
"Bu, kalau begitu saya keluar dulu, mau mencari Jasmin." kata Ren, sambil bergegas keluar rumah. Samoia di depan, ia berpikir sejenak, mau mencari Jasmin kemana?
Ren tahu betul, satu-satunya teman Jasmin hanyalah Riu. Mau mencari ke sana rasanya malas sekali. Ren memang menjaga jarak dengan Riu sebab ia tak suka karena lelaki itu tahu banyak tentang istrinya. Mungkin inilah yang disebut cemburu.
Sementara itu, nomor Hp Jasmin belum juga bisa dihubungi. Padahal Ren sudah menghubungi berkali-kali.
Dengan langkah berat, akhirnya Ren menuju rumah Riu yang persis di sebelah rumah mertuanya. Ragu-ragu ia memencet bel.
"Eh nak Ren, sitampan menantu bibi." sambut Riana dengan kehebohannya seperti biasa bila bertemu dengan Ren. Salah satu yang membuat Ren juga sungkan ke sini sebab ia tak terlalu suka dengan sikap orang-orang yang terlalu berlebihan.
"Maaf bi, saya mau tanya, apa Jasmin ada di sini?" tanya Ren.
"Jasmin? Kenapa carinya ke sini?" tanya Riu dari dalam, ia langsung keluar menghampiri Ren.
"Saya kira Jasmin ada di sini." kata Ren, dengan nada agak menyesali sebab sudah datang ke sini sehingga membuat orang lain tahu tentang istrinya yang tidak ada di rumah.
"Berarti Jasmin belum pulang? Bukannya tadi sama kamu ya? Tadi kami mengantarkan Jasmin sampai ke lokasi tempat acara kamu berlangsung. Lalu sekarang kamu mengatakan Jasmin belum pulang? Apa maksudnya ini?" Riu mulai mencecar Ren, ia memang paling khawatir jika terjadi sesuatu pada Jasmin.
"Tadi dia pulang duluan. Sementara aku harus mengantarkan ibuku pulang dulu." ungkap Ren.
"Wah, nak Ren berbakti sekali. Alifa pasti bangga punya putra semata wayang seperti nak Ren." cetus Riana.
"Bu, boleh diam sebentar." pinta Riu. "Apa yang terjadi, kenapa Jasmin bisa pergi sendiri? Lalu kenapa juga dia tidak pulang ke rumah? Pasti kalian bertengkar, kutebak, kau membuatnya kesal lagi. Iya, kan?"
"Tidak terjadi apa-apa." kata Ren.
"Tidak mungkin. Aku tahu betul siapa Jasmin. Dia bukan perempuan yang ngambekan. Dia gadis yang tegar. Kecuali ada sesuatu yang membuatnya benar-benar sedih." cecar Riu lagi.
"Jangan berpikiran terlalu jauh. Antara aku dan Jasmin tidak ada apa-apanya. Maaf kalau aku menggangu waktu kalian. Aku pamit!" kata Ren.
"Tunggu dulu. Mau kemana?" Riu menghentikan langkah Ren.
"Cari Jasmin." jawab Ren
"Kalau begitu aku ikut!" Riu buru-buru pamit pada ibunya, ia tak menghiraukan apakah Ren bersedia membawanya atau tidak. Yang jelas dengan sigap ia mengikuti Ren yang tak kalah gesit meloncat ke mobilnya.
__ADS_1
"Tidak perlu ikut. Aku bisa cari Jasmin sendiri." kata Ren.
"Kita lihat saja. Aku juga penasaran, sejauh apa sebenarnya kepedulianmu pada Jasmin!"
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Seperti dugaan Riu, Ren benar-benar tak tahu harus mencari kemana. "Lihat sendiri, kau tak tahu harus menemukan Jasmin dimana." ucap Riu.
"Apa mungkin ke puncak?" tebak Ren yang sudah mulai frustasi sebab dari tadi nyetir tanpa arah ditambah Riu terus mengomentari dengan pedas.
"Cari saja kalau ketemu. Meski aku sangat yakin ia tidak di sana. Jasmin tak akan suka ke rumah kosong, meski rumah itu peninggalan almarhum kakek dan neneknya."
"Lalu harus cari kemana?"
"Tuh kan, kau benar-benar tidak tahu."
"Lalu kau tahu?"
"Tentu saja."
"Kemana?"
Ren mendengus kesal. Bagaimana ia bisa lupa bahwa makan ayahnya adalah satu-satunya tempat pelarian saat Jasmin merasa down.
Dari cerita orang-orang di sekitar Jasmin, Ren tahu bahwa hubungan antara Jasmin dan ayahnya sangatlah dekat. Sebenarnya Ren pernah bertemu beberapa kali dengan ayah Jasmin saat ia masih kecil, tetapi memori tersebut hilang dari ingatannya begitu saja.
Senyum Riu terkembang dengan lebar saat melihat Jasmin duduk di depan pusara pamanya, sementara reaksi Ren sebaliknya.
