
Selama sepekan Deni tidak masuk kerja. Sebab masih dalam masa duka. Setiap hari kami setia mengunjunginya, usai pulang kerja. Ada juga anak-anak rules yang setia di tempat Deni guna menghiburnya, sekedar menjadi teman ngobrol.
Deni masih terlihat amat berat melepas kepergian ayahnya. Ia mengaku baru merasakan kasih sayang seorang ayah di usianya yang menginjak angka tiga puluh tahun. Aku cukup tahu seluruh masa lalu Deni, ia memang tidak pernah mendapatkan figur ayahnya.
"Indah sekali Qret, saat ayahmu mengusap lembut kepalamu. Padahal dulu tidak pernah kau rasakan " ucap Deni dengan suara lirih.
Tiap hari, selama sepekan ini kami memang setia mengunjungi Deni, sekedar untuk menghiburnya. Usai pulang kerja.
"Aku bahkan bertekad Qret, kelak akan sering mengusap kepala anak-anakku agar mereka bisa mengenangku selamanya." tambah Deni.
"Memang indah ya Den. Akupun merasakan apa yang kau rasa. Kini dengan bersama mereka, kenangan buruk di masa lalu perlahan terkikis dengan kenangan indah yang mungkin tidak seberapa dengan kenangan lalu." kataku.
Langit telah berubah menjadi gelap, kami kembali pamit. Rencananya besok Deni akan mulai masuk kerja. Ia tidak ingin tetap larut dalam kesedihan. Deni ingin melanjutkan kehidupannya kembali.
"Setidaknya, aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk ayah. Mungkin inilah yang terbaik dari Allah." ungkap Deni, saat kami berjabat tangan sebelum aku pamit.
***
Dari kaca kamar kantor, aku bisa melihat ibu yang sejak tadi mondar-mandir di luar, seperti begitu resah. Antara mau masuk ke dalam, tetapi ragu-ragu.
"Ibu kenapa?" tanyaku, yang sudah berdiri di depan pintu kamar kantorku.
"Astagfirullah Qret," ibu nyaris melonjak karena kaget, tidak menyadari keberadaan ku.
"Ibu kenapa dari tadi mondar-mandir?"
"Lho, kamu ngelihat ibu?"
"Itu, dari kaca."
"Oh iya." ibu menepuk pelan keningnya.
"Ada apa bu?"
"Sebenarnya ibu mau bicara,"
"Kenapa tidak langsung masuk saja. Qret kan ada di dalam."
__ADS_1
"Ibu ...."
"Ya sudah, ayo masuk." aku mengajak ibu masuk ke dalam. Lalu duduk di sofa. "Ibu mau bicara apa? Tidak perlu ragu, Qret kan anak ibu."
"Itu Qret," Ibu mencintai-Nya lengan bajunya.
"Kenapa Bu? Masa sungkan bicara dengan anak sendiri?"
"Sebenarnya ibu dan ayah ingin pindah Qret."
"Pindah? Kemana Bu? Ibu sudah tidak nyaman tinggal di sini?"
"Bukan seperti itu Qret. Sebenarnya ibu dan ayah suka sekali tinggal denganmu. Apalagi sekarang ada Yasmin juga. Tapi ...,"
"Tapi kenapa Bu?"
"Qret, ibu dan ayah ingin sekali tinggal di tempat ya g aksi impian kami untuk menghabiskan masa tua. Kami ingin merasakan kehidupan yang lebih tenang lagi. Jauh dari mantan istri ayahmu. Mungkin dengan demikian kami bisa tenang."
"Tapi kemana Bu?"
"Ayah dan ibu ingin tinggal di puncak Bogor, Qret. Ada rumah mungil dengan pekarangan luas yang bisa kami jadikan kebun. Dekat juga dengan pondok pesantren sehingga setiap hari kami bisa ikut kajian untuk mengisi waktu luang. Boleh kan Qret?" ibu menatapku penuh harap. "Kami sudah berencana menjual rumah ibu yang lama. InsyaAllah uangnya cukup untuk membeli rumah impian kami dan biaya hidup kami sementara. Nanti kami akan berkebun. Hidup sederhana, tapi penuh kebahagiaan."
"Belakangan ini kamu sibuk sekali Qret, ibu takut mengganggu."
