GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
85. Pesta Penyambutan


__ADS_3

[Qret, sudah berangkat atau belum?] pesan dari ibu masuk ke hpku, membuyarkan lamunan kami.


[Ini sedang di jalan, Bu. Sekitar sepuluh menit lagi insyaAllah kami sampai.] aku membalas pesan ibu.


Sejak pagi ibu memang sudah menanyakan kepulangan kami. Entah sudah berapa banyak pesan yang ibu kirimkan. Mempertanyakan kepastian kapan kami pulangnya.


Aku menebak, mungkin ibu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Yasmi. Sejak awal ibu Memang excited sekali terhadap Yasmin.


"Ibu sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu." kataku pada Yasmin.


"Aku juga." Yasmin tersenyum ke arahku. Meski begitu aku bisa melihat jelas mendung yang ia coba sembunyikan, pasti karena belum bisa melupakan kesedihannya berpisah dengan pak Bimo.


"Masih kangen ayah?" tanyaku.


"Enggak,"


"Padahal kalau kangen, besok mau diajak menemui pak Bimo."


"Iya, kangen banget."


"Tuh kan," aku menyolek lembut hidung Yasmin. Baru kusadari kalau ia memiliki hidung yang cukup mancung.


Di depan rumah taksi online berhenti. Usai membayar, kami berdua turun. Tetapi sepertinya rumah sepi. Tidak ada tanda-tanda di dalam ada ayah dan ibu.


Aku memencet bel beberapa kali. Tetapi tetap tidak ada tanda-tanda akan dibukakan pintu. Kemudian aku mengajak Yasmin ke rumah sebelah, rumah paman Rudi dan Riana. Sama saja, pintu terkunci rapat.


"Sepertinya ayah dan ibu pergi. Paman Rudi dan Riana juga." kataku pada Yasmin. "Mungkin cuma beli makan atau belanja sebentar, soalnya tadi aku sudah mengabari kalau kita sudah di jalan." kataku pada Yasmin yang mulai duduk di beranda.


Aku menelepon nomor ayah dan ibu secara bergantian. Tidak ada jawaban. Lalu mengirim beberapa pesan, mengabarkan kalau kami sudah di depan rumah.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Yasmin.


Wajahku langsung memucat, khawatir dengan keselamatan ayah dan ibu. Apalagi Paman Rudi dan Riana juga ikut-ikutan menghilang.


Aku memang masih bersiaga setelah apa yang dilakukan Jimmi kemarin, meski berharap ia tidak nekat lagi, tapi tidak ada salahnya tetap siaga.


Tet tet teeettt tettt. Tiba-tiba terdengar suara terompet ditiup. Aku dan Yasmin berbalik menuju arah suara dan betapa terkejutnya kamu mendapati orang-orang berada di dalam rumah yang sudah didekorasi penuh dengan pita berwarna-warni. Semua orang yang hadir juga mengenakan pakaian berwarna senada.

__ADS_1


"Selamat datang pengantin baru!" seru mereka, bersamaan.


Ada ayah, ibu, paman Rudi, Riana, Deni, Jack, juga teman-teman rules. Mereka langsung menghambur, memelukku erat secara bergantian.


"Akhirnya mantan ketua kita tidak jomblo lagi." ungkap mereka, sambil mencandaiku.


"Jomblo sampai halal!" seru yang lainnya.


"Qret memang tauladan kita!" sambung yang lain.


"Ini semua apa?" tanyaku, masih kaget mendapati pesta penyambutan yang sama sekali tidak kuketahui. Entah ini ide siapa, tapi semua orang yang berarti di hidupku tengah berkumpul bersama.


"Kami merancang pesta penyambutan. Sebenarnya pesta ini bukan untukmu, Qret. Tapi untuk Yasmin." Riana langsung membentangkan tangannya, menyambut Yasmin dalam pelukan.


"Yas, Qret ... ayo masuk." panggil ibu. "Duduklah di sini, anggap ini sebagai pemanasan sebelum kita mengadakan pesta sesungguhnya di akhir bulan nanti." ungkap ibu.


"Segini saja sudah meriah, Bu." kata Yasmin.


