
"Kau serius siap menikah pekan depan?" tanyaku pada Deni. Antara percaya dan tidak.
"Iya, jika diizinkan." ucap Deni. "Bagaimana pak?"
"Serius?" lagi, aku mengulang pertanyaan, untuk memastikan apakah pendengaranku salah atau tidak. Saat Deni mengangguk, aku malah makin kesal, kalau ia tidak keberatan menikah akhir pekan kenapa tidak bicara dari tadi? "Bagaimana paman?" kini aku bertanya pada paman Rudi tentang kesiapannya dan juga Riana tentunya.
"Bagaimana kalau kita panggil saja Riana." usul paman Rudi. "Biar dia yang menjawab." Paman Rudi memanggil-manggil Riana, tidak lama gadis itu masuk.
"Riana, Deni ingin menikah denganmu. Apa kau mau? Ia berencana akan menikah pekan depan." Tanya paman Rudi.
"Aku tidak keberatan," ucapku Riana. Sehingga membuat kamu mengucapkan syukur bersama-sama.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang ayo kita atur semuanya agar acara pernikahan ini berlangsung dengan khidmat." ajak paman Rudi.
Acara pernikahan yang rencananya akan dilakukan akhir pekan butuh persiapan yang cukup. Makanya kami bersama-sama membagi tugas. Aku fokus pada bagian makanan, sedangkan hal lainnya dibagi antara Riana, paman Rudi dan Deni.
"Sepertinya semua sudah ddibahas. Maka aku harus segera pulang." kataku, setelah pamit pada paman Rudi, Riana dan Deni.
Sebab rasanya tidak enak menghilang dari Yasmin tanpa ada kabar dengan waktu cukup lama, aku khawatir ia mencariku.
Benar saja, sampai di rumah, Yasmin langsung menjejeri dengan banyak pertanyaan. Ia rupanya sempat mencari ke kedai, khawatir kalau ada apa-apa denganku.
"Tadi aku kita mas sudah ikut pulang, makanya aku langsung masuk saja." ungkapnya.
"Tadi aku mampir ke rumah Riana dulu." kataku.
"Memang ada apa, mas?"
"Mengantar Deni."
"Untuk apa?"
"Deni melamar Riana."
"Apa? Benar mas?"
"Iya, masa aku bohong."
"Alhamdulillah! Lalu kapan rencana menikahnya?"
"Akhir pekan ini. Dan kita jadi seksi konsumsi. Kau bisa bantu, kan?"
"Apa? Kenapa secepat itu? Tapi tidak masalah. Aku siap membantu apapun."
"Lho, kan kalian sendiri yang minta supaya dipercepat. Setelah cepat maunya malah lama. Bagaimana sih?"
"Bukan begitu, tapi ... ahhhh sudahlah. Bagaimana kalau sekarang kita pergi?"
__ADS_1
"Kemana?".
"Cari kado untuk Riana. Aku mau memberinya hadiah terbaik untuk sahabat pertama di hidupku."
"Baiklah kalau begitu, lakukan apa yang kau mau."
"Kalau begitu aku masuk dulu ya. Aku mau ganti baju. Mas juga siap-siap." Yasmin segera naik ke atas untuk mempersiapkan diri, sementara aku memilih menunggu di rumah yang.
Sedang asyik membaca buku, tiba-tiba ayah Yasmin datang. Ia menghampiriku. Kami berbincang sejenak.
"Mas Qret, terimakasih ya." ungkap ayah Yasmin.
"Untuk apa yah?" tanyaku.
"Sebab mas Qret begitu menyayangi Yasmin. Sejak menikah dengan mas Qret, saya lihat ia begitu bahagia. Tidak ada lagi guratan kesedihan di hidupnya. Saya benar-benar beruntung punya menantu seperti mas Qret."
"Justru Yasmin yang membawa banyak kebahagiaan buat saya, yah."
Yasmin bukan hanya sekedar perempuan yang aku cintai, ia adalah jalan yang diberikan Allah untukku mendapatkan cahaya itu. Menikah dengannya adalah kebahagian terbesar sekaligus keberuntungan untukku. Aku sangat bersyukur sekali atas itu semua.
***
"Mas, pilih kado yang mana?" tanya Yasmin, saat kamu sudah berada di salah satu outlet berisi pernak-pernik kado. Semuanya tampak bagus di mata Yasmin sehingga ia bingung mau pilih yang mana.
