GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
116. Sebelum Berangkat Ke Singapura


__ADS_3

Aku sudah bertekad melakukan yang terbaik untuk Yasmin. Salah satunya dengan mencari tempat berobat yang terbaik. Dari rumah sakit tempat Yasmin menjalani perawatan sekarang, kami mendapatkan rekomendasi agar Yasmin melakukan operasi di Singapura. Menurut dokter di sana penanganan lebih bagus dan cepat. Walaupun sebenarnya di negara sendiri pun tidak kalah bagus.


"Baiklah kalau begitu dok, saya akan membawa Yasmin ke Singapura." kataku pada dokter, tidak lupa kuucapkan terima kasih atas bantuan yang ia berikan padaku.


Setelah keluar dari ruangan dokter, aku menuju bagian keuangan untuk mengetahui beban pembayaran yang harus ku bayarkan selama Yasmin berada di sini hampir satu bulan penuh.


"Totalnya dua ratus sembilan puluh tiga juta rupiah, pak." kata kasir padaku.


Aku berjalan lunglai ke kamar Yasmin. Biaya di sini hampir tiga ratus juta rupiah. Apalagi ditambah biaya operasi di Singapura. Mungkin bisa sampai satu milliar atau bahkan lebih.


"Qret," sebuah panggilan menyadarkanku dari lamunan.


"Alifa." ia datang sendiri.


Kemarin aku memang menelepon Alifa, meminta bantuannya untuk mengawal kasus Yasmin. Aku ingin Yasmin mendapatkan keadilan. Jangan sampai mentang-mentang pelakunya orang kaya lalu bisa bebas begitu saja.


"Bagaimana keadaan Yasmin, Qret?" tanya Alifa.


"Masih belum ada kemajuan. Rencananya aku akan membawa Yasmin ke Singapura." kataku.


"Di Singapura memang bagus, Qret. Coba saja. Semoga Yasmin bisa segera pulih. Untuk masalah hukumnya, jangan khawatir, aku akan mengawalnya. Aku pastikan Yasmin akan mendapat keadilan." janji Alifa. Sebagai pengacara berkelas, aku sangat percaya dengan sepak terjangnya Alifa, ia pasti akan mengawalnya dengan baik.


"Terimakasih banyak Alifa. Aku sungguh beruntung bisa mengenalmu."


Usai berbincang dengan Alifa, aku minta izin pada ibu untuk pergi sebentar, tentu saja tanpa memberitahu alasannya sebab aku tidak ingin membuat siapapun bimbang dengan masalah keuangan yang sekarang ku hadapi, terutama Yasmin. Jika ia tahu, aku sangat yakin Yasmin akan menolak berobat.


***


Sudah tiga orang rumah teman lama yang kuyakini bisa meminjamkan uang kusayangi. Tetapi tiga-tiganya hanya mau memberikan pinjaman dengan bunga.


"Kau kan tahu Qret, yang namanya uang itu tidak bersaudara. Jadi bisnis ya bisnis. Kalau kau mau, harus bayar bunga. Kalau kau tidak mau ya aku tidak bisa bantu." ucap Joni, teman keempat yang kutemui.

__ADS_1


Hingga akhirnya tawaran itupun kuterima. Pinjaman satu milliar dengan bunga sepuluh persen setiap bulannya.


Tidak ada pilihan lain sebab aku harus mengeluarkan Yasmin dari rumah sakit sore ini dan dua hari lagi kami harus berangkat ke Singapura.


Aku beruntung dokter yang menangani Yasmin mau membantu kami dengan koneksinya di Singapura sehingga aku tidak perlu repot-repot mencari informasi dan menghubungi pihak rumah sakit di sana.


"Ingat Qret, setiap bulan bunganya satu milliar. Tolong pembayarannya jangan macet, atau kedai dan tanahnya akan ku sita!" ungkap Joni.


Tanah dan kedai adalah jaminan untuk hutang ini. Hanya itu yang bisa kuberikan saat ini. Aku tidak bisa berpikir apapun lagi. Yang terpenting bisa dapat yang sesegera mungkin agar Yasmin bisa pulang dari rumah sakit dan mendapatkan pengobatan lanjutan.


***


Aku sedang membuka pintu kamar Yasmin perubahan. Tampak dua wanita yang amat ku sayangi. Ibu dan Yasmin. Mereka sedang beberes untuk segera pulang. Lebih tepatnya ibu yang membereskan semuanya sebab Yasmin hanya terbaring di kasurnya.


