
Pagi ini Yasmin bangun dengan kondisi lebih segar meskipun sesekali ia masih muntah-muntah. Usai sarapan, ia mengajukan diri berbelanja ke pasar menggantikanku dan Deni.
"Jangan Yas, aku saja. Kau tetap di rumah." kataku, menolak permintaannya.
"Enggak mas, aku saja. Mas kan hari ini sudah janjian dengan Deni mau membereskan meja di kedai yang goyang. Kalau mas ke pasar terlebih dahulu, nanti mulai kerjanya akan terlambat. Aku khawatir pembeli keburu datang, mereka pasti tidak nyaman belanja saat ada yang bertukang." kata Yasmin.
"Tapi kau kan sedang hamil. Bahaya pergi sendiri."
"Aku enggak sendiri, mas. Ada Riana yang akan menemani."
"Riana? Tahu sendiri, dia kalau ke pasar cuma sampai di tempat soto. Mana mau dia lanjut ke dalam. Aku tidak mengizinkan."
"Kalau begitu aku bisa ajak Lisa juga. Boleh ya mas? Lagipula aku ingin sekali ke kasar, ada jajanan yang ingin ku beli." Yasmin tetap berupaya membujukku, hingga akhirnya aku kukuh sebab tidak ada pilihan lain. Membiarkannya pergi bersama Riana dan Lisa dengan beberapa syarat, salah satunya ia harus mau istirahat usai pulang dari pasar.
Yasmin memang tipe pekerja keras, ia sulit sekali diminta untuk istirahat. Ada saja yang dilakukannya, meski secara perekonomian kondisi kami sekarang jauh lebih baik ketimbang saat ia masih sendiri.
"Ingat Yas, apa yang kukatakan. Tidak boleh memaksakan diri!" pesanku lagi pada Yasmin, juga pada Riana dan Lisa.
Ketiga perempuan itu pun berlalu menuju pasar, sementara aku dan Deni menuju kedai, di sana sudah ada Jack yang sedang membersihkan motornya.
"Siap untuk bekerja hari ini!" kataku pada dua orang lelaki yang pernah menjadi anak buahku.
"Tentu saja!" jawab mereka.
Satu-persatu meja di kedai kami cek, ada beberapa yang sudah goyang. Mungkin karena aku membeli meja dan kursi bekas sehingga cepat rusak. Ada sesal juga, andai dulu membeli yang baru pasti sekarang tidak akan Serepot ini.
Tidak terasa, sudah satu jam berlalu, meja dan kursi sudah beres oleh kami. Aku menatap jarum jam, lalu beralih ke jalan menuju pasar. Mengapa belum ada tanda-tanda Yasmin, Riana dan Lisa kembali?
"Kemana mereka?" tanyaku.
"Siapa?" ujar Deni.
"Para perempuan." jawabku lagi, masih menatap jalan menuju pasar. Entah mengapa hatiku benar-benar tidak nyaman. Seperti ada sesuatu.
__ADS_1
"Mungkin mereka sedang makan, tahu kan Riana. Kalau ke pasar, pantang sekali rasanya bila tidak mencoba seluruh jajanan yang ada di sana." ungkap Deni sambil terkekeh. Dari dulu ia memang selalu bingung dengan kebiasaan Riana tersebut, yang selalu senang makan-makan, tapi tidak juga gendut-gendut.
Pernah aku mencandai Riana, mengatakan dalam perutnya banyak cacing. Hingga ia marah dan menendangku. Tetapi itu semua karena memang ada tipikal orang yang makan banyak tapi tidak kunjung bertambah sebab begitulah tipe badannya.
"Hei, itu Lisa bukan?" aku menunjuk ujung jalan, tampak Lisa, istri Jack berlari ke kedai. "Kenapa dia lari-lari?" tanyaku.
"Qret ... Qret ... Qret!" panggil Lisa, semakin lama ia semakin mendekat.
"Kenapa?" tanya Jack, menyambut kedatangan istrinya. "Kenapa lari-lari, ada apa? Kau juga menangis?"
"Yasmin!" ia menunjuk arah pasar.
"Kenapa Yasmin?" tanyaku.
"Yasmin Qret." Lisa masih menangis, membuatku tidak sabar menanti penjelasannya.
"Iya, Yasmin kenapa?" tanya Jack.
"Yasmin ditabrak. Ia berdarah ... ia ...," Lisa menangis makin kencang.
"Dia dibawa ke puskesmas." ungkap Lisa.
