GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
144. Permintaan Riana


__ADS_3

"Yas, maukah kau berjanji satu hal padaku." pinta Riana dengan wajah serius, setelah kami puas berdebat. Ya, aku dengan berani mendebatnya meski ia terlihat begitu kesal sebab merasa aman. Riana tidak akan menyerang, ia tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya.


"Apa?" tanya Yasmin sambil menggenggam erat tangan Riana.


"Tolong ... jika terjadi apa-apa denganku. Kau harus janji akan menjaga anakku." perkataan Riana langsung membuat kami bertiga berkaca-kaca. Yasmin mengingatkan Riana untuk selalu berdoa. Ia juga menyemangati agar proses lahirannya lancar.


"Kau tenang saja. Yang penting berdoa. InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja. Sehat ibu dan bayinya." kata Yasmin.


"Janji ya Yas." pinta Riana lagi.


"Jangan bicara aneh-aneh Riana. Kau pasti akan sehat!" Aku ikut memberi semangat.


"Ku harap juga begitu Qret. Tapi jika tidak, kau dan Yasmin mau kan jadi orang tua angkat untuk anakku. Tolong pastikan kalian akan menyayanginya. Jangan biarkan Deni mengambiknya sebab aku khawatir ia akan membuat bayi ini terlantar." Riana menjelaskan segala keresahannya.


"Lho, kenapa bicara seperti itu?" Deni protes dengan penilaian Riana. "Aku akan berusaha jadi ayah yang baik untuk anak kita."


"Aku hanya melindungi anak kita kalau-kalau setelah aku meninggal kau akan menikah lagi." kata Riana


"Riana, jangan bicara sembarangan!" pinta Yasmin.


"Hanya jaga-jaga Yas. Aku juga belum siap meninggal sekarang. Dosaku masih banyak. Tapi kalaupun aku sehat-sehat saja, kau juga janji ya akan jadi ibu angkat untuk anakku." permintaan Riana langsung membuatku menghujatnya.


"Halah, bilang saja kau mau mengakali kami semua. Basi!" aku geleng-geleng kepala. Saat seperti ini bisa-bisanya ia memperalat Yasmin. Tetapi bukannya menolak, Yasmin malah menyanggupi permintaan Riana.


Selesai berbincang, kami keluar dari ruang bersalin sebab Riana sudah menunjukkan tanda-tanda akan segera melahirkan. Di depan ruang bersalin sudah ada paman Rudi yang baru saja hadir membawa perlengkapan milik Riana yang sudah sejak lama ia siapkan seperti arahan Yasmin.


Ba'da Isya, akhirnya terdengar suara bayi menangis memecah keheningan malam. Kami semua mengucapkan syukur. Aku dan Jack tersenyum penuh arti membayabgkan kondisi Deni nanti saat keluar. Penuh luka cakaran Riana, atau mungkin sudah botak sebab rambutnya dijambak.


Lima belas menit kemudian Deni keluar dengan senyum merekah. Tetapi apa yang aku dan Jack harapkan tidak terjadi. Ia baik-baik saja. Kulit wajahnya masih sama seperti tadi, tanpa sedikitpun lecet, begitu juga dengan rambutnya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" tanyaku.


"Tentu saja Qret. Aku sangat bahagia sekali, akhirnya jadi ayah!" Deni menunjukkan ekspresi begitu senang.


"Jack, kau tidak sedang membohongiku, kan?" kini aku beralih pada Jack.


"Tidak Qret. Aku bicara sesungguhnya. Sebab dua kali aku mengalaminya" ungkap Jack.


"Memang kenapa?" kini gantian Deni yang menatap aku dan Jack dengan tatapan penuh kecurigaan. Begitu kujelaskan tentang perkataan Jack tadi, ia tertawa terbahak-bahak. "Aku belum pernah melihat Riana setenang ini. Apa kalian tahu, bahkan ia mengatakan hal-hal romantis berkali-kali hingga membuatku semakin mencintainya!"


"Jack!" aku melihat Jack dengan tatapan kesal.


***


Selama Riana dirawat tiga hari di rumah sakit, Yasmin paling sering mengunjungi Riana. Hanya malam saja ia tidak di sana, selebihnya selalu ada untuk Riana.


