GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
27. Riu Menentukan Pilihan


__ADS_3

"Jujurlah Riu." pinta Riana pada putranya. Entah mengapa Riana begitu terobsesi pada Raisya. Ia merasa gadis itu bisa emmberi warna cerah dalam hidup putranya. Lagipula ia sudah tak sabar ingin segera punya menantu, apalagi dapat bonus cucu.


"Apa Bu?" Riu malas-malasan membahasnya.


"Kenapa tidak menerimanya saja?"


"Terima apa? Terima cintanya maksud ibu? Lalu pacaran? Ibu tahu kan hukumnya pacaran? Kita sudah memutuskan hijrah, Bu. Jadi jangan setengah-setengah."


"Kalau begitu nikahi dia."


"Nggak Bu."


"Riu ... kenapa sih? Ibu mau Raiysa yang jadi malenantu ibu. Ayolah Riu. Tolong kabulkan permintaan ibu. Masa kamu tega sih menolak ibu, kan ibu jarang-jarang minta sama kamu."


"Bu ... aku,"


"Kenapa?"


"Ya, aku memang menyukainya Bu. Tapi aku takut kalau perasaan itu hanya pelarian saja sebab sifat Raisya sama persis dengan Jasmin, ceplas-ceplos dan apa adanya. Aku takut memulai semuanya meski sebenarnya pak kyai sudah memberikan isyarat agar aku melamar putrinya tersebut.

__ADS_1


Bagaimana kalau ternyata aku tak benar-benar mencintai Raiysa, tapi karena bayangan Jasmin saja? Bagaimana hu? Apa itu tidak menyakiti Raisya namanya? Kalau ia tahu pasti akan sangat hancur sekali. Aku tak ingin membuat perenpuaan menangis, Bu. Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Kita benar-benar marah saat Ren menyakiti Jasmin, aku tak mau kita melakukan hal yang sama pada perempuan lain. Apalagi Raiysa itu anak baik-baik, ayah ya juga orang salih, kasihan kalau tersakiti."


"Riu!" Riana memeluk putranya. Ia tak menyangka segini dalamnya cinta Riu untuk Jasmin. Hingga ia ingat tentang Qret, bagaimana ia pun dahulu sangat mencintai ayahnya Jasmin. Perasaan yang akhirnya membuat Riana bertepuk sebelah tangan sebab Qret memilih Yasmin. Tetapi ia juga berharap putranya bisa move on. Harus ada sosok yang menggantikan posisi Jasmin di hati Riu. "Boleh ibu tanya satu hal?"


"Apa Bu?"


"Kau sudah berkorban banyak untuk Jasmin. Bahkan rela melakukan apapun agar ia bahagia. Apakah kau juga tak ingin bahagia?"


"Seperti siapa? Jasmin? Ibu tahu rumah tangganya sedang dalam masalah besar. Ren tak kunjung memandang Jasmin."


"Tapi Riu ... Jasmin sudah punya Ren yang akan bertanggung jawab penuh padanya. Lalu kau sendiri mau sampai kapan tetap menyendiri? Aku juga ingin punya cucu Riu. Jadi tolong, buka hatimu untuk Raisya. Apakah gadis itu tak bisa menggantikan Jasmin? Apakah kau benar-benar tak ingin memulai semuanya dari awal lagi? Kau juga tahu kan Riu, Ren cemburu padamu, itu jadi salah satu penyebab pertengkaran di rumah tangga mereka.


Meski begitu, ibu sangat yakin kalau Ren juga mencintai Jasmin. Ia adalah putranya Alifa, sangat bertanggung jawab. Lepaskan Jasmin, Riu. Bebaskan hatimu dari bayang-bayangnya. Cobalah bahagia dengan perempuan lain yang belum terikat pernikahan, seprti Raisya.".


"Kalau sekarang memang belum jatuh cinta, apa kau tak yakin jika nanti menikahinya bisa jatuh cinta padanya?" Tanya ibunya lagi.


"Entahlah Bu." Riu membuang muka, ia tak ingin memikirkan pertanyaan ibunya sebab ia takut mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan apa yang diinginkannya.


