GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
55. Diskusi Dengan Alifa


__ADS_3

Kembali aku dan Jimmi diam sesaat. Lalu tiba-tiba Jimmi tertawa terbahak-bahak, sehingga membuat keningku berkerut. Kenapa dengan bocah ini? Tadi terlihat sedih, lalu dalam hitungan detik tertawa terbahak-bahak. Apa jangan-jangan dia ada masalah dengan otaknya?


Aku menyentuh dahi Jimmi. Tidak panas. Suhunya normal, sama dengan suhu tubuhku.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jimmi, saat aku bergantian meletakkan tangan di dahinya, lalu pindah ke dahiku, kemudian ke dahinya lagi.


"Aku hanya ingin memastikan kalau kau sehat-sehat saja," jawabku, santai.


"Hei, apa maksudmu? Kau mengira aku stress?" Jimmi bersiap untuk menyerang ku.


"Siapa tahu,"


"Qret!" langsung ia menyerang ku, tetapi dengan mudah kembali kukunci. Gerakan Jimmi begitu mudah dibaca lawan, ia akan mudah dilumpuhkan lawan. "Lepaskan aku!"


"Tidak!"


"Qret, aku tidak ingin bercanda."


"Jadi, kau percaya, bahwa aku akan menolongmu dan Jamm?"


"Kau saja di penjara. Terkurung di sini. Lalu bagaimana kau akan membantu kami? Adanya kami yang menolong kamu. Dasar, sok pahlawan tapi kenyataannya menyusahkan saja!"


"Siapa yang menyusahkan? Aku tidak akan membebaniku dan Jamm. Aku yakin, sebentar lagi akan bebas!"


"Percaya diri sekali, kau!"


"Jika Allah berkehendak."


"Qret, apa kau sadar siapa musuhmu? Kau dalam masalah besar, Qret. Kalau aku boleh memberi saran, kau jangan bermimpi bisa keluar dari sini. Justru kau harusnya belajar untuk menerima kenyataan bahwa inilah takdirmu. Yaitu menghabiskan akhir hidupmu di penjara. Atau bahkan menghadapi hukuman atas tuduhan yang kau terima."


"Kau kira aku akan mengalah begitu saja? Aku hanya pasrah pada Allah, bukan pasrah pada musuhku. Lagipula seberapa hebat sih dia, bisa apa melawan Tuhan? Kau harus yakin Jimm, tidak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan, kalau Allah bilang ya, sekuat apapun musuhku, maka akan tetap jadi ya. Begitu juga sebaliknya."


"Terserah seperti apa kau menghibur diri, Qret. Tapi aku hanya mengingatkanmu, musuhmu adalah seseorang yang mengerikan, ia sanggup melakukan apapun untuk menghancurkanmu!'


Tatapan Jimmi yang penuh dengan isyarat membuatku sedikit bergidik. Benarkah seseorang tersebut yang membuatku seperti ini? Tapi kenapa? Lalu, apa yang ia harapkan dariku? Ingin aku mati membusuk di penjara? Atau lebih dari itu?


"Aku sudah menyiapkan pengacara yang hebat!" ungkapku.


"Sehebat apa?" tanya Jimmi, sambil membaringkan dirinya di sampingku.


"Aku percaya dengan pilihanku!"

__ADS_1


"Semoga kau beruntung, Qret. Tapi ingat, jika kau berhasil keluar, jangan pernah mencari gara-gara lagi. Pergilah yang jauh, bahkan kalau perlu, hilangkan segala jejak tentangmu, meski aku tidak yakin bahwa kau bisa benar-benar menghilang dari genggamannya."


"Apakah itu ibumu?"


Jimmi diam. Ia tidak menjawab, buru-buru memejamkan mata. Apa Bu Rani separah itu? Jika memang ia dalangnya, pasti tujuan utamanya bukan aku, tapi ayah atau ibu. Ya Tuhan.


"Jimmi, kau bisa membantuku?" tanyaku, perlahan.


"Bukannya kau yang tadi menawarkan diri untuk menolongku!"


"Ini tentang ayah dan ibuku. Kau tahu, aku tidak akan bisa tahan jika ada yang berani mengganggu mereka."


"Lalu?"


"Kau harus berbuat sesuatu."


"Kenapa aku?"


"Karena kau putranya."


"Rupanya kau belum tahu dia, Qret. Aku memang putranya, tapi tidak lebih berharga daripada dirinya sendiri. Jika ia tahu aku turut campur, bisa saja saat ini juga ia menyingkirkanku!"


