
"Oh Qret, aku tidak menyangka bahwa kau semanis itu padaku. Ku kira kau adalah mantan bos yang tidak akan mempedulikan anak buahnya." ungkap Deni, sambil mencandaiku, sebab Deni juga tahu aku peduli dengan siapapun.
"Enak saja, aku juga perhatian kok sama kalian," aku tidak mau kalah.
"Memang sejak dulu Qret itu manis sekali. Ia selalu perhatian dengan siapapun. Pantaslah jika anak-anak rules juga royal padanya." tambah Jack, sambil menjawil daguku sehingga membuat aku semakin kesal.
"Hei, lepaskan aku. Jangan lancang ya!"
"Aku benar-benar bersyukur punya bos sepertimu, Qret." ungkap Deni, tentunya masih untuk mencandaiku.
"Apalagi aku!" tambah Jack.
"Sudah puas kalian mengejekku?" aku menatap mereka bergantian. "Hei, lagipula bukan hanya aku yang pernah salah dengar. Kau juga Deni. Bahkan lebih fatal dariku!" ungkapku dengan wajah penuh kemenangan.
"Aku?" tanya Deni.
"Iya, kau!" belum sempat aku menjelaskan pada Deni, tiba-tiba telepon selulerku berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Riana yang ingin tahu kabar kekasih hatinya. "Dengar ini baik-baik!" kataku pada Deni, sambil membesarkan volume telepon.
[Halo Qret, bagaimana? Kau sudah menemukan Deni? Dia baik-baik saja, kan? Apa dia jadi bunuh diri? Qret, ayo jawab pertanyaanku. Qret?] panggil Riana dari seberang. Seperti biasa, dengan rentetan pertanyaan yang harus segera dijawab kalau tidak ia akan kembali mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan.
[Dia baik-baik saja Riana. Kau tenanglah. Hanya saja aku harus menghajarnya sedikit!] jawabku.
[Kenapa? Jangan lakukan apapun padanya Qret atau kau akan mendapatkan balasan dariku!"]
[Hei, sekarang kau lebih membelanya ketimbang aku?]
[Kau sih begitu. Memang dia salah apa padamu?]
[Sebab dia sudah menertawakanku!]
[Bagaimana ceritanya? Jangan coba-coba menyakitinya, Qret. Kau tahu, aku tidak akan mengampuni kamu. Kau kadang-kadang memang pantas untuk ditertawakan!]
[Hei, sejak kapan aku butuh pengampunan mu? Calon suamimu yang sudah menertawakanku!"]
[Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan-jangan kau hanya membohongiku?]
__ADS_1
[Sekarang kau ikut menuduhku?]
[Lalu kenapa? Ceritakan padaku Qret.]
[Nanti kuceritakan kalau sudah kembali. Sekarang kau bantu ibu lagi saja, aku akan mengurusnya.]
[Baik, tapi jangan diapa-apain!]
[Iya-iya, aku tidak akan menganiaya calon adik ipar ku ini!]
Telepon kumatikan, lalu beralih pada Deni yang tidak faham dengan maksud pembicaraanku dengan Riana. Tapi mendengar Riana yang mengkhawatirkannya, membuat senyum Deni mengembang, bahkan ia sampai salah tingkah.
"Jadi begini rasanya dikhawatirkan?" Deni memegang dadanya yang entah berdegup kencang atau tidak. Hanya ia yang tahu sebab aku tidak berminat menyentuhnya.
"Ini semua gara-gara informasi Jack yang salah!" aku bersungut-sungut.
"Kau yang salah dengar!" Jack membela diri.
Sebenarnya Jack memang tidak salah, ia mengatakan apa adanya, tapi karena aku terlalu mendramatisir, makanya berpikir macam-macam sehingga terjadilah kesalahan fahaman ini.
"Hei, jangan sombong dulu. Kau juga sama seperti aku. Salah dengar." kataku.
"Aku?" Deni bingung. "Dimana letak kesalahanku, Qret?"
"Ya, kau mengatakan syarat dari paman Rudi adalah tiga puluh juz, padahal tidak seperti itu!" aku geleng-geleng kepala, lalu menjelaskan kembali apa yang disampaikan oleh paman Rudi tentang persyaratan yang diberikan. Hanya surat Alfatihah dan surat An-Nas. "Tapi jika kau mau lebih juga tidak apa-apa." kataku.