"Riu, mau kuberi tahu tentang sebuah cerita? Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan namun pada akhirnya aku memiliki anugerah terindah karena hal tersebut."

__ADS_1


"Apa itu Bu?"


"Riu ... dulu, beberapa tahun lalu, akupun merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan. Aku jatuh cinta pada kakak angkatnya sendiri, tapi ia menyukai perempuan lain dan menikah dengan perempuan pilihannya. Karena cinta tak terbalas itu, aku menyakiti diriku sendiri, aku bahkan menyakitinya hingga ia di penjara. Kupikir, setelah itu aku tak akan pernah bahagia lagi, tapi siapa sangka, setelah aku memohon ampunan dari Tuhan karena sudah melakukan hal buruk pada diri sendiri dan orang lain, akhirnya Tuhan membuka hatiku untuk ayahmu. Aku hingga saat ini sangat mencintai ayahmu, bahkan mungkin hingga menutup mata. Padahal ia bukanlah lelaki yang kuharapkan di awal, bahkan aku ragu bisa mencintainya atau tidak. Hanya saja, aku niatkan diri menikah untuk ibadah, aku melepaskan segala ego dan hasilnya aku bahagia. Kebahagiaan itu bertambah setelah aku mendapatkan kamu, Riu. Karena itu, kamupun harus mencoba langkah ibumu ini!"


"Bu," Riu menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Apa yang dikatakan ibunya benar, kenapa tak mencoba? "Tapi ngomong-ngomong, bagaimana dengan bibi Yasmin? Apakah bibi baik-baik saja? Kenapa bibi sakit lagi?"


"Itulah, bibimu masih kepikiran dengan Jasmin. Ia sepertinya kembali terbebani seperti saat pamanmu sakit. Ibu takut kondisinya Yasmin makin melemah. Apalagi sudah beberapa bulan ini ia tak kontrol lagi ke dokter. Ada saja alasan Yasmin jika ibu mengajaknya. Apa mungkin ia kehilangan semangatnya lagi. Apalagi akhir-akhir ini ia sering diam melamun."


"Lalu apakah kita harus memberitahu Jasmin tentang kondisi bibi?"


"Jangan dulu, ibu takut Jasmin ikut kepikiran. Biarkan ia tenang menyelesaikan masalahnya dengan Ren. Kita saja yang menjaga Yasmin di sini. Toh, yang membuat kondisi Yasmin memburuk adalah karena masalah dalam rumah tangga Jasmin. Makanya lain kali tak perlu memberi tahu Yasmin hal-hal buruk yang terjadi antara anak dan menantunya. Kita hibur saja ia dengan cerita menyenangkan agar Yasmin bahagia."


"Baiklah Bu. Lalu bagaimana? Apa kita bawa bibi ke kota?"


"Tunggu bibimu bangun dulu. Ibu takut salah ambil keputusan sebab khawatir Yasmin marah."


Ibu dan anak itu kembali fokus mengurus Yasmin. Diam-diam mereka saling berpikir. Riana merasa sedih melihat kondisi Yasmin saat ini. Ia merasa sahabatnya ini semakin hari semakin murung, sejak Qret pergi untuk selamanya, kebahagiaannya seolah hilang. Sementara Riu malah memikirkan hal lain, ia takut jika ternyata benar keberadaannya membuat jarak antara Ren dan Jasmin.


"Bu, aku pergi sebentar." Riu segera berlalu ke arah pesantren. Sampai di sana ia terus menuju ruangan pak kyai. Di depan ruangannya, Riu sempat melihat Raisya melintas bersama temannya, mereka saling beradu pandang.

__ADS_1


Ces, ada sesuatu di sini saat Raisya buru-buru mengalihkan pandangannya. Hati Riu berdebar tak karuan. Apa ini efek pembicara dengan ibunya tadi? Semoga saja ia tak salah membuat keputusan.


"InsyaAllah keputusanku ini tak akan salah, ia adalah orang yang tepat. Ia akan menjadi sumber kebahagiaan untukku. Bismillahirrahmanirrahim." Riu mengetuk pintu ruangan pak kyai dengan hati berdebar-debar.


__ADS_2