
Ren masih duduk tenang di sisi tempat tidur, ia tak berniat untuk bangkit menemui Jimmi yang sudah menunggu sejak tiga puluh menit lalu di teras rumah mertuanya. Dan untuk ketiga kalinya Jasmin masuk ke dalam kamar, meminta agar Ren segera turun, tentu saja sambil memaksakan kehendak.
"Kak, ayo dong. Paman Jimmi sudah menunggu di luar sejak tadi!" kata Jasmin, setengah memaksa, ia menarik tangan Ren.
"Apa-apaan sih?" Ren berusaha menepis pelan tarikan Jasmin, tapi istrinya itu tetap bertahan meski ia sudah menunjukkan penolakan dengan tegas, tapi begitulah, yang namanya Jasmin itu pantang menyerah. Bahkan, dulu, sebelum menikah pun Jasmin sudah begitu dan itu salah satu alasan kenapa Ren begitu menyukai gadis yang dinilainya gigih tersebut. Butuh usaha keras juga untuk Ren mempertahankan apa yang sudah ditetapkannya.
"Ayolah keluar kak, temui paman sebentar saja. Setidaknya untuk memberi penghormatan, lagian kita kan diajarkan untuk menghormati tamu, masa kakak tidak tahu itu. Ayo cepat keluar, jangan seperti anak kecil terus." Jasmin kembali menarik tangan Ren.
"Nggak mau!" Ren terus menolak, berusaha melepaskan tarikan Jasmin secara perlahan agar tak menyakitinya. "Jasmin, jangan tarik-tarik aku terus, kalau kau tetap seperti ini nanti kau sendiri yang akan jatuh. Mengerti!"
"Aku nggak tahu dan nggak mau tahu. Pokoknya kakak harus keluar sekarang dan temui paman Jimmi."
"Kenapa sih kamu itu, suka sekali memaksakan kehendak."
"Sebab aku tahu ibu mertuaku sangat menyukai paman, begitu juga sebaliknya, paman juga mencintai ibu."
"Itu tidak benar. Lagian cinta saja tak akan cukup untuk membangun rumah tangga. Ibuku pernah gagal dan aku tahu betul kalau ia itu perempuan yang keras kepala dan susah diatur, kalau kita paksakan, takutnya mereka tak cocok dan pada akhirnya berpisah juga. Sama saja dengan membuat masalah. Jadi berhentilah untuk memaksakan kehendakmu."
"Bagaimana kakak tahu paman dan ibu mertua akan cocok atau tidak jika Kaka saja tidak tahu karakter paman Jimmi."
"Memang kau sendiri tahu karakter pamanmu? Kalian juga baru berjumpa. Jangan cepat menyimpulkan kalau belum tahu betul, Jas."
__ADS_1
"Kakak juga, jangan cepat menyimpulkan kalau belum tahu betul. Lagian tidak adil sekali, belum kenal betul tapi sudah berani memberikan penilaian buruk pada pamanku. Bagaimana kalau ternyata penilaian kakak berbeda. Lihat saja, contoh sederhananya hari inu, paman berbesar hati menungu calon putra sambungnya dengan begitu sabar meski kakak begitu kekanak-kanakan. Masa untuk bertemu saja tidak berani, atau jangan-jangan kakak takut kalau ternyata kanan Jimmi adalah lelaki terbaik untuk ibu Alifa. Iya kan, kak?" tanya Jasmin.
Ren tak bisa lagi mengelak. sejujurnya ia memang takut bertemu dengan lelaki yang berniat mempersunting ibunya tersebut sebab khawatir jika ternyata ia pun akan suka pada lelaki tersebut. Ia takut posisi ayahnya akan tergantikan di hati ibunya meski ia juga menyadari jika ibunya benar-benar tak ingin lagi bersama dengan ayahnya. Kesempatan untuk rujuk itu telah lama dikuburnya.
Alifa pernah berkata pada Ren bahwa terlalu dalam jurang antara dirinya dan ayah Ren, sebab selain berbeda sifat mereka juga berbeda iman. Sesuatu hal yang seharusnya sejak awal tidak boleh dilanggar, namun terpaksa diterjangnya sebab cinta, meski akhirnya mereka menyerah juga.
