
Alifa dan Ren sudah pamit sejak satu jam lalu. Tetapi Yasmin masih mengunci mulutnya, sehingga membuat Jasmin salah tingkah. Ia tak tau harus bicara apa, khawatir kalau kata-katanya salah, tetapi Jasmin sudah tidak sabar ingin tahu tanggapan ibunya.
"Ayolah Bu, bicaralah. Katakan sesuatu. Apa ibu setuju atau tidak? Kalau ibu setuju sih aku bahagia sekali, tapi kalau tidak setuju, setidaknya aku bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat hati ibu luluh. Bukan didiamkan sehingga membuat bingung, mau maju atau mundur?" Jasmin membatin dalam hatinya.
Sementara itu, secara diam-diam dan hati-hati sekali, Jasmin memperhatikan setiap gerakan ibunya yang duduk di samping tempat tidur ayahnya.
"Ibu kenal ibu Alifa dimana?" tanya Jasmin hati-hati.
"Alifa adalah pengacara ayahmu. Ia yang membantu ayahmu bebas dari penjara. Juga membantu kakekmu menyelesaikan perceraiannya dengan istri terdahulu kakek " jawab Yasmin, tanpa melihat ke arah Jasmin sedikitpun. "Ia juga dulu memberikan ibu pekerjaan."
"Oh begitu." Jasmin mengangguk-angguk. "Pantas sangat akrab sekali. Ternyata teman lama."
"Kenapa kamu membawa mereka ke sini? Kamu mau memancing kemarahan ibu?"
"Tidak Bu. Aku hanya ingin ibu tahu bahwa aku sudah punya pilihan."
"Lalu?"
"Apakah ibu bisa memberikan kami restu?"
"Kamu tahu siapa yang ibu pilih, kan?"
"Bu,"
"Jasmin, jangan mencari masalah. Dengan kamu membawa Alifa dan anaknya kemari, sama saja kamu menyudutkan ibu. Mau maju salah, mundur pun salah. Ibu benar-benar tidak tahu harus memilih siapa. Kamu tahu, orang tua Ren dan Riu sama-sama berjasa dalam hidup kita! Harusnya kalau kamu tidak menghadirkan Ren maka semua nggak akan sesulit ini!" kata Yasmin dengan tegasnya.
Jasmin tidak mau membantah ibunya lagi. Ia tahu, bicara hanya akan berakhir pada pertengkaran.
__ADS_1
Sebenarnya banyak hal yang sudah diubah oleh Jasmin untuk menyenangkan hati ibunya, tetapi tetap saja, sedikit saja ia melakukan sesuatu hal yang tak disukai ibunya, akan keluar kata-kata tajam yang menyudutkan bahkan menyakitkan hatinya, padahal yang ia tahu, ibunya dahulu adalah ibu yang begitu lembut dan baik sikapnya.
"Ibu, kenapa tidak bisa menerima apa yang aku inginkan sedikit saja." kata Jasmin dalam hatinya.
***
Hari ini Riu kembali. Demi menyenangkan hati ibunya, ia datang bersama dengan paman dan bibi menjemput kedatangan di Bandara Internasional Bung Hatta.
Belum genap setahun perpisahan itu, kini lelaki itu telah kembali. Jasmin sebenarnya biasa saja, tapi melihat haru ketika bibi Riana dan Riu berpelukan, ia pun terbawa suasana.
"Terimakasih sudah datang menjemput, Jasmin." kata Riu, ia tersenyum, sedangkan Jasmin bersikap biasa.
Dari bandara, mereka terus menuju rumah sakit untuk melihat kondisi ayahnya Jasmin. Riu juga ingin segera bertemu dengan bibi Yasmin yang sudah mengasuhnya semenjak kecil. Ia tak ingin membiarkan perempuan itu berlama-lama larut dalam kesedihan.
Sampai di rumah sakit, suasana haru itu terlihat nyata, bagaimana Yasmin menangis tersedu-sedu menyambut kepulangan Riu. Di sana Jasmin menyadari bahwa perjuangannya untuk mendapatkan restu tidak akan mudah. Ibunya sudah punya pilihan, yaitu Riu.
