GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
15. Jimmi Dan Alifa


__ADS_3

"Tidak ... tidak ... tidak. Ibu tetap tidak boleh bertemu dengan pamannya Jasmin!" Ren bicara dengan tegas pada ibunya. Setelah mendengarkan percakapan istri dan ibunya secara tidak sengaja tentang undangan minum teh.


"Kenapa?" tanya Jasmin, yang duduk di sebelah mertuanya. Sebenarnya ia kaget sebab tertangkap basah masih terus mencomblangi ibu mertuanya dengan paman Jimmi, tapi ia merasa tak punya pilihan lain sebab Jasmin menyadari jika paman Jimmi dan ibu mertuanya sebenarnya juga mulai sama-sama saling menyukai, hanya perlu sedikit dorongan agar mereka jadi. Lalu apa alasannya menolak tugas mulia ini?


"Kenapa? Hei Jasmin, sudah kukatakan sejak kemarin, jangan coba-coba mempengaruhi ibuku, apalagi menjodohkan mereka. Aku tak akan mengizinkan ibu bersama dengan pamanmu. Paham! Kalau kau mau mencarikan jodoh untuk pamanmu, carilah perempuan single lainnya, jangan ibuku. Dunia ini cukup luas, ada banyak manusia di dalamnya, tinggal kamu tentukan mana yang cocok. Asal jangan ibuku!" teriak Ren lagi.


"Apasih Ren, kenapa harus teriak-teriak seperti itu? Ibu dan Jasmin masih bisa mendengarkan kamu. Bicara pelan-pelan saja. Lagian apa salahnya. Ibu mau bertemu Jimmi hanya untuk minum teh bersama, itu saja. Kamu terlalu berlebihan menanggapi. Iya kan menantuku?" tanya Alifa pada menantunya. Pura-pura biasa meski sebenarnya ia merasakan debaran ketika Jasmin menyampaikan undangan tersebut.


"Iya, kak Ren ini sejak kemarin marah-marah terus. Aku curiga ia sebenarnya darah tinggi. Padahal kita hanya bicara tentang undangan minum teh, tapi kalau lebih juga tidak apa-apa sih, bagus juga." kata Jasmin seolah tanpa beban.


"Ughhh, kau ini!" Ren semakin kesal. "Awas saja, kalau ada acara minum teh, akan kuberi kau pelajaran Jasmin!" ancam Ren, dengan penuh harapan agar istrinya takut dan tak mengulanginya lagi.


Tapi bukan Jasmin namanya jika harus menurut begitu saja pada sesuatu hal yang dianggapnya tidak salah.


Jasmin tetap menjadi perantara antara ibu mertuanya dan paman Jimmi. Bahkan Jasmin yang mencarikan tempat untuk mereka bertemu, menemani ibu Alifa berbelanja hingga mengatur waktu yang tepat.


"Semoga saja ini semua berhasil!" ungkap Jasmin, sembari tersenyum kecil, membayangkan keberhasilan rencananya.


***


Matahari pagi ini cukup cerah, namun dua orang yang sedang melakukan pendekatan atas arahan Jasmin merasa hari mereka jauh lebih cerah lagi, bahkan sejak awal bertemu, senyum terus tersungging di bibir Alifa dan Jimmi.


Sudah lama sekali sejak Alifa memutuskan pindah ke Australia, ia dan Jimmi tak lagi bertemu, bahkan jika Alifa kembali dan kebwtukan main ke kantor ayahnya, ia tak lagi bertegur sapa dengan Jimmi sebab mereka merasa sudah sama-sama asing karena terlalu lama tak berjumpa dan tak lagi saling berkirim kabar.


Sebenarnya, sejak dulu Alifa sudah menyukai Jimmi, hanya saja ia menahan perasaannya tersebut, sebab mimpinya menjadi pengacara hebat jauh lebih besar ketimbang cinta-cintaan ala anak-anak muda, apalagi saat itu Alifa juga tahu kalau Jimmi tampak fokus dengan pendidikannya sebagai calon kepala polisi.

__ADS_1


Perasaan suka tersebut dipendamnya, sempat terpikir kelak akan mengungkap jika ia merasa sudah cukup dewasa', tapi ternyata, perasaan itu akhirnya hilang juga bersamaan dengan perkenalannya dengan seorang lelaki berkebangsaan Australia, lelaki itu berhasil menggoyahkan posisi Jimmi di hati Alifa.


Hingga akhirnya Alifa memutuskan menikah muda sebelum ia menamatkan kuliahnya.


