
"Kau serius akan melawan ibuku?" tanya Jimmi, saat aku bersiap melakukan pertemuan dengan Bu Rani, Riana dan paman Rudi.
"Ya," jawabku.
"Kau tahu tidak Qret, ibuku itu sangat mengerikan. Kalau kau tidak percaya, tanya pada ayah. Ia paling tahu bagaimana jika ibu sudah marah. Kau tak akan bisa menang menghadapinya."
"Aku tidak peduli, Jimmi. Menang atau kalah itu urusan nanti, yang terpenting sekarang aku harus berusaha dulu."
"Baiklah, terserah apa katamu. Aku tidak ingin terlibat apapun, jadi kau tidak boleh membawa-bawa namaku atau Jamm, kalau kau melakukannya, aku yang akan membalasnya!"
"Kau tenang saja. Aku tidak akan membocorkan pada ibumu bahwa putranya yang sudah memberiku alat bukti itu."
"Qret!"
Aku mengacungkan ibu jari, lalu berlalu menuju ruangan pak Bagus saat Alifa memberikan isyarat bahwa aku harus masuk segera.
"Qret," panggil ayah.
Aku yang masuk duluan, lalu diikuti ayah dan ibu. Di ruangan itu sudah ada pak Bagus, Alifa, paman Rudi, Bu Rani dan pengacaranya.
"Jadi, untuk apa kalian mengundang saya ke sini?" tanya Bu Rani, dengan nada suara pelan, tapi terdengar jelas intonasinya menekan kami semua. Sepasang mata itu bahkan tidak melepaskan pandangannya dari ibu.
"Baiklah, langsung saja Bu Rani. Perkenalkan, saya Alifa, pengacara mas Qret." kata Alifa.
"Saya masih mengenali anda nona muda. Anda adalah pengacara berbakat. Saya yakin sekali, klien anda harus mengeluarkan biaya besar untuk membayar jasa anda!" ucap Bu Rani.
"Itu privasi kami." ungkap Alifa. "Kami ingin anda mengakui tentang persekongkolan yang anda lakukan dengan nona Riana untuk menjebak mas Qret."
__ADS_1
"Persekongkolan? Apa maksudnya? Saya benar-benar tidak tahu?" kata Bu Rani, masih berpura-pura.
"Kalaupun ada persekongkolan yang merugikan di sini bukan saya pelakunya, tapi seorang pembantu yang melakukan persekongkolan sehingga berhasil mencuri suami dari majikannya!"
Kata-kata Bu Rani sungguh tajam, ia mampu membuat ibu semakin resah. Tidak mampu mengangkat wajahnya sedikitpun.
"Anda tidak perlu pura-pura lagi, Riana sudah mengakuinya!" aku terpancing untuk langsung menembak Bu Rani.
"Sebenarnya saya tidak suka bicara dengan orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya, saya hadir ke sini karena menghargai pak Bagus dan nona Alifa. Saya tidak meladeni segala bentuk fitnah. Kalau ada yang berani menuduh saya lagi, apalagi dengan bukti hanya dari pengakuan seorang anak perempuan yang juga sama-sama tidak jelas asal-usulnya, maka akan saya perkarakan dengan delik pencemaran nama baik!" ucap Bu Rani.
"Nyonya, hati-hati dengan perkataan anda. Jangan sembarang menghina putriku. Kami memang bukan dari keluarga kaya dan terhormat, tapi kami jelas asal-usulnya. Lagipula sebaiknya kau mengakulah, kau kan yang menjebak putriku. Kau manfaatkan ia yang sedang terpuruk. Kau sungguh kejam nyonya!" kata Paman Rudi dengan nada suara tinggi sebab menahan marah karena putrinya dihina.
"Paman tenanglah," pintaku.
"Dia terlalu sombong. Sudah memperdaya putriku, tapi bukannya mengaku malah menghina. Dia kira dia siapa? Semua orang juga tahu, sebagian besar harta miliknya adalah harta haram. Kau mendapatkannya dari mendzalimi orang-orang miskin, iya, kan?" tuduh paman Rudi.
"Tidak usah berkelit lagi Bu Rani, kami punya buktinya." Alifa mencoba mengambil alih pembicaraan. "Lihat ini baik-baik!" Alifa menyalakan remote yang sedari tadi ia pegang, lalu tiba-tiba layar yang sudah disiapkan hidup.
