GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
Bag 6


__ADS_3

"Ren," sebuah tepukan pelan mendarat di pundak Ren, ternyata pelakunya adalah Mia. Gadis yang sudah menjalin persahabatan dengannya sejak di bangku SMA itu tersenyum manis ke arah Ren. "Pagi-pagi sudah melamun. Dari tadi kupanggil nggak jawab-jawab." cetus Mia, dengan wajah dibuat cemberut.


"Kapan kamu manggil, aku nggak dengar." kata Ren.


"Sejak di parkiran, tapi kamu jalan saja terus ke sinj. Padahal aku sudah teriak-teriak lho, sampai pak satpam bantuin manggil, tapi tetap kamu nggak dengar." ungkap Mia, sambil menjejeri langkah Ren menuju ruang dokter.


"Oh begitu. Maaf Mi, aku memang sedang memikirkan sesuatu, makanya abai dengan panggilan kamu."


"Memang lagi mikirin apa?"


"Jasmin."


"Kenapa dia?"


"Sejak semalam kami bertengkar dan aku nggak tahu lagi bagaimana cara membujuknya."


"Hei, sejak kapan kamu jadi orang yang harus membujuk. Apalagi perempuan. Kan sudah aku katakan Ren, perempuan itu sifatnya memang tukang ngambek, makanya jangan dibujuk. Cuekin saja. Nanti dia sendiri yang akan datang mengiba-iba padamu. Tapi kalau kamu bersikap sebaliknya, menunjukkan kepedulian maka ia akan menginjak-injak kamu, Re. Contohnya sekarang ini. Iya, kan?" Mia masih berusaha mempengaruhi Ren agar tak lagi memikirkan Jasmin.


"Benar juga, tapi entahlah, aku pusing!"


"Makanya jangan dipikirkan. Jadilah seperti Ren yang biasanya. Ren yanh cuek dan dingin pada perempuan sehingga kamu tak perlu berjuang untuk mereka, tapi merekalah yang berjuang mendapatkan hati kamu, Ren."


"Hmm, baiklah. Akan kupikirkan nanti."


"Jangan hanya dipikirkan nanti, Ren. Tapi jalankan. Percayalah, apa yang aku pikirkan itu benar. Apalagi aku ini perempuan, jadi tahu bagaimana karakter perempuan kebanyakan."


"Baiklah. Tapi ngomong-ngomong kapan kamu akan menikah? Ibu sudah menanyakannya. Bahkan ibu mengatakan agar aku tak berteman dengan kamu dulu sampai kamu nikah, Mia."


"Hah?" Mia terperangah mendengar kata-kata Ren. Sejak awal ia tahu bahwa ibunya Ren tidak menyukainya meski sebenarnya ia sudah berusaha mengambil hati perempuan yang sudah melahirkan lelaki yang dicintainya tersebut. Mia merasakan, berbagai cara halus selalu dilakukan ibunya Ren untuk memisahkan persahabatan mereka. Tetapi bukan Mia namanya jika harus menyerah secepat ini sebab ia sudah bertekad tak akan menikah dengan lelaki lain selain dengan Ren.

__ADS_1


"Kenapa? Aku rasa kata ibu benar, kau sudah cukup matang untuk menikah, apalagi kita sudah jadi dokter. Tunggu apalagi Mia?"


"Aku tak tahu harus jawab apa. Kukira kamu paham bagaimana aku Ren, bahwa aku tak mudah dekat dengan lelaki lain selain kamu. Maka akan sulit bagiku untuk menikah dalam waktu dekat. Aku masih ingin fokus kerja dulu. Semoga saja aku bisa segera menikah dengan lelaki yang kucintai."


"Tapi kan ada Joko."


"Hah, Joko? Apa maksudmu Ren? Bahkan untuk sekedar jadi teman saja rasanya dia tidak pantas."


"Tidak pantas? Kukira kalian cocok. Aku tahu betul karakter Joko, ia cocok denganmu. Joko itu selalu sabar menghadapi kamu, Mia. Menikah dengannya akan membuatmu bahagia. Aku sangat yakin itu!"


"Simpan keyakinanmu, aku tak ingin bahas itu lagi." kata Mia.


"Baik baik. Aku minta maaf!"


"Sudah, ayo kita ke ruang operasi saja, pasiennya sudah siap operasi."


"Oke!"


Hanya jarak beberapa meter menuju rumah Jasmjn, tapi tiba-tiba mobil Ren berhenti. Ia masih memikirkan apa yang harus dilakukannya di rumah Jasmin sebab ia dan istrinya masih bermusuhan, bahkan pesan terakhir Ren tidak dibalas olehnya. Benar-benar memancing emosi saja. Padahal Ren sudah menurunkan emosi untuk menghubungi lebih dulu.