"Benar begitu Qret?" Deni tampak tidak percaya. Aku langsung menganggukkan kepala.
"Kalau begitu kalian berdua harus ke THT bersama-sama!" ungkap Jack, sehingga membuatku dan Deni ikut tertawa lepas.
"Tidak menyangka, ternyata daya konsentrasi kita sudah menurun." aku ikut tertawa.
"Hampir saja aku menyerah!" terdengar nada penyesalan dari perkataan Deni. "Untung saja kau berinisiatif bicara dengan pak Rudi." tambahnya.
"Jadi kapan kau akan menemui paman lagi?" tanyaku.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Qret. Setidaknya sampai aku bisa memberikan mahar yang pantas untuk Riana." jawabnya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama." kataku lagi.
"Benar Den, kau tidak boleh terlalu lama. Ingat, Riana gadis keras kepala yang bisa berubah kapanpun ia mau. Kalau kau terlalu lama nanti kau tidak bisa lagi melamarnya!" ungkap Jack.
"Kenapa begitu? Apa ia punya cadangan lelaki lain?" Deni mulai khawatir, sambil mengingat-ingat apakah ada lelaki lain yang mencoba mendekati gadisnya.
"Kau tidak tahu, kalau kau terlalu lama, bukan kau lagi yang akan melamarnya, tapi dia yang akan melamarnya!" kata Jack dengan nada datar tapi sanggup membuat kami semua tertawa terbahak-bahak.
"Sudah dulu, aku harus segera pulang sebelum nona Riana menelepon dan memberikan banyak pertanyaan!" aku bangkit, lalu melambaikan tangan pada dua orang yang pernah jadi bawahan namun sekarang adalah sahabatku.
***
Benar saja, belum sempurna motor di parkir, Riana sudah memburuku dengan banyak pertanyaan yang harus segera kujawab.
"Sabar dulu Riana, kau lihat motorku saja belum diparkir!" kataku. " "Kalau kau seribet ini, aku tidak akan bicara apapun padamu!"
"Iya ... iya. Tapi segeralah Qret, aku bisa mati penasaran menunggu kau bercerita." ungkap Riana. Ia masih tetap menungguiku.
"Ia ternyata tidak ingin bunuh diri. Aku hanya salah dengar saja. Ia hanya sedang duduk-duduk di atas genteng. Hal yang biasa kami lakukan untuk membuang jenuh di markas rules. Kau ingat tempat itu, kan? Aku salah menyimpulkan, sebab informasi dari Jack separuh-separuh."
"Apa? Jadi semuanya hanya salah faham saja? Kau benar-benar membuatku malu! Bisa-bisanya kau memberi tahu bahwa ia mau bunuh diri. Kalau tahu aku tidak akan mengkhawatirkannya. Buang-buang energi aku saja!" ia malah ngomel panjang lebar, padahal tidak ada yang menyuruhnya untuk mengkhawatirkan Deni.
"Iya, tadi volume panggilan darimu juga aku besarkan. Deni sudah mendengar semuanya bahwa kau sangat mengkhawatirkannya!"
"Qret!" Buuuk. Sebuah pukulan melayang di perutku. Sakit sekali rasanya. "Riana!" aku meringis sambil memegang perut. Aku sudah sering mengingatkannya untuk tidak sembarang memukul orang karena meski badannya kecil, tapi tenaganya besar, maklumlah, ia pemegang sabuk hitam. Tapi gadis itu tidak pernah mendengarkan apa kataku.
"Rasakan. Kau pantas mendapatkannya!" Riana berlalu dengan wajah kesal.
"Apa salahku?" tanyaku pada Yasmin yang tersenyum melihat ulah kami berdua.
"Riana pasti malu sekali. Mas seharusnya tidak membiarkan orang lain mendengar perbincangannya. Apalagi itu Deni, orang yang ia sukai. Atau mas tidak usah memberitahu Riana." kata Yasmin.
"Aku memang sengaja."
__ADS_1
"Kalau begitu terima saja." Yasmin berlalu sambil geleng-geleng kepala. Lalu sekarang kenapa Yasmin juga ikutan kesal?