Aku segera menyambar kunci motor Jack, memacu motor menuju puskesmas bersama Deni yang duduk di bangku belakang. Tidak ada kata-kata yang bisa kuucapkan selain jantung yang berdetak begitu kencang membayangkan Yasmin.
Sampai di depan puskesmas, motor ku berhentikan di sembarang tempat, Deni mengambil alih untuk memarkirnya. Aku segera lari ke dalam. Ada Riana yang sedang berdiri di depan ruang pemeriksaan dengan air mata mengalir.
"Mana Yasmin?" tanyaku padanya.
"Dia di dalam Qret," jawab Riana.
"Aku mau masuk!" kataku. Belum sempat aku masuk, seorang perempuan memakai pakaian putih keluar dari ruang pemeriksaan tempat Yasmin berada.
"Maaf, keluarga ibu Yasmin mana?" tanya ibu itu.
__ADS_1
"Saya suaminya!" kataku.
"Pak, sebaiknya ibu Yasmin dibawa ke rumah sakit sebab ia mengalami pendarahan hebat di kepala dan ...," belum sempat ibu itu menjelaskan, aku langsung mengiyakan. Rasanya tidak sabar menanti terlalu lama. Aku ingin Yasmin mendapatkan perawatan maksimal.
Aku dan Riana kini berada di dalam ambulan bersama Yasmin yang terbaring tidak sadarkan diri. Kepala, kaki dan tangannya berlumuran darah, membuat tubuhku jadi kemas, khawatir terjadi sesuatu padanya.
"Yas, kuat ya," aku berbisik di telinganya.
Suara sirine membuka jalan dari puskesmas menuju rumah sakit terdekat di daerah Jakarta Selatan. Begitu sampai, aku langsung turun, mengiringi Yasmin menuju IGD.
Dokter yang memeriksa Yasmin memutuskan kalau Yasmin harus menjalani operasi sebab kaki dan kepalanya retak, serta janin dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan. Aku bagai dihantam benda keras mendapatkan kenyataan ini.
Beberapa jam lalu, kami baru merasakan kesenangan luar biasa, sekarang semuanya harus hilang. Begitulah, dengan mudah Allah memberikan sesuatu kebahagiaan pada kita, begitu mudah juga untuk mengambilnya kembali.
Ya Allah ... hamba benar-benar menyesal, sungguh hamba begitu kecil di hadapan Engkau ya Rabb-ku. Mungkin kemarin hamba sombong, berbangga diri, hingga akhirnya Engkau menegur hamba. Maafkan hamba ya Rabb.
Buliran bening itu masih mengucur deras dari kedua mataku. Sakit sekali rasanya. Tetapi mungkin inilah yang namanya ujian kesabaran, seberapa besar Kuta sabar dan bisa ikhlas menerimanya.
Bayi mungil yang ku harapkan segera hadir dalam pernikahan kamu, ternyata kini harus pergi selamanya tanpa pernah bisa ku lihat wujud dan mendengar suaranya.
Ya Allah ....
"Qret, sabar ya " kata Deni, memeluk pelan pundakku.
"Qret, maafkan aku," jawab Riana.
"Apa yang terjadi?" kataku.
"Tadi, waktu kami mau pulang, Yasmin mengatakan ingin membeli gado-gado. Karena aku dan Lisa membawa barang belanjaan, makanya kami meminta Yasmin menyeberang sendiri ke pedagang gado-gado. Saat itulah sebuah mobil melaju dengan kencang, menabrak dan menyeret tubuh Yasmin hingga beberapa meter. Ia juga terjepit di bamper depan." kata Riana, dengan suara terisak-isak.
"Ya Allah!" aku berteriak, ngilu membayangkan bagaimana sakitnya Yasmin terseret hingga terjepit.
Ini semua salahku, harusnya aku tidak membiarkan Yasmin pergi. Harusnya aku melarangnya. Biar saja terlambat membereskan kursi dan meja asal bisa menemani dan menjaga Yasmin. Lihatlah sekarang, gara-gara tidak becus menjaganya, aku kehilangan bayiku sendiri dan juga istriku harus merasakan sakitnya ditabrak mobil.
__ADS_1
Air mata penyesalan terus meluncur dengan derasnya. Sungguh sangat sakit hatiku mendapatkan kenyataan seperti ini. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
"Qret, jangan berandai-andai seperti itu. Ini adalah takdir Allah, sabar!" kata Deni, mengingatkanku agar tidak semakin menyalahkan diri sendiri.