GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
163. Liburan


__ADS_3

Pagi-pagi, Jasmin sudah melakukan perjalanan menuju puncak dengan menumpang bus sebab ia tak ingin merepotkan ayahnya untuk mengantar. Lagipula ia merasa sudah dewasa, bisa kemana-mana sendiri.


Begitu sampai di simpang menuju rumah Kakek, Jasmin turun sebab bis biasanya memutar kembali ke kota. Sampai di sana, ia melihat kiri-kanan, mencari-cari ojek, tetapi belum ada yang standby. Mungkin karena masih terlalu pagi.


Untuk menelepon kakek, Jasmin rasanya tidak enak. Makanya ia memutuskan jalan menuju rumah kakek sambil menikmati udara pagi dengan pemandangan cantik hamparan perkebunan dengan berbagai jenis tanaman.


Tiba-tiba langkah Jasmin terhenti saat seorang bapak-bapak seusia ayahnya menyapa dari atas delman.


"Neng Jasmin, kan?" kata bapak tersebut.


"Iya, pak." jawab Jasmin sambil tersenyum.


"Saya pak Karman, yang suka bantuin kakek neng Jasmin bebersih kebun dan kolam."


"Oh iya."


"Neng Jasmin mau ke rumah kakek Wijaya? Ayo sekalian, kami mau ke pondok, melewati rumah kakek Wijaya." Jasmin tahu betul pondok yang dimaksud oleh bapak tersebut sebab sejak kecil kalau berkunjung ke rumah kakek dan nenek, maka ia akan diajak ke sana.


Kakek dan nenek Jasmin memang belajar di sana. Meskipun usia mereka telah senja, tetapi mereka bertekad untuk terus menuntut ilmu agama hingga akhir usia nanti.


Sebenarnya Jasmin sangat senang mendapat tawaran tersebut, tetapi ia agak sungkan, sebab salah satu penumpang delman tersebut tampak dingin, jangankan menawari, melengok saja ia tidak. Melihat tampangnya yang cuek, Jasmin jadi ragu-ragu.


"Bagaimana neng Jasmin, mau ikut?" tanya bapak tersebut.


"Boleh deh pak, kalau tidak merepotkan." kata Jasmin, ia lalu melempar tas ransel di pundaknya ke dalam delman, lalu naik di tempat duduk bagian belakang. Kemudian delman mylai berjalan.


"Neng Jasmin kayaknya sudah lama ya tidak main ke sini?" tanya pak Karman, memecah keheningan antara kami.


"Iya pak. Sepertinya sudah tiga bulanan. Soalnya saya lagi ujian kelulusan SMA." kata Jasmin.


"Wah, sudah lulus SMA tho. Waktu cepat sekali ya berlalu. Baru saja rasanya neng Jasmin balita, tau-tau sudah jadi anak gadis. Ingat betul bapak, saat kakek neng Jasmin menggendong ke kajian. Lalu neng Jasmin nangis minta main ke taman pondok." tawa kecil terdengar dari mulut bapak tersebut. Sementara Jasmin tersenyum sambil mengangguk-anggik sebab ia tak ingat cerita tersebut. "Nanti mau lanjut kemana, neng?"

__ADS_1


"Belum tahu, pak." jawab Jasmin.


"Terus kerja?" bapak tersebut masih bertanya.


"Enggak tahu juga. Belum dipikirkan." kata Jasmin.


"Ckckck, masih remaja tapi tidak tahu tujuan hidupnya apa. Masa tidak punya cita-cita apapun? Jangan-jangan sekolah cuma main-main dengan nilai pas-pasan, makanya enggak lanjut kuliah." celetuk lelaki dingin di sebelah pak Karman.


"Maaf, siapa yang kamu bilang tidak punya tujuan hidup? Siapa juga yang nilainya pas-pasan? Silakan cek di SMA Pertiwi, siapa juara umumnya? Bertahan dari kelas satu hingga kelas tiga. Itu adalah aku!" kata Jasmin dengan suara tegas. "Enggak kuliah bukan berarti tidak punya tujuan hidup. Aku punya tujuan hidup, kok. Tapi enggak perlu juga aku beritahu kamu!" kata Jasmin dengan sangat tegas.


"Halah, alasan saja. Begini nih pak, anak remaja jaman sekarang. Keenakan main, sampai enggak tahu mau jadi apa." ia malah merendahkan aku di hadapan pak Karman.


