
"Hei, apa kabar?" seorang perempuan berdiri hanya berjarak beberapa meter darinya. "Maaf, maksud saya, Assalamualaikum." katanya lagi.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullaah. Siapa ya?" tanya Riu, dengan kening berkerut. Ia yang semula ingin beranjak pulang setelah ditinggalkan begitu saja oleh Jasmin, jadi terhenti. Menatap bingung, sepertinya ia merasa pernah melihat perempuan ini, tapi di mana?
"Perkenalkan, saya Mia."
Kening Riu makin berkerut. Selain wajah perempuan ini, kini namanya pun rasanya juga tidak asing. Tapi masa dia? Riu sebenarnya tak yakin, hanya saja ia masih menanti penjelasan perempuan ini agar semuanya jelas.
"Mia siapa?" tanya Riu.
"Begini, tadi saya melihat kamu dengan perempuan yang tadi pergi meninggalkan kamu. Jasmin kan itu?" tanya Mia, dengan perasaan bercampur, berharap apa yang ia lakukan ini akan berhasil sebab sejujurnya ia tak punya cara lain untuk mendapatkan Ren, semua cara sudah dilakukannya, tapi selalu saja gagal. Makanya Mia memberanikan diri mendekati lelaki tersebut setelah sejak awal ia mengikuti Jasmin dan melihat sendiri Jasmin ternyata bertemu dengan seorang lelaki yang beberapa kali bertemu dengan Jasmin. Mia yakin, dari tatapan lelaki ini, ada perasaan suka pada Jasmin, ditambah Ren beberapa kali bercerita padanya tentang lelaki ini yang sukses membuat Ren cemburu.
Sebenarnya, Mia tadi sudah mengambil beberapa foto Jasmin dan Riu. Meski mereka menjaga jarak, Mia sangat yakin jika melihat ini maka Ren akan meradang, tapi tiba-tiba ia memikirkan cara lain. Sebuah ide yang tiba-tiba muncul namun diyakininya akan berhasil.
"Jasmin, kamu kenal?" tanya Riu, membuyarkan lamunan Mia.
"Ya, tentu saja aku kenal. Dia adik kelasku di kampus. Juga istri dari shabataku, Ren." ungkap Mia.
Dugaan Riu benar, gadis ini adalah seseorang yang jadi bahan perbincangan antara dirinya dengan Jasmin. Seseorang yang sudah membuat perempuan yang dicintainya sampai begitu resah.
Riu memberanikan diri memandang perempuan itu. Secara penampilan memang cantik, tapi kalau dibandingkan dengan Jasmin, ia masih kalah jauh. Entah bagaimana dengan karakter perempuan ini, meski begitu Riu mengakui kalau perempuan ini bisa dikatakan cukup menarik meski Riu menilainya masih jauh di bawah Jasmin.
"Oh, begitu." kata Riu.
"Itu ... maaf jika saya lancang. Tapi tadi kalian terlihat akrab sekali. Boleh saya tahu seperti apa hubungan kalian. Bukan apa-apa, Jasmin kan sudah menikah." kata Mia, dengan hati-hati sebab takut menyinggung Riu dan akan berakhir dengan kegagalan rencananya.
"Kami teman sejak kecil. Rumah kami bersebelahan. Bisa dikatakan sudah seperti saudara sebab ibuku dan ayah Jasmin adalah saudara angkat."
"Oo, begitu. Tapi kalian tidak punya hubungan darah, kan?"
__ADS_1
"Tidak."
"Juga tidak punya perasaan suka, kan?"
"Apa maksudmu?"
"Begini, sebenarnya aku tahu kamu dari cerita-cerita Ren. Riu, iya kan?" tanya Mia. "Aku hanya ingin tahu sudah seberapa jauh hubungan kalian. Sebab Ren sellau mengaku cemburu pada kamu dan ia juga bercerita kalau kamu juga suka sama Jasmjn, kan?"
"Urusan rumah tangga mereka, aku tak ingin ikut campur."
"Riu ... kalau kamu memang menyukai Ren, kenapa kita tidak coba untuk bekerja sama."
"Kerja sama?" Riu menatap bingung, tapi ia segera tersadar, ada yang mencurigakan dari gadis ini dan ia harus bertindak cepat. "Sebentar." Riu pura-pura mengecek Hp miliknya, lalu mengaktifkan tombol rekaman. "Apa maksudmu tadi?"
"O, itu. Aku yakin kamu mencintai Jasmin. Kenapa kita tidak kerja sama saja? Kamu mendapatkan Jasmin, aku mendapatkan Ren. Bagaimana?" tanya Mia yang tidak menyadari pembicaraan mereka direkam oleh Riu.