"Nanti akan lebih meriah lagi, Yas. Kita sudah merencanakan pesta yang meriah untukmu dan Qret." celetuk Riana. "Bibi ingin pesta terbaik untuk kalian sebab bibi begitu senang karena akhirnya kau jadi anggota keluarga baru di keluarga ini."


Semua orang berbaur, menikmati makanan yang terhidang di meja. Sesekali terdengar senda gurau dari mulut Riana. Ia memang paling bisa membuat suasana semakin hidup. Apalagi kalau sudah sahut-sahutan dengan Deni.


"Qret, kudengar kau menghadiahkan Yasmin dengan hafalan surat Ar Rahman?" tanya Deni, saat kami menikmati bakso.


"Iya," jawabku, sambil menyendok bakso ke dalam mulut.


"Ajari aku Qret," punya Deni.


"Pasti Den. Hanya saja hafalanku tidak sebanyak yang diminta oleh peman."


"Aku sudah mencoba, tetapi malah membuatku tambah kacau." Deni terlihat semakin frustasi.


"Kacau bagaimana?"


"Aku semakin resah, sementara hafalan tidak ada yang masuk dalam ingatanku."


Aku memahami kondisi Deni, ia menghafal dalam tekanan, sementara aku menghafal dengan kerelaan. Tentu saja kondisi psikologis kami berbeda, sehingga hasilnya pun akan berbeda.

__ADS_1


"Apa aku sebaiknya menyerah saja?" ungkap Deni.


"Kenapa begitu?" aku menatap Deni, khawatir bahwa ia sungguh-sungguh mau mundur. Ia dan Riana akan merasakan penderitaan. Riana sudah terlanjur jatuh cinta pada Deni, sementara Deni jika sudah menyukai seseorang maka ketika ia kehilangan akan benar-benar terlihat frustasi.


"Aku mungkin tak akan sanggup." Deni menggelengkan kepalanya. Wajahnya tampak semakin kusut.


"Kau mau menyerah? Berarti hanya sampai segitu perjuanganmu untuk mendapatkan Riana?" aku mempertanyakan keseriusan Deni.


"Sulit Qret untuk memenuhi permintaan pak Rudi. Aku bukannya tidak mau berjuang. Justru aku begitu bersamangat. Tetapi aku sadar diri Qret, betapa banyaknya dosa-dosa ku, sehingga akan sulit untuk memasukkan Qur'an yang suci ini dalam ingatanku.


Aku juga khawatir, jika Riana terlalu lama menanti, tetapi penantiannya hanyalah sebuah kesia-siaan saja. Apakah itu tidak akan menyakitinya dua kamu, Qret? Jadi lebih baik aku mundur dari sekarang agar perasaan kami sama-sama tidak terlalu dalam." ungkap Deni.


Ya Allah ... aku tidak tahu harus bicara apa. Disatukan sisi aku menyadari betapa pesimisnya Deni, tapi sikapnya itu bukan tanpa alasan. Aku pernah ada di posisi itu. Merasa tidak pantas untuk Yasmin. Beruntung Allah masih memberikan kesempatan untukku hingga akhirnya kami dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.


Proses menghafal surat Ar Rahman juga tidak mudah untukku. Entah betapa banyak air mata yang tumpah sebab rasa berdosa dan tidak berharga ketika mentadabburi ayat-ayat Allah yang begitu suci.


"Lalu apa rencananya selanjutnya?" Tanyaku.


"Mungkin akan pergi jauh."


"Kemana Den?"


"Entah, kemana saja, asal Riana tidak menemukanku agar ia bisa lekas melupakanku."


"Kau kira itu akan jadi solusi untuk masalahmu?"


"Hanya itu yang bisa kupikirkan, Qret."


"Apakah aku boleh ikut campur tangan?"


"Caranya?"


"Aku akan bicara pada paman Rudi, barangkali ada solusi untuk maslahat kalian? Bukankah kalian sama-sama saling mencintai? Seharusnya paman Rudi tidak mempersulit.".


"Itu haknya, Qret."


Rasa bahagia yang tadi sempat terasa kini berganti dengan gelisah. Tiba-tiba aku berdoa, jika nanti punya anak perempuan dan datang seorang lelaki untuk melamarnya, aku tidak akan mempersulit mereka. Berubah jadi lebih baik bisa dilakukan sama-sama.

__ADS_1


__ADS_2