"Bi, aku juga tidak tenang jika kondisi paman memburuk seperti ini. Aku ingin berada di dekat paman agar bisa memberikan support pada paman, bibi dan Jasmin.
Bibi dan Jasmin perempuan, kalian tak boleh menanggung beban ini berdua saja. Jika bibi dan Jasmin mengizinkan, aku ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Ingin menjadi tukang punggung untuk kalian." pinta Riu.
Permintaan itu langsung membuat Jasmin kebingungan, ia tak menyangka bahwa Riu akan menyatakan maksudnya secepat ini. Bahkan lebih cepat dibandingkan yang ia bayangkan. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya, ia begitu berharap agar bisa segera pergi dari tempat ini.
"Yas, bagaimana? Kita sudah bahas semuanya secara detail, kamu tidak keberatan, kan?" kata Riana.
"Aku sangat bersyukur jika Riu mau membantu kami. Tapi semua keputusan ada di tangan Jasmin sebab ia dan Riu yang akan menjalaninya nanti. Bagaimana Jas?" pertanyaan dilemparkan Yasmin pada putrinya.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa ibu tega membuat aku jadi serba salah. Bukankah ibu sudah tahu bahwa aku memilih lelaki lain?
__ADS_1
Jasmin melirik ibunya, berharap agar ibunya mengambil kendali atas semuanya, tetapi Yasmin malah membuang muka, beralih pada ayahnya yang terbaring di sisi kanan.
"Jasmin, bagaimana?" kini Riu mengulang kembali pertanyaannya.
"Sebelumnya aku minta maaf jika apa yang aku katakan akan membuta semuanya kecewa, tetapi kalian harus tahu bahwa aku sangat menyayangi kalian. Semua tahu itu, kan?" tanya Jasmin, sambil melirik semua orang satu-persatu. "Aku tak bisa menerina lamaran Riu. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan lelaki yang sudah ku anggap seperti kakak kandung sendiri.
Ibu tidak lupa, kan? Bagaimana ibu membesarkan aku dan Riu secara bersama. Kami menghabiskan waktu bersama, melakukan apapun bersama. Lalu sekarang kami dijodohkan?
Apa kalian ingat, bagaimana Qret dan Riana? Ya, ayah dan bibi, mereka tidak punya hubungan darah, tapi bagi Qret, Riana adalah adiknya, sampai kapanpun juga akan seperti itu. Begitu juga dengan aku, Riu akan jadi kakakku, sampai kapanpun juga." kata Jasmin.
"Hm," Riana berdehem. "Qret, terulang lagi." ungkapnya. "Bagaimana Riu?" tanya Riana pada putranya.
"Aku mencintai Jasmin. Kalaupun sekarang dia tidak mencintai aku, aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta itu." kata Riu, dengan sikapnya yang tenang.
"Tidak akan pernah Riu. Bagiku, kau adalah kakakku. Itu tak akan pernah berubah." Jasmin menegaskan.
"Aku akan berusaha, tidak ada yang tak mungkin. Allah maha membolak-balikkan hati manusia." ungkap Riu.
"Tapi aku sudah mencintai lelaki lain!" tambah Yasmin.
"Siapa?" Meskipun kaget, Riu mencoba tetap tenang.
"Anak bibi Alifa." jawaban Jasmin membuat semua orang terdiam.
"Alifa? Maksudnya, anaknya Alifa yang bule itu? Ya ampun, sempitnya dunia ini. Bibi nggak nyangka kalau kamu kenal dengannya. Kalian kenal dimana? Pasti anaknya Alifa tampan sekali, kan?" ungkap Riana dengan hebohnya. "Eh, maksudnya ibu, kamu juga tampan Riu, meskipun kamu produk lokal. Tapi percayalah, kalian itu istimewa dengan kelebihan masing-masing. Iya kan Jasmin?"
"Iya bibi " jawab Jasmin.
__ADS_1
Saat Riu dan Yasmin terlihat kaku, sementara Riana dan Jasmin malah bernostalgia dengan cerita tentang Ren. Dari dulu Riana memang begitu kemas pada anak tersebut.