GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
48. Waktu-waktu Bermuhasabah


__ADS_3

Qret, saat ini usiamu sudah tiga puluh tahun. Usia yang sudah tidak muda lagi, bukan waktunya untuk bermain-main. Selama itu kau di dunia, tetapi Allah teramat baik padamu. Dibalik banyak kekuranganmu, kau diberikan banyak sekali kelebihan. Banyak sekali bantuan-bantuan Allah, yang jika kau kerjakan sendiri, kau tidak akan mampu Qret


Kau hanya makhluk lemah, tidak berdaya, bahkan untuk bernafas pun kau hanya mengharapkan belas kasih Allah.


Kau memang sempat kehilangan ayah dan ibumu. Kau dijauhkan dari mereka untuk beberapa waktu. Tetapi kini kalian disatukan lagi dalam manisnya hijrah. Kau bisa bayangkan Qret, betapa beruntungnya kau sekarang ini. Kalian bertiga, sama-sama melangkah dalam kebaikan. Ingin menjadi orang baik. Bukankah itu sebaik-baiknya kondisi? Mencintai, hidup dan berjuang hanya karena Allah.


Dulu, kau tidak punya teman-teman di masa kecilmu. Tetapi kini, Allah kirimkan anak-anak rules, ustad Heri, juga Yasmin. Orang-orang yang sangat royal padamu. Rela berjuang untukmu. Mencintai dan menyayangimu sepenuh hati. Buktinya, saat kau terjatuh seperti sekarang ini, tidak ada yang berkhianat padamu. Mereka ada untuk mendukung dan menyemangati.


Kau memang pernah kekurangan, sempat tidak makan beberapa hari. Tidak berganti pakaian. Tetapi, kini, apa yang kurang. Tidak ada. Kau punya tempat tinggal yang nyaman, uang yang cukup, pakian yang sangat layak.


Bersyukur Qret, bersyukur!


Sekarang kau dipenjara, pasti ada hikmahnya. Lihat sekarang, kau jadi punya waktu untuk berpikir, betapa lemahnya, kau, Qret!


Tetesan bening itu semakin deras meluncur dari sepasang netraku. Sungguh, aku merasakan sangat damai. Inilah pertama kalinya aku merasa begitu tenang meskipun ini adalah kasus terberat yang pernah ku alami.


Usai melaksanakan salat. Aku segera mengucapkan istighfar, lalu membaca zikir dan ditutup dengan doa.


Usai salat, kuputuskan untuk berbaring, sembari berpikir, betapa nikmatnya hidup jika penuh kepasrahan kepada Allah.


"Qret," lagi-lagi Jimmi memanggil. "Qret. Kenapa tidak menjawab? Aku tahu kau belum tidur." panggil Jimmi lagi. "Qret!" ia agak membedakan suaranya.


"Hm," jawabku, pelan, sambil memicingkan mata.


"Kau sedang apa?"


"Tidur."


"Mana ada orang tidur bisa menjawab!"

__ADS_1


"Hm,"


"Hei Qret, kau ingin membuatku semakin marah!"


"Heeeh, Jimmi ... Jimmi ... Jimmi. Kau ini kenapa sih, cerewet sekali. Kenapa kau berubah sekali? Dulu pertama bertemu kau tidak semenyebalkan ini. Kenapa, hah? Apa karena kau tahu kalau aku saudara besarmu? Makanya kau terus-menerus mencari perhatianku. Iya?"


"Tidak. Geer sekali, kau!"


"Hahaha, aku tidak geer, tetapi bicara sesuai kenyataan. Dulu kau manis sekali, sekarang ... ahhh, entahlah. Sangat ... sangat menyebalkan!"


"Ughhhhh!"


"Aku tahu, saudara kecil memang suka bermanja-manja dengan saudara besarnya!" aku terkekeh, lalu kembali memicingkan mata. Menikmati, ocehan kesal yang keluar dari lisan Jimmi.


Entah mengapa, meski ia terus memarahiku dengan kata-kata keras, tetapi aku mulai merasa ikatan persaudaraan antara kami sehingga bisa menerima perbuatannya tersebut sebagai bentuk perbuatan kesal seorang saudara kepada saudara lainnya.


"Jim, dari pada kau marah-marah tidak jelas, lebih baik diam, dan mulailah merenung!" kataku.


"Ya cobalah merenung, barangkali ada yang salah?"


"Apa maksudmu, Qret? Aku tidak mengerti!"


"Jim, kau kan salah satu polisi terbaik. Masa tidak faham dengan apa yang ku maksud. Oh, aku faham, kau masih mencari-cari perhatianku!"