Aku memijit pelan keningku, sejujurnya agak kaget mendapati keinginan ayah dan ibu yang mau pindah.
Baru saja merasakan punya ayah dan ibu, kini mereka ingin hidup terpisah denganku. Tetapi aku tidak bisa menyangkal sebab alasan ayah dan ibu benar. Di sini mereka mungkin mulai bosan sebab tidak tahu harus mengerjakan apa. Nyaris tanpa kesibukan yang berarti. Urusan rumah sembilan puluh persen sudah dihandle oleh Yasmin. Ibu benar-benar tidak mendapatkan jatah apapun.
Sementara ayah lebih menyedihkan lagi. Untuk keluar kemana-mana di sini juga susah. Di kota besar seperti tempat tinggal kami masih banyak orang-orang yang mengenal ayah. Jadi kalau mau keluar harus sembunyi-sembunyi.
Aku juga mengajak ayah bicara. Menanyakan kesiapan mereka. Tentu saja jawaban ayah dan ibu membuatku makin tercengang. Mereka siap pindah dalam pekan ini juga sebab rumah ibu ternyata sudah terjual, sementara tempat yang ingin ditinggali ayah dan ibu juga tinggal pelunasannya saja karena mereka berdua sudah membayar uang mukanya.
"Ayah dan ibu benar-benar tidak menganggap Qret," kataku, sambil menundukkan kepala.
"Bukan begitu Qret," ibu menyangkal. Tetap mengatakan bahwa keputusanku adalah yang paling utama. Mereka tidak akan pindah sebelum aku menyetujui. "Itu adalah bukti bahwa kamu begitu penting di hidup kami." kata ibu.
"Kalau kau tidak istimewa, mana mungkin ibumu sampai bimbang seperti ini. Kau tahu, tiga hari terakhir ini bahkan tidur ibumu tidak nyenyak. Selalu saja bertanya, apakah kau akan mengizinkan kami atau tidak. Lalu jika aku jawab iya, maka ia akan mengeluh, bagaimana jika merindukanmu. Ayah sampai bingung harus menjawab apa. Sebab salah-salah, tahu sendiri, kan. Ibumu akan ngambek." ayah meledek ibu yang masih terlihat muram.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Meskipun berat, aku tidak masalah jika ayah dan ibu ingin pindah ke Bogor. Tapi aku ingin kabar yang intens dari ayah dan ibu. Kami juga akan berusaha mengunjungi sesering mungkin." kataku.
"Benarkah Qret?" ibu langsung tersenyum bahagia.
"Tuh kan, sebenarnya ibu ingin jauh dari Qret, kan?" aku pura-pura merajuk.
"Bukan begitu Qret, aku hanya ...," ibu langsung mendekatiku.
"Iya iya. Qret faham. Qret hanya bercanda Bu." aku mengusap pelan punggung ibu.
Usai berbincang dengan ayah dan ibu, aku langsung ke kamar. Sementara kedua orang tuaku mulai mempersiapkan rencana kepindahan mereka.
"Kok murung gitu?" tanya Yasmin, yang sibuk menyibak selimut.
"Ayah dan ibu ingin pindah." kataku.
"Hah, kemana?"
"Ke puncak Bogor."
"Tapi kenapa? Apakah ibu tidak nyaman karena ada aku di sini?"
"Bukan. Ibu justru senang kau di sini."
"Lalu kenapa?"
"Mereka ingin menghabiskan masa tuanya di tempat yang lebih nyaman. Jauh dari orang-orang. Apalagi di sini kan banyak yang masih mengenali ayah sehingga susah untuk pergi kemana-mana."
"Iya juga sih, lalu rencananya bagaimana?"
"Besok aku akan mengantar ayah dan ibu."
"Secepat itu?" saking kagetnya, Yasmin sampai mau meloncat. "Kenapa buru-buru sekali."
"Sebenarnya ayah dan ibu sudah mempersiapkan sejak lama. Tapi mereka merahasiakan dari kita."
"Padahal aku baru merasakan senang sekali ada ayah dan ibu di sini. Aku bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu."
__ADS_1
"Tenang saja. Bogor tidak terlalu jauh dari Jakarta. Kita bisa sering-sering mengunjungi. Minimal sekali sepekan."