"Kok diam? Jangan bilang kalau kata-kataku barusan memang benar? Kak, pikirkan baik-baik, usia ibu sudhw tidak muda lagi, apa salahnya jika ibu ingin berbahagia. Kenapa tidak memberikan izin agar ibu bisa menikah lagi.
Andaikan ayahku tidak meninggal, tetapi ibubdan ayahku seperti orang tua kakak, aku tak akan egois melarang salah satu jika ingin menikah lagi sebab kebahagiaan mereka adalah yang paling utama menurutku.
Memaksakan dua orang yang kita sayangi bersama, padahal mereka tak bahagia adalah sebuah keegoisan, biarkan mereka menemukan kembali cinta yang baru agar mereka bisa merasakan bahagia hingga akhir hayatnya." tutur Jasmin.
"Ya ya ya, baiklah. Aku akan menemui pamanmu. Tapi ingat, kalau ia tidak baik maka aku akan menuntutmu Jasmin!" ancam Ren.
Berdua, sepasang suami istri muda tersebut menuruni anak tangga, menuju teras rumah, dimana Jimmi sudah menunggu dengan gelisah sebab tak ada tanda-tanda bahwa Ren akan menemuinya. Ia benar-benar berusaha keras, memikirkan cara agar bisa bicara dengan Ren, tapi sejak ditolak di awal, ada sedikit kecewa meski ia tak putus harapan, Jimmi sudah bertekad akan berjuang hingga akhir untuk mendapatkan restu dari Ren.
"Paman, lihat siapa ini. Taram .... suamiku yang tampan, calon anak tiri paman!" seru Jasmin, sambil berseloroh memperlihatkan keberadaan Ren sehingga membuat suaminya kikuk karena malu, sementara Jimmi hanya tersenyum simpul.
"Jasmin, bisa bicara tidak berlebihan?" tegur Ren.
"Iya kakak. Aku akan bicara lebih sopan lagi, tapi yang kukatakan tadi benar, kan?" ungkap Jasmin, seolah tidak terjadi kesalahan apapun.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang tolong tinggalkan aku dan pamanmu berdua saja. Silakan masuk ke dalam!" Ren memberikan isyarat pada Jasmin.
Semula Jasmin ingin tetap berada di sini, menyimak perbincangan antara Ren dan paman Jimmi, ia juga siap menyengkal jika Ren mempersulit keadaan. tapi karena sudah diusir secara halus, ia tak bisa berbuat apapun lagi selain menurut.
"Semoga berhasil, paman!" Ujar Jasmin pada pamannya. "Dan suamiku, tolong jangan terlalu keras kepala!" pinta Jasmin pada Ren.
Setelah kepergian Jasmin, dua orang itu sempat sama-sama larut dalam diam. Hingga akhirnya Ren buka suara.
"Paman, kenapa pada akhirnya memutuskan memilih ibuku? Bukankah semula paman tidak memikirkan pernikahan? Apa karena itu syarat dari ibu mertuaku bahwa paman dikarang mendekat ke rumah ini hingga punya pasangan?" tanya Ren.
"Semula memang benar seperti itu, Ren. Tapi aku menyadari bahwa ternyata menikah itu jauh lebih baik dan menenangkan hati. Ditambah perempuan yang ditawarkan padaku adalah Alifa. Aku mengenalnya sudah sejak lama, tapi tak berani menyukainya. Aku cukup tahu diri, dahulu ibumu adalah incaran senior-seniorku." jawab Jimmi.
"Paman tahu juga kan karakter ibu?"
"Ya. Ia pekerja keras, wanita mandiri dan sedikit keras kepala."
"Apa paman yakin? Aku tak mau melihat ibu gagal untuk kedua kalinya. Sekali saja sudah membuat hidup ibu runyam. Butuh waktu lama untuk kami bisa bangkit. Sekarang, aku tidak ingin ibu bersedih lagi."
"Ya, aku mengerti, Ren. Jadi, apa kau mau memberikan aku kesempatan?"
"Bukan kesempatan, tapi tanggung jawab. Paman harus janji padaku akan menjaga ibu sebaik mungkin."
__ADS_1
"Semudah itu, Ren?"
"Aku tak mau mempersulit lagi sebab bisa-bisa keponakan paman juga akan mempersulit kehidupanku!" ucap Ren, sehingga mengundang tawa kecil antara kedua lelaki tersebut.