GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
71. Kapan Kau Mau Hijrah, Riana?


__ADS_3

Sejak kedai hijrah selesai dibangun, selama tiga hari aku banyak menghabiskan waktu di dapur. Hari ini saja sudah tiga jam aku di sini, mencoba mengotak-atik resep milik ibu dikombinasikan dengan beberapa resep yang kudapatkan dari YouTube.


Kini sepertinya aku harus keluar dari dapur karena bahan-bahan sudah habis. Langsung saja aku mengambil catatan, menulis beberapa keperluan untuk resep ayam bakar madu dan juga sayur lodeh.


"Bu, Qret pergi sebentar ya!" kataku, dari balik tirai ruang keluarga, sementara ayah dan ibu sedang sibuk dengan buku bacaannya sendiri-sendiri.


Memang sejak memutuskan sama-sama hijrah, ayah dan ibu rajin membeli buku-buku motivasi dan buku-buku agama sebagai pengisi waktu luang jika tidak ada aktivitas lainnya.


"Ke pasar lagi, Qret?" tanya ibu, ia berhenti membaca buku, lalu menoleh ke arahku sesaat.


"Iya Bu, Qret mau nyobain bikin ayam bakar madu versi hijrah." jawabku.


"Hah, ayam bakar madu hijrah?" kata ayah dan ibu bersamaan, sambil menatapku heran.


"Iya," jawabku, sambil tertawa kecil menatap raut wajah ayah dan ibu yang tampak serius.


"Semuanya serba hijrah," celetuk ibu.


"Ya nggak apa-apa, Bu. Biar semuanya masuk surga. Qret pamit ya, Assalamualaikum!" aku langsung keluar rumah.


Pukul sepuluh lewat lima menit. Usai membaca doa, aku bergegas meninggalkan rumah menuju pasar. Tapi baru beberapa langkah, terdengar suara seseorang memanggilku.


"Qret, kau mau kemana?" sapa Riana.


"Ke pasar!" kataku.


"Ikut!" Riana segera mengejar langkahku. "Kau rajin sekali ke pasarnya, Qret."


"Aku mau coba resep baru, siapa tahu besok bisa langsung kujual."


"Resep apa lagi?"


"Ayam bakar madu hijrah,"


"Hah?" tidak lama terdengar suara Riana tertawa terpingkal-pingkal. "Ayam saja hijrah, tapi aku belum." celetuknya.


"Makanya hijrah. Masa kalah sama ayam!"


"Tidak segampang itu, Qret. Kalau aku hijrah sekarang, nanti tidak bisa jalan denganmu lagi atau sekedar mencandaimu!"


"Lalu mau sampai kapan?"

__ADS_1


"Nantilah, kalau kau sudah menikah. Aku akan belajar pada Yasmin."


"Yakin hidupmu masih sepanjang itu?".


"Qret, kau ini sadis sekali!"


"Aku bicara sesuai kenyataan, Riana. Banyak orang yang berencana hidup Ngin taubat diusia empat puluh atau lima puluh tahun. Makanya masa muda mereka dihabiskan untuk senang-senang. Tapi masalahnya, tidak semua orang Allah berikan rezeki usia yang panjang. Kalau tiba-tiba meninggal sehari sebelum usia empat puluh tahun kan mengerikan sekali!"


"Iya juga ya," Riana bergidik ngeri.


"Sudah, jangan ganggu aku dulu. Aku harus membeli beberapa bahan-bahan. Kau mau ikut atau tunggu di sini?" tanyaku pada Riana.


"Ya tunggu di sinilah. Siapa juga yang mau berdesakan dengan ibu-ibu. Panas. Lebih baik aku tunggu di sini sampai makan soto!" Riana segera berlalu menuju warung soto langganannya.


Gadis itu memang tidak pernah mau diajak masuk ke dalam pasar. Ia paling anti dengan adegan nyalip-nyalip di antara ibu-ibu atau mendengar tawar-menawar dengan penjual ikan.


Sejak dulu, kalau kami belanja ke pasar, Riana selalu menyuruhku masuk Sendiri sedangkan ia menanti di warung soto.


"Borong saja ayamnya mas, mumpung murah!" ungkap ibu pedagang ayam, sambil menjelaskan tentang harga ayam yang turun drastis gara-gara permintaan ayam menurun. Entah apa penyebabnya.


Kadang aku selalu kasihan harus membeli dagangan milik peternak ataupun petani dengan harga murah. Apalagi sampai jauh sekali dari harga pasar.