"Mana saja boleh," jawabku asal, sehingga membuat Yasmin kesal dan mencubit pinggangku karena gemas.
"Maaf, tadi cuma bercanda." Yasmin mengusap pelan pipiku. "Kalau ini bagaimana?" Yasmin menunjuk sebuah kotak berisi perhiasan.
"Yas, aku hanya bisa memilih kado untukmu. Kalau untuk orang lain aku tidak bisa."
"Mas ...."
"Iya deh,"
"Kalau ini bagaimana?"
"Jangan. Dia tidak punya perhiasan yang akan disimpan."
"Lalu apa?"
Aku segera meraih seperangkat hiasan rambut yang biasanya dipakai oleh anak perempuan kecil ataupun remaja.
"Ini saja!" kataku, sambil menunjuk tumpukan hiasan rambut dan kepala.
"Apa ini?"
"Aku yakin Riana pasti akan sangat senang mendapat ini "
__ADS_1
"Kenapa?"
"Dulu, saat Riana berusia sepuluh tahun, ia pernah ingin membeli hiasan rambut seperti ini, tapi paman Rudi tidak punya uang sehingga tidak bisa membelikan Riana bando dan jepitan seperti ini. Lalu besoknya Riana pulang memakai bando punya temannya. Riana sengaja meminjam sebab ia ingin sekali merasakan punya bando, tapi ternyata bandnya patah sehingga temannya marah dan minta ganti pada Riana.
Paman Rudi begitu marah sebab kejadian itu. Mengganti bando saat tidak punya uang. Setelah teman Riana pergi, ia dimarahi oleh paman Rudi sampai menangis. Sejak itu ia janji tidak akan mau lagi berurusan dengan bando dan jepitan seperti ini.
Tapi aku yakin sekali, ia ingin sekali punya barang-barang ini. Hanya saja egonya mengatakan tidak ingin menyentuhnya lagi." kataku sebab kesal dimarahi ayahnya.
"Kasihan sekali Riana." ungkap Yasmin.
Selain membelikan bando, jepitan, Yasmin juga membelikan beberapa pakaian muslimah dan kerudung untuk Riana sebagai hadiah pernikahan.
"Kau tidak mau membelikan apapun untuk Deni?" tanyaku, saat melihat keranjang belanja Yasmin yang isinya kado untuk perempuan semua.
"Kan sahabatku Riana, bukan Deni." jawab Yasmin.
"Dih, ya jangan begitu. Kalau mau beli, ya belikan untuk mereka berdua dong. Supaya adil. Mereka kan akan jadi suami istri!"
"Mas saja." Yasmin terus melaju memilih barang-barang lainnya yang sekiranya cocok untuk Riana.
***
Pulang dari mall, kami mendapati ayah Yasmin dan paman Rudi sedang berbincang akrab. Mereka tampak gembira sekali. Rupanya sedang membicarakan rencana pernikahan Riana.
Aku bisa menangkap kebahagian yang terpancar dari kedua ayah tersebut. Meski mereka berat melepas putrinya dengan lelaki lain, tapi mereka juga tidak memungkiri bahwa begitu bahagia, saat anaknya juga bahagia.
"Qret, kalian sudah datang!" panggil paman Rudi.
"Sudah paman." kataku. Menghampiri mereka, sedang Yasmin memilih langsung masuk ke dalam, khawatir Riana tiba-tiba datang dan melihat kado yang dipersiapkan olehnya.
"Qret, aku mau minta tolong."
"Apa paman?"
"Bisa hubungi Heri, supaya besok mengadakan kajian untuk persiapan pernikahan Riana Dan Deni. Oh ya, sekalinya undang orang tuamu dan juga teman-teman lainnya ya."
"Siap paman."
"Qret,"
"Ya paman."
"Terimakasih banyak ya. Kau sudah membuat senyum Riana kembali hadir. Aku percaya kau adalah kakak terbaik untuk Riana, kau akan membantunya mendapatkan kebahagiaan itu."
"Paman tenang saja, aku akan berusaha membantu semaksimal mungkin!"
Sepasang mata paman Rudi mulai berkaca-kaca. Ia mengaku begitu terharu sebab akhirnya putri yang amat dicintainya akan segera menikah.
__ADS_1
"Sebenarnya aku masih ragu, Qret. Apakah ia bisa jadi istri yang baik atau tidak. Tapi saat Deni siap menerima Riana apa adanya, aku jadi tenang."