"Tidak usah munafik lagi, aku tahu kamu juga suka pada Jasmin. Bagaimana kalau kita kerja sama, membuat sebuah rencana agar mereka bercerai dan bersatu dengan kita. Bagaimana?"
"Kamu jahat sekali?"
"Kadang kita harus melakukan hal yang jahat untuk mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Oh ya? Tapi sayang, aku tak mau."
"Riu, jangan sombong. Kamu butuh saya, begitu juga sebaliknya. Jadi tolong jangan tolak kerja sama ini. Lagipula, Ren dan Jasmin tak akan bisa bahagia sebab selamanya saya akan menempel padanya. Jasmin tak akan pernah merasa nyaman. Ren hanya cocok dengan saya."
"Bagaimana kalau Ren tahu ini semua?"
"Ren tak akan tahu apa-apa. Lagipula Ren sangat percaya padaku. Bahkan ibunya saja tidak didengar olehnya. Jadi percuma jika kamu atau siapapun mencoba mempengaruhi Ren, tak akan mampan. Makanya, lebih baik kita bersatu..bagaimana? Aku jamin kamu nggak akan rugi sebab kita akan melakukan semuanya dengan baik tanpa diketahui siapapun. Kita akan berhasil."
__ADS_1
"Kita? Hehe, dasar. Aku tidak mau."
"Riu jangan keras kepala. Dengan atau tanpa kamu pun aku akan menghancurkan rumah tangga Ren dan Jasmin. Jadi lebih baik kamu bergabung agar kamu juga bisa mendapatkan Jasmin. Lagipula harusnya kamu berterima kasih sudah saya ajak bekerja sama karena saya tidak smebarang mengajak orang."
"Aku tidak tertarik bekerja sama dengan kamu. Aku hanya tertarik, bagaimana agar Ren tahu kejahatan kamu."
"Hahahaa, kamu itu benar-benar keras kepala ya. Saya kira ada manfaatnya ngajakin kamu. Ternyata kamu itu tak ada gunanya. Pantas saja kamu nggak bisa-bisa bersatu dengan Jasmin karena terbukti kamu nggak berguna sedikitpun.. ditawari yang baik malah menolak dengan sombongnya. Kalau begitu siap-siap saja seumur hidup tak akan bisa mendapatkan Jasmin!"
"Nggak berguna? Tawaran baik? Hahahaha." tawa Riu pecah. "Siapa yang tidak berguna? Dengar baik-baik, mbak. Siapa tadi nama kamu? Mia.
Mbak Mia, aku memang tidak ingin merebut Jasmin dari Ren. Kenapa? Karena aku masih punya otak dan Alhamdulillah masih ada iman. Dalam ajaran agama yang aku anut, dilarang merusak rumah tangga orang lain. Jasmin sudah menikah dengan Ren, itu tandanya mereka berjodoh, kalaupun mereka nanti pisah, aku tidak ingin setan yang menyebabkan mereka berpisah sebab hidupku terlalu berharga untuk jadi perusak orang lain.
Dan tentang tawaran yang mbak ajukan, itu tawaran jahat. Sadar mbak, hidup cuma sebentar, kalau mbak mau menghancurkan rumah tangga orang lain, percaya denganku, meski nanti mbak mendapatkan Ren, aku yakin mbak akan bisa hidup bahagia sebab apa yang mbak lakukan di awal salah.
Lagipula harusnya mbaks adat diri. Kalau Ren suka sama mbak, dia nggak akan menikah dengan Jasmin. Tapi Ren itu mencintai Jasmin, begitu juga sebaliknya. Aku sangat yakin, sekuat apapun mbak berusaha memisahkan mereka, nggak akan pernah berhasil kalau Allah nggak ngiziniy. Jadi lebih baik buang saja niat jahat mbak itu. Paham!"
"Sombong sekali kamu!"
"Ngadepin orang jahat seperti kamu harus sonbong. Aku menyesali sebab Ren mau dekat dengan kamu, tapi secepat mungkin aku akan bongkar kebusukan kamu supaya Ren sadar."
"Apa maksudmu?"
"Nih!" Riu mengangkat Hpnya, memperlihatkan hasil rekamannya pada Mia. "Sebentar lagi aku akan memberikan rekaman ini pada Ren, supaya dia tahu semua kebusukan kamu."
"Hei, kamu curang sekali, kamu ngejebak aku?"
"Ngejebak penjahat itu tidak dosa. Apalagi supaya rencana jahatnya terbongkar. Paham!"
Riu segera berlalu meninggalkan Mia, sementara perempuan itu berdiri mematung dengan wajah memucat. Ia benar-benar tidak menyangka sudah terjebak.
__ADS_1