Terbayang bagaimana mereka susah payah menanam dan membesarkan ternaknya. Tahu-tahu saat panen harganya turun drastis.


"Mas ini masih muda tapi tidak sungkan belanja ke pasar. Sudah punya istri belum?" tanya ibu pedagang padaku.


"Belum Bu," jawabku dengan malu-malu.


"Mau tidak jadi nanti saya?" tanya ibunya. "Ibu suka dengan pemuda yang rajin seperti masnya. Anak ibu cantik lho, lihat saja ibu sebagai ibunya. Cantik, kan?"


Aku hanya menjawab dengan senyuman, setelah membayar lalu berlalu menuju pedagang sayuran.


Lagi-lagi kudapati pedagang sayur, cabe dan tomat yang mengeluh karena harga yang turun drastis.


"Sudah capek-capek nanam, malah harganya turun sekali. Jangankan untung, bisa balik modal saja sudah untung. Makanya saya putuskan menjual sendiri ke pasaran sebab kalau dijual ke tengkulak bisa tambah tidak berharga ini cabe!" seru bapak-bapak pedagang cabe.


"Sabar ya, pak." kataku. Sambil membayar cabe yang kubeli.


Aku tersenyum lega saat mengecek satu-persatu catatan belanjaan yang sudah terbeli. Tiga keranjang penuh. Sekarang waktunya pulang, tapi sebelumnya jemput Riana dulu di warung soto. Kalau sampai lupa bisa-bisa anak itu ngamuk-ngamuk seperti dahulu saat pertama kali ia mau ikut berbelanja. Aku sempat lupa karena sibuk dengan belanjaan.


Dua jam kemudian Riana kembali ke rumah sambil marah-marah, ia sampai mengajakku bergulat. Rupanya karena Riana tidak membawa uang. Jadilah ia tidak bisa kemana-mana.

__ADS_1


Sebenarnya bapak pedagang sotonya cukup baik, membiarkan Riana untuk pulang dulu, membayarnya nanti saja. Sebab kami sudah langganan di sana. Tapi namanya Riana, ia paling gengsi berhutang. Jadilah ia menantiku sampai beberapa jam.


"Riana, ayo pulang!" kataku.


"Kau sudah selesai, Qret? Mau makan dulu?" tanya Riana, sambil menyeruput gelas es tehnya yang hampir kosong.


"Tidak. Aku masih kenyang. Ayo kita pulang!"


Riana langsung mengikuti dari belakang. Ia melihat aku kesusahan membawa tiga tas besar belanjaan, tapi anak itu tidak berminat untuk membantuku.


"Kau sungguh tidak punya hati," aku mengomel.


"Kau juga tidak punya hati. Kau lebih memilih Deni sebagai karyawan mu dari pada aku."


"Oh, jadi kau masih dendam?"


"Tentu saja. Aku merasa tidak lebih baik dari Deni."


"Tapi begitulah kenyataannya. Deni bisa diandalkan, bahkan urusan dapur pun ia tidak kalah denganku. Bagaimana aku tidak memilihnya?"


"Terus saja membanggakannya!"


"Aku bicara jujur,"


"Kau lupa ya. Pernah kehilangan tiga milliar gara-gara anak itu."


"Tapi aku mendapatkan ganti yang lebih besar berkali lipat, bahkan tidak dapat ditandingi!"


"Ah, Qret. Kau manis sekali pada Yasmin."


"Deni juga bisa lebih manis dari itu jika berbicara tentangmu."


"Jangan mulai lagi!"


"Tapi aku bicara sesungguhnya. Anak itu pantas untuk dipertimbangkan. Ia punya banyak kelebihan yang mungkin akan sulit kau dapatkan dari orang lain. Tapi yang jelas ia sedang belajar bagaimana menjadi suami dan calon ayah yang baik. Bahkan aku sendiri belum terpikir untuk mempelajarinya. Mungkin ia benar-benar mempersiapkan diri sebelum menikahi perempuan bawel sejenismu."


"Qret!"


"Oh Tuhan, maafkan aku Riana jika terlalu jujur padamu!"


"Kau benar-benar tidak punya perasaan, Qret." sebuah tonjokan dilayangkan Riana ke perutku.

__ADS_1


"Awww!" aku meringis kesakitan. Tapi bukannya merasa bersalah, Riana malah jalan mendahuluiku tanpa merasa iba sedikitpun.


__ADS_2