Bukan hanya karena ia merasa kalah dari Riu yang jauh lebih mengenal Jasmin istrinya, tapi ketika ia melihat perempuan yang sudah dihalalakan tersebut tengah menangis. Entah sudah berapa lama ia menangis, tapi dari kedua mata yang tampak sembab, ia tahu bahwa istrinya sudah lama menangis dan seperti yang dikatakan Riu, pasti ada yang melukainya sehingga perempuan yang terkenal dengan ketegarannya itu berubah jadi sendu.
"Jas," Riu memanggil terlebih dahulu.
"Riu?" Jasmin menoleh ke arah dimana Riu datang. Ia buru-buru menyeka sisa air mata, apalagi ketika melihat Ren juga berada di sana. "Kak Ren." kata Jasmin lagi.
"Kau menangis?" tanya Riu, ia mendekat ke arah Jasmin.
"Tidak. Siapa bilang aku menangis? Kau ini bicara apa sih Riu, aku mana mungkin menangis." jawab Jasmin.
__ADS_1
"Matamu sembab begitu. Lagipula kenapa di sini? Kau mau memperlihatkan kesedihanmu pada paman? Kan sudah kukatakan, kalau ada apa-apa, bicara padaku saja. Kau tak sendiri Jas, ada aku yang akan selalu ada untukmu. Aku tak akan pernah membiarkan kau menangis." kata Riu, yang sengaja menyindir Ren. "Jasmin, meskipun paman sudah meninggal, tetapi bukan berarti kau benar-benar kehilangan pelindung. Kau masih punya aku Jasmin. Aku akan selalu menjagamu. Aku tak akan membiarkan kau disakiti lagi!"
"Hm," Ren berdehem.
"Kau bicara apa Riu? Aku hanya kangen ayah saja." Jasmin mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tahu Riu sedang marah, tapi tak mau mengabaikan Ren.
"Sudah sore, ayo kita pulang. Ibu menunggu." kata Ren.
"Aku masih ingin di sini." ungkap Jasmin.
"Pualnh dulu, besok aku yang akan mengantarkan kau ke sini." Riu menawarkan diri. "Kau pasti belum makan siang."
"Iya, baiklah. Tapi bantu aku. Kakiku sakit karena sepatu hak tinggi ini!" Jasmin menunjukkan kakinya yang bengkak akibat sepatu tersebut.
"Fiufff, sudah tahu tidak bisa pakai hels tapi tetap memaksakan diri. Jasmin, kadang kau harus berpikir rasional, jangan mengandalkan ego saja, jangan terlalu banyak berkorban untuk orang yang tak peduli padamu. Pikirkan juga kebahagiaan hatimu. Kau itu bukan tak berharga, kau sangat berharga untuk kami. Apalagi paman Qret. Ia akan sedih melihat sikapmu seperti ini. Paham!" kata Riu, sambil memberikan sandalnya pada Jasmin. "Pakai ini."
Kini Jasmin memakai sandal Riu, sementara Riu berjalan tanpa alas kaki sambil menenteng sepatu heels milik Jasmin. Mereka berjalan beriringan menuju mobil.
Di belakang, Ren melihat dengan tatapan jeleous, terapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menatap kesal.
Sepanjang perjalanan, mereka bertiga saling diam. Jasmin yang biasanya cerewet pun ikut-ikutan diam. Dari spion, Ren bisa melihat masih ada kesedihan di wajah istrinya tersebut.
"Riu," kata Ren, mencoba membuka pembicaraan. "Apa kau tak berpikir untuk segera menikah saja?"
"Apa hubungannya denganmu? Apa kau merasa terganggu jika aku belum menikah?" Riu balik bertanya, sementara Jasmin terlihat tak tertarik dengan pembicaraan dua lelaki tersebut.
"Tidak, aku ingin tahu saja." ungkap Ren.
"Hah, aku tak percaya kalau kau hanya ingin tahu. Jangan-jangan kau merasa terganggu, ya? Tapi terserah, aku tak perduli padamu." Riu membuang muka. Baginya yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Jasmin. Bagaimana ia bisa memikirkan perempuan lain sementara perempuan yang amat disayanginya belum bahagia.
Perjalanan masih berlanjut, ketiga orang yang berada di mobil masih diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sampia di depan rumah, Riu turun duluan, dengan sigap ia membukakan pintu untuk Jasmin, lalu memberikan heals Jasmin yang sejak dari makan di peganginya.
"Setelah ini mandi air hangat, makan, lalu istirahatlah. Kalau ada apa-apa yang membuat hatimu tidak tenang, kau tau kan ada seseorang yang siap menampung keluh kesahmu." Riu melambaikan tangannya, lalu berlalu ke rumahnya, begitu juga dengan Jasmin, ia buru-buru masuk ke rumahnya.
__ADS_1
"Apa ini?" Ren mendengus kesal setelah melihat perempuan yang dicintainya dekat dengan lelaki lain. "Dia benar-benar tidak menghargai aku!"