"Yang dikatakan neng Jasmin benar kok den. Bapak tahu bagaimana pintarnya neng Jasmin ini. Kakeknya sering cerita sama kakek kalau neng Jasmin itu selalu juara kelas. Lagian kalau nggak kuliah belum tentu nggak punya masa depan, kan bisa jadi pengusaha seperti ayahnya neng Jasmin." kata pak Karman.


"Tuh, dengar!" kata Jasmin, sambil mencibir.


"Alasan," ia masih tidak bisa terima.


Pemuda itu berbalik arah, melihat ke arah Jasmin sehingga gadis itu tak bisa berkata-kata sebab penampilannya yang good looking.


"Duh, cakep lagi." Jasmin membatin. Ini pertama kalinya ia menatap lelaki serupawan itu dengan sepasang mata yang berwarna biru.


"Saya itu calon dokter." jawabnya dengan sombong.


"Siapa yang nanya?" kata Yasmin dengan entengnya. Padahal ia tertawa di dalam hati sebab punya sedikit informasi tentangnya.


Untung saja sudah sampai tujuan, sehingga perdebatan antara Jasmin dan pemuda berwajah campuran tersebut berakhir.


"Terimakasih ya pak Karman. Ayo mampir dulu. Kakek saya pasti akan sangat berterima kasih sekali atas tumpangan yang bapak berikan." kata Jasmin, setelah melompat dari delman. "Untuk anda mas bule, lain kali ngomongnya yang sopan, untung good looking, kalau nggak aku bisa marah!" Jasmin berbalik arah, tidak lupa ia melambaikan tangan sebagai ungkapan terima kasih.


Dari mulut Jasmin terdengar senandung yang menandakan bahwa gadis itu tengah berbunga-bunga. Tidak apakah diskak sama orang tampan. Ungkap Jasmin sambil tersenyum.

__ADS_1


Di depan pintu rumah kakek dan nenek, Jasmin mengetuk pintu sambil memanggil kakek dan neneknya. "Kakek ... Nenek ... ini Jasmin cucu kesayangan kakek dan nenek datang!" seru Jasmin, sambil terus mengetuk pintu.


Hanya dalam hitungan detik, pintu yang tadinya tertutup rapat pun terbuka. Lalu keluarlah kakek dan nenek bersamaan. Mereka rupanya sudah dikabari Qret tentang kedatangan putrinya.


"Jasmin, ya ampun, nenek kangen sekali. Kamu semakin hari semakin cantik, nak!" ungkap nenek Jasmin.


"Nenek juga tidak kalah cantik." sambung Jasmin.


"Tadi masuk ke dalam naik apa?" tanya kakek.


"Naim delman, ditumpangi sama pak Karman. Kakek kenal, kan?" tanya Jasmin. "Tadi katanya suka bantuin kakek membersihkan kebun dan kolam ikan."


"Tentu saja kakek kenal. Tapi kenapa tadi tidak menelepon kakek saja, kan Kakek juga bisa jemput ke gang depan. Kakek juga sejak tadi menanti kabar dari kamu, Jas."


"Enggak apa-apa kek. Jasmin enggak mau merepotkan kakek. Lagipula awalnya kalau tidak ada yang memberi tumpangan, Jasmin memang niat jalan hitung-hitung olahraga."


Saat Jasmin dan kakeknya sibuk berbincang, nenek menyiapkan makanan dan minuman yang sudah dipersiapkan sejak tadi untuk menyambut kedatangan cucu kesayangan mereka.


"Jasmin, di sini kamu harus makan yang banyak supaya tidak kurus lagi." kata nenek.


"Siap nek!" jawab Jasmin.


"Bagaimana Riu, apa sudah berangkat ke Cairo?" tanya nenek, setelah menyajikan makanan dan teh hangat.


"Sudah. Kemarin berangkatnya." jawab Jasmin.


"Lalu kamu sendiri bagaimana, Jas?" tanya nenek lagi.


"Jasmin ingin jadi atlit, nek." pada kakek dan neneknya, Jasmin memang lebih terbuka sebab ia tahu kalau keduanya tidak akan menentang keinginan Yasmin tersebut.


"Apa perlu kakek dan nenek yang bicara pada ayah dan ibumu?" tanya nenek.

__ADS_1


"Tidak usah Nek, tahulah ibu seperti apa. Sensitifnya minta ampun. Salah bicara nanti malah jadi masalah baru. Sekarang biar Jasmin berpikir dulu sambil liburan. Capek, kepalanya sudah butek karena belajar terus!" ungkap Jasmin. Usai menghabiskan makanannya, ia segera ke kamar untuk mandi, lalu lanjut tidur sebab mengantuk karena tadi berangkat terlalu pagi.


__ADS_2