GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
17. Pernikahan Alifa Dan Jimmi


__ADS_3

Di ruang tamu rumah Alifa. Tampak beberapa tamu berdatangan. Para kerabat jauh dan tetangga rumah kiri dan kanan. Rumah disusun berbeda. Ada banyak hiasan pinlta dan bunga-bunga dengan warna pich. Juga beraneka ragam jenis makanan dan minuman yang disusun secara prasmanan di samping kiri dan kanan kursi-kursi para tamu.


Hari ini memang berbeda dari biasanya. Bisa dikatakan hari istimewa karena nyonya rumah akan melangsungkan akad nikah tepat pukul sembilan pagi. Taknada pesta besar-besaran sebab pemilik rumah merasa di usia segini tak perlu pesta, cukup syukuran untuk memberitahu para kekayrga besar dan tetangga bahwa sebentar lagi ia akan melepas masa lajangnya, kembali menjadi seorang istri. Yaitu istri dari Jimmi Fernando, pewaris tunggal keluarga Wibowo, sebab kedua saudara lelakinya telah meninggal dunia.


Tinggal tiga puluh menit lagi. Seorang lelaki muda memakai stelan jas hitam dan kemeja putih memberi isyarat pada istrinya agar segera mendekat.


"Ada apa?" tanya Jasmin, ketija jaraknya dengan Ren sudah dekat, smenetara matanya masih mengawasi sekeliling, memastikan semua sudah benar-benar sempurna.


Untuk pernikahan ibu mertua dan pamannya, Jasmin adalah orang yang paling sibuk. Awlanya ia yang jadi Mak comblang, lalu sekarang ia juga yang menjadi penanggung jawab acara. Memastikan ruangan sudah tertata rapi sesuai dengan hasil diskusi dengan ibu Alifa dan juga makanan cukup untuk para tamu.


"Aku sedang sibuk, kak. Aku harus memastikan makanannya sudah tertata rapi atau belum." kata Jasmin lagi.


"Kenapa harus repot-repot, kan ada wedding organizer, kamu percayakan saja pada mereka. WO yang kita pesan bukan sembarangan, mereka sudah profesional dan bisa diandalkan. Jadi tinggal santai, mereka tak akan mengecewakan.


"Oh tidak, aku tak bisa begitu." Jasmin menggelengkan kepalanya.


"Jas, dari pada kamu wara-wiri, mending cek ibu saja. Apa ibu sudah siap? Kalian tidak menggunakan jasa perias, kan? Kau yakin ibu sekarang baik-baik saja? Aku tahu betul ibu dan aku yakin sekarang ibu tenang!"


"Oh ya? Kalau begitu aku akan mengecek ibu." buru-buru Jasmin berjalan ke kamar ibu mertuanya yang terletak paling depan. Ia menepuk pelan keningnya, bagaimana mungkin ia bisa membiarkan ibu mertuanya sendirian. Benar yang dikatakan Ren, calon pengantin biasanya gugup di hari pernikahan mereka.

__ADS_1


"Jas, kamu kemana?" tanya ibunya Jasmin dan Riana, tepat saat ia berada di depan kamar Alifa.


"Aku maunke kamar ibu. Ia adalah seorang pengantin, tak seharusnya kita membiarkannya sendiri. Bukan begitu?" tanya Jasmin pada ibu dan bibinya.


"Kami baru saja mau mengatakan hal ini padamu, Jas. Siapa yang akan mengurus Alifa. Ternyata kau sudah muncul di sini. Memang, seharusnya kita tak meninggalkan ia sendiri. Pasti ia kebingungan sekali saat ini, padahal acara akan dimulai tiga puluh menit lagi." imbuh Yasmin.


Tok tok tok. Jasmin mengetuk pintu kamar ibu mertuanya. Tak perlu menunggu jawaban, ia langsung masuk ke dalam diikuti Yasmin dan Riana. Betapa terkejutnya mereka mendapati Alifa sedang duduk bengong di depan meja riasnya. Ia masih mengenakan daster rumahan berwarna merah tua.


"Ibu ... Apa-apaan ini?" pekik Jasmin, ia sampai harus berlari kecil mendapati ibu mertuanya yang hanya melirik sebentar ketika mereka bertiga masuk. "Kenapa ibu belum beganti pakaian? Acara akan dimulai tiga puluh menit lagi. Jangan katakan ibu menyesal atau mau membatalkan pernikahannya? Jangan bu, pamanku akan patah hati nantinya. Bisa-bisa ia tak ingin menikah untuk selamanya!" jerit Jasmin.