Kini kami semua bisa menyaksikan bagaimana Bu Rani dan Riana bertemu di dalam mobil. Mereka melakukan perbincangan. Bu Rani membujuk Riana untuk meletakkan benda haram itu dalam rumahku.
"Apa-apaan ini, kalian menjebak saya? Apa ini permainanmu Wijaya?" kini tunjuk Bu Rani tertuju pada ayah. "Kau sengaja menjebak aku untuk menghancurkanku, iya, kan?"
"Tidak ada yang menjebak anda, Bu Rani." jawab Alifa.
"Nona Alifa, jangan ikut campur, ini urusan rumah tangga saya dengan suami dan juga wanita perebut suami saya, yaitu Rahayu, pembantu saya sendiri! Sekarang kau puas Rahayu, sudah mempermainkan ku? Kau sungguh licik, sudah menjebak suamiku dalam tipu dayanya, sekarang kau menjebak aku!" tuduh Bu Rani, sambil menunjuk ibu.
"Tidak perlu bersandiwara lagi Bu Rani. Semua sudah jelas di sini. Barang haram itu milik anda!" kata Alifa dengan nada tegas.
__ADS_1
"Lalu kalian mau apa? Kalian mau memenjarakan saya? Tidak semudah itu, anak perempuan berandal itu pun harus ikut masuk penjara!" cetus Bu Rani.
"Kau!" Paman Rudi langsung berdiri hendak menyerang Bu Rani, tapi segera kutengahi.
"Tenang paman," bisikku.
"Lalu kalian mau apa, hah?" tantang Bu Rani. "Kalian kira semudah itu menjatuhkan saya?"
"Kami akan tempuh jalur hukum!" ucap Alifa, tegas. "Saya akan pastikan ibu masuk penjara. Saya akan melibatkan media agar ibu tidak bisa melukai kecurangan sekecil apapun juga."
"Tidak semudah itu untuk menjatuhkan saya!" ungkap Bu Rani. "Saya punya semuanya!"
"Kita lihat saja, Bu Rani. Saya sendiri yang akan memastikan bahwa ibu akan mendapatkan ganjaran setimpal untuk perbuatan ibu!" kata Alifa lagi. "Kami punya bukti kuat sehingga ibu tidak bisa berkilah lagi!"
Perang mulut antara Bu Rani dan Alifa terjadi. Dua wanita berkelas dan berpendidikan tinggi itu saling adu argumentasi hingga Bu Rani terpojok oleh Alifa.
Kali ini aku langsung tersenyum bangga dengan kemampuan Alifa dalam mendebat orang. Kini aku tidak akan meragukannya lagi. Ia benar-benar seperti yang ayahnya promosikan padaku. Pengacara muda yang tidak terkalahkan.
"Kami ingin Bu Rani membuat perjanjian!" kata Alifa. "Jangan persulit proses perceraian dengan pak Wijaya lagi. Lalu jangan ganggu keluarga mereka. Kalau ibu masih nekat maka saya yang akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Mengerti!" kata Alifa.
Bu Rani tidak menjawab, ia hanya menandatangani surat-surat yang sudah disiapkan oleh Alifa. Lalu berlalu meninggalkan kantor polisi tanpa mengucapkan sepatah katapun diikuti oleh pengacaranya.
"Akhirnya ia tanda tangan juga," kata ibu dengan air mata yang mulai berlinang.
"Kita bebas!" ungkap ayah. Kedua orang tuaku langsung memelukku secara bersamaan. "Kita akan mulai hidup baru, tanpa gangguan siapapun!" ungkap ayah lagi.
Akupun bersyukur, akhirnya pertempuran ini kami menangkan. Meskipun awalnya harus merasakan kesusahan di penjara, tapi banyak hikmah yang kudapatkan. Aku bisa punya banyak waktu untuk mendekatkan diri pada Allah. Mengenal pak Bagus dan putrinya yang sangat baik padaku. Juga kebebasan ayah dan ibu dari genggaman Bu Rani. Ibu tidak perlu merasa ketakutan lagi sebab Bu Rani tidak akan pernah mengganggu.
__ADS_1