Berbeda dengan Jimmi, sejak awal ia hanya sebatas kagum oada putri tunggal atasannya tersebut. Jimmi menilai bahwa Alifa adalah perempuan muda yang tangguh. Meskipun ia putri orang kaya, tapi selalu mengandalkan kemampuan pribadinya. Semnetara hati Jimmi sendiri sudah terpaut sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pada Yasmin, gadis saliha yang akhirnya dinikahi oleh saudara tirinya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Jimmi, membuka pembicaraan setelah akhirnya mereka berdua ditinggalkan oleh Jasmin. Keponakannya itu memang pintar membuat mereka menjadi begitu dekat. Setelah membuat janji, lalu meninggalkan berdua agar leluasa berbicara.


"Alhamdulillah, seperti yang kau lihat." ucap Alifa, yang jauh lebih bersemangat meski sekarang usianya sudah memasuki kepala lima.


"Aneh sekali, bukan. Dulu tak terpikirkan untuk duduk berdua di salah satu cafe seperti ini, sekarang malah melakukannya saat kepala kita mulai memutih oleh uban." kata Jimmi sambil terkekeh. Sejujurnya ia agak sedikit grogi, sebab debaran aneh di dadanya. Apakah benar yang dikatakan Jasmin bahwa itu cinta? Jimmi memang pernah suka pada seorang perempuan, tapi, setelah Yasmin menikah dan memiliki putri, perasaan itu lambat lain sirna juga, hingga sekarang tak lagi berbekas.


"Iya. Ini semua gara-gara Jasmin, anak itu benar-benar luar biasa. Semangatnya untuk menjodohkan kita tak kenal menyerah meski putra ku berulang kali memperingati Jasmin." Alifa ikut terkekeh.


"Apa ini tidak apa-apa dengan pernikahan mereka?" Jimmi agak sedikit khawatir, meski belum tahu seratus persen, tapi Jimmi sudah mendengar sedikit kabar bahwa pernikahan Jasmin dan Ren sedang tidak baik-baik saja.


"Anak?"


"Ya, anak. Cucu-cucu ku."


"Tapi kenapa mereka belum punya anak juga?"


"Entah, itu urusan mereka dan aku memutuskan jadi mertua yang tak mau ikut campur tangan urusan anak dan menantuku. Rumah tangga mereka biarlah jadi urusan mereka, biar mereka yang bertanggung jawab.


Jadi, bagaimana dengan rumah tangga kita nantinya?" tembak Alifa secara langsung kepada Jimmi sehingga membuat bekas polisi di hadapannya itu gelagapan.

__ADS_1


"Rumah tangga kita?".


"Ya. Rumah tangga kita. Kamu tahu kan apa yang jadi harapan Jasmin dengan mempertemukan kita seperti ini. Tidak mungkin hanya sebatas agar kita berkencan layaknya anak muda. Tapi pernikahan."


"Kau yakin menikah denganku, setelah semua perjalanan hidupku yang cukup ribet?"


"Yakin-yakin saja."


"Kau percaya diri sekali, Alifa. Padahal menikah itu tidak mudah, kan?"


"Juga tidak terlalu sulit. Aku pernah menikah dan pernah gagal, jadi tahu sedikit banyak tentang pernikahan. Apalagi sudah lebih lima belas tahun menjadi janda. Satu lagi, ayahku sudah tujuh puluh tiga tahun, kalau kau memang ingin menikahiku, cepat-cepatlah agar merasakan jadi menantu ayahku, dan ia bisa menuliskan namamu di daftar nama ahli waris."


Mendengar celotehan akhir Alifa, mereka berdua tertawa serentak.


"Alifa ... bagaimana dengan putramu?" pertanyaan yang diajukan Jimmi membuat Alifavterdiam, tapi hanya sesaat sebab kemudian ia kembali tersenyum.


"Kau harus bisa meyakinkannya, bahwa kau akan jadi suami yang baik untukku." cetus Alifa.


"Oke, jadi suami yang baik. Jadi aku harus berjuang sendiri untuk mendapatkan izinnya?" tanya Jimmi, yang dijawab dengan anggukan.


"Aku dan menantuku sudah berusaha keras untuk mendapatkan izinnya, sekarang giliranmu!"


"Baiklah, aku akan mencoba. Kalau begitu, kapan aku bisa mulai melakukan pendekatan pada Ren, calon anak tiriku?"


"Terserah."

__ADS_1


Jimmi menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua kembali melanjutkan pembicaraan ringan tentang rencana pernikahan. Bagi mereka yang sudah tidak muda lagi, ini seperti sebuah tantangan, mungkin orang-orang akan menganggap aneh sebab baru menikah lagi di usia yang sudah tidak muda lagi, tapi bagi Alifa dan Jimmi ini adalah sesautu yang unik dan mereka begitu tertarik untuk melaksanakannya.


__ADS_2