"Iiihhh, tidak ... tidak. Ini tidak seperti itu Jas, aku hanya gugup saja. Makanya tak tahu harus melakukan apa. Sejak tadi aku kebingungan, bahkan seluruh badanku rasanya meringang. Aku tahu kalian akan menganggap aku aneh sebab ini bukan pernikahan pertamaku dan usia yang sudah tidak muda lagi. Tapi aku benar-benar gugup. Lihatlah Jasmin, Riana, Yasmin, bahkan tanganku sangat dingin. Kurasa otakku juga sedang membeku. Aku benar-benar gugup." kata Alifa sambil memegangi satu-persatu tangan mereka.


"Pstt, bibi ... itu hanya perandaian saja." bisik Jasmin. "Baiklah, sekarang aku yang akan mengkomando apa-apa saja yang harus ibu lakukan. Ibu tinggal menurut saja." ucap Jasmin. Ia langsung mengambil abaya putih denhan lapisan burkat warna senada sehingga membuat kesan elegan pada pakaiannya tersebut. Lalu Jasmin memberikannya pada Alifa, agar ia berganti pakaian.


Tak butuh waktu lama, Alifa sudah keluar dengan baju pengantin yang ia desain sendiri. Sederhana namun ada kesan mewahnya.


"Sekarang siapa yang akan merias Alifa? Aku tidak bisa memakai makeup, punya alatnysa saja tidak." ungkap Yasmin.


"Aku juga tidak punya." kata Riana.

__ADS_1


"Aku sih punya, tapi tidak pernah dipakai." jawab Jasmin. alat itu diberikan oleh mertuanya dan Baru dipakai sekali saat suaminya pelantikan, itupun masih belepotan.


Mereka bertiga memang perempuan yang tak bisa menggunakan kosmetik. Seumur hidupnya bisa dihitung berapa kali berdandan, jadi agak membingungkan untuk masalah dandan ini. Sehingga menimbulkan penyesalan bagi Jasmin, harusnya ia menyewa juru rias saja.


"Kalian tenang saja, aku bisa kok berdandan sendiri. Aku cukup mahir untuk urusan satu ini." kata Alifa, ia mengerlingkan matanya pada ketiga orang yang menemaninya di kamar.


"Baiklah, kalau begitu segera lakukan ibu. Poleslah semuanya ke wajah ibu agar ibu semakin cantik dan paman Jimmi pangling pada ibu. Waktunya tinggal dua puluh menit lagi!" Jasmin menunjukkan jam dinding berwarna keemasan yang terpajang di dinding kamar.


Alifa mengangguk, dengan luwes ia memakai pondation, lalu mulai memoles wajahnya dengan make up berwarna soft. Sengaja dipilihnya warna natural sebab ia tak ingin terlalu mencolok karena usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Bagaimana?" tanya Alifa, sesaat sebelum jam dinding berdentang sembilan kali.


"Sempurna!" jawab Jasmin, Yasmin dan Riana.


"Kamu benar-benar seperti pengantin muda, Alifa." kata Yasmin sambik tersenyum. Sejujurnya Yasmin sangat senang sekali sebab akhirnya Jimmi menikah. Ia berharap pintu fitnah atau keburukan antara mereka tertutup. Masa lalu yang kelam akan dilupakan sehingga mereka sama-sama nyaman merajut tali silaturahim sebagai saudara.


Saat seperti ini, Yasmin jadi merindukan suaminya Qret. Lelaki baik yang sudah menyelamatkan kehidupannya dan memberikan banyak kebahagiaan itu pasti senang melihat semua ini. Andai Qret masih hidup. Ahhh, Yasmin menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Ia gak boleh berandai-andai lagi, apalagi sampai bersedih sebab kepergian Qret, ia sudah berjanji akan melanjutkan hidupnya dengan tegar hingga nanti bisa bertemu lagi dengan Qret.


"Hingga saat itu datang, aku akan terus memantapkan diri agar Allah Ridha pada hidupku dan mengizinkan aku masuk ke surga-Nya, bersama denganmu, suamiku." bisik Yasmin.

__ADS_1


__ADS_2