
Heri mengajakku bertemu beberapa jam setelah pertemuanku dengan Yasmin. Tanpa basa-basi, ia menyampaikan kekecewaannya terhadap sikapku.
"Mas Qret tahu tidak, untuk gadis seperti Yasmin, menemui lelaki yang ia sukai itu butuh keberanian lebih. Dia mengumpulkannya dengan susah payah, tapi begitu bertemu malah dibuat patah hati." ungkap Heri.
"Maksudnya apa?" aku masih belum mengerti arah pembicaraan Heri.
"Apa mas Qret masih berharap bisa menikahi Yasmin?"
"Tentu saja. Itu adalah impianku!"
"Lalu mengapa mengusirnya pergi?"
"Dia datang bukan atas keinginannya sendiri,"
"Sebentar dulu, maksudnya bagaimana?"
"Aku terlalu kepedean. Ku kira Yasmin punya perasaan yang sama saat ia membawakan ku makanan, tetapi ternyata itu bukan keinginannya sendiri, tapi suruhan pak Bimo. Iya, kan?"
"Memang benar ...,"
"Lalu mengapa masih menyalahkan ku? Yasmin yang memberikan harapan palsu!"
Tawa Heri langsung pecah. Andai ia bukan perantara antara aku dan Yasmin, sudah kutinggalkan guru mengajiku ini sendirian. Biar dia tahu rasa bagaimana sakitnya hatiku ini.
"Biar saya jelaskan, mas. Tapi jangan dipotong duku," pinta Heri. "Jadi, memang benar pak Bimo yang menyuruh Yasmin mengantarkan makanan, tetapi Yasmin juga ingin melakukannya, hanya saja ia malu, lalu ayahnya yang menguatkan. Perempuan yang pemalu seperti Yasmin mana mau langsung mengaku kalau ia pun juga ingin mengantarkan makanan untuk mas Qret. Pasti ditutup-tutupinya. Tinggal mas Qret yang peka!"
"Mana aku tahu, lagian siapa suruh harus pakai kode-kodean segala!" aku merengut.
"Ya karena Yasmin perempuan, mas. Muslimah itu punya malu. Tidak bisa sembarangan bersikap. Saya kira mas Qret sudah paham ini semua, ternyata sama-sama masih lugu." kembali tawa Heri pecah.
Aku semakin bersungut-sungut mendengarnya puas meledekku. Dari dulu aku memang tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan. Untuk hal ini aku sangat hati-hati sekali.
Impianku dari dulu punya istri shalihah seperti Yasmin . Makanya aku berusaha menghormati setiap perempuan dengan tidak sembarang menjalin hubungan apalagi main perempuan.
Apalagi dengan kondisi ibu saat itu yang sempat menjadi wanita penghibur. Membuatku semakin hati-hati pada perempuan.
Harapanku, dengan menjaga tidak mempermainkan mereka, suatu hari ibu bisa berubah. Lalu kelak aku punya istri dan anak perempuan yang terjaga.
"Tolong berikan ini pada Yasmin. Kalau ia suka main kode-kodean, katakan padanya agar memakai kalung ini jika ia benar-benar menyukaiku." pintaku pada Heri.
"Ya ampun, kalian ini benar-benar sangat cocok. Baiklah, akan saya laksanakan. Saya berharap mas Qret dan Yasmin berjodoh!" kata Heri dengan tulus.
__ADS_1
***
Benarkah Yasmin juga menyukaiku seperti yang dikatakan Heri? Sejak pagi aku tidak sabar menanti kedatangan Yasmin, sehingga membuat konsentrasiku hilang. Beberapa kali montir yang bekerja di bawah arahanku harus mengulangi pertanyaannya.
Saat Yasmin datang, akupun semakin berdebar-debar, ingin tahu isi hatinya yang sebenarnya.
Ketika ia mendekat, lagi-lagi hati ini dibuatnya patah untuk kedua kalinya. Bagaimana sih Heri, katanya Yasmin menyukaiku, tapi ia malah melakukan hal sebaliknya yang membuatku semakin bingung.
Kemarin telah kupesankan pada Heri agar ia memberikan Yasmin seutas kalung sebagai hadiah dariku. Selain itu ada pesan yang juga kutitipkan agar mengatakan pada Yasmin untuk memakai kalung ini jika ia menyukaiku, tetapi jika tidak, ia boleh tidak memakainya.
Sekarang tidak kulihat Yasmin memakai kalungnya. Berarti ia tidak punya perasaan yang sama sepertiku. Heri benar-benar sudah memainkan perasaanku.
"Ini aku yang memasak sendiri," kata Yasmin, membuka pembicaraan. Ia menyodorkan rantang berisi bekal makanan ke hadapanku. "Semoga anda menyukainya, tuan." Yasmin beranjak pergi meninggalkan kantorku.
Setelah ia benar-benar pergi, barulah kuhubungi Heri, untuk memberi tahu apa yang sudah terjadi.
"Apa yang kamu katakan itu tidak benar. Yasmin tidak menyukaiku!" kataku, saat aku meneleponnya.
