
Tidak sulit bagi seorang Jasmin untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi negeri terbaik dengan jurusan yang diminati ribuan bahkan mungkin lebih, penduduk negeri ini sebab IQ Jasmin cukup tinggi. Nilai-nilainya juga selalu terbaik nomor satu.
Kini, ia sudah memakai seragam putih hitam, kayaknya anak ospek lainnya. Tetapi pikiran Jasmin kemana-mana. Matanya pun terus mengamati setiap sudut kampus.
"Harusnya hari ini ia ada di kampus. Kenapa belum kelihatan juga?" Jasmin membatin.
"Hai, kamu, gadis manis yang sedang melihat ke kiri dan kanan!" panggil kakak senior.
"Saya?" tanya Jasmin, sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Kamu lihat apa?"
"Saya bukan gadis manis, kak. Tapi cantik!" Jasmin menegaskan, diikuti senyum dari sang senior yang sejak awal sudah dicuekin Jasmin.
Gadis itu memang tidak peduli dengan lelaki manapun sebab pilihannya sudah jatuh pada mas Ren, si dokter koas.
"Hei, mas Ren!" panggil seorang perempuan.
Pandangan Jasmin langsung tertuju saat mendengar nama pemuda yang sudah merebut hatinya itu disebut.
Senyum Jasmin langsung terkembang saat ia bisa melihat sosok Ren sedang berbincang dengan seorang mahasiswi senior.
"Hai dokter koas!" sapa Jasmin tanpa sungkan sedikitpun sehingga menarik perhatian semua orang.
"Kamu?" Ren tampak kaget mendapati Jasmin di kampusnya. "Sedang apa kamu di sini?"
"Membuntuti mas Ren."
"Apa?"
"Iya. Aku sudah tahu semua informasi tentang mas Ren. Jadi mulai sekarang mas Ren harus mempersiapkan diri sebab kita akan sering bertemu!"
"Ya Tuhan. Kamu kenapa sih?"
"Aku suka sama mas Ren."
"Astagfirullah. Ini enggak lucu. Siapa nama kamu?"
"Jasmin. Jasmin Aurora."
"Nah, Jasmin, tolong jangan ganggu saya sebab saya tidak suka dengan perempuan ganjen seperti kamu."
"Saya enggak ganjen kok. Cuma agak sedikit agresif. Tapi kalau mas Ren nggak suka, ya sudah. Saya bisa merubah sikap saya. Tenang, sikap bisa dirubah kok. Yang enggak bisa dirubah itu karakter!"
"Ahhhh terserahlah!"
__ADS_1
"Terus?"
"Terus apa lagi, Jasmin?"
"Bagaimana caranya supaya aku bisa dapatkan nomor telepon, mas?"
"Ahhhh tau deh. Kan sudah saya katakan, jangan ganggu saya!"
Lelaki itu segera berlalu meninggalkan Jamsjn, sementara Jasmin tersenyum penuh kemenangan sebab apa yang ia harapkan kini terwujud. Bisa satu sekolah dengan Ren. Kini tinggal mewujudkan jadi kekasih hati Ren.
***
Pukul lima sore, saat Jasmin baru sampai di rumah. Tiba-tiba panggilan. Ibu menyadarkannya dari lamunan tentang dokter Ren.
"Jas, kamu sudah balas email dari Riu belum?" tanya ibu.
"Email? Jasmin enggak tahu." jawabnya dengan santai.
"Ada, Riu ngirim email untuk kamu. Ayo dibalas."
"Jasmin malas bu. Lagian sudah lupa password-nya."
Gadis itu buru-buru masuk ke dalam kamarnya sebelum ibunya mengomel dan memaksa agar Jasmin membalas pesan-pesan dari Riu.
Kalau saja Riu tidak mengirimkan pesan yang menjemukan berisi tausiah yang harus dipatuhi oleh Jasmin, mungkin ia tak akan malas membalas pesannya. Tetapi Riu terlalu membosankan baginya.
***
Sudah dua kali dalam waktu yang begitu dekat, Jasmin mendapati orang yang ia sayangi jatuh pingsan. Kemarin kakek, dan sekarang adalah ayahnya sendiri.
Dengan berlinang air mata, mereka membawa Qret ke rumah sakit. Tadi pagi, usai Subuh, Qret memang mengeluhkan pada Yasmin bahwa dadanya sakit. Sesak sekali, hingga akhirnya ia jatuh pingsan. Kata dokter jantungnya bermasalah.
