GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
167. Izinkan Aku Berbakti


__ADS_3

Sepasang mata Yasmin tak percaya mendapati dua kotak nasi goreng juga minumannya terhidang di hadapnya. Yang membuatnya lebih bingung lagi sebab yang menyajikan adalah Jasmin. Ia, putri tunggalnya yang biasanya bersikap seenaknya.


"Ibu kenapa tidak makan?" tanya Jasmin. "Rasanya enak kok, Bu. Kalau ibu tidak suka, nanti aku akan pulang beberapa jam. Aku akan masakkan makan siang untuk ibu. Maunya makan apa?" tanya Jasmin dengan sikap yang sangat manis.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Yasmin, sambil memegang kening putrinya, khawatir terjadi sesuatu padanya.


"Tentu saja aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa, Bu?"


"Tidak biasanya. Kamu kan tidak pernah peduli pada ibumu ini!"


"Kata siapa? Aku sangat sayang pada ibu." Entah mengapa, Jasmin merasa sangat bersalah mendengar penuturan spontan dari mulut ibunya. Apa benar selama ini ia tak terlihat peduli. Lalu, apakah ini alasan ibunya bersikap dingin padanya? Astagfirullah, Jasmin langsung mengucapkan istighfar berulang kali. Ia betul-betul merasa bersalah pada ibunya.


Usai sarapan, Jasmin membawa seluruh pakaian kotor milik kedua orang tuanya. Tidak lupa Jasmin mencatat segala keperluan ibunya.


"Kalau ada lagi, ibu kirim pesan saja. Nanti aku bawakan." sebelum pergi, tidak lupa Jasmin menyalami ibunya. Lalu ia pergi setelah mengucapkan salam.


Sepanjang koridor rumah sakit, Jasmin sudah bertekad untuk berubah. Ia ingin membahagiakan ibunya. Jasmin ingin memperbaiki hubungan yang memburuk akibat ketidak pekannya.


"Masih belum terlambat. InsyaAllah semua akan baik-baik saja." bisik Jasmin.


Sampai di rumah, Jasmin mencuci semua pakaian kotor milik ayah dan ibunya. Lalu memasak makanan pesanan ibunya. Selesai itu Jasmin memecah celengan, lalu berbelanja bahan untuk membuat kue.


Dengan telaten perempuan yang sebentar lagi berusia delapan belas tahun itu membuta cupcake pesanan sebanyak seratus buah. Tidak berapa lama, aromanya yang lezat langsung menyergap ke seluruh penjuru rumah.


"Ayah, aku akan meneruskan usahamu!" ungkap Jasmin.


"Jasmin, apa itu kau?" tiba-tiba seseorang muncul di pintu.


"Bibi Riana?" panggil Jasmin.


"Kau masak apa, aromanya harum sekali."


"Cupcake pesanan, Bi. Bibi mau? Tadi aku melebihkan untuk ibu juga."


"Kamu berjualan Jasmin?"


"Iya Bi. Ayah masih sakit, ibu harus menunggui ayah. Makanya mulai sekarang akulah yang harus menghandle semuanya."


"Kamu benar-benar luar biasa, nak. Aku bangga padamu. Qret pun pasti begitu!" dengan mata berkaca-kaca, bibi Riana menepuk pelan pundak Jasmin. "Mulai besok, kalau kamu membuta kue, bisa dititipkan di toko bibi. Kamu tak perlu khawatir sebab keuntungannya seluruhnya bibi berikan untukmu." ungkap bibi Riana yang sekarang punya usaha cafe dekat taman perumahan mereka.


"Siap bibi. Aku dengan senang hati akan menitipkan ke sana. Mulai besok aku akan membuatnya." ungkap Jasmin dengan penuh semangat.


"Sekarang ayo kita kemas. Setelah itu biar paman dan bibi yang mengantarnya. Kamu bisa langsung ke rumah sakit!" kata bibi Riana.

__ADS_1


***


Rasanya tubuh ini sudah terlalu lelah. Tetapi Jasmin buru-buru ke rumah sakit sebab ia tidak ingin membuat ibunya menunggu. Dua tas besar berisi pakaian dan makanan kini berada dalam genggamannya.


"Ibu, aku datang!" kata Jasmin sambil tersenyum lebar.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa lama sekali? Jasmin, sampai kapan kamu bisa diandalkan. Di suruh pulang pasti kelayapan!" tuduh Yasmin.