Yasmin sengaja datang untuk membantu Riana mengurus bayinya yang diberi nama Riu. Awalnya aku keberatan karena khawatir Yasmin kelelahan lalu jatuh sakit, tetapi setelah melihat bayi lucu Riana dan Deni yang menggemaskan, ditambah Yasmin begitu semangat akhirnya aku membiarkan ia melakukan apapun yang diinginkannya.


Kini saat Riana akan pulang, Yasmin juga ikut menjemput. Ia tidak bisa membiarkan Riu hanya bersama Riana.


"Jangan bilang setelah ini bayi itu akan tinggal di rumah kita." kataku, saat Yasmin asyik menimang bayi Riana di rumah kami.


"Mas benar sekali. Riana meminta agar aku mengasuh bayi ini." kata Yasmin.


"Dan kau mau saja?"


"Kenapa tidak? Siapa coba yang bisa menolak menjaga bayi selucu ini. Iya kan Riu sayang!" Yasmin menimang-nimang Riu sembari bershalawat. Aku hanya geleng-geleng kepala.


Tidak lama Riana dan Deni datang. Mereka berdua tidak hanya datang dengan tangan kosong, tapi juga membawa serta satu keranjang pakaian, popok serta perlengkapan bayi lainnya yang belum ku ketahui.

__ADS_1


"Apa ini?" tanyaku.


"Baju, celana, bedong, popok." jawab Riana.


"Kalau itu aku tahu, tapi kenapa dibawa ke sini?" tanyaku dengan tatapan curiga. Jangan-jangan mereka bertiga sudah punya rencana tanpa sepengetahuan aku.


Meskipun Yasmin istriku, tapi ia selalu ada untuk Riana dan kini Riu. Ia selalu mendukung ide aneh Riana. Hal itu yang membuatku sangat takut.


"Kan Yasmin yang akan menjaga Riu, makanya kami bawa ini semua." enteng sekali Riana menjawab.


"Ya Allah Riana ... kau sebenarnya tidak niat ya punya bayi. Masa harus istriku yang menjaganya? Kau kan ibunya. Ya kaulah yang harus merawatnya. Aku benar-benar heran padamu. Mana nalurimu sebagai ibu? Masa tega menitipkan anaknya pada orang lain."


"Siapa yang orang lain? Yasmin? Ia sahabatku, juga ibu angkat Riu."


"Ibu angkat? Apalagi ini?"


"Sudah mas, aku enggak apa-apa kok. Justru aku senang sekali kalau Riu tidur di sini." jawab Yasmin.


"Apa? Tidur di sini?" aku geleng-geleng kepala. "Yas, jangan punya bayi dulu sebelum benar-benar punya bayi sesungguhnya. Aku malah khawatir nanti kau tidak sayang pada bayimu sendiri sebab kasih sayangmu sudah melimpah untuk Riu."


"Kalau hanya itu yang kau khawatirkan, aku yang akan menyayangi bayi kalian." ungkap Riana.


"Bagaimana kau mau menyayangi bayi kami nantinya, sedangkan bayimu saja kau titipkan di sini!" aku menolak mentah-mentah pernyataan Riana.


"Biar saja sih mas. Riu enggak akan menggangu kok." kata Yasmin.


"Paling tidak pagi hingga siang, Qret. Kondisimu belum pulih betul. Biarkan Riu di sini dengan Yasmin. Ia tidak akan mengganggumu. Supaya Yasmin punya kesibukan. Lagipula kau juga kan sibuk dengan Deni. Iya kan ayahnya Riu?" Riana melirik Deni.


"Fiuff. Baiklah. Tapi hanya pagi sampai siang. Setelah itu tidak boleh ada bayi dulu. Apalagi malam hari!" aku berkata tegas, disambut dengan suara riuh Yasmin dan Riana.

__ADS_1


"Lalu yang mana ruangan kita? Apakah kamar ini?" tanya Yasmin, sambil menunjuk ruangan tempatku biasa berbaring-baribg di siang hari selepas lelah berjualan.


"Oh tidak. Riu, kau masih kecil tapi sudah merepotkan aku. Semoga saja nanti dewasanya kau tidak seperti ibumu." aku mengomel sambil menyolek pipi gembul Riu yang masih memejamkan matanya meski di sekeliling sudah cukup berisik. Sementara ibu kandung dan ibu angkatnya hanya terkekeh.


__ADS_2