"Kata siapa? Keluarga kami berbeda, Qret. Rumit untuk diceritakan. Aku tidak ingin terlibat sebab aku masih ingin hidup puluhan tahun lagi. Jadi jangan kemeja minta bantuan ku karena aku tidak akan membantumu. Apapun itu!"


"Demi ayah!"


"Tidak!"


"Apa kau tidak peduli pada ayah?"


"Kenapa aku harus peduli? Ayah saja mengkhianati kami. Ia yang membuat semua masalah ini terjadi. Ayah pergi melarikan diri, membuatku dan Jamm jadi samsak kemarahan ibuku. Gara-garanya, hari-hari kami seperti di neraka!"


"Jim,"


"Selamatkan diri masing-masing, Qret. Aku tidak akan membantu siapapun. Masalah hidupku sudah banyak. Apa kau tahu, ia bisa saja menghabisiku jika tau aku ikut terlibat membantumu. Lebih baik aku cari aman."


"Kau yakin ingin mencari aman?"


"Ya,"


"Aku tidak yakin kau tak punya rasa iba, Jimmi. Aku tahu kau adalah laki-laki hello Kitty yang peduli dengan orang lain!"

__ADS_1


"Hei hei hei. Berhenti mengatakan ku seperti itu. Aku bisa benar-benar marah!"


"Kalau begitu bantu aku!"


"Tidak!"


"Jim, ayolah. Aku benar-benar minta tolong!"


"Tidak Qret!"


Aku terus membujuk Jimmi agar ia mau membantu, setidaknya untuk melindungi ayah dan ibu. Tetapi anak itu tetap saja teguh pendirian. Ia tidak mempedulikanku. Bahkan ketika ia merasa mulai terganggu, Jimmi buru-buru kabur, ia keluar dari selku.


***


Apa yang harus kulakukan untuk melindungi ayah dan ibu? Harus ada orang yang kuat sebagai tameng untuk kami. Tapi siapa? Seperti yang dikatakan Jimmi, aku sendiri terkurung di sini. Justru aku yang selalu ditolong mereka.


"Mas Qret, ada tamu." tiba-tiba panggilan polisi yang piket membuyarkan lamunanku. Buru-buru aku mengikutinya, keluar menuju tamu yang mengunjungiku.


"Alifa!" panggilku. "Untunglah kau datang. Aku tidak tahu apakah kau adalah jawaban dari doaku atau tidak."


"Ada apa, Qret?" tanya Alifa. "Sepertinya kau punya masalah? Raut wajahmu kusut sekali."


"Bisakah kau menolong ayah dan ibuku? Mereka dalam bahaya Alifa. Saat ini mereka hanya berdua, tidak ada yang melindungi mereka. Ayahku sendiri, aku tidak yakin bisa melindungi ibu. Kau tahu, ayah tidak akan bisa melawan jika ada orang-orang yang menyerangnya. Apalagi jika orang itu lebih dari satu."


"Maksudnya? Qret, tolong bicara pelan-pelan. Aku tidak faham apa yang kau sampaikan?"


"Ayah dan ibuku saat ini dalam bahaya. Kau harus membantuku. Tolong lakukan apapun agar tidak ada yang bisa menjagamu mereka. Tolonglah Alifa. Aku benar-benar tidak tahu harus minta bantuan siapa. Kau mau, kan?"


"Qret, tenanglah dulu. Bicara pelan-pelan. Apa ada yang mengancam atau meneror ayah dan ibumu?"


"Jadi, ada orang jahat yang mengincar ayah dan ibuku. Ia sangat membenci kedua orang tuaku. Ia ingin membuat keluargaku hancur. Kau harus bantu aku. Tolonglah Alifa, aku tidak tahu harus minta bantuan siapa, sementara aku sendiri terkurung di sini."


"Siapa Qret?"


"Aku tidak bisa menyebutkan namanya, Alifa. Sebab bisa saja dinding di sini bertelinga. Tapi yang jelas dia sangat berbahaya Alifa, ia punya power. Apa kau paham?"


"Baik, aku paham. Aku akan minta bantuan ayahku untuk melindungi kedua orang tuamu. Kau tenang saja, Qret."


"Terimakasih Alifa." mendengar nama Pak Bagus, aku seperti mendapatkan angin segar. Ia punya jabatan dan kekuasaan, ku harap pak Bagus mau bekerja sama membantu kami mengingat lawan kami bukanlah orang biasa.


Alifa langsung menghubungi ayahnya lewat hape. Aku memperhatikannya bicara dengan ayahnya. Ia memang total membantuku.

__ADS_1


__ADS_2