"Aku nggak kelayapan, bu."


"Lalu kamu enak-enakan tidur di rumah sambil mainan Hobi seperti yang biasa kamu lakukan?"


"Maaf Bu, aku ...."


"Ahh sudahlah. Ibu benar-benar lelah berdebat denganmu."


"Iya Bu. Maaf." dengan hati yang penuh luka, Jasmin menghidangkan makanan yang ia masak sendiri untuk ibunya. Tidak lupa Jasmin merapikan pakaian bersih ke lemari yang disediakan pihak rumah sakit.


"Ibu, aku janji akan membahagiakan mu. Aku tahu engkau sangat resah sekarang. Bersabarlah, aku pasti akan memberikan yang terbaik. InsyaAllah!" Begitu janji Jasmin yang ia ucapkan dalam hati.


***


Hari ketujuh ayahnya di rumah sakit. Kondisinya masih sama seperti awal masuk. Belum sadarkan diri, sehingga harus dibantu dengan berbagai macam alat bantu supaya jantungnya terus berdetak.


Sebenarnya Jasmin kasihan melihat kondisi ayahnya yang terbaring lemah, tetapi ia harus tetap semangat agar tertular pada ibunya yang mulai kelelahan dan takut bila ayahnya tak juga bisa sembuh.


"Masih jauh dari kata cukup. Biaya pengobatan saja di sini sehari bisa satu jutaan lebih." Jasmin kembali memutar otak, bagaimana caranya bisa melunasi pembayaran rumah sakit.


Setiap hari sebenarnya ia sudah bekerja keras membuat minimal seratus buah roti. Selain itu ia juga sibuk dengan urusan kuliah. Hanya tersisa waktu di malam hari. Tapi harus mengerjakan apa?


"Hai," sapa seseorang yang datang tiba-tiba. Tepatnya, Jasmin yang tidak menyadari jika sejak tadi ia memperhatikan Jasmin sejak gadis itu keluar dari mushalla rumah sakit.


"Kamu?" Jasmin segera memberi jarak.


"Dari tadi saya perhatikan, kamu sibuk sekali menghitung uangnya."


"Ini untuk biaya rumah sakit ayahku. Tapi masih kurang banyak."


"Bukannya kamu kuliah?"


"Ya, tapi juga harus bekerja. Aku membuat roti." dengan cepat Jasmin merogoh saku tasnya. Lalu mengeluarkan secarik kertas hasil print out.


"Roti hijrah?"

__ADS_1


"Ya. Itu nama mereknya."


"Seperti sebuah nama kedai. Ahh sudahlah. Jadi sekarang kamu sibuk jadi tukang roti juga."


"Ya seperti yang aku katakan, aku harus membayar biaya rumah sakit ayahku."


"Lalu?"


"Sepertinya dari berjualan roti belum cukup."


"Bagaimana kalau kamu bekerja dengan saya juga."


"Kerja apa?"


"Jadilah penerjemah untuk saya sebab saya tahu bahasa Inggris kamu sangat bagus. Jangan khawatir, kalau kamu bisa menyelesaikannya, saya akan bayar dengan harga tinggi."


"Berapa?"


"Proyek pertama lima juta. Bagaimana?"


"Hah, benar? Mau-mau. Alhamdulillah." Jasmin kini bisa tenang sebab sudah ada satu jalan lagi yang ia dapatkan.


"Begitu terjemahannya selesai, saya akan langsung membayarnya. Besok buku yang harus kamu terjemahkan akan saya berikan. Kita ketemu di sini lagi ba'da Zuhur. Bagaimana?"


"Baik."


"Oke, kalau begitu kita deal!"


"Ternyata kamu baik juga ya."


"Maksudnya?"


"Saat di puncak, aku kira kamu itu manusia dingin yang judes!"


"Astagfirullah. Jangan asal bicara ya."


"Habisnya waktu ketemu kamu marah-marah terus."


"Siapa suruh ganjen!"


"Enak saja."


"Hahaha. Oh ya, kamu harus semangat ya. Ingat, jangan ganjen lagi. Kalau kamu berulah seperti waktu di puncak maka aku akan batalkan kerjasama kita!"

__ADS_1


"Jangan. Aku janji nggak akan begitu lagi!"


Sepasang mata dengan kornea berwarna biru itu menatap Jasmin dengan senyuman. Ren, tidak menyadari kalau ternyata diam-diam virus merah jambu juga menyerangnya


__ADS_2