"Qret, diam kau! Lama-lama aku muak juga melihat sikapmu yang terlalu kepedean. Kau tahu, aku mau bicara denganmu karena di sini tidak ada siapapun."


Aku langsung memejamkan mata, membayangkan bagaimana akhir hidupku nanti. Berharap Allah berikan aku ampunan.


"Qret, hei Qret!" panggil Jimmi lagi.

__ADS_1


"Hm," jawabku, tanpa menolehkan kepala sedikitpun padanya.


"Kenapa kau diam saja?"


"Lho, bukannya tadi kau katakan tidak ingin bicara denganku. Hai saudara kecil, sebenarnya kau mau apa? Aku sungguh bingung denganmu. Aku tahu, kau memang saudaraku, tapi kan kita baru bertemu untuk pertama kalinya setelah kita dewasa. Mana aku faham sifat dan karaktermu. Aku butuh waktu untuk memahamimu. Boleh kan saudara kecil?"


"Kau nyaman dengan persaudaraan ini?"


"Hm,"


"Ya aku tahu, kau pasti tidak ada masalah karena kau tidak punya apa-apa. Maksudku, kau sebelumnya tidak punya keluarga, tidak punya kehormatan, juga pendidikan. Jadi, orang tahu ataupun tidak tentang aibmu, kau tidak peduli, kan? Berbeda dengan keluargaku. Kami punya kehormatan, kami dikenal banyak orang sebagai salah satu yang berkuasa di negeri ini. Kami sangat terpandang. Pasti sangat banyak yang menaruh iri pada kami. Siapapun ingin menjadi bagian dari keluarga kami. Termasuk kau. Pasti ini jadi kebanggaan untukmu dikenal sebagai keluargaku. Iya, kan?"


"Hah? Hahaha ...." tawaku langsung pecah mendengar penjelasan panjang lebar Jimmi.


"Kenapa kau tertawa?"


"Kau terlalu percaya diri. Kau tahu, aku tidak pernah berpikir seperti itu sedikitpun. Aku malah alergi dengan keluargamu. Kau tahu lah apa penyebabnya. Sungguh, aku tidak suka orang-orang kaya yang pura-pura sempurna dan bahagia, padahal di dalamnya retak-retak atau mungkin sudah pecah berantakan!"


"Kau!"


"Jim, kau tidak perlu pura-pura, aku tahu semuanya. Kau tahu bagaimana hubungan ayah dan ibumu, kan? Apa itu bukan kepura-puraan? Mereka pura-pura bahagia, padahal di dalamnya hancur. Iya, kan?"


Jimmi tidak menjawab, tapi dari gerakannya yang mengepalkan kedua tangannya, serta menggertak giginya, aku sangat yakin ia benar-benar kesal padaku. Tapi begitulah kenyataannya. Untuk apa pura-pura bahagia, hanya demi kehormatan saja. Kalau kita sibuk dengan pikiran-pikiran orang lain, justru itulah yang jadi penyebab tidak bahagia sebab tidak mudah mengontrol pikiran banyak orang.


"Kau merasa menang, Qret?" tanyanya, pelan.


"Ini bukan tentang menang dan kalah. Kita tidak sedang mengadakan perlombaan, Jim. Aku mencoba memahami kondisimu. Aku tidak terlalu tahu berapa banyak tekanan dan rasa tidak nyaman yang akan kau dapatkan jika seluruh dunia akhirnya mengetahui bahwa ayah dan ibumu akan berpisah. Tetapi, aku hanya bicara sesuai aturan yang sesungguhnya. Aturan yang telah ditetapkan Allah. Bukan aturan kita. Bahwa, kedzaliman tidak untuk dibela. Kalau kau melihatnya, maka berupaya untuk menghentikan, atau selemah-lemahnya sikap adalah dengan membenci kedzaliman tersebut. Tetapi aku yakin kau bukan orang yang lemah, Jimmi. Iya, kan?


Tidak ada pembicaraan antara kami, karena Jimmi tidak menjawab ku. Ia diam, berbaring di atas lantai sambil menatap langit-langit penjara.

__ADS_1


Biarkan saja ia merenung sejenak. Kadang kita butuh waktu untuk menerima kebenaran. Tidak perlu memaksanya. Jika Tuhan berkehendak, pasti akan masuk ke dalam hatinya. Kalau tidak, ya kita terus coba untuk menyadarkan.


Sembari menanti, akupun kembali berbaring. Menatap langit-langit penjara. Mencoba kembali mengingat betapa banyaknya nikmat Allah untukku. Betapa baiknya Allah padaku. Betapa indahnya cara Allah menyadarkanku dari semua dosa yang lalu.


__ADS_2