Sejujurnya Ren tidak ingin pertengkarannya ini diketahui oleh ibu mertuanya. Ren sudah merasa malu sebab terlalu sering selisih paham dengan Jasmin. Padahal dulu ia berjanji akan bisa mendidik Jasmin dengan baik, tapi ternyata semua tak semudah yanh dibayangkan olehnya.


"Aku tak akan pulang dulu, setidaknya sampai emosiku sendiri reda." kata Ren, sembari putar balik menuju rumah ibunya.


Begitu mobil sampai di rumahnya, Ren langsung dihampiri oleh ibunya. Mungkin ia bertanya-tanya kenapa Ren datang tanpa pemberitahuan.


"Semalam Jasmin yang ke sini, sekarang kamu yang pulang. Kenapa nak? Jangan katakan kalau kamu juga mengkhawatirkan ibu seperti Jasmin semalam." cecar Alifa pada putranya.


"Jasmin? Semalam ia ke sini?" tanya Ren.

__ADS_1


"Iya. Jasmin semalam ke sini. Kamu tidak tahu? Jasmin sebenarnya mau ngabarin, tapi Hpnya ketinggalan. Ibu mau ngabarin, tapi karena keasyikan ngobrol sampai ketiduran akhirnya ibu juga lupa." jawab Alifa sambil terkekeh.


"Jam berapa Jasmin semalam ke sini?" tanya Ren lagi.


"Jam delapanan."


Ren langsung diam, ia diliputi perasaan bersalah. Bagaimana tidak, ia sudah berprasangka buruk pada Jasmin, mengira istrinya menginap di rumah Riu, padahal Jasmin ke sana hanya sebentar.


"Ren, ibu ingin tahu, apa hubungan kami dan Jasmin baik-baik saja?" tanya Alifa, sembari menatap anaknya dengan tatapan curiga.


"Hm, agak sedikit bermasalah Bu." jawab Ren.


"Apa masalah kemarin belum selesai? Pantas saja Jasmin terlihat sedih, bahkan semalam ia datang denhaj mata memerah. Ibu memang curiga ada hal buruk terjadi padanya, tapi ia tidak mau mengaku, katanya hanya rindu ayahnya saja, makanya ia menemui ibu sebab ibu adalah salah satu teman ayahnya."


"Begitulah, Bu? Lalu apa Jasmin menceritakan hal buruk tentang aku?"


"Ya Ren. Ibu harap kamu tak melukai hatinya. Jasmin tidak mengatakan apapun tentang kamu, ia hanya bilang itu sambil nangis sehingga ibu terpaksa menahannya agar tidak pulang duku sebab ibu takut terjadi apa-apa padanya, ditambah hari sudah larut."


"Bu, kalau begitu aku harus pergi dulu." Ren buru-buru mengambil tangan ibunya, ia langsung menciumnya sebelum berbalik hendak pergi.


"Ren, ibu benar-benar minta tolong, jaga Jasmin dengan baik ya!"


"Ya bu."


Mobil kembali melaju menuju rumah Jasmin. Ada penyesalan yang begitu besar di hati Ren, ia benar-benar takut jika Jasmin tak mau memaafkannya. Ren benar-benar menyesali siakpnya yang sembarang menuduh Jasmin.


"Bagaimana aku bisa sebodoh ini? Padahal Jasmin adalah perempuan terbaikku, ia tak akan mungkin melakukan dosa sembarangan. Bahkan aku juga menghina Riu dan keluarga besarnya. Sekarang aku sadar kenapa Riu begitu marah dan membenciku. Ia pasti sakit hati sekali. Ya Allah ....".


Ren terus saja melajukan mobilnya dengan kencang. Ia tak peduli jika banyak kendaraan yang dialaibnua, bahkan hampir kecelakaan. Yang terpenting baginya sekarang sampai secepat mungkin di rumah Jasmin.

__ADS_1


Tin tin tin. Suara klakson mobil terus saja berbunyi. Ren sadar bahwa ia sudah benar-benar nyetir ugal-ugalan, tapi rasanya ia tak punya pilihan selain melakoninya agar cepat sampai. Ia juga tidak peduli jika kena tilang online. Semua itu bisa diurusnya nanti, sekarang yang terpenting sampai rumah dan segera minta maaf pada Jasmin. Ia juga tidak suka jika Jasmin terus-menerus bersedih karena ulahnya.


__ADS_2