"Lho, kemarin Yasmin terlihat senang saat istri saya memberikan kalung hadiah dari mas Qret." jawab Heri.
"Apa pesanku kau sampaikan?"
"Saya sampaikan seperti yang mas Qret katakan. Pakai kalungnya kalau Yasmin suka sama mas Qret, kalau tidak jangan dipakai."
"Lho, kenapa kesimpulannya begitu?"
"Dia tidak memakainya!"
"Mas Qret tahu dari mana Yasmin tidak memakainya?"
"Tidak terlihat!"
Lagi-lagi Heri tertawa. "Mas Qret ini lucu juga ya. Yasmin kan berjilbab lebar, ya enggak mungkin kelihatan dia pakai kalung atau tidak."
Sejenak aku terdiam memikirkan kata-kata Heri. Benar juga, bagaimana aku bisa tahu bahwa Yasmin memakai kalungnya atau tidak, kan tersembunyi oleh jilbabnya.
Perlahan kutepuk jidat. Menyesali kebodohan sendiri. Harusnya aku memberikan kado yang dapat kulihat bukan yang tersimpan seperti kalung.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanyaku pada Heri.
"Kalau itu bukan urusan saya. Mas Qret cari tahu saja sendiri. Kan mas Qret tidak percaya saya." Heri memutsu sambungan telepon tanpa memberiku kesempatan untuk melanjutkan pembicaraan.
__ADS_1
Ahhhhhh, benar-benar bikin pusing. Kenapa cinta seribet ini. Yasmin juga, sukanya main kode-kodean. Harusnya ia jujur saja. Kalau cinta katakan cinta. Jangan membuatku bingung seperti ini.
***
Tekad ku sudah bulat untuk tahu perasaan Yasmin yang sebenarnya hari ini juga. Jika ia mencintaiku, maka akan segera kulamar. Jika tidak, maka aku akan berjuang lebih keras lagi, dengan meminta pada Tuhan, barangkali Dia berkenan menjodohkan kami.
Motor yang kukendarai hendak masuk ke gang rumah Yasmin. Tiba-tiba sebuah mobil menghambat jalanku.
Jimmi keluar dari mobilnya. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia menyapaku. "Kita sudah lama tidak bertemu, mas!"
"Lebih baik tidak bertemu selamanya!" jawabku, santai.
"Bagaimana mungkin seorang saudara besar berkata seperti itu pada adiknya?"
"Saudara? Kau yakin ingin bersaudara denganku? Tiba-tiba aku jadi ingin memberi tahu semua orang tentang hubungan persaudaraan kita. Kira-kira apa tanggapan. mereka? Terutama teman-teman ibumu, bawahanmu juga. Apa mereka bisa menerima berita ini atau menjadikan kita sebagai bahan gosip? Kalau aku sendiri tidak terlalu peduli, mau jadi bahan pembicaraan atau diabaikan, terserah. Kalau kau, bagaimana?"
"Jangan coba-coba lakukan itu?"
"Lho, kenapa?"
"Karena kalau sampai itu terjadi, ibu Rahayu yang bakalan paling menderita. Mas mungkin tidak pernah tahu bagaimana kejamnya masyarakat terhadap perempuan kedua yang merusak rumah tangga orang lain. Selain jadi bahan gosip, ia juga akan menjadi bulan-bulanan kekesalan masyarakat. Hidupnya akan dibuat tamat tanpa kami perlu turun tangan sedikitpun."
"Mau apa kamu ke sini?"
"Harusnya saya yang tanya. Mas Qret mau apa ke sini?"
"Menemui calon istriku."
"Yasmin itu calon istri saya, mas,"
"Kamu lupa ya, ayahnya Yasmin tidak merestui hubungan kalian?"
"Meskipun ayahnya tidak merestui, saya akan tetap memperjuangkan Yasmin, mas! Lagi pula kenapa harus menyerah kalau saingannya cuma mas Qret. Toh kita sama-sama anaknya Wijaya. Di kedudukan, sebenarnya saya lebih tinggal karena saya lahir dari hubungan pernikahan yang sah. Sementara mas Qret?"
"Tidak usah memancing. Aku juga tahu rahasia ibumu?"
"Ibuku adalah perempuan terhormat, mas,"
"Perempuan terhormat tidak akan menjebak seorang lelaki untuk jadi suaminya. Harusnya perempuan terhormat bisa menghormati dirinya sendiri dengan tidak mengemis cinta."
"Cukup!" Jimmi menatapku tajam. Ia mendengus kesal, lalu berlalu meninggalkanku menuju rumah Yasmin.
__ADS_1
"Dasar keras kepala," aku mengumpat, lalu melajukan motor mendahuluinya. "Aku duluan!" kataku, sambil melambaikan sebelah tangan.
Tepat di depan rumah Yasmin , motor kuhentikan, tidak lama gadis yang mencuri hatiku itu keluar. Ia tampak kaget melihatku dan Jimmi sama-sama berada di depan rumah dengan tatapan tidak mengenakkan.