"Sudah siap semua?" tanyaku, sambil membantu ibu.


"Sudah Qret. Administrasi sudah diselesaikan?" tanya ibu.


"Kena berapa mas? Pasti banyak ya?" tanyaku.


"Tidak ada apa-apanya dibandingkan kesehatan kamu Yas." kataku, sambil menjawil hidungnya Yasmin. "Kalau sudah siap, kita pulang sekarang Bu. Ayah dan ayahnya Yasmin sudah menunggu di depan. Aku akan panggil perawat dulu."


Aku segera keluar, memanggil perawat, lalu mereka membantu Yasmin naik ke atas kursi roda. Mendorongnya menuju parkiran. Setelah itu aku yang membantu Yasmin naik ke atas mobil.


Sampai di rumah, teman-teman sudah menanti. Riana, Lisa, Deni, Jack dan paman Rudi sudah menanti kedatangan Yasmin.


Rumah sengaja dihias sebagai pesta penyambutan Yasmin. Tetapi ia tidak banyak bicara. Hanya sesekali tersenyum untuk menyenangkan hati orang-orang di sekitar. Aku tahu, Yasmin masih memikirkan keadaannya.


"Yas, dua hari lagi kita akan berangkat ke Singapura. Setelah operasi, kau akan bisa berjalan lagi. InsyaAllah." kataku, dengan penuh keyakinan.


"Benar mas?" tanya Yasmin.

__ADS_1


"InsyaAllah. Banyak-banyak merayu Allah saja, agar Dia mengabulkan doa kita."


Aku menggenggam erat tangannya, agar ia bisa merasakan bahwa aku begitu menyayanginya. Tidak akan kubiarkan ia merasa sendiri. Aku dan Yasmin akan selalu bersama untuk selamanya.


***


"Aku percayakan kedai padamu, Den. Tolong urus dengan baik. Mulai sekarang sampai beberapa waktu ke depan, hingga kami kembali, urusan kedai ada di tanganmu." aku menyerahkan buku catatan keuangan pada Deni, aku percaya ia bisa mengurus semuanya dengan sangat baik.


"Baik Qret. Aku janji akan melakukan yang terbaik. Aku tidak akan mengecewakan kamu!" janji Deni.


Urusan kedai sudah kuberikan pada orang yang tepat. Selanjutnya adalah menyelesaikan masalah keberangkatan. Segala hal keperluan Yasmin juga sudah aku tata di dalam koper. Entah berapa lama kami di sana, semua tergantung urusan Yasmin.


Kini aku terpikir tentang keadaan keuangan. Setiap bukan harus membayar sebesar seratus juta, bunga dari hutang-hutangku. Jumlah yang cukup besar untukku saat ini. Jika telah satu bulan saja maka Joni bisa mengotak-atik tanah dan kedai. Jika ia melakukannya, maka bisa jadi semua orang akan tahu bahwa aku memakai uang rentenir. Yasmin tidak akan suka itu, ia pasti akan kecewa atau mungkin menolak pengobatan.


"Semoga saja ada jalan keluarnya agar hutang-hutang berbunga ini bisa segera lunas." ucapku dalam hati.


"Mas," panggilan Yasmin membuyarkan lamunanku.


"Kenapa Yas?" aku menghampirinya.


"Mas, biaya berobatku pasti tidak kecil. Uangnya dari mana?"


Yasmin memandangku penuh dengan tanda tanya. Ia memang tahu bagaimana kondisi keuanganku, sebab semuanya sudah kubuka lebar untuknya.


"Rezeki ada saja Yas, kamu jangan pikirkan itu. Yang jelas, uang untuk berobat di Singapura semua sudah ada." aku memperlihatkan nominal yang ada di dalam buku tabungan.


"Dapat dari mana mas?"


"Sudah, jangan dipikirkan. Ini uang memang khusus untuk kamu berobat."


"Aku tidak mau memberatkan mas."

__ADS_1


"Tidak memberatka Yas. Aku justru merasa senang bisa memberikan yang terbaik untuk kamu." pelan aku mengusap kepalanya, lalu meminta Yasmin segera istirahat. Kami akan melakukan perjalanan panjang yang mungkin akan melelahkan. Harus siap fisik, iman dan juga hati. Agar perjalanan ini penuh dengan keikhlasan, demi meraih Ridha Allah.


__ADS_2