GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
41. Pertarungan Dua Pemuda


__ADS_3

"Maaf pak, Bu ... waktu berkunjung sudah habis." kata salah seorang petugas polisi yang sedang piket.


"Baik!" kata ayah, sambil menyeka wajahnya. "Qret, ayah pulang dulu. Jimmi, papa percaya kau punya hati yang baik, tolong titip Qret. Tolong kalian berdamai!" pinta ayah. Lalu ia memelukku, kemudian memukul pundak Jimmi perlahan.


Giliran ibu yang memelukku erat. Aku tahu ia sedang menyimpan banyak rasa takut. Aku hanya bisa berbisik bahwa jika Allah berkehendak maka masalah ini akan segera selesai. "Ibu harus bahagia." kataku.


Ayah dan ibu meninggalkan kantor polisi, sementara polisi penjaga tersebut membawaku ke dalam sel tahanan.


Hari ini banyak sekali kejadian yang mengusik pikiranku. Bagaimana caranya agar ibu tidak merasa serendah itu lagi? Ibu memang pernah melakukan kesalahan, tetapi ia telah menyesalinya.


Sebenarnya, ibu sudah berusaha membujuk ayah agar tidak menceraikan istrinya. Tetapi ayah bersikeras menolak dengan alasan yang membuat ibu tidak lagi bisa berkata apapun.


Aku memang tidak pernah tahu seberapa keras istrinya ayah. Tetapi dari rumor yang beredar, nyonya terhormat tersebut memang terkenal dengan tangan besi. Ia sangat diktator sekali.


Ia menikahi ayah karena jatuh cinta pada ayah sekaligus ingin menjadikan ayah sapi perahannya sebab kemampuan ayah mengembangkan perusahaan. Sikapnya yang posesif benar-benar mengikat ayah hingga untuk bernafas pun kadang sangat sulit. Begitulah gambaran kejamnya nyonya Rani.


"Ya Allah, mohon berikan jalan keluar untuk masalahku dan masalah ayah dan ibu." pintaku sambil mengangkat kedua tangan.


Sudah jalan hampir empat bulan tetapi proses perceraian ayah belum juga menemukan putusan sebab nyonya Rani sengaja menahan. Ia tidak rela melepaskan ayah, membiarkan bersatu dengan ibu. Begitulah salah satu keanehan cinta. Kadang, saking cintanya sampai menyiksa.


"Hei kau, kemari!" tiba-tiba Jimmi sudah berdiri di hadapanku, ia memberiku isyarat agar bangkit dan mendekat.


Sepasang matanya memancarkan kebencian yang begitu besar. Rasanya seperti ingin menelanku bulat-bulat.


"Apa?" tanyaku, dengan nada malas.


"Kemari, atau kau akan menyesal!"


"Aku tidak tertarik bermain denganmu!"


"Kalau begitu aku akan bermain dengan ibumu saja!"


"Kau!" aku segera bangkit, mendekat. Lalu Jimmi membukakan pintu sel.


"Ikut aku!"

__ADS_1


Jimmi membawaku keluar menuju belakang kantor, melewati taman tempat ia dan Yasmin dulu duduk bercakap-cakap, lalu berhenti di lapangan belakang.


"Mau apa di sini?" tanyaku, dengan malas.


"Sekarang, ayo berkelahi!" ajaknya.


"Aku tidak mau,"


"Kalau kau tidak mau, aku akan membalaskannya pada ibumu!"


"Untuk apa berkelahi?"


"Untuk Yasmin dan papa. Dua orang milikku yang kau dan ibumu curi dariku!"


"Kalau untuk ayah, aku akui, sikap mereka salah. Ingat, yang salah bukan hanya ibuku, tapi juga ayah. Justru yang bertanggung jawab adalah ayah, bukan ibuku!


Lalu kedua, kalau kau menuduhku mencuri Yasmin darimu, itu salah besar sebab aku dan Yasmin saling mencintai. Mungkin dulu dia memang mengizinkanmu dekat dengannya, tapi kau harus sadar diri, ibumu tidak merestui kalian, bahkan sampai meneror Yasmin. Apa cinta seperti itu yang ingin kau berikan pada Yasmin?"


"Kau!" sebuah pukulan melayang di pipiku. Perih sekali rasanya. Tidak lama terasa cairan asin di bibirku


Rupanya pukulan yang dilayangkan oleh Jimmi membuat bibirku pecah. Anak ini benar-benar membuatku kesal.


"Aghhhhh," aku meraung menahan sakit di perut bekas tendangannya.


