab apa yang ku makan sebenarnya masih kurang, tapi aku harus berhemat agar bisa memenuhi kebutuhan Yasmin.
***
Kondisi Yasmin pagi ini memburuk. Entah apa penyebabnya, tetapi yang jelas ia terlihat menahan nyeri di kakinya. Dokter Irene mengatakan itu disebabkan oleh iritasi di kakinya. Karena itu operasi yang sudah dijadwalkan di undur terlebih dahulu.
"Yas, bangunlah. Jangan biarkan aku sendiri " Kataku, berbisik pelan di telinga Yasmin.
Yasmin masih belum membuka matanya, hanya meringis dengan peluh membanjiri pelipisnya, padahal ibu ruangan ber-AC.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan? Tolong istri saya!" pintaku, tidak dapat melihat kondisi Yasmin yang menahan kesakitan.
Dokter menyuntikkan obat anti nyeri dan juga obat tidur agar Yasmin tidak banyak bergerak. Setelah ia lelap, barulah dokter mulai membuka kembali perban di kaki kanannya. Entah apa penyebab pastinya, bisa jadi terkena air atau mungkin gerak yang terlalu banyak hingga ia mengalami iritasi. Tapi kejadian hari ini benar-benar membuatku frustasi. Aku tidak tega melihatnya terus menahan rasa sakit.