"Kau lihat ayahmu, Jasmin. Ia bekerja terlalu keras, makanya jatuh sakit seperti itu." tutur Yasmin, saat mereka duduk bersisian di samping tempat tidur Qret. "Mulai sekarang jangan membuta ulah lagi. Sekolah yang benar. Kau harus jadi dokter agar ayahmu bangga. Ingat, biaya kuliah di kedokteran tidaklah murah, makanya kamu harus sungguh-sungguh!" Yasmin menekankan.
"Iya, Bu. Aku mengerti." Jasmin mengangguk.
"Aku harus pulang sebentar untuk mengurus penjualan roti, kamu bisa diandalkan menjaga ayahmu, kan?" tanya Yasmin lagi.
"Iya. Ibu tenang saja. Aku akan menjaga ayah."
Setelah Yasmin pergi, Jasmin menatap ayahnya yang masih tidak sadarkan diri. Ada rasa rindu yang terasa saat mereka menghabiskan waktu bersama. Jasmin memang lebih dekat dengan ayahnya, baginya, ayah adalah segalanya. Tetapi sekarang ia tidak bisa berbincang dengan ayahnya sebab sakit yang diderita.
Dua jam setelah pergi, Yasmin kembali. Ia menatap layar hp berisi pesanan untuk besok. Sebenarnya Yasmin ingin menolak semua pesanan tersebut dan fokus mengurus suaminya, tetapi ia menyadari butuh banyak uang untuk biaya rumah sakit dan juga kuliah Jasmin yang tidak murah.
"Ibu, boleh aku saja yang berdagang?" tanya Jasmin.
__ADS_1
"Kamu tidak kuliah?" tanya Yasmin, sambil menyelesaikan catatannya.
"Kuliah, Bu. Tapi aku mau libur saja."
"Kamu bagaimana sih, kan baru ibu katakan untuk mementingkan pendidikanmu. Sekarang malah mau bolos!"
"Maaf Bu."
"Ahh sudahlah. Kenapa sih, Jas? Kamu selalu saja membuat ibu marah dan jengkel. Cobalah bersikap sewajarnya. Jangan membuat masalah terus."
Sebenarnya Jasmin juga sudah kesal sebab selalu saja disalahkan oleh ibunya. Ia berpikir kalau tidak ada Riu maka ibu akan lebih memperhatikannya. Ternyata sama saja.
"Aku salah terus!" ungkap Jasmin.
"Sebab kamu tidak mau mendengarkan ibu. Kamu hanya melakukan sesuatu sesuai keinginanmu."
"Bu, ayah sedang sakit. Tidak sadarkan diri. Bagaimana aku bisa fokus untuk belajar kalau kondisi ayah membuatku sedih."
"Tapi kalau bekerja kamu bisa fokus? Ya ampun, Jas. Sebenarnya apa tujuanmu? Ibu sudah bernafas lega saat kamu katakan mau kuliah di kedokteran, tetapi sekarang malah mau berhenti."
"Ahhhh terserahlah, ibu tidak pernah sayang padaku. Ibu egois, hanya mementingkan diri sendiri!" Jasmin berlalu dari rumahan ayahnya. Ia benar-benar kesal, gadis itu bahkan mengabaikan panggilan ibunya. "Biarkan saja ibu berpikir, rasakan bagaimana kalau tidak ada aku!" ungkap Jasmin.
Jasmin berjalan di koridor rumah sakit dengan hati jengkel. Sebenarnya ia sangat marah pada ibunya. Ia tahu bahwa ibunya lelah dan juga panik, tetapi harusnya saat seperti ini mereka berdua sebagai orang terdekat ayah bersatu melakukan yang terbaik untuk ayah, bukan saling menyalahkan.
"Ihhhhhh, kesal!" Jasmin meneteskan air mata. Ia benar-benar merasakan sesak.
"Hei, kamu baik-baik saja?" tanya seseorang dari belakang.
"Hah, dokter koas!" Jasmin memekik.
"Kamu menangis?"
"Bukan urusan anda. Pergilah, aku hanya ingin sendiri!"
"Aku tak menyangka, orang secuek kamu ternyata bisa menangis juga."
"Hei, aku juga manusia!"
"Kamu sedang apa di sini? Jangan bilang membuntuti. Lalu kenapa menangis?"
"Bisa tidak tanyanya satu-satu!"
"Iya iya "
"Kali ini aku tidak sedang membuntutimu dokter koas. Aku sedang menunggui ayahku yang koma karena jantung.
__ADS_1
"Astagfirullah. Kamu yang sabar ya."
"Hm."