"Kenapa? Kau mau merengek? Rupanya segitu saja kekuatanmu? Ku kira kau lebih, katanya kau dulu adalah ketua gengster. Ayo buktikan. Kalau kau tidak mau melawanku, aku akan menghabisi ibumu!"


"Aaaaaaa!" sebuah tendangan yang kulayangkan langsung membuat Jimmi ambruk.


Saat ia hendak bangkit, kulayangkan pukulan kedua, ketiga dan keempat.oat hingga ia terhuyung. "Jangan pernah mengancam ibuku!"


"Kau!"


"Kau salah mencari lawan. Aku tidak akan mengganggumu, tapi kalau kau mencoba untuk mengusik ibu dan gadis yang kucintai, maka akan kupatahkan lehermu sebab kami sebagai lelaki diajarkan untuk menjaga dan melindungi wanitanya!"


"Aaaaaaa ...." rupanya Jimmi belum mau mengakhirinya, ia bangkit lalu mencoba menyerang ku secara bertubi-tubi. Serangan demi serangannya berhasil kuelakkan hingga ia jatuh tersungkur karena kelelahan.

__ADS_1


"Kau benar-benar penjahat Qret. Jangan bermimpi bisa bebas dari penjara. Kau pantas membusuk selamanya di sana!"


"Kau tahu, aku tidak melakukan hal terlarang, cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Aku akan dibebaskan!" kataku dengan penuh keyakinan.


"Heh, bermimpi lah sesuai keinginanmu. Tapi kau harus sadar diri, sebentar lagi kau akan jatuh. Kau sudah kalah, Qret. Aku yang akan memenangkan pertarungan ini. Aku akan mendapatkan Yasmin sebab kau akan tersingkir dengan sendirinya."


"Kebenaran pasti akan terungkap!"


"Pengedar sepertimu harusnya sadar diri!"


"Aku bukan pengedar!"


"Kalau bukan kau berarti ibumu?"


"Kenapa kau suka sekali memancing emosiku lewat ibu? Kau tahu Jim, kalau kau tetap nekat melakukannya lagi, maka kau akan menyesal seumur hidupmu sebab aku tidak akan pernah melepasmu meskipun aku di penjara. Sampai ke liang lahat pun aku akan mengejarmu!"


"Oh ya? Ayo kita coba!"


"Jangan main-main!"


"Qret ... Qret. Kau tahu aku siapa? Aku perwira polisi dengan masa depan cerah. Kalau kau berani melakukan hal sekecil apapun, maka kau akan menyesal. Itu sama saja dengan bunuh diri! Kau mengerti, kan?"


"Aku tidak peduli, Jim. Kalau kau nekat, kau lihat saja balasannya!"


Huaaaa. Kami berdua buru-buru bangkit, lalu kemudian saling serang. Lagi-lagi Jimmi menyerang ku berulang kali. Tetapi tetap. Usai kurangkai hingga ia kelelahan sendiri. Sebuah tendangan kulayangkan ke perutnya. Tendangan yang tidak terlalu keras tapi bisa membuatnya ambruk karena sudah lelah menyerang ku.


"Qret, habislah kau!" Jimmi tersungkur. Ia menundukkan kepalanya sambil menghembuskan nafas secara kasar. Lalu, tiba-tiba ia mengangkat kepalanya, dengan sebuah senapan di tangan yang diarahkan kepadaku.


"Kau mau apa?" aku menatapnya dengan tatapan waspada, khawatir ia meletuskan senapannya sebab sekarang Jimmi pasti sedang terbakar emosi.


"Aku akan menembak kepalamu!"


"Kau kira dengan begitu bisa menang dariku?"


"Kalau kau mati, Yasmin jadi milikku. Dan aku juga bisa membalaskan rasa sakit hati ibuku pada ibumu!"

__ADS_1


"Hahaha, rupanya kau sebodoh itu Jim. Kau kira dengan membunuhku, maka kau tidak akan mendapatkan masalah? Giliranmu yang akan mendekam di penjara!" Meski sangat emosi, tetapi aku berupaya untuk memilih kata yang bisa menyadarkan Jimmi bahwa perbuatan yang akan ia lakukan sangat berbahaya. Aku juga berusaha agar emosinya tidak terpancing.


"Kau kira aku sebodoh itu, Qret? Kau tahu siapa ibu dan kakekku? Mereka salah satu yang berkuasa di negeri ini. Kalaupun aku menembakmu, mudah saja bagi kami untuk mengatur siasat agar aku bebas. Misalnya dengan karangan bahwa kau mencoba kabur atau melukaiku? Kau mau coba?"


__ADS_2